Meimonews.com – Tahun 2026, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Agung Merauke KAM) berusia ke-52 tahun.
Memperingati momen penting dan bersejarah tersebut, pengurus YPPK Keuskupan Merauke menggelar puncak peringatan yang diwarnai Misa Syukur di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke, Sabtu (22/8/2026).
Hadir pada misa syukur yang dipimpin Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC di dampingi Ketua YPPK KAM Pastor Alowisius Kelbulan Pr, antara lain pimpinan/pengelola yayasan serta guru dan sejumlah murid persekolahan yang berada di bawah yayasan ini dan umat setempat.
Dalam khotbahnya, Mgr. Mandagi mendorong agar peristiwa ulang tahun YPPK ini menjadi momentum refleksi bagi para pelaku pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi di Papua, untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di Papua
Komitmen peningkatan kualitas pendidikan tersebut juga ditegaskan Ketua YPPK KAM ketika memberikan sambutan pada acara syukuran yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, baik dari Provinsi Papua Selatan maupun Kabupaten Merauke.
“Komitmen kami untuk peningkatan itu berjalan sesuai visi YPPK Merauke, yakni mewujudkan komunitas pendidikan Kristiani yang cerdas, unggul, profesional dan penuh kepedulian, serta siap menghidupi budaya setempat,” ujar Pastor Kelbulan.
Itu juga sambungnya, sesuai dengan moto YPPK kami, yakni Kasih yang Mencerdaskan.
Momen historis HUT ke-52 YPPK juga diisi dengan penganugerahan penghargaan kepada para guru yang berprestasi dalam menulis “naskah refleksi pribadi” maupun “naskah kelompok” yang direncanakan akan dipublikasikan dalam jurnal YPPK.
Untuk diketahui, lahirnya lembaga pendidikan Katolik di Papua berawal dari komitmen Gereja untuk memajukan pendidikan di Tanah Papua. Pada tahun 1974, Gereja Katolik di wilayah Papua mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai YPPK dengan akta notaris nomor 64 Tahun 1974 dan berkedudukan di Jayapura.
Langkah awal karya YPPK adalah mengembangkan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah di tingkat provinsi hingga daerah-daerah kabupaten, distrik, dan kampung-kampung di pelosok Papua dalam lingkup Gereja di wilayah keuskupan-keuskupan.
Luasnya pengembangan pendidikan tersebut membutuhkan kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Menurut Pastor Kelbulan, hal itu dilakukan karena pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.
Seiring dengan adanya otonomi daerah dan pemekaran wilayah-wilayah kabupaten, para uskup se-Papua dalam rapat akhir tahun 2001 mencapai kesepakatan untuk melakukan pemekaran YPPK menurut keuskupan-keuskupan yang ada.
Keuskupan Agung Merauke disepakati untuk mencakup Keuskupan Agats dalam urusan YPPK, lanjut Pastor asal Kepulauan Tanimbar tersebut.
Pada tahun 2001, lahir UU Yayasan yang baru dengan Nomor 16 Tahun 2001 yang mendorong berdirinya YPPK wilayah Merauke. Atas mandat tersebut, didirikanlah YPPK Merauke terhitung 23 Mei 2002 dengan Akta Notaris Nomor 09 Tahun 2002.
Munculnya pemekaran YPPK ini, menurut Pastor Kelbulan, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan Gereja kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.
Dengan pendirian tersebut, pemerintah daerah memberikan wewenang kepada YPPK Merauke untuk mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Kabupaten Merauke dalam yurisdiksi Provinsi Papua Selatan.
Pengelolaan pendidikan tersebut didukung oleh pemerintah dan masyarakat, mengingat pendidikan adalah kunci peradaban manusia dan kemajuan bangsa, terutama kemajuan masyarakat Papua Selatan.
YPPK Merauke kemudian menyelenggarakan pendidikan dengan mengikuti skema sederhana yang diperkenalkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yakni mendampingi subjek didik dalam proses belajar.
Pendampingan tersebut mencakup pembelajaran moral dan intelektual, seperti mengetahui dan memahami (learning to know), belajar melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be oneself), dan terutama belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together).
“Dalam proses belajar yang bergradasi, anak-anak bertumbuh menjadi individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas, religius, berkesadaran moral dan hukum, serta berkomitmen hidup bermasyarakat dengan sejahtera,” jelasnya.
YPPK Merauke sebagai lembaga swasta yang bertanggung jawab atas pengembangan generasi muda meneruskan warisan yang telah ada sebelumnya. (LAF)