Meimonews.com – Kerjasama Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dengan Wuhu Institute of Technology terus berlanjut bukan hanya dalam bentuk saling berkunjung.

Hal itu terlihat saat kedua pihak melaunching Luban Workshop dan Program Student Exchange yang dilaksanakan di Lantai 5 Fakultas Teknik (Fatek) Unsrat Manado, Sabtu (27/4/2024).

Hadir pada momen ini, Sekretaris Daerah Sulut Steve Hartke Andries Kepel, ST, M.Si mewakili Gubernur Sulut Prof. Dr. (HC) Olly Dondokambey, SE, President Wuhu Institute of Technology and Conch Mr. Gao Wu, Direktur PT Conch Clement Wilayah Indonesia dan Direktur Utama Conch North Sulawesi Clement Mr. Chen Xiaobing, Rektor Unsrat Manado Prof. Dr. Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie, M.Eng Asean IPU Eng, Ketua DPRD Sulut dr. Fransiskus Andi Silangen, Sp.B-KBD, Komisaris BSG.

Selain itu, Wakil-wakil Rektor, pimpinan lembaga Unsrat, para Dekan, sejumlah tamu/undangan lainnya serta sejumlah mahasiswa yang ikut dalam program Unsrat dan Wuhu Technologi and Conch.

Acara seremoni launching ditandai sambutan-sambutan dari President Wuhu Institute of Technologi, Direktur Utama Conch North Sulawesi Clement, Rektor Unsrat Manado serta Sekda Sulut mewakili Gubernur Sulut.

Setelah itu, pembukaan selubung papan kegiatan dan penyerahan cenderamata kedua pihak dan serta penyerahan cendera mata dari Wuhu Institute of Technology dan PT Conch kepada sejumlah mahasiswa.

Mengakhiri kegiatan launching, para tamu dan undangan diajak ke Ruang Conch yang berada di salah satu ruangan Fatek Unsrat yang berada di lantai dasar gedung lama.

Sejumlah perangkat teknologi dan brosur/gambar tentang kemajuan teknologi hasil kerjasama kedua pihak terpapar di lokasi, dan sejumlah penjelasan terkait dengan apa yang ada dijelaskan baik Dekan Fatek Unsrat Manado Prof. Dr. Ir. Fabian J. Manoppo dan tim kedua pihak.

Tamu dan undangan terlihat senang dengan apa yang ada dan berharap agar kerjasama yang telah terlihat ini akan terus berlanjut dan bahkan meningkat di waktu-waktu mendatang. (FA)

Meimonews.com – Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ)  menggelar Kapitel II di Tomohon, Sulawesi Utara, 11-25 April 2024.

Sejumlah agenda kegiatan dilaksanakan pada forum tersebut. Salah satunya adalah pemilihan Dewan Pimpinan Umum (DPU) masa bakti 2024-2030.

Peserta Kapitel yang mengangkat tema
Walking Together as Prophets of Hope at the Dawn ini berjumlah 31 suster yang terdiri dari delegasi ex-officio dan peserta yang dipilih dalam Kapitel Provinsi-provinsi (Jakarta, Makassar dan Manado).

Lewat proses pemilihan, Suster Theresia Supriyati terpilih kembali menjadi Pemimpin Umum kongregasi tersebut untuk enam tahun ke depan.

DPU ini dilengkapi Anggota Dewan Pimpinan lainnya, di mana ada beberapa yang terpilih kembali. Anggota DPU tersebut adalah Sr.Jeannette Runtu, Sr. Monika Kalangi, Sr. Theresia Tulung dan Sr. Anita Sampe.

Pada misa penutupan Kapitel yang dilaksanakan di Panti Samadi, diwarnai pengukuhan DPU tersebut.

Misa penutupan dipimpin Pastor Hengki Ponamon MSC (selebran utama) serta Pastor CB Kusmaryanto SCJ, Pastor Aloysius Wilar, Pastor Inno CSE dan Pastor Fecky Singal (co-selebran).

Para anggota Kongregasi SJMJ yang diwakili oleh Para Delegasi Kapitel Umum berjanji melaksanakan 7 Komitmen yang diputuskan dalam Kapitel Umum ini. Ketujuh Komitmen itu adalah spiritualitas, komunitas, misi, pembinaan, kepemimpinan,  merawat alam, dan solidaritas. (lk)

Meimonews.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan Percepatan Penurunan Stunting.

Rakernas yang diadakan di Auditorium BKKBN RI, Jakarta, Kamis (26/4/2024) ini dibuka pelaksanaannya oleh Wakil Presiden (Wapres) RI Prof. Dr. (Hc) KH Ma’aruf Amin diikuti perutusan dari BKKBN Perwakilan Sulut yakni Ir. Diano Tino Tandaju, M.Erg (Kepala), Lady D. Ante, S.Pd, MAP (Sekretaris), Ignasius P. Worung, SE. M.Si (Ketua Pokja Dalduk), dan Ferouw RJ Ratu, ST (Ketua Pokja Adv KIE dan Kehumasan).

Dalam sambutannya, Wapres mengingatkan kembali tanggung jawab bersama dalam mengawal kebijakan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Dengan jumlah penduduk usia produktif diproyeksikan mendekati 70 persen dari total populasi, bisa dikatakan bahwa modal besar menuju Indonesia Emas 2045 sebetulnya sudah kita kantongi. Namun, pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana memastikan potensi bonus demografi ini bisa terkelola dengan baik,” ujar Wapres.

Tentu, sambungnya,  kita inginkan sumber daya manusia yang ada nantinya betul-betul menjadi aset dan kekuatan bangsa. Apalagi, dihadapkan dengan dinamika dan beragam tantangan dunia yang harus kita antisipasi, strategi dan kebijakan pembangunan manusia yang tepat dan komprehensif menjadi semakin krusial.

Diungkapkan, dalam dua dekade mendatang, penduduk dunia diperkirakan akan mencapai lebih dari 9 miliar jiwa. Kondisi ini tidak hanya dibarengi dengan peningkatan jumlah penduduk usia lanjut, tetapi juga urbanisasi dan arus migrasi. Di sisi lain, sumber daya alam semakin terbatas, berbanding terbalik dengan kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.

Tantangan lainnya mencakup pemanasan global, tren perkembangan teknologi, dan perubahan geopolitik.
Oleh karena itu, Wapres menaruh harapan yang tinggi terhadap Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting, untuk menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang bisa menjawab berbagai tantangan dimaksud.

Guna menghadirkan generasi penerus bangsa yang sehat, unggul, berdaya saing, serta terdepan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, program ini haruslah responsif dan adaptif terhadap kebutuhan sumber daya manusia.

“Semoga program ini mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun keluarga dan masyarakat Indonesia yang sehat, terdidik, berakhlak, makmur, dan sejahtera,” tandasnya pada acara yang turut dihadiri sejumlah Menteri ini.

Dikemukakan, daya saing bangsa bertumpu pada mutu sumber daya manusianya. Menyadari hal ini, Pemerintah telah menetapkan percepatan penurunan stunting menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.

Untuk itu, Pemerintah Pusat dan Daerah harus terus bersinergi untuk memastikan ketersediaan layanan kesehatan bagi keluarga-keluarga di Indonesia dengan kualitas yang semakin baik. Di tahun ini, seluruh target dalam RPJMN 2020-2024 akan dievaluasi, termasuk target prevalensi stunting 14 persen tahun 2024.

Wapres berharap beberapa hal agar menjadi perhatian. “Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap program yang sudah dilaksanakan, baik terkait capaian, pembelajaran, maupun rekomendasi,” ajaknya.

Kepala BKKBN Sulut Ir. Diano Tino Tandaju, M.Erg

Disebutkan, evaluasi ini penting agar program yang sudah dilakukan dapat berlanjut dan menjadi prioritas pemerintahan, selanjutnya  faktor-faktor yang menyebabkan capaian penurunan stunting semakin melambat dalam dua tahun terakhir ini, agar diidentifikasi dan dinavigasi.

Fokuskan strategi dan pendekatan pada pencegahan terjadinya stunting baru, tanpa mengurangi intervensi pada anak stunting, arahkan berbagai intervensi kebijakan pada hal-hal yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk mempercepat penurunan stunting.

Diingatkan agar komitmen dan visi pimpinan terhadap program penurunan stunting, baik di pusat maupun daerah, tetap terjaga, utamanya memasuki masa transisi dan pergantian kepemimpinan di tahun ini.

Kepala BKKBN RI  Dr. (Hc) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) dalam laporannya menyampaikan bahwa tema Rakernas tahun 2024 seiring dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden untuk menyiapkan kualitas SDM dengan sebaik-baiknya.

“Kita tahu bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 menjadi akhir dari SDGs dan menjadi batu loncatan menuju Indonesia Emas 2045. Untuk itu, kita harus bebas dari kemiskinan ekstrem, kelaparan, di mana stunting juga menjadi bagian di dałamnya,” ujarnya.

Dokter Hasto, sapaannya menegaskan, tugas BKKBN sangat simpel. Pertama, menjaga Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS). Kedua, bagaimana menciptakan keluarga berkualitas.

Untuk menjaga pertumbuhan penduduk seimbang, BKKBN menggunakan indikator Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total rata-rata.

TFR Indonesia di 1971 sebesar 5. Bahkan ada yang melahirkan 6 hingga 10 anak.
“Dulu, anaknya banyak. Tetapi dengan program pemerintah yang luar biasa dengan jargon Dua Anak Cukup, angka rata-rata perempuan melahirkan ditargetkan 2,1 tercapai di 2024. Ternyata di 2022 TFR sudah menyentuh angka 2,18,” jelasnya.

Atas capaian ini, dokter Hasto menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas lapangan sebagai ujung tombak di lapangan, meski disparitas masih terjadi.

Ada daerah yang TFR-nya sudah 2,1, seperti di Jawa, Bali, DI Yogyakarta , DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur. Namun, di sejumlah daerah secara keseluruhan frekuensi kehamilan masih cukup memprihatinkan, seperti NTT dan Papua. “Kesenjangan ini harus bisa dikurangi,” tegasnya.

Di bagian lain sambutannya, dokter Hasto menyatakan mendukung apa yang menjadi target Menteri Kesehatan terkait Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). AKI dan AKB menjadi indikator derajat kesehatan bangsa.

“Satu bangsa dinilai derajat kesehatannya baik kalau AKI dan AKB nya juga baik. Dan dengan KB yang baik dan program yang ada, akan menurunkan AKI dan AKB,” ujarnya.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, dalam pandangan dokter Hasto, adalah bagaimana pergerakan Age Specific Fertility Rate (ASFR) rentang usia 15-19 tahun. Ternyata, dari tahun ke tahun angkanya turun cukup signifikan. “Setiap 1000 perempuan kalau ditanya sudah hamil atau melahirkan yang menjawab saat ini di angka 20,” jelas dokter Hasto.

Berkaitan dengan bonus demograsi, dokter Hasto menjelaskan, turunnya TFR membuat dependency ratio antara penduduk yang bekerja dan tidak bekerja dan konsumtif semakin turun. Terbukti, tahun 2020 dependency ratio mencapai angka 44,33. Artinya, 100 penduduk yang bekerja menanggung hanya 44 penduduk yang tidak produktif.

Puncak bonus demografi ini sesungguhnya sudah terjadi di 2020. “Kita sering mengatakan bahwa negara ini tengah memasuki bonus demografi. Tetapi secara nasional sebetulnya kita sudah pelan-pelan meninggalkan window opportunity bonus demografi. Hanya saja satu provinsi dengan provinsi lainnya tidak sama,” ujarnya.
.
Dengan demikian, dicoba meluruskan posisi puncak bonus demografi yang ternyata tercapai lebih awal dibanding proyeksi tahun 2015 yang ketika itu diproyeksikan puncaknya terjadi di 2030.

Kenapa bonus demografi maju ? Menurut dokter Hasto, karena TFR nya turun. Selain itu, tren orang nikah menurun signifikan. Sepuluh tahun lalu pernikahan terjadi sebanyak 2 juta pertahun. Saat ini turun menjadi 1,5 juta pertahun.

Tahapan bonus demografi memang tidak merata antar provinsi. Ada provinsi yang sudah masuk tahapan bonus demografi, ada yang sedang berjalan, ada yang agak memprihatinkan seperti NTT. Bahkan provinsi tersebut belum bisa diramal kapan bonus demografinya dicapai.

Selain itu, meningkatkan kualitas SDM, mau tidak mau harus dilakukan. Ketika kualitas meningkat, bonus demografi akan dicapai.

Terkait pertambahan aging population, dokter Hasto menjelaskan, akan otomatis terjadi karena angka harapan hidup penduduk Indonesia meningkat. Yang pasti, tidak ada program pemerintah untuk mengurangi populasi lansia, kecuali pengendalian kelahiran (bayi) melalui pemakaian kontrasepsi.
“Kita harus berhati-hati menghadapi aging population, di mana ‘sandwich generation’ harus menanggung beban.

‘Kalau sandwich generationnya tidak berkualitas memang cukup berat (bagi bangsa ini untuk maju),” ujarnya

Dalam laporannya, dokter Hasto menyinggung juga soal keluarga berkualitas. “BKKBN harus menciptakan keluarga berkualitas. Karena keluarga merupakan fondasi utama, dan kita fokus di dalam keluarga,” ujarnya.

Adapun ukuran kualitas keluarga adalah iBangga. Indeks Pembangunan Keluarga tersebut di atas dihasilkan dari Indeks Ketenteraman (59.44), Kemandirian (53,58), dan Kebahagiaan (71,26). Jika dilihat menurut provinsi, ketiga indeks tersebut bervariasi antar satu provinsi dengan provinsi lainnya.

“Di beberapa daerah walaupun belum mandiri secara ekonomi tapi bahagia banyak, seperti Aceh dan Kalimantan Utara. Di Daerah itu meskipun sebagian penduduknya miskin tapi kebahagian tinggi,” urai dokter Hasto.

Soal stunting, juga disinggung dokter Hasto. Dikatakan, dari tahun ke tahun prevalensi stunting mengalami penurunan signifikan. Meskipun penurunan tersebut belum sesuai harapan, tetapi jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) mengalami penurunan signifikan.

“Jadi, keluarga yang tidak punya air bersih, jambannya tidak standar, rumah kumuh, mengalami penurunan yang signifikan,” jelasnya.

Data yang dimiliki BKKBN menunjukkan, tahun 2023 jumlah KRS sebanyak 11.896.367 keluarga, turun dari 13.123.418 keluarga di 2022.
Dokter Hasto mengatakan, setiap tahun terjadi 1,7 juta pernikahan di Indonesia . Dari pernikahan itu sering calon pengantin (catin) tidak melakukan persiapan menghadapi kehamilan. Perhatian mereka terhadap pre konsepsi sangat rendah.

“Dari 1,5 juta yang menikah di tahun 2023, catin yang bersedia mengukur lingkar lengannya, berat badannya, hanya sebanyak 613.113 calon pengantin. Dari jumlah itu masih banyak yang terlalu kurus, mencapai 140.163 catin,” papar dokter Hasto.

Sementara catin yang mengalami anemia mencapai 20 persen (anemia ringan, sedang, dan berat). “Sebetulmya kalau yang nikah di screening betul, banyak yang bisa ditangkap (ditangani, red) di tingkat hulu. Seharusnya kalau mau hamil harus sehat dulu agar melahirkan bayi yang sehat, terbebas dari stunting,” ujarnya.

Komitmen di 2024, menurut dokter Hasto, BKKBN harus bergerak lebih cepat. Untuk itu, di sela rakernas diluncurkan program Akselerasi dalam Percepatan Penurunan Stunting (SIDAK Stunting). “Kita akan melakukan akselerasi, mendampingi dan beraksi dalam program tersebut. Tim Pendamping Keluarga (TPK) di lapangan akan siap mendampingi keluarga berisiko stunting,” ujarnya. (Fer)

Meimonews.com – Dipanggil untuk menabur benih harapan dan membangun perdamaian jadi tema pesan Minggu Panggilan ke-61, Minggu (21/4/2024) Paus Fransiskus.

Dikemukakan, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan (Minggu Panggilan) mengundang kita, setiap tahun, untuk merenungkan karunia berharga dari panggilan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, umatNya yang setia dalam sebuah perjalanan agar kita dapat mengambil bagian dalam rencana kasihNya dan menjelmakan keindahan Injil dalam berbagai kondisi kehidupan.

Mendengarkan panggilan ilahi, jauh dari sebagai sebuah tugas yang dipaksakan dari luar, mungkin atas nama idealisme religius, adalah cara yang paling pasti yang kita miliki untuk memelihara hasrat akan kebahagiaan yang kita bawa di dalam diri kita,  hidup kita terwujud dan terpenuhi ketika kita menemukan siapa diri kita, apa kualitas kita, di bidang apa kita dapat menggunakannya dengan baik, jalan apa yang dapat kita ambil untuk menjadi tanda dan alat cinta, penerimaan, keindahan dan kedamaian, dalam konteks tempat di mana kita hidup.

Oleh karena itu, hari ini selalu menjadi kesempatan yang indah untuk mengingat dengan rasa syukur di hadapan Tuhan akan komitmen terus menerus, setiap hari dan sering kali tersembunyi dari mereka yang telah menerima panggilan yang melibatkan seluruh hidup mereka.

“Saya teringat akan para ibu dan ayah yang tidak mementingkan diri mereka sendiri dan tidak mengikuti arus gaya hidup yang dangkal, tetapi menghabiskan keberadaan mereka untuk memelihara relasi, dengan cinta dan tanpa pamrih, membuka dirinya terhadap anugerah kehidupan dan memusatkan diri mereka untuk melayani anak-anaknya dan demi pertumbuhan mereka,” tulis Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus teringat akan semua orang yang melakukan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi dan semangat kerjasama. Mereka yang berkomitmen, dalam berbagai bidang dan cara, untuk membangun dunia yang lebih adil, ekonomi yang lebih mendukung, politik yang lebih adil, masyarakat yang lebih manusiawi.

“Singkatnya, semua orang yang dengan kehendak baik membaktikan dirinya untuk kebaikan bersama. Saya teringat akan para religius, yang mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dalam keheningan doa dan juga dalam karya kerasulan, kadang-kadang di tempat-tempat perbatasan dan tanpa menyisihkan tenaga, secara kreatif mewujudkan karisma mereka dan membuat dirinya siap sedia bagi orang-orang yang mereka temui,” sebutnya.

Paus Fransiskus teringat pula akan mereka yang telah menerima panggilan untuk ditahbiskan menjadi imam dan membaktikan diri mereka untuk mewartakan Injil dan membagi-bagikan hidup mereka, bersama dengan Roti Ekaristi, untuk saudara dan saudarinya, menabur harapan dan memperlihatkan kepada semua orang keindahan Kerajaan Allah.

Kepada kaum muda, terutama mereka yang merasa jauh atau tidak percaya kepada Gereja, Paus Fransiskus ingin mengatakan, biarkanlah dirimu terpesona oleh Yesus, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang penting kepada-Nya, melalui lembaran-lembaran Injil, biarkanlah dirimu digelisahkan oleh kehadiran-Nya, yang terkadang sering menempatkan kita dalam krisis yang bermanfaat.

Dia, sambung Paus Fransiskus, menghormati kebebasan kita lebih dari yang lain, tidak memaksakan diriNya tetapi menawarkan diriNya, berilah Dia tempat dalam dirimu dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu dalam mengikuti Dia, jika Dia memintamu, dalam pemberian dirimu sepenuhnya kepada Dia.

Dikemukakan, kepelbagaibentukan karisma dan panggilan, yang diakui dan didampingi oleh Komunitas Kristiani, membantu kita untuk memahami sepenuhnya identitas kita sebagai orang Kristen: sebagai umat Allah yang sedang dalam perjalanan di dunia, digerakkan oleh Roh Kudus dan diincorporasikan seperti batu-batu yang hidup ke dalam Tubuh Kristus, masing-masing dari kita menemukan diri kita sebagai anggota dari sebuah keluarga besar, seorang anak Bapa dan saudara atau saudari bagi satu sama lain.

Kita, menurut Paus Fransiskus, bukanlah bagai pulau-pulau yang menutup diri kita sendiri, tetapi kita adalah bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ini memiliki karakter sinodalitas: ada banyak karisma dan kita dipanggil untuk mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama untuk menemukannya dan untuk melakukan discernment terhadap apa Roh Kudus kehendaki demi kebaikan semua orang.

“Maka, pada momen historis saat ini, perjalanan bersama ini membawa kita menuju Tahun Yubileum 2025. Marilah kita berjalan sebagai peziarah harapan menuju Tahun Suci, sehingga dalam menemukan kembali panggilan kita masing-masing dan menghubungkan karunia-karunia Roh yang berbeda, kita dapat menjadi pembawa dan saksi-saksi impian Yesus di dunia: untuk membentuk satu keluarga, bersatu dalam cinta kasih Allah dan dipererat oleh ikatan cinta kasih, saling berbagi, dan persaudaraan,” ajaknya.

Secara khusus, tambahnya, hari ini didedikasikan, untuk berdoa memohon karunia panggilan suci dari Bapa untuk membangun Kerajaan-Nya: “Karena itu berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu,” sebutnya mengutip injil Lukas 10:2.

Ditambahkan, dan berdoa – kita tahu – lebih banyak terdiri dari mendengarkan daripada kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan. Tuhan berbicara ke dalam hati kita dan ingin agar hati kita terbuka, tulus dan murah hati. Firman-Nya telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus, yang menyatakan dan mengkomunikasikan kepada kita seluruh kehendak Bapa.

Pada tahun 2024 ini, yang didedikasikan secara khusus untuk doa dalam persiapan untuk Yubileum, sebutnya, kita dipanggil untuk menemukan kembali karunia yang tak ternilai untuk dapat berdialog dengan Tuhan, dari hati ke hati, dan dengan demikian menjadi peziarah pengharapan, karena “doa adalah kekuatan pertama dari pengharapan. Kamu berdoa dan pengharapan bertumbuh, bergerak maju. Menurut saya, doa membuka pintu pengharapan. Harapan itu ada di sana, tetapi dengan doa saya membuka pintu bagi pengharapan” (Katekese, 20 Mei 2020).

Menjadi pertanyaan, apa artinya menjadi peziarah ? Bagi Paus Fransiskus, orang yang berziarah pertama-tama berusaha untuk memiliki tujuan yang jelas, dan selalu membawanya di dalam hati dan pikirannya. Namun, pada saat yang sama, untuk mencapai tujuan itu, seseorang harus berkonsentrasi pada langkah saat ini, untuk menghidupinya ia harus ringan, melepaskan diri dari beban yang tidak perlu, membawa hal-hal yang penting dan berjuang setiap hari sehingga kelelahan, ketakutan, ketidakpastian dan kegelapan tidak menghalangi jalan yang ditempuh.

Dengan demikian, menjadi peziarah berarti mulai lagi setiap hari, selalu memulai lagi, menemukan kembali semangat dan kekuatan untuk menempuh berbagai tahap perjalanan yang, meskipun lelah dan sulit, selalu terbuka di hadapan kita cakrawala baru dan pandangan yang tak diketahui.

“Makna perziarahan kristiani adalah: kita berada dalam perjalanan untuk menemukan cinta Tuhan dan, pada saat yang sama, menemukan diri kita sendiri, melalui perjalanan batin tetapi selalu didorong oleh banyaknya relasi,” jelas Paus Fransiskus.

Jadi, kita  adalah peziarah karena dipanggil: dipanggil untuk mencintai Tuhan dan mencintai satu sama lain. Dengan demikian, perjalanan kita di bumi ini tidak pernah berakhir dengan kelelahan tanpa tujuan atau pengembaraan tanpa tujuan; sebaliknya, setiap hari, menanggapi panggilan kita, kita mencoba mengambil langkah-langkah yang mungkin menuju dunia baru, di mana kita hidup dalam kedamaian, keadilan, dan cinta.

“Kita adalah peziarah pengharapan karena kita cenderung menuju masa depan yang lebih baik dan berusaha untuk membangunnya di sepanjang jalan,” tegasnya.

Pada akhirnya, inilah tujuan dari setiap panggilan: untuk menjadi manusia yang penuh pengharapan. Sebagai individu dan sebagai komunitas, dalam berbagai karisma dan pelayanan, kita semua dipanggil untuk “memberikan tubuh dan hati” bagi harapan Injil di dunia yang ditandai dengan tantangan zaman: ancaman perang dunia ketiga yang semakin dekat, himpunan kaum migran yang melarikan diri dari tanah air mereka untuk mencari masa depan yang lebih baik, jumlah orang miskin yang terus bertambah, bahaya yang secara terus menerus membahayakan kesehatan planet kita.

Dan dari semua yang sudah disebutkan itu harus pula ditambahkan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi setiap hari dan yang, kadang-kadang, berisiko membuat kita menyerah atau kalah.

Maka, di masa-masa seperti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita umat Kristiani untuk mengembangkan sebuah pandangan yang holistik tentang pengharapan, agar kita dapat bekerja dengan baik, menanggapi panggilan yang dipercayakan kepada kita, demi melayani Kerajaan Allah, Kerajaan yang penuh dengan kasih, keadilan dan perdamaian.

Paulus, sebut Paus Fransiskus, meyakinkan kita bahwa pengharapan ini “tidak mengecewakan” (Roma 5:5), karena ini adalah janji yang telah Tuhan Yesus berikan kepada kita untuk selalu menyertai kita dan melibatkan kita dalam karya penebusan yang ingin Dia capai dalam hati setiap orang dan dalam “hati” ciptaan.

Pengharapan ini menemukan pusat pendorongnya dalam Kebangkitan Kristus, yang “mengandung kekuatan hidup yang telah menembus dunia. Di saat segala sesuatu tampak mati, tunas-tunas kebangkitan muncul dari mana-mana. Ini adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Memang benar bahwa sering kali tampaknya Allah tidak ada: kita melihat ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian dan kekejaman yang tidak berkurang.

Tetapi sama pastinya bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu mulai bersemi, yang cepat atau lambat akan menghasilkan buah” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 276). Sekali lagi Rasul Paulus menyatakan bahwa “dalam pengharapan” kita “telah diselamatkan” (Roma 8:24).

Penebusan yang dicapai dalam Paskah memberikan pengharapan, pengharapan yang pasti dan dapat diandalkan, yang dengannya kita dapat menghadapi tantangan-tantangan di masa kini.

Maka, menjadi peziarah pengharapan dan pembawa damai berarti mendasarkan keberadaan kita pada batu karang kebangkitan Kristus, dengan mengetahui bahwa setiap komitmen yang kita buat, dalam panggilan yang telah kita raih dan upayakan, tidak akan sia-sia. Meskipun ada kegagalan dan kemunduran, kebaikan yang kita tabur bertumbuh diam-diam dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari tujuan akhir: perjumpaan dengan Kristus dan sukacita hidup dalam persaudaraan satu sama lain untuk selama-lamanya.

Kita harus mengantisipasi panggilan terakhir ini setiap hari: hubungan kasih dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita dimulai dari sekarang untuk mewujudkan impian Allah, impian persatuan, perdamaian dan persaudaraan.

Janganlah ada seorang pun merasa tidak termasuk dari panggilan ini! Masing-masing kita, dengan cara kecil kita sendiri, dalam keadaan hidup kita sendiri dapat menjadi penabur pengharapan dan perdamaian, dengan bantuan Roh Kudus.

“Untuk semua ini saya katakan, sekali lagi, seperti pada Hari Orang Muda Sedunia di Lisabon: ‘Bangkitlah!’ Marilah kita bangun dari tidur, marilah kita keluar dari ketidakpedulian, marilah kita membuka jeruji penjara yang terkadang mengurung diri kita sendiri, sehingga kita masing-masing dapat menemukan panggilan kita di Gereja dan di dunia dan menjadi peziarah pengharapan dan pembangun perdamaian !” ajaknya.

Paus Fransiskus mengajak pula kepada kita agar sungguh tergerak untuk hidup dan berkomitmen terhadap kepedulian yang penuh kasih bagi orang-orang di sekitar kita dan lingkungan yang kita tinggali. “Saya ulangi, beranikanlah dirimu untuk terlibat !” sebutnya

Pastor Oreste Benzi, seorang rasul cinta kasih yang tak kenal lelah, yang selalu berpihak pada mereka yang paling kecil dan tak berdaya, tambahnya, selalu mengulangi bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, dan tidak ada seorang pun yang begitu kaya sehingga tidak perlu menerima sesuatu.

“Marilah kita bangkit dan bergerak sebagai peziarah pengharapan, sehingga, seperti yang dilakukan oleh Maria kepada Elizabeth, kita juga dapat membawa berita sukacita, membangkitkan kehidupan baru dan menjadi pembangun persaudaraan dan perdamaian,” ajak Paus Fransiskus. (lk)

Meimonews.com – Terobosan penting dilakukan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulut dalam kaitannya dengan penanganan masalah hukum di bidang perdata dan tata usaha negara (datun).

Hal itu terlihat pada kehadiran Tim Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut di Kantor Bapenda Sulut, Jumat (19/4/3034) pada rapat yang membahas kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara tentang Penanganan permasalahan Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

Rapat  yang dipimpin Kepala Bapenda Sulut  June E. Silangen, SE.Ak, MM dan didampingi Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejati Sulut Franky Son, SH, MH, Kepala BKAD Sulut Clay J.H. Dondokambey, S.STP, MAP ini dihadiri jajaran Kejati, Inspektorat, BKAD, Bapenda, dan Biro Pemerintahan dan Biro Hukum Pemprov Sulut.

Dalam rapat tersebut, secara detail dibahas hal-hal seperti penguatan legal opinion dari pihak terkat (Kejati Sulut) bila ada permasalahan hukum di jajaran pemerintah Pemprov Sulut. Dengan ada legal opinion ini maka jajaran Pemprov Sulut tidak perlu ragu-ragu lagi dalam pengambilan keputusan.

June menjelaskan, dalam rangka penagihan pajak perlu bersamaan dengan Kejati Sulut. Awalnya hanya dengan Bapenda tapi pihak Bapenda mengusulkan kepada Asdatun Kejati Sulut untuk bersama dengan Pemprov Sulut/Gubernur Sulut.

“Diusulkan demikian karena Pemprov Sulut dan jajarannya perlu juga pendampingan bukan hanya masalah seperti pajak, pengadaan barang dan jasa tapi juga masalah-masalah lain,” ujar June dalam percakapan dengan Meimonews.com di ruang kerjanya, usai rapat.

Oleh karenanya, sambung June, dibuatlah draf nota kesepahaman untuk dibahas bersama, dan ke depan bukan hanya Bapenda Sulut saja yang membuat nota kesepahaman bersama dengan Kejati tapi dengan OPD (organisasi perangkat daerah lain) juga. (elka)

Meimonews.com – Erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro) tidak saja berdampak kepada masyarakat daerah setempat tapi juga masyarakat di sejumlah daerah.

Menyikapi adanya penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ruang tersebut, Pemerintah Kota Manado di bawah kepemimpinan Andrei Angouw (Walikota) dan Richard Sualang (Wakil Walikota) mengimbau kepada masyarakat Kota Manado yang akan beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan masker.

Abu vulkanik yang tersebar di atas motor yang diparkir di halaman terbuka baru sekitar dua jam

Kenapa harus menggunakan masker ? Karena abu vulkanik yang terhirup bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Setidaknya, sebut imbauan Pemkot Manado tersebut, ada tiga dampaknya. Pertama, radang saluran pernapasan atas akut; kedua, radang pada selaput mata, dan ketiga, dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan radang di paru-paru. (lk)

Meimonews.com – Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ) menggelar Kapitel Kedua di Panti Samadi Tomohon, 11-27/4/2024.

Sebanyak 31 suster yang terdiri dari delegasi ex-officio dan peserta yang dipilih dalam Kapitel Provinsi-provinsi (Jakarta, Makassar dan Manado) mengikuti kapitel yang mengusung tema Walking Together as Prophets of Hope at the Dawn.

Dalam kapitel ini, para peserta dibimbing oleh Sr. Brigid Lawlor, RGS dari Amerika. Sr. Brigid adalah Penasehat Paus untuk Religius.

Ada juga fasilitator Mrs. Maureen Jenkins dari Amerika. Beliau adalah seorang fasilitator internasional bidang Imaginal Training dan pernah memberi training di Telkomsel.

Kapitel dipimpin Dewan Pimpinan Umum yakni Sr. Theresia Supriyati (Pemimpin Kongregasi), Sr. Francinetti Manua, Sr. Jeannette Runtu dan Sr. Monika Kalangi (Anggota Dewan).

Pelaksanaan Kapitel diawali misa yang dipersembahkan Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC yang diadakan di Gereja Hati Kudus Tomohon. (lk)

Meimonews.com – Bacaan Injil hari Minggu (14/4/2024) menghantar kita kembali ke peristiwa malam sesudah Paskah. Para rasul berkumpul di Ruang Atas (Cenaculum, ruang makan), ketika kedua murid kembali dari Emaus dan menceritakan pertemuan mereka dengan Yesus.

Dan ketika mereka sedang mengungkapkan sukacita mereka atas pengalaman itu, Dia yang Bangkit menampakkan diri kepada seluruh komunitas. Yesus datang tepat ketika mereka sedang berbagi kisah perjumpaan mereka dengan-Nya.

“Peristiwa ini membuat saya berefleksi bahwa berbagi itu baik, berbagi iman itu penting. Kisah ini membuat kita berpikir tentang pentingnya berbagi iman akan Yesus yang telah bangkit,” ujar Paus Fransiskus dalam salah satu pokok permenungannya, sebagaimana dibagikannya sebelum Doa Regina Caeli, Minggu (14/4/2024).

Diungkapkan, setiap hari kita dibombardir oleh ribuan pesan. Banyak pesan yang dangkal dan tidak berguna, yang lain mengungkapkan rasa ingin tahu yang tidak bijaksana atau yang lebih buruk lagi, muncul dari gosip dan kedengkian. Pesan-pesan seperti itu adalah berita yang tidak ada gunanya, bahkan menyakitkan.

Namun, ada juga berita yang baik, positif dan membangun, dan kita semua tahu betapa senangnya mendengar hal-hal yang seperti itu, dan betapa kita merasa lebih baik lagi ketika hal itu terjadi. Dan juga adalah baik untuk berbagi kenyataan yang, baik atau buruk, telah menyentuh hidup kita, sehingga kita dapat membantu orang lain.

“Namun, ada satu hal yang sering kali sulit kita bicarakan. Kita bergumul untuk membicarakan tentang apa ? Tentang hal terindah yang harus kita bicarakan yakni perjumpaan kita dengan Yesus. Masing-masing dari kita, sanbungnya, telah berjumpa dengan Tuhan dan kita bergumul untuk membicarakannya,” sebutnya.

Masing-masing dari kita dapat berbicara banyak tentang hal ini yakni untuk melihat bagaimana Tuhan telah menyentuh kita, dan ini untuk dibagikan, bukan untuk menguliahi orang lain, tetapi dengan membagikan momen-momen unik di mana kita merasakan Tuhan hidup, dekat, menyalakan sukacita di dalam hati kita atau menghapus air mata, menularkan kepercayaan diri dan penghiburan, kekuatan dan semangat, atau pengampunan dan kelembutan.

Perjumpaan-perjumpaan seperti ini, yang masing-masing kita telah alami dengan Yesus, menurut Paus Fransiskus, harus dibagikan dan diteruskan. Hal ini penting untuk dilakukan di dalam keluarga, di dalam komunitas, dengan teman-teman.

Sama halnya dengan menceritakan inspirasi-inspirasi baik yang telah mengarahkan hidup kita, pikiran dan perasaan baik yang sangat membantu kita untuk maju, bahkan upaya dan usaha yang kita lakukan untuk memahami dan maju dalam kehidupan iman, bahkan mungkin untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan kita.

“Jika kita melakukan hal ini, Yesus, seperti yang dilakukan-Nya kepada murid-murid di Emaus pada malam sesudah Paskah, akan mengejutkan kita dan membuat perjumpaan dan lingkungan kita menjadi lebih indah,” tandasnya.

Jadi, marilah kita coba ingat kembali, saat-saat yang sangat berpengaruh dalam hidup kita, sebuah perjumpaan dengan Yesus yang menentukan jalan dan arah hidup kita. Setiap orang pernah mengalaminya, setiap orang pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

“Marilah kita hening sejenak dan ingat kapan saya menemukan Tuhan ? Kapan Tuhan menjadi dan terasa begitu dekat dengan saya ? Marilah kita bermenung dalam keheningan. Dan kisah perjumpaan dengan Tuhan ini, apakah saya bagikan untuk memuliakan Tuhan ? Dan juga, apakah saya juga mendengarkan orang lain ketika mereka bercerita tentang perjumpaannya dengan Yesus ?” ajak Paus Fransiskus.

Semoga Bunda Maria, sambungnya, membantu kita untuk membagikan iman kita untuk membuat komunitas kita semakin menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan. (*/lk)

Meimonews.com – Mgr. Petrus Turang Pr mengingatkan kepada imam-imam/pastor-pastor baru agar tidak mengejar karier karena dalam tugasnya sebagai imam/pastor tidak dibenarkan hal itu.

Peringatan Uskup Agung Kupang tersebut disampaikan saat memberikan homili pada Perayaan Ekaristi Tahbisan Imam di  Gereja Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado, Sabtu (13/4/2024).

Ditegaskan, pastor/imam bukan mengejar/mencapai karier. Kalau ada imam/pastor selalu bercita-cita jadi pastor paroki atau Superior atau jabatan lain, itu tidak benar. “Keluar saja dari imam/pastor,” tandas Uskup kelahiran Tataaran, Minahasa ini.

Menurutnya, imam/pastor adalah pembagi berkat, pembagi kasih yang berpegang teguh pada Allah.

Seorang imam/pastor mengaktualisasikan ketaatan kepada Uskup, bukan kepada diri sendiri. Imam/pastor harus menjadikan umat cinta kepada Tuhan.

“Hukum yang paling utama adalah memberi diri. Seorang imam adalah pembawa rahmat dengan tulus hati, dengan rendah hati, dengan senang hati,” ujar gembala berumur 75 tahun ini.

Mantan Ketua Komisi PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) Keuskupan Manado ini mengingatkan pula agar para imam/pastor tidak boleh pilih-pilih, tidak ego-drama.

Para imam/pastor, menurutnya, harus menjadi imam/pastor yang secara manusiawi menghadirkan martabat mulia dari setiap orang atau kelompok orang, supaya apa yang dinyanyikan yakni Tuhanlah gembalaku aku tak akan berkekurangan sungguh benar.

“Supaya kasih Allah itu hadir setiap hari di paroki, kelompok umat. Supaya kasih Allah itu terkenal dengan benar. Supaya umat sadar kehadiran Allah,” jelas Mgr. Turang.

Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dalam kata penutup, sebelum mengumumkan tempat tugas para imam/pastor baru, mengatakan, untuk sampai seperti sekarang ini (menjadi imam/pastor) ada proses yang panjang.

Diungkapkan, apa yang terjadi saat ini, ada awalnya. Tuhan yang memberikan kepada keluarga, berproses dalam keluarga, juga asa keterlibatan umat di lingkungan masing-masing, di stasi dan paroki serta pendidikan di seminari  mulai dari pendidikan dasar, pendidikan calon imam, keterlibatan di umat, stasi, paroki dan mendampingi mereka.

Sebelum menjadi imam, harus mengikuti pendidikan di seminari selama 6 tahun , belum lama di tambah tahun pastoral dan diakonal. Belum lagi ada yang lewat seminari Agustinianum, atau seminari menengah dan bahkan ditambah seminari kecil.

Disebutkan, kita bersyukur karena perjalanan ini sudah berhasil dilewati mereka sehingga menjadi imam. Oleh karena itu, mari torang dukung para imam-imam ini dengan doa dan memberikan teguran bila diperlukan agar mereka tetap berjalan sebagai mereka diutus/ditugaskan Tuhan di dunia ini.

“Torang samua hadir di tempat ini sebagai saksi-saksi dari peristiwa iman ini, pesta tahbisan imam-imam baru,” ujar Mgr. Rolly.

Pastor Ekaristho Gerhani Silap Pr dalam sambutannya mewakili imam-imam/pastor yang baru ditahbiskan menegaskan, panggilan Yesus terkadang misteri, tetapi misteri itu terungkap hari ini, lewat peristiwa tahbisan. “Ketika Dia memanggil kami masuk di seminari, belajar dan berproses, dibina dan membina diri, menjalani masa-masa pastoral di tengah umat, pun di lembaga pada hari ini kami boleh menerima rahmat tahbisan imamat,” ujarnya.

Firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 4 ayat 19 yakni Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia ini, sebut Silap, menggetarkan dan menyentuh mereka, menunjukkan bagaimana Tuhan memanggil mereka berjuang, menjalani ritme dan dinamika panggilan untuk melayani dan membawa terang kepada sesama.

Prosesnya, menurutnya, tidak mudah karena ada banyak hal yang harus dikorbankan dan diperjuangkan. Perjalanan ini mengajarkan mereka untuk menghargai dan belajar dari segala proses yang ada

“Proseslah yang membentuk kami, di mana di dalamnya ada jatuh-bangun, suka-duka yang terkadang melemahkan, menggoyahkan tetapi sebaliknya membuat kami kuat dan memantapkan pilihan sehingga kami bisa seperti ini,” tandasnya.

Diketahui, (Baca : Tujuh Frater Diakon Ditahbiskan jadi Imam oleh Mgr. Turang), ada tujuh imam/pastor baru yang ditahbiskan Mgr. Turang di dampingi Uskup Manado Mgr. Rolly dan Uskup Terpilih Keuskupan Agung Kupang Mgr. Heronimus Pr serta Rektor Seminari Pineleng Pastor Amri Wuritimur Pr dan Superior SkolastikatMSC Pineleng Pastor Yulius Sodah MSC.

Ketujuh imam/baru tersebut adalah Pastor Aloisius Wazi Pr, Pastor Fransiskus Ivandi Panda Raja Pr, Pastor Edward Eduardo Salilo Pr, Pastor Brelianus Susu Ndana Pr, Pastor Ekaristho Gerhani Silap Pr. Pastor Rexi Alfrids Baptisma Kawuwung MSC dan Pastor Zakarias Mayabubun MSC.

Hadir pada acara tahbisan adalah seratusan imam/pastor se-Keuskupan Manado, para frater, suster, bruder serta tamu/undangan seperti Sekda Talaud Johanis Kamagi, para orangtua/keluarga imam baru serta umat Katolik termasuk dari paroki di mana imam/pastor baru berasal atau pernah bertugas pastoral/diakonal.

Usai perayaan ekaristi, dilanjutkan acara syukuran di Wisma Montini, yang berada di kompleks Wisma Keuskupan Manado (berseberangan jalan dengan gereja Katedral Manado). (lk)

Meimonews.com -Tujuh orang frater diakon ditahbiskan menjadi imam/pastor oleh Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang Pr pada Perayaan Ekaristi (misa) yang dipimpin Mgr. Turang di dampingi Uskup Terpilih Keuskupan Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni Pr,  Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC serta Rektor Seminari Pineleng Pastor Amri Wuritimur Pr dan Superior Skolastik MSC Pineleng Pastor Yulius Sodah MSC.

Turut mendampingi di acara misa yang dilaksanakan di Gereja Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado, Sabtu (13/4/2024), seratusan imam/pastor Keuskupan Manado dan Tarekat MSC (Missionarii Sacratissimi Cordi Jesu/Misionaris Hati Kudus Yesus).

Ribuan umat Katolik termasuk dari beberapa paroki/asal para imam baru dan keluarga mereka serta tamu/undangan seperti Sekda Talaud Johanis Kamagi dan para frater, bruder, suster menyaksikan peristiwa sakral tersebut baik dari dalam gereja maupun di samping gereja.

Upacara tahbisan diawali pemilihan calon tahbisan baru dan permohonan tahbisan mewakili umat serta homili uskup pemimpin misa.

Kemudian, pengikraran janji setia calon tahbisan, litani para kudus, penumpangan tangan, doa tahbisan, pengenaan kasula, pengurapan tangan, penyerahan piala dan patena serta salam damai.

Saat Mgr. Turang memberi “salam damai,” imam/pastor baru menanggapinya dengan jawaban “dan bersama rohmu.”

Uskup pendamping dan para imam/pastor yang menghadiri misa pun ikut memberikan salam damai kepada imam/pastor baru tersebut.

Para imam/pastor baru tersebut adalah Pastor Aloisius Wazi Pr, Pastor Fransiskus Ivandi Panda Raja Pr, Pastor Edward Eduardo Salilo Pr, Pastor Brelianus Susu Ndana Pr, Pastor Ekaristho Gerhani Silap Pr. Pastor Rexi Alfrids Baptisma Kawuwung MSC dan Pastor Zakarias Mayabubun MSC.

Di penghujung misa, sebelum berkat pengutusan, Mgr. Rolly memberikan beberapa kata sambutan dan mengumumkan tempat penugasan para imam baru tersebut.

Setelah perayaan ekaristi, dilanjutkan dengan acara ramah tamah di Wisma Montini, yang berlokasi di kompleks Wisma Keuskupan (berseberangan dengan Gereja Katedral).

Usai ramah tamah, baik keluarga imam baru, kenalan maupun umat mengambil waktu untuk meminta berkat dari imam-imam baru dan foto bersama. (lk)