Meimo News

Meimonews.com – Walikota Manado Andrei Angouw mendorong seluruh pihak untuk mendukung program jaminan sosial ketenagakerjaan.

“Masyarakat yang bekerja perlu mendapatkan perlindungan sehingga dapat menjalankan aktivitasnya dengan lebih aman,” ujar Walikota pada acara Pengukuhan dan Bimbingan Teknis Keagenan Kelurahan Kota Manado Tahun 2026 di Aula Serbaguna Kantor Walikota Manado, Rabu (26/8/2027).

Hadir dalam kegiatan ini, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Manado Juwenly Jona Librata Soselisa, Asisten I Setda Kota Manado Julises Oehlers, sejumlah Kepala Perangkat Daerah terkait, para Camat dan Lurah se-Kota Manado, serta undangan lainnya.

Dalam sambutannya ketika membuka acara, mantan Ketua DPRD Sulut ini mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Walikota menjelaskan pentingnya pelayanan ketenagakerjaan, termasuk perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja dan berbagai manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan lainnya.

Menurutnya, perlindungan tersebut memiliki kaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kesejahteraan keluarga.

Kepada para Lurah, Walikota menekankan pentingnya validasi data kepesertaan, termasuk memastikan data warga yang telah meninggal dunia diperbarui. Validasi data yang akurat diperlukan agar hak dan manfaat jaminan sosial dapat diberikan kepada pihak yang berhak.

Walikota juga meminta agar proses pengunggahan dan validasi data dapat dilakukan secara efektif di tingkat kelurahan.

Selain persoalan jaminan sosial ketenagakerjaan, Walikota mengingatkan juga kepada para Lurah dan Ketua Lingkungan mengenai sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama, di antaranya data kemiskinan ekstrem, kamtibmas, khususnya kasus yang berkaitan dengan senjata tajam, kebersihan dan pengelolaan sampah, PJU, anak terlantar, ODGJ, serta pengukuran tanah yang menjadi kewenangan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Ditegaskan, Ketua Lingkungan dan Lurah memiliki peran penting dalam mengetahui kondisi masyarakat di wilayah masing-masing, termasuk melakukan pemutakhiran data serta menyampaikan berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan agar dapat segera ditindaklanjuti.

Setelah membuka kegiatan, acara dilanjutkan dengan pengukuhan Pengurus Perisai, yang ditandai penyerahan rompi dan kartu nama anggota Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai) serta penyerahan santunan kematian kepada ahli waris. (elka)

Meimonews,com – Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mengadakan pembukaan Dies Natalis ke-62 fakultas di kompleks fakultas, Kamis (27/8/2026).

Hadir pada kegiatan ini Wakil Rektor 4 Steenie Edward Wallah mewakili Pelalsana Tugas (Plt) Rektor Unsrat Jamaluddin Jompa, para Dekan fakultas se-Unsrat serta pimpinann dan civitas akademika Fatek Unsrat.

Plt. Rektor yang diwakili Wakil Rektor 4 (Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat)  dalam sambutannya mengatakan, Dies Natalis adalah kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh dan mengevaluasi capaian hari ini, sekaligus menentukan arah di masa depan.

Rektor berharap, Fatek Unsrat semakin mengambil peran dalam menghasilkan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana, bangunan dan kawasan yang ramah lingkungan, sistem transportasi yang efisien, teknologi energi yang berkelanjutan, transformasi digital, pengelolaan sumber daya dan digital.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air dan lingkungan, serta berbagai inovasi teknologi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah kepulauan.

Dekan Fatek Unsrat Liany A. Hendratta dalam sambutannya menjelaskan tema dies yakni Sustainable and Human-Centered Engineering for Livable, Transformation, and Ecologically Resilient Environments, menegaskan komitmen bahwa ilmu teknik tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik atau kemajuan industri semata tapi lebih dari itu, rekayasa modern harus berpusat pada manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Dekan Fatek Unsrat mengajak civitas akademika Fatek Unsrat untuk terus menjadi pelopor inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat luas di Indonesia. (FA)

Meimonews.com – Beberapa waktu terakhir ini, sejumlah tenaga outsourcing di RSUP Kandou Manado sering melayangkan protes akan kondisi mereka, terlebih terkait kesejahteraan, termasuk nasib untuk diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Terkait persoalan itu, Manager Hukum dan Humas RSUP Kandou Erwin Kristanto dalam percakapsn dengan Meimonews.com via telefon, Kamis (27/8/2026).memberikan tanggapan dari managemen rumah sakit.

Dijelaskan, Komisi IV DPRD Sulut telah melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna memfasilitasi penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang melibatkan setidaknya belasan tenaga kerja outsourcing dalam jasa kebersihan RSUP Prof Kandou Manado pada 18 Mei 2026.

RDP yang dipimpin Louis Schraam di dampingi Cindy Wurangian, Paula Runtuwene, Vionita Kuerah dan Wakil Ketua DPRD Sulut, Royke Anter.tersebut menghadirkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulut, KSBSI, perwakilan tenaga kerja, manajemen PT HTR, PT Berkah Mitra Indah (BMI) serta pihak manajemen RSUP Kandou,

Ketua KSBSI Sulut Jack Andalangi menjelaskan permasalahan yang dialami oleh 15 orang mantan pekerja jasa kebersihan yang pengelolaannya diserahkan melalui sistem alih daya (outsourcing). Persoalan ini bermula saat mereka bekerja di bawah naungan PT HTR dan PT BMI dalam kurun waktu tahun 2020 hingga 2025.

Menurut Andalangi, ditemukan sejumlah indikasi pelanggaran hak normatif ketenagakerjaan. Diantaranya adalah pembayaran upah yang dinilai berada di bawah standar Upah Minimum Provinsi (UMP), sehingga menimbulkan selisih kekurangan upah yang harus dibayarkan.

Selain itu, terdapat dugaan pemotongan iuran BPJS Ketenagakerjaan dari gaji pekerja, namun dana tersebut tidak disetorkan ke pihak berwenang. Iuran BPJS pun disebutkan dibebankan sepenuhnya kepada pekerja, padahal sebagian merupakan kewajiban pengusaha. Masalah lain yang disorot adalah jam kerja lembur yang dilayani namun tidak dibayarkan sesuai ketentuan.

Sementara itu, pihak PT HTR membantah adanya unsur pemaksaan. Menurut mereka, sistem pemotongan dan aturan kerja yang diterapkan merupakan hasil kesepakatan bersama yang sudah dikonsultasikan dengan Disnakertrans, serta dilengkapi bukti persetujuan tertulis dari para pekerja.

Terkait uang lembur yang tidak dibayarkan tunai, perusahaan beralasan hal itu dikompensasi dengan penggantian hari libur atau waktu istirahat. Alasan tidak dilakukannya kenaikan upah adalah karena nilai kontrak kerja sama dengan pihak RSUP Kandou tidak memungkinkan adanya penyesuaian.

Disisi lain, Manajer PT BMI Rafika Hasan menjelaskan kondisi anggaran pada tahun 2025 saat kontrak berjalan. Saat itu, perusahaan dihadapkan pada dua pilihan yakni melanjutkan pekerjaan atau mengurangi jumlah tenaga kerja sebesar 20 persen. Dari total 140 orang personil, nilai anggaran yang ada sebenarnya hanya cukup untuk menggaji sekitar 120 orang sesuai standar.

Namun, perusahaan memutuskan tetap mempertahankan seluruh pekerja demi menjaga kualitas pelayanan, meski konsekuensinya harus melakukan penyesuaian yang tidak tertulis secara rinci dalam kontrak.

Hal lain mengenai nasib para outsourcing RSUP Kandou Manado itu adalah berharap untuk bisa diangkat menjadi CPNS Kemenkes RI. Namun manajemen menegaskan bahwa soal pengangkatan itu pihaknya tidak memiliki hak, karena semuanya diatur oleh pihak Kementerian.

“Memang mereka sebelumnya merupakan Honorer. Namun saat ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk menghapus honorer, kemudian bisa diangkat menjadi CPNS tapi harus melalui mekanisme seleksi. Tetapi ada beberapa yang tidak lulus karena faktor nilai hasil tes tak sesuai standar,” ujar Erwin.

Sehingga, menurutnya, ketika itu pihak manajemen mengalihkan mereka untuk menjadi tenaga outsourcing sambil menunggu proses jika nantinya penerimaan CPNS di Kemenkes. Tujuan lain adalah agar mereka tetap memperoleh nafkah meski sudah bukan lagi status honorer melainkan outsourcing.

Erwin menjelaskan, Kemenkes RI telah menegaskan bahwa wewenang pengangkatan PNS berada di bawah kendali lembaga pemerintah non-kementerian yang berwenang, bukan dilakukan secara sepihak oleh Kemenkes.

Semua pengangkatan PNS harus mengikuti peraturan yang ada, dalam hal ini dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang yakni Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan KemenPAN-RB,

Dirjen Kesehatan Lanjutan (Kesla) Kemenkes RI Azhar Jaya, sebut Erwin, telah membantah soal beredarnya surat di berbagai platform media sosial sejak awal April 2026 yang memuat rencana pengangkatan tenaga kesehatan (nakes) non-ASN menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) secara otomatis.

Di mana dalam surat bernomor KP.01.01/D.I/2611/2026 itu mencatut kop Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan menyebutkan adanya pengalihan status bagi pegawai medis dan kesehatan Non-ASN yang telah bekerja minimal 6 bulan untuk langsung diusulkan menjadi CPNS.

Dirjen Kesla telah menegaskan, adanya kesalahpahaman dalam mengartikan isi surat tersebut. Karena dokumen itu hanyalah surat pemberitahuan untuk kebutuhan administratif internal, bukan instruksi pengangkatan langsung.

“Surat ini merupakan surat pemberitahuan dan bukan surat proses pengangkatan sebagai CPNS. Tujuannya adalah kami ingin mendata para tenaga kesehatan di RS Kemenkes yang belum menjadi CPNS. Jadi hanya berupa pendataan,” ujar Erwin mengutip Dirien Kesla. (*)

Meimonews.com – Puluhan warga Kelurahan Malendeng Kota Manado mendapat edukasi tentang bahaya pengawet dan pewarna yang dilarang ditambahkan dalam makanan serta dilatih deteksi kandungan pengawet dan pewarna.

Kegiatan yang diadakan di rumah salah satu warga di lingkungan 1, baru – baru tersebut diselenggarakan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Masyarakat (Poltekkes) Kemenkes Manado yang diketuai Evelina M. Nahor dengan anggota Yos Banne dan Elvie R. Rindengan serta beberapa mahasiswa.

Hadir dalam kegiatan pengabmas yang merupakan perwujudan dari tri dharma perguruan tinggi ini adalah Lurah Malendeng Sidik Moha, Ketua PKK Malendeng Meidy Katili serta ibu-ibu TP PKK dan masyarakat setempat.

Penggunaan pengawet dan pewarna makanan yang tidak sesuai dengan ketentuan, terutama bahan yang dilarang ditambahkan dalam pangan, dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan.

“Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dan dukungan terhadap keamanan pangan, maka tim dosen dan mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Manado melakukan kegiatan pengabmas ini,” ujar Nahor kepada Meimonews.com.

Lurah Melendeng dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan serta terimakasih kepada Tim Pengabmas Jurusan Farmasi Poltekkes Manado yang telah memberikan kesempatan yang sangat berharga bagi masyarakat Kelurahan Malendeng untuk mendapatkan pengetahuan dan pelatihan.

Kegiatan ini, menurut Lurah, sangat bermanfaat dalam meningkatkan wawasan masyarakat, khususnya terkait keamanan pangan, sehingga masyarakat lebih selektif dan bijaksana dalam memilih makanan yang aman dengan bahan tambahan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kegiatan pengabmas diawali dengan pemberian edukasi kepada ibu – ibu TP PKK dan masyarakat tentang bahaya pengawet dan pewarna yang dilarang ditambahkan dalam makanan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, sehingga masyarakat bisa menggunakan pengawet ataupun pewarna alami yang lebih aman untuk dikonsumsi.

Selanjutnya ibu – ibu TP PKK dan masyarakat dilatih dan didampingi bagaimana cara deteksi sederhana pengawet yang dilarang yaitu formalin pada sampel mie dan tahu, dan pewarna yang dilarang yaitu phodamin B pada ikan cakalang dan methanyl yellow pada kerupuk.

Dengan adanya edukasi ini masyarakat memahami pengawet dan pewarna pangan yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, dan bisa memanfaatkan pengawet alami seperti garam, gula dan lemon, dan pewarna alami seperti kunyit, pandan, kulit jeruk, wortel, kulit buah naga dan ubi jalar ungu, yang lebih aman bagi kesehatan dan mudah didapat dari alam sekitar. (lex)

Meimonews.com – Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Masyarakat (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Manado yang dipimpin Jovie Mien Dumanauw bersama anggota Juliet Tangka dan Nurningsih Suleman serta beberapa mahasiswa mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Pengabmas) di Balai Desa Maumbi, Kabupaten Minahasa Utara, pekan lalu.

Kegiatan pengabmas ini terkait dengan mendeteksi penyakit tidak menular (PTM) dengan melakukan skrining kebugaran dan edukasi pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif untuk pengobatan

Kegiatan yang merupakan implementasi tridharma perguruan tinggi ini melibatkan pemerintah, pengurus TP PKK serta masyarakat setempat.

Fokus utama kegiatan adalah skrining penyakit tidak menular bagi masyarakat Desa Maumbi, pelatihan bagi pengurus dan kader PKK agar mampu melaksanakan skrining kebugaran untuk deteksi PTM dan edukasi pemanfaatan tanaman obat.

Dalam kegiatan ini, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah, penimbangan berat badan dan pengukuran lingkar perut, pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat.

Selain itu, Tim Pengabmas melaksanakan edukasi tentang pemanfaatan tanaman obat untuk penyakit tidak menular.

Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh pemerintah dan masyarakat yang hadir. Banyak warga memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi kesehatan mereka sehingga dapat menjaga atau meningkatkkan pola hidup sehat.

Dumanauw menjelaskan, pemeriksaan dini untuk mendeteksi penyakit menular sangat penting dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh agar kualitas hidup masyarakat dapat diertahankan atau ditingkatkan.

“Harapan kami, kiranya pengurus melalui Kader TP PKK agar makin giat melakukan pemeriksaan terhadap parameter-parameter kebugaran tubuh dengan peralatan yang pemeriksaan yang selanjutnya menjadi aset desa,” ujarnya.

Hukum Tua Desa Maumbi Yan Abraham Enoch sangat mengapresiasi atas pelaksanaan program ini. “Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen dan mahasiswa yang sudah datang melakukan pengabdian di Desa Maumbi. Program seperti ini sangat bermanfaat karena membantu masyarakat untuk dapat menjaga hidup tetap sehat dengan melakukan kontrol kesehatan dengan menjaga pola hidup sehat,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, Tim Pengabmas menyerahkan peralatan untuk skrining kebugaran berupa timbangan badan, pengukur tinggi badan, lingkar perut, tensimeter, alat pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol dan asam urat dan peralatan penunjang pemeriksaan lainnya.

Penyerahan alat-alat pemeriksaan kebugaran ini dilakukan untuk memperlengkapi Pengurus TP PKK dan kader PKK agar dapat melakukan pemeriksaan bagi masyarakat. (lex)

Meimonews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, pekan lalu menggelar wisuda gelombang pertama tahun akademik 2026/2027 di Auditorium Unsrat Manado.

Salah satu yang diwisuda adalah Daniela Vanessa Wowor wisudawan Fakultas Hukum yang berpredikat Cum Laude.

Tata, demikian panggilan sehari-hari, selain meraih peringkat 1 terbaik lulusan fakultas Hukum Unsrat dengan IPK 4.00 adalah Presiden ALSA ( Asian Law Students Asociation), sebuah wadah internasional perkumpulan mahasiswa hukum se-Asia.

Menurut sang ayah, Patrick Wowor (alumni Fekon Unsrat) di dampingi istrinya Penatua Grace J. Waleleng (Kajur Ilmu Komunikasi FISIP Unsrat dan Sekretaris Jemaat GMIM Bukit Sion Taas Manado), Tata sejak kecil telah menunjukkan multitalenta dan rasa keinginantahuan yang tinggi.

Saat SD, juara lomba vokal grup Piala Gubernur, di SMP Kristen Eben Haeser Manado raih medali perak pada Festival Choir di Singapura. Bakat tampil publik muncul saat meraih posisi Ketua OSIS SMA Kristen Eben Haeser Manado.

Saat mahasiswa Fakultas Hukum Juara 1 Lomba Debat Hukum Piala Mahkamah Agung RI, beberapa kali ikut lomba Debat Hukum mewakili Fakultas Hukum Unsrat di beberapa kota pulau Jawa dan di luar negeri selalu meraih juara 1. Tahun 2024 – 2025, Tata tercatat sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Hukum Unsrat.

Tahun 2025, Tata melalui pemilihan ketat, dipercaya didaulat sebagai Presiden ALSA dan sekarang selesai wisuda, akan ke Korea Selatan menghadiri serahterima jabatan Presiden, wadah internasional perkumpulan mahasiswa hukum se-Asia tersebut.

Salah satu anak bangsa yang pernah satu semester mengenyam kuliah di Durham University Inggris ini semasa mudanya lebih banyak berkiprah aktif di forum forum internasional.

Dari percakapan dengan Patrick Wowor terungkap, semangat tidak pandang menyerah dari Tata ternyata diturunkan dari sang Opa, Ben Wowor, penulis sejarah dan salah satu pejuang Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 46 di Sulawesi Utara. Bakat seni Tata yang suka main gitar, piano, keyboard, dan biola itu diturunkan dari gen mamanya. (FA)

Meimonews.com – Tim Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Manado yang diketuai Yos Banne (Ketua Jurusan Farmasi) dengan anggota Evelina Maria Nahor, Jovie Mien Dumanauw dan sejumlah mahasiswa menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) di Lingkungan 1 Kelurahan Malendeng, Manado, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang dilakukan di rumah salah satu anggota Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) setempat ini dihadiri Lurah Malendeng Sidik Moha, Ketua TP PKK Kelurahan Malendeng Meidy Moha Katili, pengurus dan anggota TP PKK serta warga setempat.

Kegiatan pengabmas tersebut adalah Edukasi Pemanfaatan Tanaman Obat dan Pelatihan Pengolahan dan Pembuatan Teh Herbal Untuk Membantu Pengobatan Penyakit Hipertensi.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami tekanan darah tinggi.

Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter di Sulawesi Utara tercatat sebesar 12,1% dan menempati peringkat ke-3 tertinggi secara nasional.

Pemanfaatan kekayaan bahan alam sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan terus dikembangkan oleh Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (pengabmas) sebagai salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi, tim dosen memperkenalkan pemanfaatan sejumlah bahan alam yang diolah menjadi sediaan teh herbal sebagai salah satu bentuk edukasi dan upaya mendukung pengelolaan hipertensi.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi serta upaya pencegahan dan pengendaliannya.

Dalam sambutannya ketika membuka kegiatan, Lurah Malendeng menyampaikan terima kasih dan apresiasi karena kegiatan dilaksanakan di daerah yang dipimpinnya serta menilai kegiatan ini memberikan dampak positif pada masyarakat karena dapat meningkatkan pengetahuan warga dalam mengelola tekanan darah tinggi secara mandiri menggunakan bahan alami di lingkungan sekitar.

Lurah berharap agar kegiatan seperti ini dapat berlanjut di masa yang akan datang karena dampak nyata dirasakan secara langsung oleh masyarakat yaitu peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan bahan alam menjadi produk herbal yang lebih praktis dan memiliki nilai tambah.

Yos Banne dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pengabmas merupakan salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dilaksanakan oleh dosen.

Materi yang dibawakan dalam kegiatan pengabmas merupakan hasil penelitian kesehatan yang dapat diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan mencakup penyuluhan seputar hipertensi, pengukuran tekanan darah peserta, dan pelatihan pengolahan dan pembuatan teh herbal dari bahan alam untuk membantu mengobati hipertensi.

Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada berbagai bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan teh herbal, yaitu daun pegagan, bunga telang, jahe merah, sereh, daun sirsak, bunga rosella, dan kayu manis.

Peserta juga diajarkan mengenai tahapan pengolahan bahan alam hingga menjadi sediaan teh herbal. Tahapan tersebut meliputi pemilihan bahan, pembersihan, pengeringan, peracikan, pengemasan, hingga penyajian.

Produk teh herbal yang dibuat dikemas dalam bentuk sachet sehingga praktis untuk disimpan dan disajikan.

Peserta juga diberi pemahaman bahwa pengelolaan hipertensi membutuhkan pendekatan yang komprehensif yang meliputi pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mengikuti anjuran dokter, pengobatan yang tepat dan teratur, diet dengan gizi seimbang, mengupayakan aktivitas fisik yang aman, serta hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.

Pemanfaatan teh herbal dalam kegiatan pengabmas ini diposisikan sebagai bagian dari edukasi dan pendamping pola hidup sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Masyarakat peserta kegiatan menyampaikan bahwa mereka sangat senang mengikuti kegiatan ini karena menambah pengetahuan tentang hipertensi dan keterampilan dalam hal membuat teh herbal dari bahan alam.

Peserta yang mencoba teh herbal menyukai rasanya karena tidak pahit dan sepat seperti teh yang beredar di pasaran. Peserta mengharapkan keberlanjutan kegiatan ini agar dapat meningkatkan pemahaman tentang tanaman obat tradisional.

Pada kegiatan ini, tim pengabdi menyerahkan alat pengukur tekanan darah serta alat- alat dan bahan yang dapat digunakan dalam pengolahan dan pembuatan teh herbal sehingga masyarakat dapat membuat secara mandiri dan berkelanjutan.

Selain itu, juga dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama antara Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado dengan pemerintah Kelurahan Malendeng terkait kegiatan pengabmas. (lex)

Meimonews.com – Guna mencegah bahaya kebakaran di musim kemarau panjang ini, Pemerintah Kota Manado lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manado mengajak warga untuk melakukan 4 (empat) hal.

“Mengingat musim kemarau yang panjang ini. maka kami mengimbau untuk nenjaga lingkungan dari bahaya api. Kami mengimbau warga untuk melakukan 4 hal,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Manado Donald Sambuaga kepada Meimonews.com di Manado, Minggu (23/8/2026).

Pertama, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Kedua, hindari membakar sampah di tempat terbuka. Ketiga, matikan api sisa perapian setelah digunakan. Keempat, periksa listrik dan matikan peralatan.

 

“Mat bersama cegah kebakaran dan jaga lingkungan kita. Cegah kebakaran selamatkan lingkungan,” ajak Sambuaga. (elka)

Meimonews.com – Festival Koor Manado Tahun 2026 yang akan digelar oada 19 – 22 November 2026 diluncurkan di Gedung Serbaguna Kantor Walikota Manado, Jumat (21/8/2026).

Peluncuran dilakukan secara bersama, antara lain oleh Wakil Walikota Manado Richard Sualang. Turut hadir Ketua LPPD Manado Merry Mawardi, Asisten 1 Setdakot Manado Julises Oehles dan sejumlah pejabat Penkot Manado.

Festival ini dimaksudkan untuk mendukung seni, pariwisata, ekonomi kreatif, dan identitas Manado sebagai kota musik ini.

Festival ini juga mengoptimalkan potensi Manado sebagai kota kreatif bidang musik. Tradisi paduan suara di berbagai kelompok masyarakat menjadi salah satu kekuatan penyelenggaraannya.

Festival ini diharapkan membuka kolaborasi bagi komunitas musik, pelaku seni, ekonomi kreatif, dan pemangku kepentingan.

Sualang yang adalah juga Ketua Panitia menegaskan, tradisi bernyanyi telah mengakar di masyarakat Manado. Menurutnya, paduan suara memperkuat kebersamaan sekaligus memperkenalkan Manado di tingkat nasional dan internasional.

“Festival ini menyatukan hati, merajut persatuan, dan membawa nama Manado ke panggung nasional maupun internasional,” ujar mantan Wakil Ketua DPRD Manado ini. (elka)

Meimonews.com – Tahun 2026, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Agung Merauke KAM) berusia ke-52 tahun.

Memperingati momen penting dan bersejarah tersebut, pengurus YPPK Keuskupan Merauke menggelar puncak peringatan yang diwarnai Misa Syukur di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke, Sabtu (22/8/2026).

Hadir pada misa syukur yang dipimpin Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC di dampingi Ketua YPPK KAM Pastor Alowisius Kelbulan Pr, antara lain pimpinan/pengelola yayasan serta guru dan sejumlah murid persekolahan yang berada di bawah yayasan ini dan umat setempat.

Dalam khotbahnya, Mgr. Mandagi mendorong agar peristiwa ulang tahun YPPK ini menjadi momentum refleksi bagi para pelaku pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi di Papua, untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di Papua

Komitmen peningkatan kualitas pendidikan tersebut juga ditegaskan Ketua YPPK KAM ketika memberikan sambutan pada acara syukuran yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, baik dari Provinsi Papua Selatan maupun Kabupaten Merauke.

“Komitmen kami untuk peningkatan itu berjalan sesuai visi YPPK Merauke, yakni mewujudkan komunitas pendidikan Kristiani yang cerdas, unggul, profesional dan penuh kepedulian, serta siap menghidupi budaya setempat,” ujar Pastor Kelbulan.

Itu juga sambungnya, sesuai dengan moto YPPK kami, yakni Kasih yang Mencerdaskan.

Momen historis HUT ke-52 YPPK juga diisi dengan penganugerahan penghargaan kepada para guru yang berprestasi dalam menulis “naskah refleksi pribadi” maupun “naskah kelompok” yang direncanakan akan dipublikasikan dalam jurnal YPPK.

Untuk diketahui, lahirnya lembaga pendidikan Katolik di Papua berawal dari komitmen Gereja untuk memajukan pendidikan di Tanah Papua. Pada tahun 1974, Gereja Katolik di wilayah Papua mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai YPPK dengan akta notaris nomor 64 Tahun 1974 dan berkedudukan di Jayapura.

Langkah awal karya YPPK adalah mengembangkan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah di tingkat provinsi hingga daerah-daerah kabupaten, distrik, dan kampung-kampung di pelosok Papua dalam lingkup Gereja di wilayah keuskupan-keuskupan.

Luasnya pengembangan pendidikan tersebut membutuhkan kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Menurut Pastor Kelbulan, hal itu dilakukan karena pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.

Seiring dengan adanya otonomi daerah dan pemekaran wilayah-wilayah kabupaten, para uskup se-Papua dalam rapat akhir tahun 2001 mencapai kesepakatan untuk melakukan pemekaran YPPK menurut keuskupan-keuskupan yang ada.

Keuskupan Agung Merauke disepakati untuk mencakup Keuskupan Agats dalam urusan YPPK, lanjut Pastor asal Kepulauan Tanimbar tersebut.

Pada tahun 2001, lahir UU Yayasan yang baru dengan Nomor 16 Tahun 2001 yang mendorong berdirinya YPPK wilayah Merauke. Atas mandat tersebut, didirikanlah YPPK Merauke terhitung 23 Mei 2002 dengan Akta Notaris Nomor 09 Tahun 2002.

Munculnya pemekaran YPPK ini, menurut Pastor Kelbulan, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan Gereja kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.

Dengan pendirian tersebut, pemerintah daerah memberikan wewenang kepada YPPK Merauke untuk mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Kabupaten Merauke dalam yurisdiksi Provinsi Papua Selatan.

Pengelolaan pendidikan tersebut didukung oleh pemerintah dan masyarakat, mengingat pendidikan adalah kunci peradaban manusia dan kemajuan bangsa, terutama kemajuan masyarakat Papua Selatan.

YPPK Merauke kemudian menyelenggarakan pendidikan dengan mengikuti skema sederhana yang diperkenalkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yakni mendampingi subjek didik dalam proses belajar.

Pendampingan tersebut mencakup pembelajaran moral dan intelektual, seperti mengetahui dan memahami (learning to know), belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be oneself), dan terutama belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together).

“Dalam proses belajar yang bergradasi, anak-anak bertumbuh menjadi individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas, religius, berkesadaran moral dan hukum, serta berkomitmen hidup bermasyarakat dengan sejahtera,” jelasnya.

YPPK Merauke sebagai lembaga swasta yang bertanggung jawab atas pengembangan generasi muda meneruskan warisan yang telah ada sebelumnya. (LAF)