(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kota Tondano sebagai ibukota Kabupaten Minahasa termasuk salah satu kota yang langka di dunia ini tanpa disadari. Sebagai kota di tepi Danau terhitung sangat jarang ada di dunia ino, apalagi dikelilingi oleh pegunungan.

Memang ada beberapa di Amerika Serikat, sebut saja ada Michigan dan New Hampshire. Di China ada Danau Barat di Hangzhou, Danau Baikal di Kota Irkutsk Russia dan lain-lain. Tapi tidak banyak, paling sekitar 20-an.

Belum lagi danau yang ada pulau di tengahnya. Selain pulau Samosir di Danau Toba ada Pulau Bled di Danau Bled di Slovenia yang sudah menjadi daerah kunjungan wisata terkenal.
Kondisi Danau Bled hampir mirip dengan Danau Tondano. Danau ini terletak di antara Pegunungan Alpen dan juga Lautan Mediterania. Warna hijau zamrud dari danau ditambah adanya Pulau Bled di tengah-tengahnya akan jadi pemandangan utama ketika berada di sini.

Pemandangan danau Bled ini juga bisa dinikmati dari kastil yang dibangun di pegunungan sekitarnya.

Ini semua bisa dibuat di danau Tondano. Malah lebih keren lagi karena sudah tersedia jalan untuk mengelilingi Danau Tondano tanpa membosankan karena akan melewati banyak kampung yang juga sekalian bisa dijadikan kampung wisata.

Tentu saja yang pertama perlu konsentrasi adalah penanganan enceng gondok agar tuntas. Apa yang dibuat sekarang sepertinya tidak menyelesaikan masalah hanya menunda saja dan anggaran habis percuma.

Setelah enceng gondok terselesaikan maka pemanfaatan danau kemudian diatur sebaik mungkin. Jika memang karamba mau dipertahankan maka perlu diatur hanya daerah tertentu serta penerapan aspek lingkungan hidup yang ketat.

Lebih baik di atas karamba dibuat restoran terapung, pemancingan dan lain-lain tapi tertata rapih dan tidak merusak lingkungan danau.
Ikan-ikan khas Danau Tondano seperti nike, payangka, mujair dan lain-lain kembali disebar dan hanya nelayan dengan perahu bolotu dan menggunakan alat tangkap yang sudah diijinkan saja yang boleh menangkap ikan di Danau.
Namun agar nelayan dari Tondano bisa ikut maka sungai Tondano atau ‘teberan” perlu diperdalam lagi selain menghancurkan enceng gondok.

Ini juga nantinya akan menjadi alternatif transportasi di kota Tondano. Di tengah danau Tondano ada Pulau Likri yang mungkin perlu diperluas sedikit dengan cara reklamasi. Di pulau ini bisa dibangun Gereja Oikumene dan kegiatan terkait atau dibangun  replica bahtera Nabi Nuh.

Lingkungan di sekitar Danau Tondano bisa dibilang berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena pasokan hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Di pegunungan ini telah banyak dibangun objek wisata, tempat menginap dengan view Danau Tondano.

Masih banyak yang bisa dibangun di sini seperti bukit doa, Kapel atau gereja yang unik. Apalagi kemudian di sampingnya ada kelenteng, masjid, pura , sinagoge. Bisa juga miniature Jerusalem dibuat disini.

Bisa juga  dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

Selanjutnya, mari benahi Kota Tondano. Selama ini banyak yang menyebut Tondano itu kota mati dari dulu begitu-begitu saja.

Penulis justru melihat ini sebagai “Blessing in Disguise”. Kenapa? Justru keterbelakangan Tondano membuat kitab Isa menjadikan Tondano sebagai Kota Tua seperti Old Delhi yang kebetulan penulis sempat ke sana.

Tapi bisa juga tidak se ekstrim itu langsung menjadikan kota tua tapi bisa meniru cara China yang sempat penulis lihat di Wuyi. Pemerintah memilih satu kompleks dan menetapkan sebagai kampung wisata. Terpilihnya kompleks tersebut karena masih banyak rumah-rumah tua yang ada. Selanjutnya pemilik tidak bisa merubah tempatnya membiarkan seperti jaman dulu dan tentu saja pemerintah memberikan subsidi.

Ketika ke sana memang penulis melihat kehidupan jaman dulu seperti yang sering dilihat di film-film silat China.

Selanjutnya karena kondisi lalulintas belum sekusut di kota besar lainnya maka Tondano dengan jalan-jalan yang datar, udara yang sejuk bisa dijadikan kota sepeda.

Ini juga akan membuat masyarakat lebih sehat dan tidak malas. Jalan-jalan tertentu hanya boleh dilewati sepeda dan bendi ataupun kalau boleh motor hanya motor listrik.

Menjadikan kota sepeda bukan pekerjaan sulit karena rasanya ada pabrik sepeda yang bersedia menjadi sponsor. Dengan aplikasi maka peminjaman dan pengembalian sepeda menjadi mudah. Pemerintah tinggal menyediakan tempat peminjaman sepeda sekaligus tempat pengembalian.

Jika ini bisa terlaksana maka menjadikan Tondano sebagai Kota Hijau jadi lebih mudah. Tahun lalu Alumni Smanto 170.1 Tondano dan WAG Tondano Kinatouanku telah merintisnya dengan menanam tanaman hias tabebuia dan lomba menghias pekarangan rumah.

Kalau ini semua sukses maka pasar bawah Tondano bisa dibangun “fishmart’ di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayur-sayuran.

Kemudian, ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tidak bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak pedas dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari danau tapi bisa ditambah dengan ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya, tinggal memilih jalan untuk dijadikan seperti “night market” di Taiwan yang terkenal termasuk di beberapa kota besar Asia dan dunia.

Meimonews.com – Ketua Dewan Penasehat  Yayasan Pengembangan Kebudayaan Minahasa (YPKM) Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny F. Sompie, SH, MH menyambut baik ide-ide dan gagasan penyelenggaraan Webinar dengan topik  Ada Apa dengan Kolintang.

Hal tersebut disampaikan Sompie mewakili Ketua Umum YPKM pada acara pembukaan Webinar yang diselenggarakan secara zoom meeting, Kamis (10/3/2022).

Sompie berharap, kiranya kegiatan webinar ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan menghasilkan sebuah upaya perjuangan bersama yang saling bekerjasama dan sama-sama bekerja untuk keberhasilan kemajuan Kolintang.

“Saatnya kita semua mapalus sesuai peran kita masing-masing untuk memajukan kebudayaan Indonesia termasuk kolintang sebagai musik khas Minahasa,” pinta Tonaas Umbanua Tou Minahasa ini.

Ketua Umum KKK Indonesia ini mengungkapkan, musik kolintang merupakan warisan budaya tak benda (Intangible Culture Heritage) serta kebanggaan suku Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara.

Dalam UU nomor 5 tahun 2017 tentang p
Pemajuan Kebudayaan pada pasal 41, sebutnya, mengatur bahwa setiap orang berhak berekspresi juga mendapat perlindungan atas hasil ekspresi budayanya, berpartisipasinya dalam kemajuan budayanya mendapatkan akses informasi mengenai kebudayaan, memanfaatkan sarana dan prasarana kebudayaan serta memperoleh pemajuan dari kebudayaan.

Pasal 42 juga mengatur bahwa setiap orang berkewajiban untuk mendukung upaya kemajuan kebudayaan, memelihara kebinekaan, mendorong lahirnya interaksi antar budaya, mempromosikan kebudayaan Indonesia dan memelihara sarana dan prasaranan kebudayaan termasuk kebudayaan dan kesenian Minahasa.

“Oleh karena itu, webinar kali ini bertujuan untuk menyatukan pemahaman kita bersama tentang musik kolintang khas Minahasa untuk meningkatkan kesejahteraan yang telah menjadi warisan budaya tak benda (WBTb) secara nasional sejak tahun 2013 yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,” ujar Sompie

Kapolda Bali tahun 2015 dan Kadiv Humas Mabes Polri tahun 2013 ini tak lupa menyampaikan terimakasihnya kepada Prof. Perry Rumengan selaku musikolog dan etno musikolog dari Unima, di mana sudah berkenan menjadi pembicara dalam acara webinar ini untuk menjelaskan tentang hasil penelitiannya yang berkaitan dengan kolintang sebagai musik khas Minahasa dan semua Peserta Webinar yang diselenggarakn oleh YPKM.

“Saya  sangat mengharapkan  bagi semua yang hadir sebagai peserta dalam webinar memberikan tanggapan, masukan, saran dan rekomendasi serta mungkin juga bisa menjadi masukan yang komprehensif, sebagai pengayaan bagi upaya menjadikan kolintang sebagai Intangible Culture Heritage di Unesco” ujar Sompie yang saat ini menjabat Analis Keimigrasian Utama Kemenhukham RI.

Tidak lupa pula Sompie mungucapkan terimakasihnya kepada Ketua Umum Persatuan Insan Kolintang Indonesia (PINKAN) yang sudah mau bekerjasama dengan YKPKM dalam upaya menjadikan kolintang sebagai warisan budaya khas Minahasa.

Sompie menjelaskan, tujuan webinar ini ada beberapa yang harus di pahami. Pertama, untuk memahami bahwa kolintang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda tingkat nasional sebagaimana penghargaan yang diberikan tahun 2013 oleh Mendikbud.

Kedua, memahami tentang cara dan mekanisme pengajuan Kolintang sebagai warisan budaya tak benda tingkat nasional yang bisa diakui oleh Unesco.

Ketiga, bisa mendapatkan informasi tentang proses pengajuan yang telah diupayakan sejak tahun 2014 sampai tahun 2022 oleh pemerintah.

Keempat, memberikan dukungan penuh terhadap upaya yang telah dilaksanakan oleh pemerintah sebagai bagian dari tanggung jawab sesuai UU nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya. (lk)

 

Meimonews.com – Danau Tondano dengan alam sekitarnya sangat terkait satu sama lainnya. Kelestarian danau Tondano juga memerlukan dukungan dari kelestarian alam sekitarnya.

Selain berkaitan dengan lingkungan hidup dan danau Tondano sebagai sumber air bagi seluruh Tanah Minahasa yang dilaluinya sampai ke Kota Manado, ada sudut pandang lain yang perlu juga dicermati dari manfaat danau Tondano bagi pariwisata di Tanah Minahasa (Minahasa, Tomohon, Minsel, Mitra, Minut, Manado dan Bitung).

“Untuk itu, perlu masterplan atau grandstrategy pembangunan pariwisata danau Tondano ke depan sampai tahun 2045, Indonesia Emas,” ujar Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny F. Sompie dalam percakapan dengan Meimonews.com via telefon, Selasa (15/2/2022).

Untuk mendukung visi tersebut, sambung mantan Dirjen Imigrasi tersebut, diperlukan juga Perda Tata Ruang bagi kepentingan pembangunan pariwisata danau Tondano. Tata Ruang yang baik, akan menjadi pedoman bagi Pemda dalam mengendalikan dan mengatur para investor dan masyarakat pemilik hak atas tanah di sekitar danau Tondano.

Dikemukakan, akses publik untuk menjangkau pinggiran danau Tondano untuk menikmati keindahan alam di pinggir danau tersebut perlu disediakan dan tidak ditutup oleh kepentingan para pemilik hotel, restoran, rumah makan dan semua kegiatan di sekeliling danau Tondano.

“Kita bisa belajar dari Pemda Kabupaten Sangihe, ketika membangun boulevard di sepanjang pantai Kota Tahuna. Bibir pantai di sepanjang jalan Boulevard di Kota Tahuna tidak ditempati toko, resto dan hotel, sehingga publik bisa bebas menikmati keindahan pantai di Kota Tahuna,” saran Analis Keimigrasian Ahli Utara Kemenkumhan RI ini.

Pengalaman itu juga bisa kita belajar dari Pemda Kabupaten Badung dalam membangun pariwisata di Kuta dan Seminyak yang memberikan akses bagi publik untuk mengitari pantai Bali tanpa harus dipagari kepentingan hotel dan seluruh bangunan privat yang menggunakan lahan ke arah pantai Bali. Hal itu juga terjadi di sepanjang pantai Sanur Bali di wilayah Kota Denpasar.

Dengan demikian, sebut mantan Kapolda Bali tersebut. kalau kita mau mengitari pantai dari Sanur sampai Seminyak sangat mudah, baik dengan jalan kaki maupun naik sepeda bahkan naik sepeda motor.

Kalau mau benchmarking di luar negeri, kita bisa belajar dari Pemerintah Singapore dalam menata ruang bagi publik di Pulau Sentosa. Akses publik untuk turun ke pantainya tidak tertutup oleh kepentingan investasi di sana yang membangun hotel, resto dan kegiatan usaha lainnya.

“Hal itu juga yang dibangun oleh Pemerintah Malaysia dan Philipina dalam membangun pariwisata di pinggiran sungai dan pantainya,” sebut Ketua KKK Indonesia kelahiran Surabaya, 17 September 1961 ini.

Kita bisa belajar banyak dari negara tetangga kita terdekat soal membangun pariwisata di pinggiran danau, laut dan sungai.

“Artinya, sungai mulai dari muara danau Tondano sampai ke Kota Manado juga perlu diatur dengan Tata Ruang Daerah yang bisa dijadikan pedoman bagi para investor dan setiap rakyat,” ujar Sompie yang menjadi Kepala Devisi Humas Mabes Polri tahun 2013 – 2015.

Ini, ungkapnya, sedikit pandangannya untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran bagi Pemda setempat dan masyarakat di sekitar danau Tondano tentang bagaimana sebaiknya memperlakukan dan menggunakan danau Tondano untuk kepentingan (destinasi) pariwisata ke depan sampai tahun 2045, Indonesia Emas. (lk)

Meimonews.com – Mengantisipasi peningkatan status Covid-19 di saat Natal Yesus Kristus Tahun 2021 dan Tahun Baru 2022, Walikota Manado Andrei Angouw mengeluarkan Surat Edaran.

Surat Edaran No. : 440/D.02/KES/C041 /2021 tertanggal 7 Desember tersebut, sebut Kadis Infokom Manado Erwin Kountu kepada Meimonews.com di Manado, Rabu (8/12/2021) ditujukan kepada beberapa pihak.

Pihak-pihak tersebut adalah Kepala Satuan TNI/Polrii, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kepala Perangkat Daerah, Pimpinan BUMN/BUMD, para Camat dan Lurah, para Kepala Sekolah, Pimpinan Rumah Ibadah, para Pelaku Usaha dan warga masyarakat Kota Manado.

Surat edaran tersebut, jelas Kountu mengacu pada Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 31 Yahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 Pada Saat Perayaan Natal Tahun 2021.

Selain itu, Instruksi Menteri Dalam Negeri Indonesia Nomor 65 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, Level 2, Dan Level 1 Serta Mengoptimalkan Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 Di Tingkat Desa Dan Kclurahan Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Di Wilayah Sumatera, Nusa Tenaoara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Dan Papua.

Dalam Surat Edaran ini disebutkan hal-hal yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, khusus dalam pelaksanakan ibadah dan peringatan Hari Raya Natal 2021, Gereja membentuk Satuan Tugas Protokol Kesehatan Penanganan COVID- 19 yang berkoordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan COVID- 19 Daerah.

Pada pelaksanaan ibadah dan perayaan Natal, Hendaknya dilakukan secara sederhana dan tidnk berlebih-lebihan, serta lebih menekankan persekutuan di tengah-tengah keluarga; dan diselenggarakan secara hybrid, ynitu secarn berjamaah/kolektif di gereja dan secara daring dengan tatn ibadah yang telah disiapkan oleh para pengurus dan pengelola gereja;

Selain itu, jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatnn Ibadah dan Pemyaan Natal secara berjamaah/kolektif tidak melebihi 75 % (tujuh puluh lima persen) dari kapasitns total gereja.

Pada penyelenggarann ibadah dan peraynan Natal, pengurus dan pengelola gereja berkewajiban untuk menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area gereja; Melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area gereja;

Menggunakan aplikasi PeduliLindungi pada saat masuk (entrance) dan keluar (exit) dari gereja serta hanya yang berkategori kuning dan hijau yang diperkenankan masuk; Mengatur arus mobilitas jemaat dan pintu masuk (entrance) dan pintu keluar (exit) gereja guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan;

Menyediakan fasilitas cuci tangan/ sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar gereja; Melakukan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk bagi seluruh pengguna gereja; Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimaljarak 1 (satu) meter;

Melakukan pengaturan jumlah jemaat/umat/pengguna gereja yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak; Melarang jemaah dengan kondisi tidak sehat mengikuti pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan; Menyarankan kepada jemaah yang berusia 60 (enam puluh) tahun ke atas dan ibu hamil/menyusui untuk beribadah di rumah; dan Tidak mengadakan jamuan makan bersama.

Dilarang untuk melakukan pawai atau arak-arakan dalam rangka Perayaan Natal Tahun 2021 yang melibatkan jumlah peserta dalam skala besar.

Kedua, khusus untuk pelaksanaan Perayaan Tahun Baru 2022 dan tempat perbelanjaan/ mall/ tempat hiburan malam dan rekreasi : Perayaan Tahun Baru 2022 sedapat mungkin tinggal di rumah berkumpul bersama keluarga, menghindari kerumunan dan perjalanan, serta melakukan kegiatan di lingkungan masing-masing yang fidak berpotensi menimbulkan kerumunan, sambil melakukan anüsipasi menyuapkan diri dan lingkungan dalam menghadapi potensi bencana Hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG);

Selain itu, melarang adanya pawai dan arak-arakan tahun baru serta pelarangan acara Old and New Year baik terbuka maupun tertutup yang berpotensi men imbulkan kerumunan; Menggunakan aplikasi Pedu1iLindungi pada saat masuk (entrance) dan keluar (exit) dari mall/pusat perbelanjaan/tempat hiburan malam serta hanya pengunjung dengan kategori kuning dan hijau yang diperkenankan masuk;

Meniadakan event perayaan Nataru di Pusat Perbelanjaan dan Mall, serta menutup tempat hiburan malam pada tanggal 24, 25, 26, 31 Desember 2021 dan tanggal 1, 2 Januari 2022;

Pembatasan jam operasional sampai pukul 22.00 Wita dan melakukan pembatasan dengan jumlah pengunjung tidak melebihi 50 % (lima puluh persen) dari kapasitas total serta penerapan protokol kesehatan yang lenih ketat.

Bioskop dapat dibuka dengan pembatasan kapasitas maksimal 50 % (lima puluh persen) dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat; dan kegiatan makan dan minum di dalam pusat perbelanjaan/mall dapat dilakukan dengan pembatasan kapasitas maksimal 50 % (lima puluh persen) dengan penerapan protokol Kesehatan yang lebih ketat.

Ketiga, khusus untuk pengaturan tempat wisata : Tetap menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat dengan pendekatan SM (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun/ hand sanitizer, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan);

Menggunakan aplikasi PeduliLindungi pada saat masuk (entrance) dan keluar (exit) dari tempat wisata serta hanya pengunjung dengan kategori kuning dan hijau yang diperkenankan masuk; Memastikan tidak ada kerumunan yang menyebabkan tidak bisa jaga jarak;

Membatasi jumlah wisatawan sampai dengan 50 % (lima puluh persen) dari kapasitas total; Melarang pesta perayaan dengan kerumunan di tempat terbuka/ tertutup;

Mengurangi penggunaan pengeras suara yang menyebabkan orang berkumpul secara masif; dan Membatasi kegiatan seni budaya dan tradisi baik keagamaan maupun nonkeagamaan yang biasa dilakukan sebelum pandemi Covid- 19.

“Surat Edaran ini mulai berlaku sejak tanggal 24 Desember 2021 sampai dengan 02 Januari 2022 dengan memperhaükan perkembangan epidemiologi Covid-19,” ujar Kadis Infokom. (lk)

Meimonews.com – Acara Konser Virtual Tou Minahasa yang digelar DPP KKK  di Gran Melia Hotel Jakarta dan disiarkan lewat YouTube Channel, Sabtu (27/11/2021) malam memberikan kontribusi sangat nyata bagi penghormatan terhadap musik kolintang, karena konser tersebut telah menjadikan musik kolintang sebagai musik utama sepanjan acara.

Kolaborasi musik kolintang dengan musik modern untuk mengiringi para artis asal Minahasa dalam menyanyikan lagu-lagu khas Minahasa dan lagu pop nasional menunjukkan bahwa musik kolintang bisa membawakan lagu apa saja.

“Sudah saatnya menjadikan musik kolintang sebagai musik utama untuk kegiatan apa saja di Tanah Minahasa,” ujar Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Indonesia Ronny F. Sompie kepada Meimonews.com lewat telefon, Minggu (28/11/2021).

Demikian juga, sambungnya, penggunaan musik kolintang bersama musik khas Indonesia lainnya di seluruh Tanah Air Indonesia, bisa mendorong musik Kolintang untuk diterima oleh Unesco sebagai musik khas Indonesia sebagaimana musik gamelan, musik angklung dan musik khas Indonesia lainnya.

Ketua Panitia Konser Nova Rumondor dalam sambutannya pembukaan konser memberikan gambaran yang lengkap kepada para Tou Minahasa dan semua penonton yang bauni (nonton) di Youtube Channel dan hadir di acara Konser Virtual Tou Minahasa.

Pendeta Audy Wuisang yang ikut berbicara pada acara tersebut telah memberikan penjelasan tentang bagaimana Konser Virtual tersebut digagas dan diselenggarakan. “Sangat melengkapi wawasan para penonton,” ujar Sompie menanggapi penjelasan Wuisang.

Apalagi, yambahnya, Walikota Bitung Maurits Mantiri dan Bupati Minut Joune Ganda yang ikut manyanyi berduet san memberikan sambutan penguatan terhadap musik, lagu, tarian dan budaya khas Minahasa berkaitan dengan KEK Likupang sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas Nasional di Sulut.

Yang jelas, Konser Virtual Tou Kawanua tadi malam yang merupakan koser kedua di masa Pandemi Covid-19 dilakukan untuk memberikan perhatian kepada para artis dan musisi asal Minahasa yang berada di Jakarta, juga untuk mendukung penguatan dan pembangunan perekonomian rakyat Minahasa melalui pariwisata.

Bagi Sompie seluruh panitia telah bekerja dengan sangat baik dan menjadi trade mark bersama tentang kontribusi nyata DPP KKK bagi pelestarian budaya khas Minahasa melalui sebuah kkonser yang sangat menarik.

Sebuah kegiatan konser kedua yang dapat menjadikan penyelenggaraan pada konser ketiga dengan lebih hebat lagi di tahun depannya.

“Sekali lagi, makase banya deng (terima kasih banyak dan – red) apresiasi buat kawan-kawan samua yang sudah berlelah menyelenggarakan konser virtual Tou Minahasa tadi malam,” ujar mantan Dirjen Imigrasi tersebut. (lk)

Meimonews.com – Buoati Minahasa Dr. Ir. Royke Octavian Roring, MSi di dampingi Sekda Frits Muntu, S.Sos dan Plt. As. I Dra. Riviva Maringka, MSi menerima Sekretaris Panitia Pelaksana Konser Virtual Tou Kawanua 2021 Viddi Supit di rumah Dinas Bupati, Rabu (17/11/2021).

Bupati mengapresiasi prakarsa KKK untuk menggelar konser ini dan saangat mendukung pelaksanaannya.

“Bupati menyambut baik acaranya dan juga akan mendukung dengan penyiapan video dalam acara konser,” ujar Supit, seperti dikutip Ketua Umum DPP KKK Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny Sompie, SH, MH kepada Meimonews.com via telefon, Rabu (17/11/2021).

Malam ini, sambung Sompie, sedang ditindaklanjuti koordinasi antara Sekretaria Panitia dengan Asisten 1 dan Kadis Kominfo Pemkab Minahasa.

Konser yang digagas DPP Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) yang diketuai Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny Sompie, SH., MH ini akan mendukung penguatan pariwisata di Tanah Minahasa melalui penggelaran konser budaya Minahasa oleh para artis Ibukota asal Minahasa pada 27 November 2021.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Ketum DPP KKK Ronny Sompie bersama Ketua Panitia Konser Virtual Nova Rumondor dan Viddy Supit kepada Gubernur Sulut di kantor gubernur, Sabtu (13/11/2021)

Pada kesempatan itu, Gubernur, Olly Dondokambey sangat menyambut baik rencana DPP KKK melalui Panitia Konser Virtual yang akan mengadakan penggelaran seni budaya Minahasa dalam rangka memperkuat pelestarian budaya khas Minahasa sekaligus juga penguatan Pembangunan KEK Likupang sebagai salah satu di antara “destinasi wisata super prioritas di tanah air.”

Gubernur, jelas Sompie, akan hadir secara langsung untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara konser tersebut.

Diharapkan di akhir tahun 2021 ini, masyarakat Sulut digelorakan semangatnya untuk segera menyiapkan diri membangun bersama di seluruh wilayah Sulut, sehingga KEK Likupang akan memberikan gelora semangat menjadikan Sulut sebagai destinasi wisata yang digemari baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara dengan kearifan lokalnya yang khas Sulut terddmasuk khas Minahasa. (af)

Meimonews – Sebagai salah satu daerah destinasi wisata, Tondano memiliki berbagai tempat dan budaya yang dapat dikembangkan seperti wisata alam di dalamnya terdapat wisata alam Danau Tondano, Uluna, pemandian air panas , wisata sejarah goa Jepang, wisata religius ada Gereja tua di Tondano, Eris, ada Mesjid di Kampung Jawa, Sinagoga bahkan Pura, wisata seni dan budaya dan masih banyak lagi.

“Sayangnya, ini belum tertangani dengan baik. Pandemi covid-19 membuka peluang karena setelah itu akan ada model kehidupan baru. Ini memberi dampak pada pilihan untuk wisata,” ujar Bert Toar Polii kepada Meimonews.com  lewat pesan WA, Senin (7/6/2021)

Pilihan wisata di dalam negeri, sebut pemerhati pariwisata dan budaya Minahasa ini, akan menjadi pilihan ke depan sehingga objek wisata alam yang menarik akan laku keras, apalagi akan mendapat limpahan turis dari destinasi parawisata prioritas Likupang.

Namun, ungkapnya, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemda, yaitu pertama, bagaimana meningkatan pendapatan masyarakat melalui kepariwisataan; kedua, pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber penerimaan pendapatan daerah meliputi perencanaan berlanjutnya pembangunan Benteng Moraya yang akan dijadikan tempat wisata budaya kuliner, pembangunan jembatan 300 meter di Danau Tondano, dan juga pengembangan wisata di puncak Urongo.

“Perencanaan selanjutnya meliputi area pantai di bagian Timur Kabupaten Minahasa yang juga telah di senangi oleh masyarakat, sebut Berce, sapaan akrabnya.

Ketiga, peningkatan kemampuan anggota masyarakat untuk dapat memperoleh manfaat yang besar bagi kegiatan pariwisata; keempat, terwujudnya masyarakat sadar wisata melalui sapta pesona, sehingga tercipta suasana yang mendukung dan menunjang semakin berkembangnya usaha dan kegiatan kepariwisataan lainnya seperti tarian daerah Kabupaten Minahasa di antaranya tarian Maengket, Cakalele, Kabasaran, Katrili, Kumandong, Lengso.

Pebridge andal Indonesia ini mengeemukakan, ada 3 faktor yang akan berperan dalam pengembangan ini yakni Sumber Daya Manusia, promosi serta sarana dan prasarana. (lk)

Meimonews.com – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Manado mengadakan sosialisasi Surat Edaran (SE) Walikota Manado No. 44 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro dan Kota dalam rangka Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Pandemi Covid-19.

Kegiatan dilaksanakan di Kantor Dinas Pariwisata Manado, Selasa (27/4/2021) yang dihadiri sekitar 50 orang stake-holder (pemangku kepentingan) pariwisata khususnya owner dan manager pengusaha hiburan malam/pub/cafe/karouke dan live music di Kota Manado.

Peserta sosialisasi

Turut hadir pada kegiatan yang tetap memperhatikan prokes Pandemi Covid-19 tersebut adalah Kasatpol PP, Kasat Binmas dan Kabag Ops Polresta Manado, Pasi Ops dan Pasiter Kodim 1309 Manado, BPBD Manado serta Jubir Covid-19 Pemkot Manado.

“Kegiatan yang difasilitasi oleh Ibu Kadis Pariwisata Manado ini diawali pemaparan maksud dan tujuan rapat serta menyampaikan dari beberapa narasumber terkait dengan SE Walikota tentang PPKM Berbasis Mikro (Lingkungan) dan Kota,” ujar Kepala BPBD Manado Donald Sambuaga.

Setelah penjelasan tersebut, debut Sambuaga kepada Meimonews.com di Manado, Rabu 28/4/2021), dilakukan tanya-jawab.

“Pada kesempatan itu, ada penandaranganan kesepakatan keputusan bersama untuk menaati SE Walikota terutama tentang pembatasan jam operasional dan kapasitas tempat duduk, pembelakuan prokes di tempat usaha,” ujar Sambuaga. (af)

Meimonews.com – Guna memajukan Kota Tondano, Kabupaten Minahasa (Sulawesi Utara) ide menarik ditawarkan Bert Toar Polii (BTP), Pemerhati Budaya Minahasa yang adalah juga PB Gabsi (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia).

Dalam percakapan lewat telefom dengan Meimonews.com, Selasa (14/7/2020), Berce, sapaan Bertje Toar Polii (BTP) mengurai panjang lebar seputar ide untuk memajukan Kota Tondano yang adalah Ibukota Kabupaten Minahasa itu.

“Saya coba kumpulkan beberapa ide menarik untuk memajukan Kota Tondano yang selama ini ada di ‘kepala torang sandiri ‘ Kota Tondano adalah kota mati dan tidak maju-maju,” ujarnya.

Pertama, ungkap BTP, orang Tondano harus menghapus stigma jelek yang telah tertanam di benak orang bahwa Tondano itu kota yang tidak aman.

Biarkanlah Pemda Minahasa bekerja keras untuk membuat Kota Tondano hidup selama 24 jam tanpa henti dan itu sudah terlihat kenyataanya sekarang. Ada Alfa Mart dan lain-lain yang bahkan buka 24 jam. Ada KFC dan café yang menjamur yang menandakan Kota Tondano itu aman karena memang orang Tondano dari sananya adalah pambae dan sangat menerima perbedaan.

Contoh nyata ada Kampung Jawa, Kampung Gorontalo, ada Synagoga dan peranakan China tidak merasa berbeda demikian juga orang India yang puluhan tahun membuka toko di pasar bawah. Tapi orang bukan menyebut dari India tapi Bombay kota asal mereka.

“Chella yang tinggi menjulang tidak merasa risih sekolah bareng-bareng kami Tondano asli dan teman-teman dari Kampung Jawa,” ujar BTP soraya menjelaskan, Chella anak dari Bombay ini sekelas dengannya di SMA Tondano.

Dasar ini, sebutnya, sudah bagus sekali untuk memulai mengajak para investor untuk mau datang membuka usaha di Tondano.

Kota Tondano bisa disebut kota yang tata kotanya tergolong rapih karena dibuat oleh Inggeris dulu zaman penjajahan. Ada dua jalan lurus Touliang dan Toulimbat di tengahnya ada teberan Tondano yang membelah kota Tondano.

“Bisa dibayangkan kalau teberan Tondano bisa dibuat lagi seperti dulu, air mengalir dan bersih serta perahu hilir mudik dari Danau Tondano membawa ikan hasil tangkapannya untuk di jual di pasar bawah Tondano,” tutur penyandang World Life Master Senior dari World Bridge Federation ini.

Dikemukalan, bayangkan kemudian kalau di pasar bawah Tondano dibangun “fish mart” di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayuran kemudian ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tinggal bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari Danau bisa ditambah juga ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya keterbelakangan Tondano dalam pembangunan justru kita jadikan berkat dengan mempertahankan bangunan-bangunan tua yang sudah berusia 50 tahun ke atas untuk tetap dipertahankan. Pemerintah memberi subsidi kepada keluarga yang bersedia memberikan bibit bunga untuk ditanam di halaman rumahnya dan tentu saja perawatan.

“Dengan demikian bisa dipertahankan Tondano sebagai kota tua. Bisa melihat contoh New Delhi dan Old Delhi serta beberapa kota lainnya di dunia “.jelas mantan pegawai asuransi PT Jiwasraya ini.

Selanjutnya, karena lalulintas juga belum macet maka ini perlu dipertahankan dengan menjadikan Kota Tondano sebagai “green city” dan kota sepeda. Adakan rutin kegiatan bersepeda keliling Danau Tondano dan untuk para lansia yang cukup banyak di Tondano cukup dari Stadion Maesa Sasaran ke Benteng Moraya.
Kegiatan lain seperti yang sudah akan dibuat adalah membuat Koperasi untuk menangani persawahan di Tondano sehingga bisa memberi manfaat yang positif buat para pemiliknya. Dengan demikian keinginan untuk menjual otomatis berkurang dan keindahan bisa dinikmati, entah dari sawah yang menghijau atau tanaman lain yang mungkin lebih produktif tapi tetap indah untuk dipandang.

Ide lain adalah membuat lomba menghias pekarangan rumah dengan bunga atau tanaman hias lainnya. Ini memang khas Tondano dulu kala dimana hamper semua rumah berlomba-lomba menghias pekarangan rumahnya.

Kemudian menyangkut parawisata agar ada One Day Tour Tondano dan Danau Tondano dengan demikian perlu dibenahi objek-objek wisata yang akan dikunjungi. Mulai dari Masarang, Lodji Tondano, Makam Dr. Sam Ratulangi, Makam Kiay Modjo, Gereja Sentrum, Synagoga, kemudian Pura Danu Mandara yang berada di antara Kiniar dan Touliang Oki. Selanjutnya ada Gereja Tua di Watumea. Pulau Likri sedikit diperluas dibangun Gereja Oikumene.

Selanjutnya ada bekas lapangan terbang di Tasuka dan mungkin di Sumaru Endo Remboken dibuat sebagai pusat olahraga air dan lain-lain.

Kemudian di Benteng Moraya dibuat berbagai atraksi kesenian dan pertunjukan terciptanya Danau Tondano diselang-seling dengan kisah heroik Perang Tondano.

Selanjutnya membantu pemerintah melestarikan Danau Tondano jangan sampai berkat Tuhan yang luar biasa buat Minahasa ini bernasib sama dengan Danau Limboto. “Ini banyak masalah terutama menyangkut penanganan enceng gondok dan penghutanan kembali DAS Tondano,” papar pria kelahiran tahun 1953 ini.

Ada ide menanam seho seperti anjuran salah satu Tokoh Kawanua Alm. Om Ventje Sumual. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membuat program adopsi pohon. Misalnya, koperasi sudah berdiri bisa saja ada satu bagian yang menangani ini.

Cukup banyak tanah yang menganggur dan pemiliknya bersedia menjadikan tanahnya untuk ditanami pohon. Bisa seho tapi juga bisa apa saja. Selanjutnya, koperasi akan menghitung biaya yang dibutuhkan sampai tanaman ini bisa mandiri.
Berdasar hitungan ini maka ditetapkan bagi yang berminat adopsi pohon diwajibkan membayar sejumlah dana. Kepada mereka diberikan penghargaan berupa sertifikat, namanya dicantumkan di pohon yang di adopsi dan lain-lain.
Penyuluhan untuk mencintai lingkungan harus terus digalakkan, seperti misalnya dalam kegiatan lomba sepeda ada kegiatan menanam pohon serta kuis-kuis yang menyangkut lingkungan hidup. Poster dan lain-lain juga membantu.

“Terakhir muncul untuk membuat miniature Jerusalem di Danau Tondano dan sekitarnya. Memang di bukit-bukit apakah di sebelah timur atau barat Danau Tondano jika ada tempat untuk kegiatan religious dan hotel pasti akan menarik minat turis.

Mungkin ini juga, sebut BTP, bisa dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

“Jika dipasarkan dengan baik dan ditangani dengan benar ini bisa memberikan pemasukan devisa untuk Minahasa khususnya dan Sulut pada umumnya,” ujar BTP seraya berterima kasih untuk teman-teman yang telah menyumbangkan ide. (lk)