Meimo News

Meimonews.com – Suasana penuh keakraban terlihat di Lapangan Tenis Kompleks Wisma Negara Bumi Beringin Manado, Sabtu (16/5/2026) malam.

Gubernur Sulut Mayjen TNI Purn. Yulius Selvanus hadir langsung untuk berolahraga dan bermain tenis bersama Rektor Unsrat Oktovian Beety Alexanser Sompie serta beberapa dosen dan civitas akademika.

Kegiatan olahraga bersama ini bukan sekadar ajang menjaga kebugaran, melainkan juga menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi antara Pemerintah Provinsi Sulut dan kalangan akademis.

Mengenakan pakaian olahraga Gubernur dan Rektor tampak kompak saat turun ke lapangan. Pertandingan berlangsung seru namun penuh tawa, memperlihatkan sisi humanis dan kedekatan antarpemimpin tersebut dengan para dosen Kampus Tumou Tou.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unsrat menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan Gubernur untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk bermain tenis bersama.

“Ini adalah kehormatan besar bagi kami. Olahraga bersama ini menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif, mencairkan sekat, dan membangun kemitraan yang lebih solid antara pihak kampus dan pemerintah daerah,” ujar Rektor.

Gubernur Sulut menekankan pentingnya kolaborasi sektor pendidikan dalam mendukung pembangunan di Sulawesi Utara. Menurutnya, pemikiran-pemikiran segar dari para dosen dan peneliti di Unsrat sangat dibutuhkan oleh pemerintah. (FA)

Meimonews.com – Pada Minggu Paskah VII, umat Katolik sedunia memperingati Hari Komunikasi (Komsos) Sedunia, yang pada tahun ini memasuki peringatan yang ke-60.

Berkaitan dengan momen ini, Paus Leo XIV, Pemimpin Katolik Sedunia mengeluarkan pesannya dengan tema Menjaga suara dan wajah manusia. Pesan ini dikeluarkan Paus Leo XIV pada peringatan Santo Fransisiskus de Sales, Sabtu (24/1/2026) waktu Vatikan.

Berikut pesan selengkapnya, hasil terjemahan Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) seperti dikutip Meimonews.com,

Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya, mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti “wajah,” yaitu sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan terjadinya hubungan.

Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare) juga mengandung makna suara, bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik seseorang.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk hidup melalui Sabda-Nya.

Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan.

Sabda Allah—cara Allah menyatakan diri-Nya—dapat kita dengar dan lihat secara nyata (lih. 1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra Allah.

Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti dikatakan Santo Gregorius dari Nisa, Allah meninggalkan pantulan kasih-Nya pada wajah manusia agar manusia dapat hidup sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih.

Karena itu, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus. Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama.

Jika wajah dan suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja.

Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut
kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan antarpribadi.

Karena itu, tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Menjaga wajah dan suara berarti
menjaga martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang menyertainya.

Jangan Berhenti Berpikir Sendiri
Sudah lama ada banyak bukti bahwa algoritma media sosial—yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna demi keuntungan platform—lebih mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sementara justru menghambat ungkapan manusia yang membutuhkan waktu, seperti usaha untuk memahami dan merenung.

Dengan mengurung kelompok-kelompok orang dalam “gelembung” persetujuan instan dan kemarahan yang mudah, algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat.

Situasi ini diperparah oleh sikap mempercayai kecerdasan buatan secara naif dan tanpa sikap kritis, seolah-olah ia adalah “teman” yang mahatahu, penyedia semua informasi, penyimpan seluruh ingatan, dan “peramal” segala nasihat.

Semua ini berisiko semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir secara analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara struktur bahasa dan arti yang sesungguhnya.

Walaupun kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi, menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi kita.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks, musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih.

Sementara itu, karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.

Namun, persoalan utama bukanlah apa yang dapat atau akan dapat dilakukan oleh
mesin, melainkan apa yang dapat dan akan dapat kita lakukan sebagai manusia –bertumbuh dalam kemanusiaan dan pengetahuan—dengan menggunakan secara bijaksana alat-alat yang sangat kuat ini.

Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk mengambil buah pengetahuan tanpa usaha keterlibatan, pencarian, dan tanggung jawab pribadi. Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Menjadi atau Berpura-pura : Simulasi Relasi dan Realitas
Saat kita terus menggulir arus informasi (feed), semakin sulit untuk mengetahui apakah kita sedang berinteraksi dengan manusia lain atau dengan “bot” dan “influencer virtual”.

Campur tangan agen otomatis ini, yang sering kali tidak transparan, mempengaruhi perdebatan publik dan pilihan-pilihan pribadi. Terutama chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) terbukti sangat efektif dalam persuasi tersembunyi melalui interaksi yang terus dioptimalkan secara personal.

Struktur dialog yang adaptif dan meniru manusia dari model bahasa ini mampu menirukan perasaan manusia dan dengan demikian mensimulasikan suatu relasi.

Antropomorfisasi ini—yang kadang tampak menghibur—sebenarnya menyesatkan, terutama bagi orang-orang yang rentan. Chatbot yang dibuat terlalu “penuh perhatian”, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi.

Teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi tidak hanya dapat
membawa dampak menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengklasifikasikan pikiran kita dan membangun di sekitar kita dunia cermin, di mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita sendiri”.

Dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda dari kita—padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah kita belajar berdialog. Tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati maupun persahabatan.

Tantangan besar lainnya adalah masalah distorsi atau bias, yang menyebabkan terbentuk dan tersebarnya pemahaman realitas yang keliru.

Model kecerdasan buatan dibentuk oleh pandangan dunia para pembuatnya dan dapat memaksakan cara berpikir tertentu dengan meniru stereotip dan prasangka yang ada dalam data pelatihannya.

Kurangnya transparansi dalam perancangan algoritma, ditambah dengan representasi sosial data yang tidak memadai, berisiko menjebak kita dalam jaringan yang memanipulasi pikiran serta melanggengkan dan memperdalam ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang sudah ada.

Risikonya sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan mengambil alih wajah dan suara kita. Kita hidup dalam dunia yang semakin berlapis, di mana membedakan antara kenyataan dan rekayasa menjadi makin sulit.

Masalah lain yang menyertai adalah kurangnya ketepatan. Sistem yang menyajikan probabilitas statistik seolah-olah itu pengetahuan sejati sebenarnya hanya memberikan perkiraan kebenaran, yang kadang berubah menjadi “halusinasi”.

Ketika verifikasi sumber diabaikan—ditambah krisis jurnalisme lapangan yang menuntut kerja langsung untuk mengumpulkan dan memeriksa fakta di tempat kejadian—maka ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat.

Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan
Di balik kekuatan besar yang tak terlihat ini—yang memengaruhi kita semua— sebenarnya hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya, baru-baru ini bahkan dipuji sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan.

Situasi ini menimbulkan kekuawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak (oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat manusia—termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.

Tantangan kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dengan bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda.

Setiap orang dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman. Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama : tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang kita bangun bersama.

Bagi para pemimpin platform digital, tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka tidak hanya didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh kepedulian terhadap kesejahteraan bersama—sebagaimana mereka peduli pada masa depan anak-anak mereka sendiri.

Para perancang dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap transparan dan bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan dan sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.

Tanggung jawab yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat manusia.

Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang berlebihan dengan chatbot, serta membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, sehingga integritas informasi tetap terjaga.

Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya mengejar perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi, bukan sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya.

Konten yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang jelas dan dibedakan dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya para jurnalis serta kreator konten harus dilindungi. Informasi adalah milik publik.

Pelayanan publik yang bermakna dan membangun harus berlandaskan keterbukaan sumber, pelibatan pihak terkait, dan standar kualitas yang tinggi.

Kita semua juga dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama.

Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting : meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik
pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan.

Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil.

Sebagai umat Katolik, kita dapat dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk tidak memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat.

Literasi ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan buatan—yang bisa saja keliru—melindungi privasi dan data pribadi, serta memahami pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan.

Penting untuk belajar menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk penipuan digital, perundungan siber, atau deepfake yang melanggar privasi dan martabat manusia.

Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar manusia mampu beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital— bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam kecerdasan buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi kita, serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.

Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.

Dengan menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi. (*/leka)

Meimonews.com – Ikan sapu-sapu (Pleco) memiliki manfaat ganda yakni sebagai pembersih akuarium alami dari alga dan sumber protein tinggi, serta bahan pupuk organik.

Ikan ini kaya protein, kalsium, dan fosfor yang baik untuk pertumbuhan otot, kesehatan tulang, serta energi, asalkan berasal dari perairan yang bersih dan diolah dengan tepat.

Kendati demikian, ada dampak negatif dari adanya ikan, yang saat ini banyak terdapat di Danau Tondano.

Oleh karenanya, empat stakeholders (pemangku kepentingan) di daerah ini yakni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsrat, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sullut, Dinas Keluatan dan Perikanan (KP) Minahasa dan Penyuluh Perikanan KKP Minahasa bertemu untuk membahas penanganan/penanggulangannya.

Hadir pada pertemuan sinergitas yang diadakan di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Minahasa, Tondano, Minahasa, Rabu (13//5/2026) ini antara lain Dekan FPIK Unsrat Ockstan Jurike Kalesaran dan staf seperti Rene Charles Kepel, Kepala Bapelitbang Sulut Jani Lukas, Kepala Dinas KP Minahasa Lendy Aruperes dan Koordinator PP KKP Minahasa Alis Bonde.

Sejumlah hal penting dibahas dalam pertemuan yang berlangsung serius tapi santai serta memiliki makna sinergitas yang tinggi.

Ada beberapa kegiatan yang sudah dilakukan seperti riset awal uji proksimat untuk daging ikan sapusapu oleh FPIK Unsrat dan sosialisasi ke masyarakat tentang kelestarian Danau Tondano melalui penanggulangan ikan sapu-sapu dan eceng gondok oleh Dinas KP Minahasa diungkapkan dalam pertemuan tersebut.

“Ada beberapa kesepakatan yang dihasilkan dan akan ditindaklanjuti sesuai tupoksi dan kesepakatan bersama sebagai bentuk sinergitas untuk kemajuan daerah ini,” ujar Ockstan kepada Meimonews.com, usai pertemuan.

Disepakati untuk dibuat roadmap penanggulangan ikan sapu-sapu serta rencana aksi daerah serta policy brief (ringkasan kepentingan).

“Adapun langkah-langkah selanjutnya akan tertuang dalam dokumen sesuai kesepakatan bersama dan akan ada pengembangan inovasi,” tambah Charles. (Fer)

Meimonews com – Pelayanan kesehatan yang humanis dan profesional terus menjadi komitmen RSUP Prof. Dr. RD Kandou (akrab disebut RSUP Kandou atau RS Kandou) Manado dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, termasuk pasien rujukan dari berbagai daerah di Indonesia Timur.

Komitmen tersebut merupakan instruksi langsung Direktur Utama RSUP Kandou Starry Homenta Rampengan bersama jajaran direksi untuk terus mengedepankan pelayanan prima kepada seluruh pasien.

Apresiasi datang dari Mey Klafie, orangtua pasien asal Papua yang tengah menjalani pengobatan di Poliklinik Estela RSUP Kandou. Dengan penuh haru, ia mengaku sangat puas terhadap pelayanan yang diterima selama mendampingi anaknya menjalani perawatan.

“Saya Mey Klafle asal Papua, orangtua pasien rujukan dari Papua ke RS Kandou dan berobat di Poliklinik Estela. Di sini saya merasa sangat puas sekali dengan pelayanan tim medis di RS Kandou. Susternya sangat ramah, dokternya juga baik. Pokoknya semua memuaskan,” ungkap Mey di ruang Estela, Rabu (13/5/2026), seperti dikutip Humas RSUP Kandou.

Mey sampai menangis melihat perhatian dan keramahan tenaga kesehatan yang melayani pasien dan keluarga dengan penuh kepedulian. “Kami tidak bisa membalas kebaikan tenaga medis yang melayani anak kami. Saya doakan Tuhan memberkati semua pelayanan di RS Kandou supaya menjadi berkat bagi banyak orang,” tambahnya.

Apresiasi atas pelayanan baik dari RSUP Kandou datang pula dari Asmi Mokodongan, pasien asal Kotamobagu yang mengaku puas dengan pelayanan selama menjalani perawatan dan operasi di rumah sakit rujukan terbesar di Sulawesi Utara ini.

Asmi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh tenaga medis RS Kandou, mulai dari dokter, perawat hingga petugas pelayanan yang dinilainya ramah dan profesional selama proses pengobatan.

“Saya merasa bangga dan sangat puas dengan pelayanan di RS Kandou Manado. Dokternya sangat bagus, susternya juga luar biasa ramah. Pelayanannya sangat baik,” ujar Asmi di ruang perawatan Irina D Atas RS Kandou Selasa (11/5/2026).

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada dokter yang menangani operasi dirinya, terutama dr. Joel, serta tim anestesi dan seluruh tenaga medis di ruang Irina D Atas yang disebutnya memberikan perhatian penuh selama masa perawatan.

“Terima kasih kepada dokter yang telah menangani dan melaksanakan operasi saya, terutama fokter Joel. Saya sangat berterima kasih karena sekarang saya sudah sehat,” katanya.

Asmi juga mengaku terkesan dengan sikap para perawat dan tenaga kesehatan yang dinilainya selalu memberikan pelayanan dengan penuh perhatian dan keramahan kepada pasien.

Menurutnya, pelayanan di RSUP Kandou Manado sangat membantu proses pemulihan pasien, sehingga dirinya merasa nyaman selama menjalani pengobatan.

“Suster-suster di Irina D Atas luar biasa. Dokter-dokternya hebat, pelayanannya mantap. Saya sangat berterima kasih kepada Direktur Utama Prof Starry Rampengan dan seluruh jajaran RS Kandou,” sebutnya, seperti dikutip Humas RSUP Kandou.

Sebelum keluar rumah sakit Asmi turut mengajak masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan agar tidak ragu berobat di RSUP Kandou Manado.

“Saya mengajak masyarakat yang mau berobat supaya datang ke RS Kandou Manado, karena pelayanannya luar biasa,” tandasnya.

Direktur Utama RSUP Kandou Starry Homenta Rampengan pada setiap pimpin apel selalu menegaskan bahwa pihak rumah sakit terus mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan terbaik, cepat, profesional, dan penuh empati kepada masyarakat.

Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman dan kepedulian bagi pasien maupun keluarga.

Dirut terus mengingatkan seluruh jajaran agar memberikan pelayanan dengan hati. Kepuasan dan kenyamanan pasien menjadi prioritas utama RS Kandou sebagai rumah sakit rujukan nasional di kawasan timur Indonesia.

Testimoni pasien dan keluarga seperti ini menjadi motivasi bagi RSUP Kandou untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas, humanis, dan terpercaya bagi masyarakat. (Fer)

Meimonews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar puncak Perayaan Paskah Tahun 2026 di Auditorium Fakultas Kedokteran Unsrat Manado, Rabu (13/5/2026). Ibadah dipimpin Ketua BPMS GMIM Pdt. Adolf Katuuk Wenas (khadim) di dampingi Pastor Dismas Valens Salettia Pr.

Tema yang diangkat pada perayaan Paskah tahun 2026 adalah Terang kebangkitan Kristus menyinari sivitas akademika Universitas Sam Ratulangi, bertumbuh dalam budaya mutu, berdampak bagi sesama dan berwawasan internasional.

Hadir pada kegiatan ini, para Wakil Rektor dan Dekan di lingkungan Unsrat, tenaga pendidik dan pegawai administrasi serta mahasiswa dari berbagai fakultas serta tamu penting yakni Pangdam XIII/Mdk Mayjen TNI Mirza Agus dan perwakilan Pemprov Sulut.

Perayaan yang penuh khidmat ini tidak hanya menjadi momentum refleksi iman, tetapi juga mempererat sinergitas antarlembaga di Sulawesi Utara.

Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menambah kehikmatan acara yang dipusatkan di lingkungan kampus Unsrat.

Dalam sambutannya, Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran unsur Forkopimda dan pemerintah daerah.

“Kehadiran Bapak Pangdam dan perwakilan Pemerintah Provinsi merupakan bentuk dukungan nyata terhadap atmosfir akademik yang harmonis di Unsrat,” ujar Rektor.

Terkait dengan tema yang diangkat pada perayaan Paskah tahun ini, Rektor menegaakan, tema ini mengandung makna yang sangat mendalam bagi komunitas akademik.

“Kebangkitan Kristus bukan hanya menjadi simbol kemenangan atas maut, tetapi juga menghadirkan terang pengharapan, pembaharuan hidup serta semangat untuk terus bertumbuh dan memberi dampak posotif bagi dunia di sekitar kita,” ujar Rektor.

Melalui momen Paskah ini, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika Unsrat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat pelayanan, meningkatkan kualitas diri dan menghadirkan terang Kristus melalui karya, pengabdian dan keteladanan hidup masing-masing.

“Kiranya terang kebangkitan Kristus senantiasa menerangi langkah, karya dan pengabdian kita bersama demi kemajuan Universitas Sam Ratulangi, masyarakat, bangsa dan negara,” harap Rektor.

Dalam khotbahnya, pendeta Wenas menekankan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber pengharapan dan kekuatan bagi dunia pendidikan untuk terus melahirkan generasi yang berintegritas.

Perayaan Paskah 2026 Unsrat ini diselenggarakan oleh panitia yang merupakan kolaborasi Fakultas Teknik pimpinan Liany Amelia Hendrata sebagai Ketua, Fakultas Ilmu Budaya pimpinan Golda Juliet Tulung Wakil Ketua, Fakultas Pertanian pimpinan Dedie Tooy Seketaris, dan Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran pimpinan Max RJ Runtuwene Bendahara.

Ada sejumlah kegiatan yang diadakan pada Perayaan Paskah 2026 yang dibuka pelaksanaannya oleh Rektor yang ditandai pelepasan burung ke udara yang diadakan di kompleks Kantor Pusat Urusan internasional UnsratUnsrat, Rabu (5/5/2026)

Kegiatan itu adalah donor darah (5)5/2026), anjangsana dan berbagi kasih di Panti Sosial Bartemeus (8/5/2026) dan acara puncak (13/5/2026). (FA)

Meimonews.com – Ada sebanyak 67 prodi (program studi) yang tersedia untuk penerimaan Maba (mahasiswa baru) Jalur Beking Pande (B2P) Unima TA 2026/2027 pimpinan Rektor Joseph Philip Kambey.

Menurut data yang diperoleh Meimonews.com dari Panitia Penerimaan Maba Unima TA 2026/2027 yang diketuai Hendro Sumual dan Sekretaris Vivi Winny Saroinsong, Selasa (12/5/2026), Prodi-prodi tersebut, tersebar di 7 fakultas, dan 1 pascasarjana.

FIPP (Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi) ada 7 prodi yakni S1 Pendidilan Guru Sekolah Dasar (S,Pd), S1 Pendidikan Psikologi (S.Psi), S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (S.Pd), S1 Pendidikan Luar Sekolah (S.Pd), S1 Pendidikan Khusus (S,Pd), S1 Bimbingan Komseling, dan S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (M,Pd).

Karo PKHM Unima Vivi Winny Saroinsong (Sekretaris Panitia Penerimaan Maba Unima TA 2026/2027)

FIKKM (Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat) 7 prodi yakni S1 Ilmu Keolahragaan (S.Or), S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (S.Pd) S1 Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (S.Pd), serta S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat (SKM)

FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) 6 prodi yakni S1 Manajemen (SE) S1 Ilmu Ekonomi (SE), S1 Pendidikan Ekonomi (S,Pd), S1 Akuntansi (S.Ak), D3 Manajemen Pemasaran (A.Md), dan S2 Pendidikan Ekonomi (M,Pd).

FBS (Fakultas Bahasa dan Seni) 8 prodi yakni S1 Bahasa dan Sastra Inggris (SS), S1 Pendidikan Bahasa Inggris (S.Pd), S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S.Pd), S1 Pendidikan Bahasa Jepang (S.Pd), S1 Pendidikan Bahasa Prancis (S.Pd) S1 Pendidikan Bahasa Jerman (S.Pd), S1 Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S.Pd), serta S1 Pendidikan Seni Rupa (S.Pd).

Fatek (Fakultas Teknik) 9 prodi yakni S1 Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (S.Pd), S1 Pendidikan Teknik Elektro (S.Pd), S1 Pendidikan Teknik Mesin (S.Pd), S1 Teknik Bangunan (S.Pd), S1 Pendidikan Teknologi, Informatika dan Komunikasi (S.Pd), Teknik Sipil (ST), S1 Teknik Mesin (ST), S1 Teknik Informatika (S.Kom), serta S1 Teknik Arsitektur (ST).

FMIPAK (Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian) 14 prodi yakni S1 Pendidikan Kimia (S.Pd), S1 Kimia (S.Si), S1 Pendidikan Biologi (S.Pd), S1 Biologi (S.Si), S1 Pendidikan Fisika (S.Pd), S1 Fisika (S.Si), S1 Pendidikan Matematika (S.Pd), S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (S.Pd), S1 Ilmu Lingkungan (S.L), S1 Geofisika (S.Gf), S2 Ilmu Kimia (M.Si), S2 Biologi (M.Si), S3 Biologi (Dr), serta S3 Kimia (Dr).

FISH (Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum) 11 prodi yakni S1 Pendidikan Geografi (S.Pd), S1 Geografi (S.Geo), S1 Ilmu Administrasi Negara (SAP), S1 Pendidikan Sosiologi (S Pd), S1 Ilmu Hukum (SH), S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (S.Pd), S1 Pendidikan Sejarah (S.Pd), S1 Pendidikan Pamcasila dan Kewarganegaraan (S.Pd), S2 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (M.Pd), S2 Administrasi Negara (MAP), serta S3 Administrasi Negara (Dr).

Pascasarjana 10 prodi yakni S2 Manajemen Pendidikan (M.Pd), S2 Pendidikan Olahraga (M.Pd), S2 Pendidikan Bahasa Inggris (M.Pd), S2 Pendidikan Bahasa Indonesia (M.Pd), S2 Pendidikan Teknolpgi dan Kejuruan (M.Pd), S2 Hukum (MH), S2 Pendidikan Matematika (M.Pd), S2 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (M.Pd), S2 Biokewirausahaan (M.Bio K) serta S3 Manajemen Kependidikan (Dr).

Saroinsong yang jabatan sehari-harinya Kepala Biro PKHM Unima mengajak para siswa SMA/SMK/sederajat serta mereka yang ingin melanjutkan studi untuk jenjang S2 dan S 3 untuk memanfaatkan jalur Mandiri BP2 Unima yang kini berakreditasi Unggul. (FA)

Meimonews.com – Wujud pelayanan cepat kepada masyarakat, Polsek Bunaken bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat melalui layanan Call Center 110/112 terkait adanya seorang pria tidak dikenal yang masuk ke rumah warga di Kelurahan Bailang Lingkungan VI, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Minggu (10/5/2026).

Laporan diterima sekitar pukul 11.09 Wita dengan lokasi kejadian berada di kompleks SDN 81 Bailang. Setelah menerima laporan, hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit, personil Polsek Bunaken merespon dan bergerak cepat untuk langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP) dan tiba di lokasi sekitar pukul 11.19 Wita.

Setibanya di lokasi, petugas segera melakukan pengamanan TKP berkoordinasi dengan pihak pelapor serta pemerintah setempat, dan melakukan pencarian terhadap terduga pelaku.

Dalam penanganan tersebut, turut hadir Kepala Lingkungan VI Bailang Ingriani Kakuhese untuk membantu proses penanganan di lokasi kejadian.

Berkat gerak cepat personil di lapangan, terduga pelaku berhasil diamankan tanpa adanya gangguan kamtibmas yang berarti.

Seluruh rangkaian penanganan di lokasi selesai pada pukul 11.30 Wita dalam keadaan aman dan terkendali.

Selanjutnya, pelaku langsung dibawa dan diamankan ke Polresta Manado guna menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kapolsek Bunaken Iptu Nurhanny Montolalu di dampingi Kasi Humas Polresta Manado Iptu Agus Haryono mengatakan, respons cepat terhadap setiap laporan masyarakat merupakan bentuk komitmen Polri dalam memberikan pelayanan terbaik serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan setiap kejadian yang berpotensi mengganggu kamtibmas melalui layanan Call Center 110/112 agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian,” ujar Kapolsek Bunaken. (AF)

Meimonews.com – Direktur Operasional Bank SulutGo (BSG) Louisa J. Parengkuan menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (Pemda) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Ruang Rapat Sasana Bhakti Praja Gedung C Lantai 3, Jl. Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026.

Rapat koordinasi tersebut bertujuan mendorong percepatan implementasi SP2D Online melalui integrasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dengan sistem perbankan, serta mendorong pemanfaatan Kartu Kredit Pemerintah Daerah (KKPD) oleh pemerintah daerah di seluruh wilayah Indonesia sebagai bagian dari transformasi digital keuangan daerah yang modern, transparan, efisien, dan akuntabel.

Kehadiran Direktur Operasional BSG dalam forum nasional ini mencerminkan komitmen BSG untuk aktif berperan dalam percepatan transformasi digital keuangan pemerintah daerah.

BSG selaku Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus mendukung agenda nasional dalam mewujudkan pengelolaan keuangan daerah yang terintegrasi, transparan, dan akuntabel.

Implementasi SP2D Online merupakan bagian dari transformasi digital yang menghubungkan SIPD dengan sistem perbankan, sehingga proses pencairan dana pemerintah daerah dapat dilakukan secara cepat, aman, dan akuntabel.

Sementara itu, pemanfaatan KKPD bertujuan untuk meningkatkan efisiensi belanja pemerintah daerah sekaligus memperkuat ekosistem pembayaran non-tunai di tingkat daerah. (elka)

Meimonews.com – Usai penerimaan mahasiswa baru (Maba) jalur prestasi (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) dan jalur tes (Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) tahun akademik (TA) 2026/2027, kini, Universitas Negeri Manado (Unima) menyiapkan penerimaan Maba jalur mandiri BP2 (Baku Beking Pande).

Penerimaan Maba pada universitas negeri dengan visi Unima unggul dan inovatif berdasarkan mapalus pimpinan Rektor Joseph Philip Kambey ini akan dibuka pada 28 Mei hingga 28 Juni 2026. Waktu yang sama adalah pembayaran biaya tes, setelah peserta mendaftar.

Pelaksanaan tes BP2 akan dilaksanakan pada 30 Juni hingga 4 Juli, sementara pengumuman hasil BP2 pada Juli. Untuk pendaftaran kembali pada 8 – 15 Juli 2026.

Oleh karenanya, Panitia Penerimaan Maba Unima Tahun 2026 yang diketuai Hendro Sumual (Dekan Fakultas Teknik/Fatek) dengan Sekretaris Vivi Winny Saroinsong (Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat/PKHM) mengajak para siswa lulusan SMA/SMK dan sederajat untuk memanfaatkan momen penting ini.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi nomor telefon 082211661955, atau membuka website penerimaan unima,ac.id atau bisa langsung datang ke Kampus Unima pada jam 08.30-15.40 Wita. (FA)

Meimonews.com – Unima (Universitas Negeri Manado) menggelar Rapat Pembahasan Temuan APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) Terkait Penyelesaian Usulan Penghapusan BMN (Barang Milik Negara) Kondisi Rusak Berat dalam Rangka Usulan TA 2027.

Rapat yang diadakan di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Pusat Unima, Tondano, Senin (11/5/2026) ini diikuti 40-an peserta.

Tampil sebagai pembicara pada kegiatan yang dibuka pelaksanaannya oleh Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat (PKHM) Vivi M. Saroingsong, mewakili Wakil Rektor 2 Donal Matheos Ratu adalah Karo PKHM, Ketua SPI Unima James Manengkey dan Tim BMN.

Rapat tersebut digelar dalam rangka tertib pengelolaan BMN serta mendukung penyusunan usulan pengadaan tahun anggaran (TA) 2027 yang akurat dan akuntabel di lingkungan unima pimpinan Rektor Joseph Philip Kambey.

Perwakilan unit-unit kerja di lingkungan perguruan tinggi negeri yang memiliki visi Unima unggul dan inovatif berdasarkan mapalus ini tidak hanya sekedar hadir tetapi juga menyiapkan data dukung terkait BMN kondisi rusak berat. (FA)