(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Di seluruh dunia, jutaan orang menunggu babak semifinal Piala Dunia 2026 dengan harapan sederhana : melihat negaranya menjadi juara dunia. Namun, di sebuah warung kopi, ada seorang pria yang justru sibuk menghitung sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bukan peluang juara. Bukan probabilitas adu penalti, melainkan peluang siapa yang akan menjadi pencetak gol terbanyak.

Temannya mulai heran. “Negara mana yang kamu dukung ?” Pria itu mengangkat kepala sebentar. “Saya mendukung Mbappé, Messi, Kane… dan tadi sebenarnya Haaland juga.”
“Lho ? Bukannya mereka main untuk negara yang berbeda ?” “Itulah justru indahnya.” Temannya langsung sadar. “Oh… kamu tukang bridge, ya ? Pria itu hanya tersenyum.

Bagi pemain bridge, dunia memang sedikit berbeda. Kalau orang lain melihat bagan pertandingan, mereka melihat jalan menuju trofi. Pemain bridge melihat pohon kemungkinan (game tree).

Kalau orang lain menghitung penguasaan bola, pemain bridge menghitung peluang. Kalau orang lain berteriak “Ayo menyerang!”, pemain bridge malah bertanya, “Kalau Inggris lolos, berarti Kane masih punya dua kesempatan menambah gol. Tapi kalau Norwegia yang lolos, Haaland juga masih hidup. Mana yang lebih menguntungkan ?”

Begitulah otak seorang pemain bridge bekerja. Awalnya, ia memiliki impian yang menurutnya sangat indah. Semifinal diisi oleh Prancis, Inggris, Norwegia, dan Argentina. Empat negara.
Empat monster pencetak gol. Mbappé. Messi. Haaland. Kane.

Semuanya masih hidup sampai akhir turnamen. Persaingan Sepatu Emas dijamin berlangsung sampai detik terakhir. Sayangnya… Sesudah membuka bagan pertandingan FIFA lebih teliti, wajahnya langsung berubah. “Lho…”

“Inggris ketemu Norwegia di perempat final?” Ia menepuk jidat. “Berarti salah satu pasti pulang.” Logika bridge yang begitu rumit akhirnya dikalahkan oleh sesuatu yang sangat sederhana. Bagan pertandingan.

Tetapi pemain bridge jarang menyerah.
Kalau kontrak gagal, masih ada papan berikutnya. Kalau rencana A gagal, buat rencana B. Maka lahirlah skenario baru. Prancis. Argentina. Spanyol. Ditambah salah satu dari Inggris atau Norwegia. Masih lumayan. Minimal perebutan Sepatu Emas tetap panas.

Di sinilah orang biasa dan pemain bridge mulai sulit saling memahami. Seorang penggemar sepak bola berkata, “Saya ingin negara saya juara dunia.” Pemain bridge menjawab, “Saya ingin top skor baru ditentukan pada pertandingan terakhir.” “Jadi kamu tidak peduli siapa juara?” “Bukan begitu.”

“Lalu?” “Kalau juara sudah ketahuan, pertandingan selesai.” “Kalau Sepatu Emas belum selesai, setiap gol masih mengubah cerita.”

Bahkan ia memiliki teori sendiri. Trofi Piala Dunia hanya diangkat satu kali. Tetapi perebutan Sepatu Emas bisa berubah setiap menit. Satu gol. Satu penalti. Satu tendangan bebas. Satu sundulan.

Semuanya bisa mengubah klasemen pencetak gol. Itulah drama yang membuatnya tidak berani meninggalkan televisi, bahkan hanya untuk membuat secangkir kopi.

Ketika Mbappé mencetak gol kedelapannya, ia tersenyum. Ketika Messi menyamai jumlah gol itu, ia mengangguk puas. Ketika Kane terus mendekat, ia mulai menghitung ulang. Dan ketika Haaland masih memiliki peluang, ia bahkan sempat berharap Norwegia membuat kejutan. Bukan karena ia orang Norwegia. Melainkan karena persaingan akan semakin seru.

Temannya kembali bertanya. “Kalau nanti Inggris mengalahkan Argentina?” Ia menjawab santai. “Berarti Kane naik.” “Kalau Argentina menang?” “Messi menjauh.” “Kalau Mbappé cetak hat-trick?” “Lebih bagus lagi.” “Kalau tidak ada yang mencetak gol?” Ia menghela napas.
“Itu namanya hasil seri bagi para pemburu Sepatu Emas.”

Akhirnya temannya tertawa. “Sekarang saya mengerti.” “Mengerti apa?” “Kalau menonton sepak bola bersama pemain bridge ternyata berbeda.” “Kenapa?” “Karena kami menonton pertandingan.” “Kalau kamu?” “Aku sedang memainkan probabilitas.”

Dan mungkin, hanya mungkin, di seluruh dunia memang ada segelintir orang yang menonton semifinal Piala Dunia bukan terutama untuk melihat siapa yang akan mengangkat trofi. Melainkan untuk memastikan persaingan Sepatu Emas tetap hidup hingga peluit terakhir final.

Kalau anda bertemu orang seperti itu, jangan heran. Kemungkinan besar, ia adalah seorang pemain bridge. Dan, di kepalanya, setiap pertandingan selalu terasa seperti satu papan besar yang harus dianalisis sebelum kartu pertama dimainkan. (Penulis adalah Pengurus dan Pemain Bridge)

(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Bangsa yang besar tidak pernah hidup hanya dari kejayaan masa lalu. Ia bertahan karena mampu menerjemahkan nilai-nilai leluhurnya ke dalam tantangan zamannya.

Minahasa pernah melahirkan banyak negarawan yang memberi warna bagi perjalanan Republik Indonesia. Nama-nama seperti Sam Ratulangi, AA Maramis, Johannes Leimena, GA Siwabessy, dan WZ Johannes bukan sekadar kebanggaan daerah, melainkan bagian dari fondasi bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi, mengapa tokoh seperti mereka tidak lagi banyak muncul ? Pertanyaan yang lebih penting adalah Bagaimana melahirkan generasi pemimpin baru yang mampu membawa nilai-nilai Minahasa ke panggung Indonesia abad ke-21 ?

Menurut saya, jawabannya bukan dengan kembali ke masa lalu, melainkan dengan menghidupkan kembali roh kepemimpinan Minahasa dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.

Kepemimpinan tidak lagi cukup mengandalkan karisma. Abad ke-21 adalah era yang berbeda. Pemimpin tidak cukup hanya berwibawa. Ia harus mampu membangun komunikasi digital, memahami ekonomi global, mengelola keberagaman, menguasai teknologi, sekaligus menjaga integritas.

Dalam dunia yang berubah sangat cepat, kualitas moral justru menjadi semakin penting. Di sinilah filosofi Minahasa menemukan relevansinya kembali.

Tou Keter: Kuat dalam Integritas, Bukan Sekadar Kekuasaan

Selama ini kata “kuat” sering dipahami sebagai kemampuan mengendalikan orang lain. Padahal Tou Keter memiliki makna yang lebih dalam.
Kekuatan sejati adalah keberanian mengambil keputusan yang benar sekalipun tidak populer.

Pemimpin masa depan harus berani melawan korupsi, politik uang, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala bentuk penyimpangan yang merugikan rakyat.

Kekuatan bukanlah dominasi. Kekuatan adalah keberanian memikul tanggung jawab.

Tou Leos : Politik yang Memanusiakan

Politik sering dipersepsikan sebagai perebutan kekuasaan. Padahal hakikat politik adalah mengurus kehidupan bersama.

Tou Leos mengingatkan bahwa kepemimpinan harus berangkat dari kasih, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi, pemimpin yang mampu merangkul jauh lebih dibutuhkan daripada pemimpin yang gemar membelah masyarakat menjadi “kami” dan “mereka”.

Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang menyembuhkan daripada mempertajam perbedaan.

Tou Nga’asan: Kepemimpinan Berbasis Pengetahuan

Dunia modern semakin kompleks. Masalah ekonomi, perubahan iklim, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga geopolitik global tidak dapat diselesaikan hanya dengan retorika. Karena itu, Tou Nga’asan menjadi semakin relevan.

Pemimpin harus terus belajar. Ia harus mampu membaca data, memahami ilmu pengetahuan, mendengarkan para ahli, dan membuat keputusan berdasarkan bukti.

Popularitas tidak boleh menggantikan kompetensi.

Lima Agenda Besar Kepemimpinan Baru

Jika ingin kembali melahirkan tokoh nasional, menurut saya Sulawesi Utara perlu membangun lima agenda strategis.

Pertama, Pendidikan kepemimpinan sejak dini. Sekolah, gereja, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan komunitas harus menjadi tempat lahirnya calon pemimpin. Kepemimpinan tidak muncul secara kebetulan. Ia dibentuk.

Kedua, Politik berbasis gagasan. Sudah waktunya ruang publik lebih banyak membicarakan ide daripada sekadar figur. Budaya diskusi, debat kebijakan, dan kajian publik harus dihidupkan kembali. Masyarakat perlu memberi penghargaan kepada mereka yang menawarkan solusi, bukan hanya slogan.

Ketiga, Memanfaatkan era digital. Generasi baru harus hadir di ruang digital dengan narasi yang mencerahkan. Media sosial bukan sekadar tempat mencari popularitas, melainkan ruang pendidikan publik. Pemimpin masa depan harus mampu menjelaskan gagasan yang rumit dengan bahasa yang sederhana.

Keempat, Membangun jejaring nasional, Tokoh Sulawesi Utara tidak cukup dikenal di daerah sendiri. Mereka harus aktif dalam organisasi nasional, dunia akademik, dunia usaha, komunitas profesional, dan berbagai forum lintas daerah. Pemimpin nasional lahir dari jejaring nasional.

Kelima, Menghidupkan budaya kolaborasi, Persaingan adalah bagian dari demokrasi. Namun persaingan tidak boleh berubah menjadi saling menjatuhkan. Budaya mapalus mengajarkan bahwa keberhasilan bersama lebih penting daripada kemenangan pribadi. Semangat ini perlu diterjemahkan ke dalam politik modern.

Dari Mapalus Menuju Indonesia

Mapalus bukan hanya tradisi gotong royong. Ia adalah filosofi bahwa kemajuan seseorang tidak boleh memiskinkan orang lain.

Dalam dunia yang semakin individualistis, semangat ini justru menjadi kekuatan baru. Indonesia membutuhkan lebih banyak kolaborasi daripada konflik. Lebih banyak kepercayaan daripada kecurigaan. Lebih banyak solusi daripada sensasi.

Nilai-nilai Minahasa dapat memberi kontribusi penting bagi kehidupan berbangsa apabila diterjemahkan secara kreatif.

Penutup

Saya percaya Sulawesi Utara tidak sedang mengalami krisis pemimpin. Yang sedang dihadapi adalah perubahan zaman yang menuntut cara baru dalam membangun kepemimpinan.

Filosofi Tou Keter, Tou Leos, dan Tou Nga’asan tidak pernah kehilangan relevansinya. Yang perlu diperbarui adalah cara kita menghidupkannya.

Apabila pendidikan, integritas, kolaborasi, dan keberanian moral kembali menjadi fondasi kehidupan publik, maka tokoh-tokoh nasional dari Sulawesi Utara akan lahir kembali.

Mungkin mereka tidak akan menjadi “KDM dari Manado”. Dan memang tidak perlu. Yang dibutuhkan Indonesia bukan salinan tokoh dari daerah lain, melainkan pemimpin yang autentik—berakar pada budaya Minahasa, berpikiran nasional, dan mampu menjawab tantangan dunia.

Itulah makna sejati menghidupkan kembali Tou Keter, Tou Leos, dan Tou Nga’asan untuk Indonesia abad ke-21. (Penulis ada Pengurus/pemain bridge)

Meimonews.com – Hari ini umat Katolik sedunia memasuki masa Prapaskah kelima.

Bacaan yang diambil dalam misa minggu ini adalah Yeheskiel 37 : 12-14 (Aku akan memberikan Roh-Ku kepadamu supaya kamu hidup), Roma 8 : 8-11 (Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam dirimu, dan Yohanes 11 : 1-45 (Akulah kebangkitan dan hidup).

Ketika orang mempersoalkan apakah setelah kematian di dunia ini masih ada kebangkitan dan kehidupan kekal, dan bagaimana caranya menuju ke sana ? Injil Yohanes menjawab kedua pertanyaan itu sekaligus dengan menunjuk pada diri Yesus. Sebab Dia adalah Jalan menuju kebangkitan dan kehidupan kekal itu dan Dia adalah kehidupan abadi itu sendiri.

Dan, salah satu bukti ialah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya, meski sudah dikuburkan beberapa hari lamanya. Karena itu, jawab Yesus kepada Marta yang meragukan hal itu, “Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa saja yg percaya kpd-Ku, ia akan hidup walau pun sudah mati. Dan setiap.orang yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan mati selama-lamanya. (Bdk. Yoh.11:1-45).

Percaya berarti hati yang terbuka pada tuntunan Roh Kudus, yaitu Roh Allah yangg hidup dan Roh Yesus yang bangkit dan yang telah dicurahkan dalam.hati kita melalui peristiwa Pentakosta dan Permandian.

Bagi Yehezkiel, Roh itulah yang dapat menghidupkan dan membawa kembali bangsa Israel ke tanah airnya yang abadi di surga (Bdk. Yeh.37:12-14).

Demikian bagi rasul Paulus, Roh itulah juga yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan Roh yang sama dapat menghidupkan tubuh kita yang fana. (Bdk. Rom.8:8-11).

Dalam konteks itu, masa Praspakah kelima ini mengundang kita untuk percaya akan Yesus sebagai jaminan keselamatan abadi, yaitu ambil-bagian dalam kemesiasan-Nya dengan berkorban dan mati karena cinta akan Tuhan dan sesama sebagai syarat utamanya.

Dengan kata lain, oleh iman, kita harus terbuka pada tuntunan Roh Kudus dari dalam hati melalui doa, tobat dan puasa sehingga kita tidak hidup dari kedagingan, menurut rasul.Paulus (yaitu Materialisme, Kesombongan dan Pencitraan) yang mendatangkan kematian abadi. Amin (RP Eduardus Besembun MSC)

Meimonews.com – Sepanjang tahun 2025, Bank SulutGo (BSG) menunjukkan kinerja yang patut diapresiasi sebagai Bank Pembangunan Daerah di tengah tantangan perlambatan ekonomi global dan nasional.

Ketika perekonomian dunia memasuki fase low growth yang penuh kehati-hatian, Bank SulutGo mampu menjaga stabilitas usaha, memperkuat fundamental keuangan, serta tetap berperan aktif dalam mendukung perekonomian Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Secara makro, kondisi ini sejalan dengan kinerja ekonomi regional yang relatif solid.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang berada di atas rata-rata nasional memberikan ruang bagi perbankan daerah untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi, meskipun tekanan eksternal dan ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.

Prof. Joy E. Tulung, SE, M.Sc

Dalam konteks tersebut, capaian Bank SulutGo sepanjang 2025 dapat dibaca sebagai hasil dari pengelolaan yang semakin berhati-hati dan profesional.

Dari sisi kinerja keuangan, pertumbuhan laba yang signifikan menjadi salah satu sorotan utama. Laba yang meningkat lebih dari 24 persen (yoy) mencerminkan perbaikan profitabilitas, yang juga tercermin pada kenaikan Return on Asset (ROA) menjadi 1,65 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 17,19 persen.

Likuiditas bank juga menunjukkan perbaikan, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang turun ke level yang lebih sehat. Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Bank SulutGo tidak semata bersifat ekspansif, tetapi juga disertai upaya penguatan struktur keuangan.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang cukup tinggi mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank SulutGo. Bagi bank daerah, kepercayaan publik merupakan aset strategis. Tanpa kepercayaan, fungsi intermediasi tidak akan berjalan optimal.
Dalam hal ini, Bank SulutGo berhasil menjaga persepsi positif masyarakat di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat.

Namun demikian, sebagai seorang akademisi ekonomi, saya memandang kinerja tersebut secara proporsional. Pertumbuhan kredit yang relatif moderat serta kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) perlu dicermati sebagai sinyal penting.

Walaupun NPL masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator, tren kenaikan ini mengingatkan kita bahwa ekspansi ke depan harus semakin selektif dan berbasis manajemen risiko yang kuat.

Dalam pandangan saya, tahun 2025 dapat disebut sebagai tahun konsolidasi. Bank SulutGo berhasil menjaga kinerja di tengah tekanan, namun tantangan ke depan justru menuntut strategi yang lebih matang. Fokus ke depan tidak lagi semata pada seberapa cepat bank bertumbuh, tetapi seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut.

Ke depan, terdapat beberapa catatan penting yang menurut saya perlu menjadi perhatian. Pertama, arah ekspansi kredit perlu semakin difokuskan pada sektor-sektor produktif unggulan daerah, seperti pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Pembiayaan yang terhubung dengan aktivitas ekonomi riil akan memberikan dampak berganda bagi perekonomian daerah sekaligus memperkuat kualitas portofolio kredit bank.

Kedua, penguatan manajemen risiko dan kualitas aset menjadi kunci. Dalam situasi global yang masih rentan, kehati-hatian bukanlah tanda perlambatan, melainkan prasyarat keberlanjutan. Sistem peringatan dini, kualitas analisis kredit, serta pengelolaan kredit bermasalah perlu terus diperkuat agar stabilitas bank tetap terjaga.

Ketiga, diversifikasi sumber pendapatan juga menjadi penting. Ketergantungan yang terlalu besar pada pendapatan bunga akan semakin menantang di tengah volatilitas suku bunga dan perubahan perilaku nasabah. Inovasi layanan, pengembangan pendapatan berbasis jasa, serta pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

Keempat, transformasi digital perlu ditempatkan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas tata kelola, bukan sekadar modernisasi sistem. Digitalisasi yang tepat akan memperkuat transparansi, mempercepat layanan, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Pada akhirnya, kinerja Bank SulutGo sepanjang 2025 patut diapresiasi, tidak hanya sebagai capaian korporasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga denyut perekonomian daerah. Tantangan 2026 dan seterusnya tentu tidak ringan, mulai dari ketidakpastian global hingga dinamika fiskal daerah. Namun, dengan fondasi yang telah dibangun, Bank SulutGo memiliki peluang untuk terus bertumbuh secara sehat.

Bagi saya, ukuran keberhasilan bukan sekadar angka pertumbuhan tahunan, melainkan kemampuan bank untuk tumbuh konsisten, berdaya tahan, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang mampu berjalan jauh, tidak tergesa-gesa, tetapi kokoh dan berkelanjutan. (Penulis : Prof. Joy E. Tulung, SE, M.Sc., Ph.D/Guru Besar FEB Unsrat / Ketua ISEI Cabang Manado)

Meimonews.com – Di Indonesia ada 109 bahasa daerah belum termasuk Papua dan sebagian besar terancam kepunahan. Menurut data UNESCO, setiap tahun ada sepuluh bahasa di dunia ini yang punah.

Pada abad ke-21 ini, diperkirakan laju kepunahan bahasa akan lebih cepat lagi. Di antara 6.000 lebih bahasa yang ada di dunia pada abad ke-20, hanya tinggal 600-3.000 bahasa saja yang masih dapat bertahan menjelang abad ke-21 ini.

Dari 6.000 bahasa di dunia itu, sekitar separuh adalah bahasa yang dengan jumlah penutur tidak sampai 10.000 orang, dan seperempatnya lagi kurang dari 1.000 penutur. Padahal, salah satu syarat lestarinya sebuah bahasa adalah jika penuturnya mencapai 100.000 orang, Salah satu bahasa daerah yang terancam punah adalah bahasa kampung saya, bahasa Tondano.

Bahasa Tondano buat tukang bridge adalah bahasa ibu karena merupakan
bahasa pertama yang dipelajari sejak lahir melalui interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar, yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi alami dan dasar identitas budaya.

Bahasa ini memungkinkan ekspresi pikiran, perasaan, dan ide secara lebih jelas dan mendalam, serta menjadi warisan yang menghubungkan anak dengan budaya dan tradisi nenek moyan.

Menguasai bahasa ibu di Indonesia penting untuk melestarikan identitas dan warisan budaya daerah, memperkuat hubungan keluarga dan komunitas, serta menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif dan kemampuan belajar bahasa asing anak.

Dengan menguasai bahasa ibu, generasi muda dapat terhubung dengan akar budayanya dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan dari leluhur.

Pentingnya Bahasa Ibu untuk Identitas dan Budaya
Pertama, fondasi Identitas dan Warisan Budaya :.Bahasa ibu adalah bagian dari jati diri dan warisan budaya yang tak ternilai. Melestarikan bahasa daerah berarti juga melestarikan budaya dan peradaban masyarakatnya.

Kedua, memperkuat Identitas Nasional : Mempertahankan bahasa daerah memperkuat keberagaman linguistik dan budaya Indonesia, yang merupakan bagian dari identitas nasional.
Manfaat untuk Perkembangan Anak.

Ketiga, Perkembangan Kognitif : Menguasai bahasa ibu sejak dini membantu anak lebih mudah memahami konsep, tata krama, dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar.

Keempat, Kemampuan Berpikir Kritis dan Logis :
Penggunaan bahasa yang tepat akan mengasah kemampuan anak dalam berpikir kritis dan logis, serta membangun kerangka berpikir yang kuat.

Kelima, Fondasi Belajar Bahasa Lain : Penguasaan bahasa ibu yang baik menjadi fondasi bagi anak untuk mempelajari bahasa asing atau internasional.

Keenam, Meningkatkan Kepercayaan Diri : Anak yang merasa dianggap sebagai bagian dari sebuah kebudayaan akan merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dan memiliki rasa bangga terhadap asal usulnya.

Koneksi dengan Keluarga dan Komunitas
Pertama, Memperkuat Hubungan Keluarga :
Bahasa ibu menjadi cara untuk mempererat hubungan dengan anggota keluarga, terutama dengan generasi yang lebih tua seperti kakek dan nenek.

Kedua, Memperkaya Wawasan : Melalui bahasa ibu, anak dapat mempelajari literatur daerah, musik, dan cerita rakyat yang memperkaya wawasan dan tumbuh kembang emosionalnya.

Pentingnya dalam Era Globalisasi
Menyeimbangkan Globalisasi : Mengejar globalisasi bukan berarti meninggalkan identitas bangsa. Penting untuk mengajarkan anak bahasa asing sekaligus menanamkan pentingnya mengutamakan dan melestarikan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia.

Semoga dengan pemahaman ini, semua stake holder yang terkait mau bahu membahu mempertahankan bahasa ibu terutama yang mulai terancam punah seperti bahasa ibu tukang bridge bahasa Tondano.

Secara pribadi tukang bridge telah mulai pada tanggal 19 November 2008 dengan memberanikan diri membuat Group Lestarikan Bahasa Tondano di Facebook yang saat itu mulai mewabah di Indonesia.

Kenapa saya pilih Facebook karena menurut pengalaman saya, keengganan anak-anak Tondano menggunakan bahasa daerah karena mereka malu. Ber bahasa Tondano terkesan kampungan.

Jadi, dengan adanya bahasa Tondano di Facebook mudah-mudahan generasi muda yang akrab dengan internet akan tertarik dan merasa bangga menggunakan bahasa Tondano.

Melihat hanya dalam tempo kurang dari setahun, anggota group Lestarikan Bahasa Tondano telah mencapai sekitar 3100 orang maka rasanya misi saya cukup berhasil. (Bert Toar Polii)

Oleh : Dr. drg. Paulus Januar

Meimonews.com – Indra penglihatan sangat vital bagi kesejahteraan hidup. Namun, kenyataan menunjukkan, semakin banyak orang yang menderita gangguan penglihatan, terutama dengan meningkatnya penggunaan layar monitor.

Gangguan penglihatan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering diabaikan. Gangguan penglihatan dapat mengenai siapa saja, dari usia muda hingga tua, baik laki maupun perempuan.

Gangguan penglihatan berpengaruh buruk bukan saja terhadap kesehatan tubuh, rasa percaya diri, serta kualitas hidup. Namun gangguan penglihatan juga mengurangi produktivitas, kesempatan menempuh pendidikan, serta lebih lanjut dapat meningkatkan kesenjangan sosial.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan di seluruh dunia gangguan penglihatan diderita lebih dari 2,2 miliar orang. Dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan sekitar 1 miliar orang sebenarnya dapat dicegah.

Sayangnya, saat ini pencegahan gangguan penglihatan belum dijalankan secara meluas. Selain itu, masih kurangnya sarana perawatan kesehatan mata yang berkualitas dan terjangkau.

Kelainan refraksi, katarak, retinopati diabetika, glaukoma, dan degenerasi makula merupakan gangguan penglihatan yang paling banyak terjadi, dan bila tidak dirawat dapat menimbulkan kebutaan.

Secara global, kebutaan dialami sekitar 40 hingga 45 juta orang. Sebenarnya, hingga 80 % kasus kebutaan tersebut tidak perlu terjadi, bila dilakukan upaya pencegahan dan perawatan gangguan penglihatan.

Selain faktor biomedis, terdapat pula faktor sosial yang mempengaruhi permasalahan gangguan penglihatan. Faktor sosial yang mempengaruhi permasalahan gangguan penglihatan terutama meliputi kesenjangan sosial, kurangnya prioritas mengenai kesehatan mata, lemahnya jaminan sosial, serta juga dampak dari komersialisasi sektor kesehatan.

Sayangi Mata Anda
Secara internasional, setiap tahun, sejak 1998 pada setiap Kamis minggu ke dua di bulan Oktober oleh WHO ditetapkan sebagai Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day).

Tahun ini, peringatan tersebut berlangsung pada 9 Oktober 2025. Secara berkesinambungan, sejak beberapa tahun lalu, tema yang dipilih adalah Sayangi Mata Anda (love your eyes).

Dengan Hari Penglihatan Sedunia, hendak menggugah untuk lebih peduli akan kesehatan mata dalam rangka mencegah gangguan penglihatan maupun menghindari risiko kebutaan. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati kualitas hidup yang baik dengan memiliki penglihatan yang optimal.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan secara nasional menyelenggarakan peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2025. Selain itu, dari kalangan profesi kesehatan mata, maupun dari kalangan masyarakat juga menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti seminar, webinar, penyuluhan, perlombaan, serta aksi sosial kesehatan mata.

Dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2025 patut dikemukakan mengenai kegiatan operasi katarak gratis bagi masyarakat yang membutuhkan di Paiton Jawa Timur.

Kegiatan tersebut memiliki arti penting mengingat, Jawa Timur merupakan salah satu propinsi dengan tingkat kebutaan tertinggi di Indonesia.

Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan
Menurut data mengenai kesehatan mata di Indonesia, pada tahun 2020 terdapat sekitar 8 juta orang menderita gangguan penglihatan, di antaranya 1,6 juta orang mengalami kebutaan.

Kemudian, Survei Kesehaytan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan menunjukkan, disabilitas penglihatan dialami 0,4 % penduduk, dan alat bantu penglihatan (kacamata, lensa kontak, lensa tanam) digunakan oleh 11,9 % penduduk Indonesia.

Dalam rangka mengatasi permasalahan jesehatan mata di Indonesia, sejak tahun lalu Kementerian Kesehatan telah menetapkan Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan Tahun 2025 – 2030. Peta jalan ini merupakan pengembangan dari Peta Jalan yang sebelumnya pernah ada.

Pengembangan dilakukan sehubungan dengan perubahan target indikator global WHO, transformasi kesehatan di Indonesia, serta perkembangan pelayanan kesehatan mata di Indonesia.

Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan Tahun 2025 – 2030 ditetapkan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan mata bagi Masyarakat. Selain itu, cakupan diperluas, terutama pada retinopati diabetika (RD) sebagai masalah prioritas karena prevalensi diabetes yang meningkat dan telah berdampak pada kesehatan mata.

Peta jalan dilaksanakan berdasarkan skrining dan deteksi dini gangguan penglihatan yang dipadukan dengan pelayanan kesehatan primer di tingkat komunitas. (Penulis adalah Staf Pengajar Akademi Refraksi Optisi Kartika Indra Persada Jakarta)

Meimonews.com – Minggu (27/7/2025) waktu Indonesia, selisih 6 jam dengan Roma, Italia (Roma lebih cepat dari wilayah Indonesia Bagian Barat) seluruh umat Katolik di dunia memperingati Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia V di Minggu Biasa XVII.

Berkenaan dengan momen tersebut, Paus Leo XIV (Peminpin Gereja Katolik Sedunia) memberikan renungan “Pengharapan : Tuntunan pada Sukacita,” mengacu pada Kitab Kejadian 18:20-33, Kolose 2:12-14 dan injil Lukas 11:1-13).

Sebagian (poin-poin penting) atau seluruh renungan itu dibacakan/disampaikan Pastor/Pemimpin Misa di gereja setempat.

Di awal renungannya, Paus Leo XIV mengungkapkan, dalam perayaan ini mendiang Paus Fransiskus telah memilih tema Berbahagialah yang tidak kehilangan harapannya (Sir. 14:2).

Para kakek nenek dan lansia Paroki St. Fransisius Xaverius Pineleng foto bersama usai misa memperingati Hari Kakek Nenek dan Lansia V yang dipimpin Pastor Anis Salaki MSC

Pengharapan selalu menuntun kita pada sukacita dan kasih. Paus Fransiskus saat terakhir dirawat di RS menulis bahwa meskipun kondisi fisik kita lemah, tak ada yang dapat menghalangi kita untuk mengasihi, berdoa, memberi diri dan menjadi berkat bagi yang lain.

Menjadi lansia (lanjut usia) merupakan sebuah ritme alami yang akan dihadapi oleh semua orang. Karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan para lansia kesepian dan kehilangan harapan. Kehadiran para lansia mengajak kita untuk merenungkan bahwa Tuhan kita setia dari masa ke masa.

Paus Leo XIV, dalam pesannya, mengajak kita untuk melihat pengalaman beberapa tokoh penting dalam KS, antara lain : Abraham dan Sara, Zakharia dan Elisabet, yang merasa kehilangan harapan akan masa depan karena tidak memiliki anak.

Kedua pasangan ini kemudian secara ajaib Tuhan tunjukan bahwa Dia setia pada janji-Nya dan mendengarkan jeritan hati semua orang yang berharap kepada-Nya. Mereka pun akhirnya dianugerahi buah hati.

Tokoh berikut adalah Musa. Musa dipanggil Tuhan pada saat dia sudah berusia 80 thn. Musa pun seakan kehilangan harapan karena sudah tua. Namun sekali lagi Tuhan menunjukkan bagaimana tangan-Nya yang perkasa memberi harapan pada Musa untuk berani mengambil keputusan membawa keluarga bangsa Israel keluar dari penderitaan di Mesir.

Akhirnya, harapan itu diteguhkan Yesus pada hari ini dengan mengajak kita untuk tidak malu meminta kepada Allah, Bapa kita. “Mintalah, maka kamu akan diberi,” kata Yesus. Yesus mengajarkan kita untuk tetap percaya dan berharap bahwa Bapa akan memberi yang terbaik bagi kita.

Paus Leo XIV mengajak, narilah kita menunjukkan cinta kita pada mereka yang telah lanjut usia, sebab dalam diri para lansia kita melihat tanda pengharapan bahwa Tuhan adalah kekuatan kita. Rasul Paulus, mengatakan, “Jika aku lemah maka aku kuat,” (2Kor. 12:10) karena Tuhan.(*)

Meimonews.com – Minggu (20/7/2025) berlangsung Pengucapan Syukur di Wilayah Minahasa (acapkali disebut juga Minahasa Induk). Momen unik untuk merasakan dan mengalami hal “menjamu dan dijamu” dalam suasana ungkapan syukur.

Di negeri yang ramah tamah ini, apakah kita semakin terbantu dan membudayakan tradisi “menjamu dan dijamu” seperti dalam kisah-kisah bacaan Kitab Suci Minggu (20/7/2027) ?

Simak renungan Paus Leo XIV, yang teks aslinya berbahasa Italia.

Keramahtamahan (hospitalitas) Abraham dan istrinya Sarah, dan kemudian keramahtamahan Marta dan Maria, sahabat-sahabat Yesus, menjadi pusat perhatian kita liturgi hari ini (bdk. Kej 18:1-10; Luk 10:38-42).

Setiap kali kita menerima undangan Perjamuan Kudus dan mengambil bagian dalam meja Ekaristi, Allah sendirilah yang “datang untuk melayani kita” (bdk. Luk 12:37). Namun, Allah kita telah terlebih dahulu tahu bagaimana menjadikan diri-Nya sebagai tamu, dan bahkan hari ini Dia berdiri di depan pintu kita dan mengetuk (bdk. Why 3:20).

Dalam bahasa Italia, tamu berarti orang yang menjamu dan yang dijamu. Dengan demikian, pada hari Minggu di musim panas ini kita dapat merenungkan permainan kata saling menjamu, yang jika tidak demikian hidup kita menjadi miskin.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk menjadi tuan rumah dan dijamu. Dibutuhkan kehalusan, perhatian dan keterbukaan. Dalam Injil, Marta mengambil risiko untuk tidak masuk sepenuhnya ke dalam sukacita perjumpaan ini.

Dia begitu sibuk dengan apa yang harus dia lakukan untuk menyambut Yesus, sehingga beresiko kehilangan momen perjumpaan yang tak terlupakan. Marta adalah seorang yang murah hati, tetapi Tuhan memanggilnya untuk sesuatu yang lebih indah daripada kemurahan hati itu sendiri. Dia memanggilnya untuk keluar dari dirinya sendiri.

Saudari-saudari yang terkasih, hanya inilah yang membuat hidup kita berkembang: membuka diri terhadap sesuatu yang menjauhkan kita dari diri kita sendiri dan pada saat yang sama memenuhi diri kita sendiri.

Pada saat Marta mengeluh karena saudarinya meninggalkannya sendirian dalam melayani (bdk. ay. 40), Maria seolah-olah kehilangan semua waktu dan ditaklukkan oleh sabda Yesus. Ia tidak kalah konkret dari saudarinya, dan juga tidak kurang murah hati. Akan tetapi, ia telah memanfaatkan kesempatan yang ada.

Inilah sebabnya mengapa Yesus menegur Marta: karena ia tetap berada di luar keakraban yang seharusnya dapat memberikan sukacita yang lebih besar baginya (bdk. ay. 41-42).

Waktu musim panas ini dapat membantu kita untuk “melambat” dan menjadi lebih seperti Maria daripada Marta. Terkadang kita tidak mengizinkan diri kita sendiri untuk mendapatkan bagian yang terbaik. Kita perlu beristirahat, dengan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang seni keramahtamahan.

Industri liburan ingin menyajikan berbagai macam pengalaman kepada kita, tapi mungkin bukan itu yang kita cari. Faktanya, liburan itu gratis, dan setiap perjumpaan sejati tidak dapat dibeli: baik perjumpaan dengan Tuhan, perjumpaan dengan orang lain, maupun perjumpaan dengan alam.

Kita hanya perlu menjadikan diri kita sebagai tamu: memberi ruang dan juga memintanya; menyambut dan disambut. Kita harus banyak menerima dan tidak hanya memberi.

Abraham dan Sarah, meskipun sudah tua, menemukan diri mereka berbuah ketika mereka diam-diam menyambut Tuhan sendiri dalam diri ketiga tamu itu. Bagi kita juga, ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang harus diterima.

Marilah kita berdoa kepada Perawan Maria, Bunda yang menyambut, yang menyambut Tuhan di dalam rahimnya dan bersama dengan Yusuf memberikan sebuah rumah kepada-Nya.

Dalam dirinya bersinarlah panggilan kita, panggilan Gereja untuk tetap menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang, untuk terus menyambut Tuhannya, yang memohon izin agar dapat masuk ke dalam rumah kita. (*)

Meimonews.com – Dikasteri untuk Dialog Agama mengeluarkan pesan yang ditandatangani George Jacob Kardinal Koovakad (Prefek) dan Mgr. Indunil Kodithuwakku Janakaratne Kankanamalage

(Sekretaris) sehubungan dengan Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dalam konteks bersama dengan Masa Prapaskah bagi kita umat Kristen.

Berikut Pesan Vatikan yang dikeluarkan Selasa (4/3/2025) dengan tema ”Kristen dan Muslim: Apa yang kita harapkan dari menjadi bersama” tersebut.

Di awal bulan Ramadan, Dikasteri untuk Dialog Antar Agama, menyampaikan salam hangat dan salam persahabatan kepada anda semua.

Waktu berpuasa, berdoa dan berbagi ini merupakan kesempatan istimewa
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan diperbaharui dalam nilai-nilai dasar agama, kasih sayang dan solidaritas.

Tahun ini, bulan suci Ramadan sebagian besar berlangsung bersamaan dengan masa Prapaskah, yang bagi umat Kristiani merupakan masa puasa, doa dan pertobatan kepada Kristus.

Kedekatan dalam agenda kerohanian ini menawarkan kesempatan unik bagi kita untuk berjalan berdampingan, sebagai umat
Kristiani dan Muslim, dalam proses pemurnian, doa dan amal yang sama.

Bagi kami umat Katolik, adalah suatu sukacita untuk berbagi waktu ini dengan anda, karena hal ini mengingatkan kita bahwa kita semua
adalah peziarah di bumi ini, dan bahwa kita semua berusaha untuk hidup lebih baik.

Tahun ini, kami ingin merefleksikan bersama anda tidak hanya tentang apa yang dapat kita lakukan bersama untuk menjalani hidup yang lebih baik, tetapi di atas semua itu, kami ingin menjadi seperti apa kita bersama, sebagai orang Kristen dan Muslim, di dunia yang sedang mencari harapan.

Apakah kita ingin menjadi rekan kerja yang
sederhana untuk dunia yang lebih baik, atau menjadi saudara dan saudari yang tulus, memberikan kesaksian bersama tentang persahabatan Tuhan dengan seluruh umat manusia ?

Lebih dari sekadar bulan puasa, Ramadan bagi kita umat Katolik merupakan sebuah sekolah transformasi batin. Dengan berpantang makanan dan minuman, umat Muslim belajar untuk mengendalikan keinginan mereka dan beralih kepada apa yang penting.

Masa disiplin rohani ini adalah sebuah undangan untuk memupuk kesalehan, sebuah kebajikan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan dan membuka hati kepada orang lain.

Seperti yang anda ketahui, dalam tradisi Kristen, masa Prapaskah mengundang kita untuk mengikuti jalan yang sama: melalui puasa, doa, dan sedekah, kita berusaha memurnikan hati kita dan memusatkan perhatian kembali pada Dia yang membimbing dan mengarahkan hidup kita.

Praktik-praktik spiritual ini, meskipun diekspresikan secara berbeda, mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya tentang ekspresi lahiriah, tetapi juga tentang jalan pertobatan batiniah.

Di dunia yang ditandai dengan ketidakadilan, konflik dan ketidakpastian tentang masa depan, panggilan kita bersama melibatkan lebih dari sekadar praktik spiritual yang serupa.

Dunia kita haus akan persaudaraan dan dialog yang tulus. Bersama-sama, umat Islam dan Kristen dapat menjadi saksi atas harapan ini, dengan keyakinan bahwa persahabatan itu mungkin terjadi terlepas dari beban sejarah dan ideologi yang mendorong pengucilan.

Harapan bukanlah sekedar optimisme: harapan adalah sebuah kebajikan yang berakar pada iman kepada Allah, Sang Maha Penyayang, Pencipta kita.

Bagi anda, teman-teman Muslim
yang terkasih, harapan dipupuk oleh kepercayaan pada belas kasihan ilahi, yang mengampuni dan membimbing. Bagi kami umat Kristiani, harapan ini didasarkan pada keyakinan bahwa kasih Allah lebih kuat dari segala cobaan dan rintangan.

Maka, kami ingin, bersama-sama, menjadi saudara dan saudari dalam kemanusiaan yang sangat menghargai satu sama lain. Kepercayaan kita kepada Allah adalah harta yang menyatukan kita, jauh melampaui perbedaan-perbedaan kita.

Hal ini mengingatkan kita bahwa kita semua adalah makhluk rohani, berinkarnasi, makhluk yang dikasihi, yang dipanggil untuk hidup bermartabat dan saling menghormati. Terlebih lagi, kita ingin menjadi penjaga martabat suci ini dengan menolak segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pengucilan.

Tahun ini, ketika dua tradisi spiritual kita bertemu dalam merayakan Ramadan
dan Prapaskah, kita memiliki kesempatan unik untuk menunjukkan kepada dunia bahwa iman mentransformasi orang dan masyarakat, dan bahwa iman adalah kekuatan untuk persatuan dan rekonsiliasi.

Di dunia di mana “godaan untuk membangun budaya benteng, untuk membangun tembok, tembok di hati, tembok di tanah untuk mencegah perjumpaan dengan budaya lain, dengan orang lain” muncul kembali
(Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, 27), tantangan kita adalah untuk membangun, melalui dialog, masa depan bersama yang didasarkan pada persaudaraan.

Kita tidak hanya ingin hidup berdampingan; kita ingin hidup bersama dengan tulus dan saling menghargai. Nilai-nilai yang kita anut bersama, seperti keadilan, kasih sayang dan penghormatan terhadap ciptaan, seharusnya mengilhami tindakan dan hubungan kita, dan menjadi kompas kita dalam membangun jembatan dan bukannya tembok, membela keadilan dan bukannya penindasan, melindungi lingkungan hidup dan bukannya menghancurkannya.

Iman kita dan nilai-nilainya harus membantu kita untuk menjadi suara yang berbicara menentang ketidakadilan dan ketidakpedulian, dan menyatakan keindahan keragaman manusia.

Di bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri ini, kami dengan senang hati berbagi harapan ini dengan anda.

Semoga doa-doa, sikap solidaritas dan upaya kami untuk perdamaian menjadi tanda nyata dari persahabatan kami yang tulus dengan anda. Semoga hari raya ini menjadi kesempatan untuk perjumpaan persaudaraan antara umat Muslim dan Kristen, di mana kita dapat merayakan kebaikan Tuhan bersama-sama.

Momen-momen berbagi yang sederhana namun mendalam ini merupakan benih-benih harapan yang dapat mengubah komunitas dan dunia kita. Semoga persahabatan kita menjadi angin segar bagi dunia yang haus akan perdamaian dan persaudaraan !

Semoga puasa dan amal saleh lainnya selama bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri di akhir bulan Ramadhan, memberikan anda buah-buah perdamaian, harapan, persaudaraan dan kegembiraan yang melimpah. (*)