Meimonews.com – Memperingati Dies Natalis ke-63 Fakultas Peternakan Unsrat sejumlah kegiatan digelar.

Salah satunya adalah Pertandingan Bridge Beregu/Tim dan pasangan yang diselenggarakan dua hari (Jumat-Sabtu, 9-10/10/2026) di aula fakultas.

Untuk pertandingan beregu, tercatat tak kurang dari 14 tim/regu yang mengikuti sementara pertandingan pasangan tercatat sementara puluhan peserta.

“Untuk beregu, tercatat 14 regu/tim yang ikut dalam pertandingan ini sementara pertandingan pasangan yang diadakan setelah pertandingan beregu/tim diperkirakan puluhan pasangan,” ujar Pemimpin Pertandingan John Tumewu kepada Meimonews.com di jedah pertandingan.

Dekan Fakultas Peternakan Stanly Oktavianus Bryneer Lombogia menjelaskan, olahraga otak adalah olahraga bridge. Artinya mau berkawan, bersahabat lewat olahraga bridge atau jembatan komunikasi untuk menyatukan visi dan misi dalam olahraga. Tapi menjunjung tinggi sportivitas.

“Diharapkan lewat pertandingan seperti ini olahraga bridge melahirkan kembali atlit-atlit bridge nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Dekan berharap, pertandingan olahraga bridge yang dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ini bisa berjalan dengan baik dan sukses. “Dan tahun-tahun ke depan boleh lebih meriah lagi,” ujarnya kepada Meimonews.com di lokasi pertandingan. (FA)

Meimonews.com – Menjadi kebanggaan bagi Sekolah Menengah (SMA) Negeri 7 Manado karena salah satu siswanya berhasil masuk tim Persatuan Tinju Amatir Nasional (Pertina) Sulut untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tinju tahun 2026.

Siswa tersebut adalah Yehuda Amos Lionel Mozes. Siswa kelas 12 D ini tergabung dalam tim tinju provinsi Sulut yang berjumlah 9 orang yang akan berlaga dalam iven nasional yang akan diselenggarakan di Jakarta, 19-25/2026.

Masuknya Yehuda dalam squad tinju Sulut ini tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang harus dilewati. Sejumlah prestasi dan keikutsertaannya di sejumlah iven dijadikan alasan terpilihannya itu.

Salah satu atlet tinju berbakat binaan sekolah yang kerap mewakili daerahnya dalam berbagai ajang kompetisi kejuaraan tinju regional ini memiliki beberapa catatan prestasi dan keterlibatannya dalam beberapa iven.

Kepala SMA Negeri 7 Manado Hanny Willem Rawung

Pada Boxing on The Street, Yehuda meriah juara 1. Pada Kejuaraan Piala Bupati Sangihe 2026, Yehuda terdaftar sebagai salah satu dari ratusan petinju berbakat se-Sulut yang ikut bertarung memperebutkan gelar dalam turnamen bergengsi tersebut.

Saat berkompetisi di tingkat pelajar, Yehuda membawa harum nama sekolahnya (SMA Negeri 7 Manado) melalui raihan podium di cabang olahraga tinju.

Yehuda akan bertanding di Kejurnas tahun ini di kategori Yunior Boys kelas 54 kilogram.

“Sebagai Kepala SMA Negeri 7 Manado, saya bangga karena Yehuda berhasil masuk dalam tim tinju Sulut untuk Kejurnas Tinju Tahun 2026,” ujar Kepala SMA Negeri 7 Manado Hanny Willem Rawung kepada Meimonews.com di ruang kerjanya, Selasa (29/9/2026).

Pimpinan, guru dan staf sekolah, sambung Rawung di dampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Andika Lontoh, sangat mendukung keikutsertaannya di iven nasional tersebut dan mendoakam agar hasil terbaik bisa diraihnya. (Fer)

Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Ada satu angka yang paling menarik perhatian dari penyelenggaraan 9th World Youth Transnational Championships 2026 di Hefei, China. Bukan jumlah negara peserta, bukan pula hadiah yang diperebutkan, melainkan 98 tim yang mendaftar pada kategori Under-16 (U16).

Angka ini menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi perkembangan olahraga bridge dunia.

Bahkan, World Bridge Federation (WBF) mengakui bahwa jumlah peserta U16 jauh melampaui perkiraan. Antusiasme yang luar biasa tersebut membuat panitia harus memberlakukan biaya pendaftaran pada kategori U16 untuk membantu menutup meningkatnya biaya penyelenggaraan. Hal ini menunjukkan bahwa ledakan jumlah peserta benar-benar di luar ekspektasi penyelenggara.

Fenomena ini memberikan sinyal yang sangat positif. Selama bertahun-tahun, bridge sering mendapat stigma sebagai olahraga yang didominasi pemain senior. Namun kenyataan di Hefei justru memperlihatkan hal sebaliknya. Minat generasi muda terhadap bridge terus bertumbuh, terutama di kelompok usia paling dini.

Hampir seratus tim U16 berarti ratusan pemain berusia di bawah 16 tahun datang dari berbagai belahan dunia untuk berkompetisi. Mereka bukan hanya belajar bermain bridge, tetapi juga belajar berpikir logis, bekerja sama, mengambil keputusan, serta menjunjung sportivitas.

Inilah investasi terbesar bagi masa depan olahraga bridge. Banyak negara kini menyadari bahwa pembinaan harus dimulai sejak usia sekolah. Program bridge di sekolah, klub junior, hingga kompetisi usia dini mulai berkembang pesat di Eropa, Asia, maupun Amerika. Hasilnya mulai terlihat dari semakin banyaknya pemain muda yang tampil pada kejuaraan dunia.

Sayangnya, di tengah perkembangan yang sangat menggembirakan tersebut, Indonesia belum ikut ambil bagian. Tidak ada satu pun tim Indonesia yang tampil pada kategori U16 di Hefei.

Kondisi ini patut menjadi bahan evaluasi bersama. Indonesia sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam olahraga bridge. Prestasi internasional pernah diraih, bahkan Indonesia termasuk negara yang disegani di kawasan Asia. Namun prestasi hanya dapat dipertahankan apabila regenerasi berjalan dengan baik.

Keikutsertaan dalam kejuaraan dunia usia muda bukan semata-mata mengejar medali. Yang jauh lebih penting adalah memberi kesempatan kepada pemain muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman internasional, memperluas wawasan, membangun jaringan pertemanan, sekaligus menumbuhkan motivasi untuk terus berkembang.

Keberhasilan WBF menarik hingga 98 tim U16 membuktikan bahwa masa depan bridge dunia sedang berada di tangan generasi muda. Negara-negara yang hari ini serius membina pemain usia dini kemungkinan besar akan memetik hasil dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Indonesia tidak boleh tertinggal. Sudah saatnya pembinaan bridge usia muda menjadi prioritas. Program masuk sekolah, festival bridge pelajar, kompetisi U16 dan U21 yang berkesinambungan, serta dukungan pemerintah dan organisasi bridge perlu berjalan seiring.

Semoga pada kejuaraan dunia berikutnya, Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton. Akan jauh lebih membanggakan apabila Merah Putih turut berkibar melalui tim-tim muda yang siap bersaing dengan pemain terbaik dunia.

Karena masa depan bridge Indonesia sesungguhnya dimulai dari anak-anak yang bermain bridge hari. (Penulis adalah Pemain Bridge dan PB Gabsi)

Meimonews.com – Wakil Walikota Manado Richard Sualang membuka Half Marathon memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-403 Kota Manado di Malalayang Beach Walk (MBW) II, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema Manado Juara dan mempertandingkan kategori 21K dan 5K ini diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga pelari internasional, termasuk dari Kenya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Manado untuk mendorong gaya hidup sehat, mempererat kebersamaan masyarakat, sekaligus mempromosikan Kota Manado sebagai kota yang aktif, sehat, dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kapolresta Manado Kombes Pol. Irham Halid, Sekda Kota Manado Steaven Dandel, Asisten II Kota Manado Atto Bulo, Asisten III Kota Manado, Donal Franky Supit, Kadispora Kota Manado Bonyx Yusak Saweho dan Camat Malalayang Yusuf Kopitoy.

Usai pelaksanaan lomba, Panitia langsung menyerahkan hadiah bagi pemenang lomba. Penyerahan hadiah dilakukan Wakil Walikota Kapolresta Manado dan pejabat Pemkot lainnya.

Wakil Walikota Manado, dalam sambutannya, mengaku bersyukur atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan lomba lari perdana yang digelar Pemerintah Kota Manado tersebut.

“Ini pertama kali diselenggarakan Pemerintah Kota Manado dan kami sangat bersyukur antusias masyarakat maupun atlet begitu tinggi. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung, termasuk Forkopimda Manado, Kapolresta manado dan seluruh jajaran pemerintah,” ujarnya.

Kegiatan ini, menurutnya, tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan HUT Kota Manado, tetapi juga merupakan upaya pemerintah mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga.

Wakil Walikota berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT ke-403 Kota Manado mampu memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun daerah. “Semoga seluruh rangkaian HUT ke -403 ini menjadi penyemangat bagi masyarakat dan pemerintah untuk bersama – sama membangun Kota Manado yang semakin maju, sehat, dan sejahtera,” ujarnya.

Kehadiran Kapolresta Manado dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Polri terhadap kegiatan positif yang mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sekaligus mempererat kebersamaan.

Kapolresta Manado menyampaikan bahwa olahraga bukan hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi media untuk mempererat silaturahmi dan membangun semangat persatuan di tengah masyarakat.

“Half Marathon 2026 ini menjadi momentum yang sangat baik untuk menumbuhkan budaya hidup sehat sekaligus memperkuat kebersamaan antara pemerintah, TNI-Polri, komunitas, dan seluruh masyarakat.

Polresta Manado akan terus mendukung kegiatan-kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif,” ujarnya

Untuk memastikan kegiatan berjalan dengan aman dan lancar, Polresta Manado menurunkan personil di sejumlah titik guna melaksanakan pengamanan, pengaturan arus lalu lintas, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat dan para peserta lomba. (elka)

(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kalau ada yang bertanya kapan waktu senggang bagi pemain bridge pada semester kedua tahun 2026, ? jawabannya mungkin sederhana yakni hampir tidak ada.

Mulai Juli hingga Desember, kalender turnamen bridge dipenuhi berbagai kejuaraan, baik nasional maupun internasional. Hampir setiap akhir pekan terdapat turnamen yang dapat diikuti. Bahkan, ada beberapa periode ketika dua atau tiga kejuaraan berlangsung hampir bersamaan.

Juli menjadi pembuka dengan Pesta Sukan Singapura dan Walikota Pontianak Cup. Memasuki Agustus, intensitas kompetisi langsung meningkat. Diawali Ernst Gultom Memorial Trophy di Jakarta, kemudian World Youth Transnational Championship di Hefei, Intercity Hong Kong, World Bridge Series di Katowice, hingga Kejuaraan Pasangan HUT ke-81 RI DPP KKK di Jakarta.

Kesibukan berlanjut pada September. Tugu Muda Cup di Semarang menjadi pembuka sebelum disusul EA 2nd International Bridge Championship di Chennai, Kejuaraan Nasional Bridge di Mamuju, APBF Youth Championships di Hainan, serta Gubernur Kanagawa Cup di Jepang.

Belum sempat beristirahat, Oktober langsung diawali HCL International Bridge Championship di New Delhi, dilanjutkan FISU Mind Sports University Games di Liaocheng, China, dan ITS Challenge di Surabaya.

November bahkan menjadi bulan paling padat. Asia Pacific Fall Transnational Championship di Qingdao, Porprov Kalimantan Barat, Festival Online Wanita WBF, Seoul International Bridge Tournament, Rektor UGM Cup, serta kemungkinan Piala Pahlawan Surabaya membuat hampir seluruh akhir pekan terisi agenda bridge.

Desember pun belum menjadi waktu untuk bersantai. Kalender masih menghadirkan 9th SEABF Championships dan 42nd Asian Bridge Clubs Championship (ABCC) di Kuala Lumpur, peringatan HUT GABSI dan Hari Bridge Nasional, serta rencana penyelenggaraan Christmas Bridge Festival di Manado.

Yang menarik, kalender tersebut kemungkinan masih akan bertambah padat.

Memasuki Oktober hingga Desember, sejumlah provinsi diperkirakan menggelar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang mempertandingkan cabang olahraga bridge. Hingga saat ini baru Porprov Kalimantan Barat yang telah mengumumkan jadual resminya, sedangkan provinsi-provinsi lain masih menunggu pengumuman resmi.

Artinya, jadual yang sudah padat ini masih sangat mungkin bertambah.

Padatnya kalender tentu membawa tantangan. Atlet harus pandai mengatur jadwal, menjaga kondisi fisik dan mental, serta menentukan prioritas turnamen yang akan diikuti. Pengurus dan penyelenggara juga perlu berkoordinasi agar benturan jadwal dapat diminimalkan.

Namun, di sisi lain, ramainya kalender merupakan indikator positif. Semakin banyak turnamen berarti semakin banyak kesempatan bertanding, semakin banyak pengalaman yang diperoleh atlet, serta semakin besar peluang munculnya pemain-pemain muda berbakat.

Bridge Indonesia tampaknya sedang memasuki fase yang sangat menggembirakan. Aktivitas kompetisi tidak lagi terpusat di beberapa kota saja, tetapi menyebar ke berbagai daerah dan terhubung dengan kalender internasional.

Kini, tantangannya bukan lagi mencari turnamen, melainkan bagaimana mengelola begitu banyak kesempatan tersebut agar benar-benar menghasilkan prestasi.

Melihat kalender semester kedua tahun 2026, rasanya judul tulisan ini memang sangat tepat : “Ketika Kalender Bridge Nyaris tak Menyisakan Akhir Pekan.” (Penulis adalah Pengurus/pemain bridge)

(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Di seluruh dunia, jutaan orang menunggu babak semifinal Piala Dunia 2026 dengan harapan sederhana : melihat negaranya menjadi juara dunia. Namun, di sebuah warung kopi, ada seorang pria yang justru sibuk menghitung sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bukan peluang juara. Bukan probabilitas adu penalti, melainkan peluang siapa yang akan menjadi pencetak gol terbanyak.

Temannya mulai heran. “Negara mana yang kamu dukung ?” Pria itu mengangkat kepala sebentar. “Saya mendukung Mbappé, Messi, Kane… dan tadi sebenarnya Haaland juga.”
“Lho ? Bukannya mereka main untuk negara yang berbeda ?” “Itulah justru indahnya.” Temannya langsung sadar. “Oh… kamu tukang bridge, ya ? Pria itu hanya tersenyum.

Bagi pemain bridge, dunia memang sedikit berbeda. Kalau orang lain melihat bagan pertandingan, mereka melihat jalan menuju trofi. Pemain bridge melihat pohon kemungkinan (game tree).

Kalau orang lain menghitung penguasaan bola, pemain bridge menghitung peluang. Kalau orang lain berteriak “Ayo menyerang!”, pemain bridge malah bertanya, “Kalau Inggris lolos, berarti Kane masih punya dua kesempatan menambah gol. Tapi kalau Norwegia yang lolos, Haaland juga masih hidup. Mana yang lebih menguntungkan ?”

Begitulah otak seorang pemain bridge bekerja. Awalnya, ia memiliki impian yang menurutnya sangat indah. Semifinal diisi oleh Prancis, Inggris, Norwegia, dan Argentina. Empat negara.
Empat monster pencetak gol. Mbappé. Messi. Haaland. Kane.

Semuanya masih hidup sampai akhir turnamen. Persaingan Sepatu Emas dijamin berlangsung sampai detik terakhir. Sayangnya… Sesudah membuka bagan pertandingan FIFA lebih teliti, wajahnya langsung berubah. “Lho…”

“Inggris ketemu Norwegia di perempat final?” Ia menepuk jidat. “Berarti salah satu pasti pulang.” Logika bridge yang begitu rumit akhirnya dikalahkan oleh sesuatu yang sangat sederhana. Bagan pertandingan.

Tetapi pemain bridge jarang menyerah.
Kalau kontrak gagal, masih ada papan berikutnya. Kalau rencana A gagal, buat rencana B. Maka lahirlah skenario baru. Prancis. Argentina. Spanyol. Ditambah salah satu dari Inggris atau Norwegia. Masih lumayan. Minimal perebutan Sepatu Emas tetap panas.

Di sinilah orang biasa dan pemain bridge mulai sulit saling memahami. Seorang penggemar sepak bola berkata, “Saya ingin negara saya juara dunia.” Pemain bridge menjawab, “Saya ingin top skor baru ditentukan pada pertandingan terakhir.” “Jadi kamu tidak peduli siapa juara?” “Bukan begitu.”

“Lalu?” “Kalau juara sudah ketahuan, pertandingan selesai.” “Kalau Sepatu Emas belum selesai, setiap gol masih mengubah cerita.”

Bahkan ia memiliki teori sendiri. Trofi Piala Dunia hanya diangkat satu kali. Tetapi perebutan Sepatu Emas bisa berubah setiap menit. Satu gol. Satu penalti. Satu tendangan bebas. Satu sundulan.

Semuanya bisa mengubah klasemen pencetak gol. Itulah drama yang membuatnya tidak berani meninggalkan televisi, bahkan hanya untuk membuat secangkir kopi.

Ketika Mbappé mencetak gol kedelapannya, ia tersenyum. Ketika Messi menyamai jumlah gol itu, ia mengangguk puas. Ketika Kane terus mendekat, ia mulai menghitung ulang. Dan ketika Haaland masih memiliki peluang, ia bahkan sempat berharap Norwegia membuat kejutan. Bukan karena ia orang Norwegia. Melainkan karena persaingan akan semakin seru.

Temannya kembali bertanya. “Kalau nanti Inggris mengalahkan Argentina?” Ia menjawab santai. “Berarti Kane naik.” “Kalau Argentina menang?” “Messi menjauh.” “Kalau Mbappé cetak hat-trick?” “Lebih bagus lagi.” “Kalau tidak ada yang mencetak gol?” Ia menghela napas.
“Itu namanya hasil seri bagi para pemburu Sepatu Emas.”

Akhirnya temannya tertawa. “Sekarang saya mengerti.” “Mengerti apa?” “Kalau menonton sepak bola bersama pemain bridge ternyata berbeda.” “Kenapa?” “Karena kami menonton pertandingan.” “Kalau kamu?” “Aku sedang memainkan probabilitas.”

Dan mungkin, hanya mungkin, di seluruh dunia memang ada segelintir orang yang menonton semifinal Piala Dunia bukan terutama untuk melihat siapa yang akan mengangkat trofi. Melainkan untuk memastikan persaingan Sepatu Emas tetap hidup hingga peluit terakhir final.

Kalau anda bertemu orang seperti itu, jangan heran. Kemungkinan besar, ia adalah seorang pemain bridge. Dan, di kepalanya, setiap pertandingan selalu terasa seperti satu papan besar yang harus dianalisis sebelum kartu pertama dimainkan. (Penulis adalah Pengurus dan Pemain Bridge)

Meimonews.com – Dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31, civitas RSUP Kandou Manado menggelar kegiatan Jalan Sehat, Jumat (13/02/2026).

Kegiatan yang diikuti ratusan pegawai ini dilepas secara oleh Direktur Utama RSUP Kandou Manado Starry Homenta  Rampengan.

Turut hadir Direktur Layanan Operasional Erwin Sondang Siagian, serta Direktur Perencanaan dan Keuangan Ekwanto.

 

Kegiatan jalan sehat ini menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus mengampanyekan gaya hidup sehat di lingkungan RSUP Kandou Manado.

Rute jalan sehat dimulai dari Kantor Pusat Administrasi RSUP Kandou dan berakhir di Manado Beach Walk (MBW).

Setibanya di garis finis, kegiatan dilanjutkan dengan senam sehat bersama serta sesi foto bersama sebagai bentuk kebersamaan civitas hospitalia dalam suasana perayaan HUT.

Dalam salabutannya, Dirut menegaskan pentingnya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik yang teratur.

Diingatkan agar olahraga dilakukan dengan memperhatikan faktor keselamatan serta kondisi lingkungan sekitar.

“Kesehatan harus dijaga, salah satunya dengan berolahraga. Namun tetap perhatikan keselamatan dan lingkungan, agar aktivitas yang kita lakukan benar-benar memberi manfaat,” ujarnya.

“Ketua Panitia HUT RSUP Kandou Manado yang juga Manajer Tim Kerja OSDM Ns. Abram Babakal menyampaikan apresiasi dan atas dukungan penuh pimpinan rumah sakit sehingga seluruh rangkaian kegiatan HUT dapat berjalan dengan baik.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Direktur Utama Prof Starry Rampengan, beserta jajaran direksi yang terus memberikan dukungan dan support kepada panitia, serta kepada seluruh tim yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan,” ujarnya. (Fer)

 

Meimonews.com – Madang dari Gorontalo dan Meryl Gratia Consolata Nangoi dari Persatuan Atlit Seluruh Indonesia (PASI) Manado menorehkan prestasi membanggakan di ajang Police Run 2026 5 K, Sabtu (14/2/2026).

Madang meriah juara pertama 5 kilometer (5 K) putra dengan catatan waktu 17,21 menit dengan mengalahkan Akbar dari Yonif 712 yang menjadi juara kedua dengan waktu 17,64 menit dan Maivel Pangemanan dari PT Intan Uterx yang menjadi juara ketiga dengan waktu 17,39 menit.

Untuk 5 K putri, Meryl (PASI Manado) menjadi juara pertama dengan waktu 22,53 menit mengalahkan Avriel Seroi (PASI Minut) yang menjadi juara kedua dengan waktu 24,05 menit dan Raysa Betahai (PASI Manado) yang menjadi juara ketiga dengan waktu 24,19 menit.

Lomba lari yang digelar Polda Sulut pimpinan Irjen Pol. Roycke Harry Langie  dan diikuti ribuan peserta ini mengambil start dan finish di halaman Mapolda Sulut. Start dilepas Irwasda Polda Sulut Kombes Pol Yakub Dedy Karyawan.

Para pemenang lomba langsung diberikan hadiah berupa uang pembinaan dan piagam, sementata semua peserta mendapat medali. (Lexie)

Meimonews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Manado resmi melepas kontingen Kota Manado untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Sulawesi Utara Tahun 2025.

Prosesi pelepasan yang dilakukan Wakil Walikota Manado Richard Sualang mewakili Walikota Manado Andrei Angouw ini diadakan di Ruang Serbaguna Pemkot Manado, Jumat (14/11/2025.

Ada sebanyak 583 atlet yang akan bertanding pada 34 cabang olahraga di kegiatan Porprov, yang Ketua Umum Panitia Pelaksananya Walikota Manado.

Menurut Ketua Kontingen Kota Manado Reza Rumambi 583 atlet tersebut berasal dari cabang Atletik 21 orang, Arung jeram (10), Balap Sepeda (5), Bola Voli (28), Bola Basket (36), Bridge (15), Biliar (12), Bulutangkis (15), Catur (16), E-sport (41).

Futsal (12), Karate (16), Kick Boxing (14), Menembak (22), Panjat Tebing (14), Sambo (26), Pencak Silat (27), Panahan (22), Hapkido (14) ,Selam (12), Taekwondo (12),nTenis Meja (8), Tenis Lapangan (10), Tinju (19), Wushu (17), Binaraga (9) ,Renang/Aquatic (6) dan Sepak Takraw (12).

Dalam sambutannya, Wakil Walikota menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh unsur olahraga dan menegaskan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dalam setiap pertandingan.

“Pemerintah Kota Manado menyampaikan dukungan penuh kepada seluruh atlet dan berharap keikutsertaan ini dapat membawa prestasi terbaik bagi Kota Manado sebagai tuan rumah Porprov XII Sulut 2025,” ujarnya.

Porprov ini, sebut Wawali, bukan sekadar pertandingan. Ini adalah kebanggaan dan kehormatan Kota Manado sebagai tuan rumah. Atlet harus bertanding dengan penuh semangat, sportif, dan menjaga nama baik kota.

Ketua KONI Manado Rio Dondokambey, dalam sambutannya mengingatkan, beberapa tahun lalu Manado sukses menjadi juara umum Porprov dengan raihan lebih dari 100 medali emas padahal saat itu bertanding di luar kota.

Tahun ini, sebutnya, kita bertanding di rumah sendiri, dekat dengan keluarga, dengan waktu istirahat lebih baik, persiapan lebih matang. “Karena itu, target kita 140 medali emas bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Sekretaris Kota Manado Steven Dandel,, serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Bonyx Saweho. (elka)