(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kalau ada yang bertanya kapan waktu senggang bagi pemain bridge pada semester kedua tahun 2026, ? jawabannya mungkin sederhana yakni hampir tidak ada.

Mulai Juli hingga Desember, kalender turnamen bridge dipenuhi berbagai kejuaraan, baik nasional maupun internasional. Hampir setiap akhir pekan terdapat turnamen yang dapat diikuti. Bahkan, ada beberapa periode ketika dua atau tiga kejuaraan berlangsung hampir bersamaan.

Juli menjadi pembuka dengan Pesta Sukan Singapura dan Walikota Pontianak Cup. Memasuki Agustus, intensitas kompetisi langsung meningkat. Diawali Ernst Gultom Memorial Trophy di Jakarta, kemudian World Youth Transnational Championship di Hefei, Intercity Hong Kong, World Bridge Series di Katowice, hingga Kejuaraan Pasangan HUT ke-81 RI DPP KKK di Jakarta.

Kesibukan berlanjut pada September. Tugu Muda Cup di Semarang menjadi pembuka sebelum disusul EA 2nd International Bridge Championship di Chennai, Kejuaraan Nasional Bridge di Mamuju, APBF Youth Championships di Hainan, serta Gubernur Kanagawa Cup di Jepang.

Belum sempat beristirahat, Oktober langsung diawali HCL International Bridge Championship di New Delhi, dilanjutkan FISU Mind Sports University Games di Liaocheng, China, dan ITS Challenge di Surabaya.

November bahkan menjadi bulan paling padat. Asia Pacific Fall Transnational Championship di Qingdao, Porprov Kalimantan Barat, Festival Online Wanita WBF, Seoul International Bridge Tournament, Rektor UGM Cup, serta kemungkinan Piala Pahlawan Surabaya membuat hampir seluruh akhir pekan terisi agenda bridge.

Desember pun belum menjadi waktu untuk bersantai. Kalender masih menghadirkan 9th SEABF Championships dan 42nd Asian Bridge Clubs Championship (ABCC) di Kuala Lumpur, peringatan HUT GABSI dan Hari Bridge Nasional, serta rencana penyelenggaraan Christmas Bridge Festival di Manado.

Yang menarik, kalender tersebut kemungkinan masih akan bertambah padat.

Memasuki Oktober hingga Desember, sejumlah provinsi diperkirakan menggelar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang mempertandingkan cabang olahraga bridge. Hingga saat ini baru Porprov Kalimantan Barat yang telah mengumumkan jadual resminya, sedangkan provinsi-provinsi lain masih menunggu pengumuman resmi.

Artinya, jadual yang sudah padat ini masih sangat mungkin bertambah.

Padatnya kalender tentu membawa tantangan. Atlet harus pandai mengatur jadwal, menjaga kondisi fisik dan mental, serta menentukan prioritas turnamen yang akan diikuti. Pengurus dan penyelenggara juga perlu berkoordinasi agar benturan jadwal dapat diminimalkan.

Namun, di sisi lain, ramainya kalender merupakan indikator positif. Semakin banyak turnamen berarti semakin banyak kesempatan bertanding, semakin banyak pengalaman yang diperoleh atlet, serta semakin besar peluang munculnya pemain-pemain muda berbakat.

Bridge Indonesia tampaknya sedang memasuki fase yang sangat menggembirakan. Aktivitas kompetisi tidak lagi terpusat di beberapa kota saja, tetapi menyebar ke berbagai daerah dan terhubung dengan kalender internasional.

Kini, tantangannya bukan lagi mencari turnamen, melainkan bagaimana mengelola begitu banyak kesempatan tersebut agar benar-benar menghasilkan prestasi.

Melihat kalender semester kedua tahun 2026, rasanya judul tulisan ini memang sangat tepat : “Ketika Kalender Bridge Nyaris tak Menyisakan Akhir Pekan.” (Penulis adalah Pengurus/pemain bridge)

(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Di seluruh dunia, jutaan orang menunggu babak semifinal Piala Dunia 2026 dengan harapan sederhana : melihat negaranya menjadi juara dunia. Namun, di sebuah warung kopi, ada seorang pria yang justru sibuk menghitung sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bukan peluang juara. Bukan probabilitas adu penalti, melainkan peluang siapa yang akan menjadi pencetak gol terbanyak.

Temannya mulai heran. “Negara mana yang kamu dukung ?” Pria itu mengangkat kepala sebentar. “Saya mendukung Mbappé, Messi, Kane… dan tadi sebenarnya Haaland juga.”
“Lho ? Bukannya mereka main untuk negara yang berbeda ?” “Itulah justru indahnya.” Temannya langsung sadar. “Oh… kamu tukang bridge, ya ? Pria itu hanya tersenyum.

Bagi pemain bridge, dunia memang sedikit berbeda. Kalau orang lain melihat bagan pertandingan, mereka melihat jalan menuju trofi. Pemain bridge melihat pohon kemungkinan (game tree).

Kalau orang lain menghitung penguasaan bola, pemain bridge menghitung peluang. Kalau orang lain berteriak “Ayo menyerang!”, pemain bridge malah bertanya, “Kalau Inggris lolos, berarti Kane masih punya dua kesempatan menambah gol. Tapi kalau Norwegia yang lolos, Haaland juga masih hidup. Mana yang lebih menguntungkan ?”

Begitulah otak seorang pemain bridge bekerja. Awalnya, ia memiliki impian yang menurutnya sangat indah. Semifinal diisi oleh Prancis, Inggris, Norwegia, dan Argentina. Empat negara.
Empat monster pencetak gol. Mbappé. Messi. Haaland. Kane.

Semuanya masih hidup sampai akhir turnamen. Persaingan Sepatu Emas dijamin berlangsung sampai detik terakhir. Sayangnya… Sesudah membuka bagan pertandingan FIFA lebih teliti, wajahnya langsung berubah. “Lho…”

“Inggris ketemu Norwegia di perempat final?” Ia menepuk jidat. “Berarti salah satu pasti pulang.” Logika bridge yang begitu rumit akhirnya dikalahkan oleh sesuatu yang sangat sederhana. Bagan pertandingan.

Tetapi pemain bridge jarang menyerah.
Kalau kontrak gagal, masih ada papan berikutnya. Kalau rencana A gagal, buat rencana B. Maka lahirlah skenario baru. Prancis. Argentina. Spanyol. Ditambah salah satu dari Inggris atau Norwegia. Masih lumayan. Minimal perebutan Sepatu Emas tetap panas.

Di sinilah orang biasa dan pemain bridge mulai sulit saling memahami. Seorang penggemar sepak bola berkata, “Saya ingin negara saya juara dunia.” Pemain bridge menjawab, “Saya ingin top skor baru ditentukan pada pertandingan terakhir.” “Jadi kamu tidak peduli siapa juara?” “Bukan begitu.”

“Lalu?” “Kalau juara sudah ketahuan, pertandingan selesai.” “Kalau Sepatu Emas belum selesai, setiap gol masih mengubah cerita.”

Bahkan ia memiliki teori sendiri. Trofi Piala Dunia hanya diangkat satu kali. Tetapi perebutan Sepatu Emas bisa berubah setiap menit. Satu gol. Satu penalti. Satu tendangan bebas. Satu sundulan.

Semuanya bisa mengubah klasemen pencetak gol. Itulah drama yang membuatnya tidak berani meninggalkan televisi, bahkan hanya untuk membuat secangkir kopi.

Ketika Mbappé mencetak gol kedelapannya, ia tersenyum. Ketika Messi menyamai jumlah gol itu, ia mengangguk puas. Ketika Kane terus mendekat, ia mulai menghitung ulang. Dan ketika Haaland masih memiliki peluang, ia bahkan sempat berharap Norwegia membuat kejutan. Bukan karena ia orang Norwegia. Melainkan karena persaingan akan semakin seru.

Temannya kembali bertanya. “Kalau nanti Inggris mengalahkan Argentina?” Ia menjawab santai. “Berarti Kane naik.” “Kalau Argentina menang?” “Messi menjauh.” “Kalau Mbappé cetak hat-trick?” “Lebih bagus lagi.” “Kalau tidak ada yang mencetak gol?” Ia menghela napas.
“Itu namanya hasil seri bagi para pemburu Sepatu Emas.”

Akhirnya temannya tertawa. “Sekarang saya mengerti.” “Mengerti apa?” “Kalau menonton sepak bola bersama pemain bridge ternyata berbeda.” “Kenapa?” “Karena kami menonton pertandingan.” “Kalau kamu?” “Aku sedang memainkan probabilitas.”

Dan mungkin, hanya mungkin, di seluruh dunia memang ada segelintir orang yang menonton semifinal Piala Dunia bukan terutama untuk melihat siapa yang akan mengangkat trofi. Melainkan untuk memastikan persaingan Sepatu Emas tetap hidup hingga peluit terakhir final.

Kalau anda bertemu orang seperti itu, jangan heran. Kemungkinan besar, ia adalah seorang pemain bridge. Dan, di kepalanya, setiap pertandingan selalu terasa seperti satu papan besar yang harus dianalisis sebelum kartu pertama dimainkan. (Penulis adalah Pengurus dan Pemain Bridge)

(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Bangsa yang besar tidak pernah hidup hanya dari kejayaan masa lalu. Ia bertahan karena mampu menerjemahkan nilai-nilai leluhurnya ke dalam tantangan zamannya.

Minahasa pernah melahirkan banyak negarawan yang memberi warna bagi perjalanan Republik Indonesia. Nama-nama seperti Sam Ratulangi, AA Maramis, Johannes Leimena, GA Siwabessy, dan WZ Johannes bukan sekadar kebanggaan daerah, melainkan bagian dari fondasi bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi, mengapa tokoh seperti mereka tidak lagi banyak muncul ? Pertanyaan yang lebih penting adalah Bagaimana melahirkan generasi pemimpin baru yang mampu membawa nilai-nilai Minahasa ke panggung Indonesia abad ke-21 ?

Menurut saya, jawabannya bukan dengan kembali ke masa lalu, melainkan dengan menghidupkan kembali roh kepemimpinan Minahasa dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.

Kepemimpinan tidak lagi cukup mengandalkan karisma. Abad ke-21 adalah era yang berbeda. Pemimpin tidak cukup hanya berwibawa. Ia harus mampu membangun komunikasi digital, memahami ekonomi global, mengelola keberagaman, menguasai teknologi, sekaligus menjaga integritas.

Dalam dunia yang berubah sangat cepat, kualitas moral justru menjadi semakin penting. Di sinilah filosofi Minahasa menemukan relevansinya kembali.

Tou Keter: Kuat dalam Integritas, Bukan Sekadar Kekuasaan

Selama ini kata “kuat” sering dipahami sebagai kemampuan mengendalikan orang lain. Padahal Tou Keter memiliki makna yang lebih dalam.
Kekuatan sejati adalah keberanian mengambil keputusan yang benar sekalipun tidak populer.

Pemimpin masa depan harus berani melawan korupsi, politik uang, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala bentuk penyimpangan yang merugikan rakyat.

Kekuatan bukanlah dominasi. Kekuatan adalah keberanian memikul tanggung jawab.

Tou Leos : Politik yang Memanusiakan

Politik sering dipersepsikan sebagai perebutan kekuasaan. Padahal hakikat politik adalah mengurus kehidupan bersama.

Tou Leos mengingatkan bahwa kepemimpinan harus berangkat dari kasih, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi, pemimpin yang mampu merangkul jauh lebih dibutuhkan daripada pemimpin yang gemar membelah masyarakat menjadi “kami” dan “mereka”.

Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang menyembuhkan daripada mempertajam perbedaan.

Tou Nga’asan: Kepemimpinan Berbasis Pengetahuan

Dunia modern semakin kompleks. Masalah ekonomi, perubahan iklim, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga geopolitik global tidak dapat diselesaikan hanya dengan retorika. Karena itu, Tou Nga’asan menjadi semakin relevan.

Pemimpin harus terus belajar. Ia harus mampu membaca data, memahami ilmu pengetahuan, mendengarkan para ahli, dan membuat keputusan berdasarkan bukti.

Popularitas tidak boleh menggantikan kompetensi.

Lima Agenda Besar Kepemimpinan Baru

Jika ingin kembali melahirkan tokoh nasional, menurut saya Sulawesi Utara perlu membangun lima agenda strategis.

Pertama, Pendidikan kepemimpinan sejak dini. Sekolah, gereja, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan komunitas harus menjadi tempat lahirnya calon pemimpin. Kepemimpinan tidak muncul secara kebetulan. Ia dibentuk.

Kedua, Politik berbasis gagasan. Sudah waktunya ruang publik lebih banyak membicarakan ide daripada sekadar figur. Budaya diskusi, debat kebijakan, dan kajian publik harus dihidupkan kembali. Masyarakat perlu memberi penghargaan kepada mereka yang menawarkan solusi, bukan hanya slogan.

Ketiga, Memanfaatkan era digital. Generasi baru harus hadir di ruang digital dengan narasi yang mencerahkan. Media sosial bukan sekadar tempat mencari popularitas, melainkan ruang pendidikan publik. Pemimpin masa depan harus mampu menjelaskan gagasan yang rumit dengan bahasa yang sederhana.

Keempat, Membangun jejaring nasional, Tokoh Sulawesi Utara tidak cukup dikenal di daerah sendiri. Mereka harus aktif dalam organisasi nasional, dunia akademik, dunia usaha, komunitas profesional, dan berbagai forum lintas daerah. Pemimpin nasional lahir dari jejaring nasional.

Kelima, Menghidupkan budaya kolaborasi, Persaingan adalah bagian dari demokrasi. Namun persaingan tidak boleh berubah menjadi saling menjatuhkan. Budaya mapalus mengajarkan bahwa keberhasilan bersama lebih penting daripada kemenangan pribadi. Semangat ini perlu diterjemahkan ke dalam politik modern.

Dari Mapalus Menuju Indonesia

Mapalus bukan hanya tradisi gotong royong. Ia adalah filosofi bahwa kemajuan seseorang tidak boleh memiskinkan orang lain.

Dalam dunia yang semakin individualistis, semangat ini justru menjadi kekuatan baru. Indonesia membutuhkan lebih banyak kolaborasi daripada konflik. Lebih banyak kepercayaan daripada kecurigaan. Lebih banyak solusi daripada sensasi.

Nilai-nilai Minahasa dapat memberi kontribusi penting bagi kehidupan berbangsa apabila diterjemahkan secara kreatif.

Penutup

Saya percaya Sulawesi Utara tidak sedang mengalami krisis pemimpin. Yang sedang dihadapi adalah perubahan zaman yang menuntut cara baru dalam membangun kepemimpinan.

Filosofi Tou Keter, Tou Leos, dan Tou Nga’asan tidak pernah kehilangan relevansinya. Yang perlu diperbarui adalah cara kita menghidupkannya.

Apabila pendidikan, integritas, kolaborasi, dan keberanian moral kembali menjadi fondasi kehidupan publik, maka tokoh-tokoh nasional dari Sulawesi Utara akan lahir kembali.

Mungkin mereka tidak akan menjadi “KDM dari Manado”. Dan memang tidak perlu. Yang dibutuhkan Indonesia bukan salinan tokoh dari daerah lain, melainkan pemimpin yang autentik—berakar pada budaya Minahasa, berpikiran nasional, dan mampu menjawab tantangan dunia.

Itulah makna sejati menghidupkan kembali Tou Keter, Tou Leos, dan Tou Nga’asan untuk Indonesia abad ke-21. (Penulis ada Pengurus/pemain bridge)

Meimonews.com – Di Indonesia ada 109 bahasa daerah belum termasuk Papua dan sebagian besar terancam kepunahan. Menurut data UNESCO, setiap tahun ada sepuluh bahasa di dunia ini yang punah.

Pada abad ke-21 ini, diperkirakan laju kepunahan bahasa akan lebih cepat lagi. Di antara 6.000 lebih bahasa yang ada di dunia pada abad ke-20, hanya tinggal 600-3.000 bahasa saja yang masih dapat bertahan menjelang abad ke-21 ini.

Dari 6.000 bahasa di dunia itu, sekitar separuh adalah bahasa yang dengan jumlah penutur tidak sampai 10.000 orang, dan seperempatnya lagi kurang dari 1.000 penutur. Padahal, salah satu syarat lestarinya sebuah bahasa adalah jika penuturnya mencapai 100.000 orang, Salah satu bahasa daerah yang terancam punah adalah bahasa kampung saya, bahasa Tondano.

Bahasa Tondano buat tukang bridge adalah bahasa ibu karena merupakan
bahasa pertama yang dipelajari sejak lahir melalui interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar, yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi alami dan dasar identitas budaya.

Bahasa ini memungkinkan ekspresi pikiran, perasaan, dan ide secara lebih jelas dan mendalam, serta menjadi warisan yang menghubungkan anak dengan budaya dan tradisi nenek moyan.

Menguasai bahasa ibu di Indonesia penting untuk melestarikan identitas dan warisan budaya daerah, memperkuat hubungan keluarga dan komunitas, serta menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif dan kemampuan belajar bahasa asing anak.

Dengan menguasai bahasa ibu, generasi muda dapat terhubung dengan akar budayanya dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan dari leluhur.

Pentingnya Bahasa Ibu untuk Identitas dan Budaya
Pertama, fondasi Identitas dan Warisan Budaya :.Bahasa ibu adalah bagian dari jati diri dan warisan budaya yang tak ternilai. Melestarikan bahasa daerah berarti juga melestarikan budaya dan peradaban masyarakatnya.

Kedua, memperkuat Identitas Nasional : Mempertahankan bahasa daerah memperkuat keberagaman linguistik dan budaya Indonesia, yang merupakan bagian dari identitas nasional.
Manfaat untuk Perkembangan Anak.

Ketiga, Perkembangan Kognitif : Menguasai bahasa ibu sejak dini membantu anak lebih mudah memahami konsep, tata krama, dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar.

Keempat, Kemampuan Berpikir Kritis dan Logis :
Penggunaan bahasa yang tepat akan mengasah kemampuan anak dalam berpikir kritis dan logis, serta membangun kerangka berpikir yang kuat.

Kelima, Fondasi Belajar Bahasa Lain : Penguasaan bahasa ibu yang baik menjadi fondasi bagi anak untuk mempelajari bahasa asing atau internasional.

Keenam, Meningkatkan Kepercayaan Diri : Anak yang merasa dianggap sebagai bagian dari sebuah kebudayaan akan merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dan memiliki rasa bangga terhadap asal usulnya.

Koneksi dengan Keluarga dan Komunitas
Pertama, Memperkuat Hubungan Keluarga :
Bahasa ibu menjadi cara untuk mempererat hubungan dengan anggota keluarga, terutama dengan generasi yang lebih tua seperti kakek dan nenek.

Kedua, Memperkaya Wawasan : Melalui bahasa ibu, anak dapat mempelajari literatur daerah, musik, dan cerita rakyat yang memperkaya wawasan dan tumbuh kembang emosionalnya.

Pentingnya dalam Era Globalisasi
Menyeimbangkan Globalisasi : Mengejar globalisasi bukan berarti meninggalkan identitas bangsa. Penting untuk mengajarkan anak bahasa asing sekaligus menanamkan pentingnya mengutamakan dan melestarikan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia.

Semoga dengan pemahaman ini, semua stake holder yang terkait mau bahu membahu mempertahankan bahasa ibu terutama yang mulai terancam punah seperti bahasa ibu tukang bridge bahasa Tondano.

Secara pribadi tukang bridge telah mulai pada tanggal 19 November 2008 dengan memberanikan diri membuat Group Lestarikan Bahasa Tondano di Facebook yang saat itu mulai mewabah di Indonesia.

Kenapa saya pilih Facebook karena menurut pengalaman saya, keengganan anak-anak Tondano menggunakan bahasa daerah karena mereka malu. Ber bahasa Tondano terkesan kampungan.

Jadi, dengan adanya bahasa Tondano di Facebook mudah-mudahan generasi muda yang akrab dengan internet akan tertarik dan merasa bangga menggunakan bahasa Tondano.

Melihat hanya dalam tempo kurang dari setahun, anggota group Lestarikan Bahasa Tondano telah mencapai sekitar 3100 orang maka rasanya misi saya cukup berhasil. (Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Salah satu janji kampanye Yulius Selvanus (YS) saat menjadi calon Gubernur Sulut adalah memperindah Danau Tondano agar menjadi tujuan wisata favorit di Sulut.

Sekarang YS telah terpilih dan untuk membantunya mewujudkan rencananya, tukang bridge mencoba memberi masukan dengan menampung berbagai masukan dari WA Group Memajukan Tondano.

Rencana Pembangunan Pariwisata Danau Tondano (RPPDT) direncanakan dengan tujuan Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal melalui pariwisata; Mengembangkan Danau Tondano sebagai destinasi pariwisata yang berkelanjutan; Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

Sasarannya adalah Meningkatkan jumlah pengunjung Danau Tondano sebesar 20% dalam 2 tahun; Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dari pariwisata sebesar 30% dalam 3 tahun; Mengembangkan 5 destinasi pariwisata baru di sekitar Danau Tondano dalam 5 tahun.

Ada empat strategi terkait dengan RPPDT. Pertama, Pengembangan Infrastruktur yakni membangun dan memperbaiki jalan akses ke Danau Tondano; membangun fasilitas umum seperti toilet, tempat parkir, dan restoran.

Kedua, Pengembangan Destinasi Pariwisata dengan Mengembangkan 5 destinasi pariwisata baru di sekitar Danau Tondano, seperti taman wisata, pantai, dan desa wisata; dan Mengembangkan paket wisata yang menarik dan berkelanjutan.

Ketiga, Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Melatih dan mengembangkan kemampuan masyarakat lokal dalam bidang pariwisata; dan Mengembangkan program pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

Keempat, Pengembangan Promosi dan Pemasaran dengannMengembangkan strategi promosi dan pemasaran yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan minat pengunjung; dan Mengembangkan kerjasama dengan agen perjalanan dan operator pariwisata untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

YS mengungkapkan sejumlah rencana besar yang akan mengubah wajah danau ikonik tersebut.

Salah satu langkah awal yang telah disiapkan adalah alokasi dana sebesar Rp 1,26 triliun untuk membangun dan meningkatkan infrastruktur di sekitar Danau Tondano.

Menurutnya, dana yang cukup besar ini akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai fasilitas yang dapat menarik lebih banyak wisatawan ke Sulawesi Utara.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah akses pengunjung dan meningkatkan pengalaman wisata di lokasi yang sudah dikenal dengan keindahan alamnya.

Group Memajukan Tondano dibuat untuk memberikan masukan agar apa yang direncanakan bisa terwujud dan bermanfaat untuk masyarakat di DAS Danau Tondano dan sekitarnya.

Dari masukan yang diterima ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yakni
pemberantasan enceng gondok. Ini yang harus menjadi prioritas utama.

Ada beberapa usul, pertama basmi tuntas; kedua, kalau tidak bisa dibasmi tuntas bertemanlah dengan encek gondok dengan memanfaatkannya.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk kesehatan, pembersih air, bahan baku kerajinan, dan energi alternatif.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kesehatan yakni menyehatkan kulit karena mengandung antijamur, antibakteri, dan antimikroba, antiperadangan, memperlancar pencernaan, menurunkan berat badan, meredakan gatal-gatal.

Pembersih air yakni menyerap zat-zat berbahaya seperti logam berat dan bahan kimia dari air mengolah air limbah yang mengandung logam berat dan ion terlarut, menyerap hidrokarbon minyak bumi.

Bahan baku kerajinan yakni kursi, meja, tali, hiasan dinding, gurniture, fompet, tas, taplak, gorden.

Energi alternatif yakni dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas karena kandungannya yang tinggi akan hemiselulosa dan selulosa.

Manfaat lain adalah habitat untuk satwa liar, seperti ikan, burung air, dan serangga air; penyerap karbon; penahan erosi; pakan ternak, terutama untuk sapi dan kambing.

Estetika lanskap. Masalahnya pilihan kedua ini tidak mudah karena perkembangan enceng gondok yang sangat cepat.

Selanjutnya menangani dengan sebaik-baiknya rencana revitalisasi Danau Tondano oleh Kementerian PUPR karena Danau Tondano masuk 15 Danau kritis di Indonesia.

Sayangnya, program yang dimulai sejak tahun 2016 tidak terlihat manfaatnya secara nyata.
Menangani dengan benar Peraturan yang mengatur penanganan danau di Indonesia, antara lain Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 28 Tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Danau.

Selain itu, Perpres Nomor 60 Tahun 2021 mengatur tentang Penetapan 15 Danau Prioritas Nasional; Koordinasi, sinergi, sinkronisasi, dan harmonisasi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah; Pembentukan Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional; fan Pendanaan penyelamatan danau prioritas nasional.

Sementara itu, Permen PUPR Nomor 28 Tahun 2015 mengatur tentang: Penetapan garis sempadan danau, Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan danau.

Prinsip-prinsip dasar pengelolaan danau adalah Terpadu, menyeluruh, dan berkelanjutan; Melibatkan pemangku kepentingan; Bersifat adaptif terhadap perubahan kondisi; Membagi tugas, fungsi, beban biaya, dan manfaat secara adil; Berlandaskan azas akuntabilitas
Upaya pemulihan ekosistem danau, antara lain Pembersihan gulma, Pembuatan kompos, Pemantauan kualitas air, Pengelolaan sampah.

Jika, hal-hal di atas sudah tertangani dengan baik maka baru dipikirkan mengenai infrastruktur penunjang seperti jalan lingkar luar Danau Tondano dan lain-lain.

Selanjutnya mengenai pemanfaatan Danau Tondano sebagai objek pariwisata.

Gubernur YS sudah merencanakan membuat 8 terminal atau dermaga di Danau Tondano hanya kalah dengan Danau Toba yang punya 12 terminal atau dermaga.

Sepertinya, yang cocok sebagai pusat adalah Dermaga di Benteng Moraya. Sebelum naik kapal mengelilingi Danau Tondano mereka bisa menikmati sajian di Benteng Moraya di mana ada aneka kuliner Minahasa, aneka cindera mata khas Sulut, pertunjukan drama Lahirnya Danau Tondano serta kisah heroic Perang Tondano, kemudian ada museum di Lodji Tondano yang sudah dipindahkan ke Benteng Moraya dan mungkin ada ide yang lain.

Sisa tujuh dermaga atau terminal bisa dimintakan untuk dibangun di kampung-kampung sekeliling Danau Tondano yang ada objek wisata seperti gereja tua di Eris, lapangan terbang Tasuka, pulau Likri, Sumaru Endo Remboken dan lain-lain.

Tentu saja perlu ditambah dengan kegiatan lainnya sehingga lebih menarik. Seperti dibentuk sanggar kesenian yang mengadakan pertunjukan terjadwal secara rutin.

Pulau Likri dibangun gereja oikumene dan dibuat duplikat bahtera Nabi Nuh. Restoran, café, tempat pemeliharaan ikan dibuat aturan sehingga tertib dan tidak mengganggu eko sistim danau.

Selanjutnya, dilanjutkan dengan penanganan teberan atau Sungai Tondano dilanjutkan dengan membuat fish market di pasar bawah Tondano serta night market untuk weekend di jalan dari pasar bawah ke pasar atas Tondano.

Dari uraian di atas,bada 5 objek wisata baru yang dibuat, yaitu 2 kampung wisata yang dipilih dari kampung-kampung yang mengelilingi Danau Tondano, Fish dan Night Market Tondano, wisata sungai Tondano dan Pulau Likri. Ditambah dua yang sudah ada yaitu Benteng Moraya dan Sumaru Endo Remboken berarti sudah ada 7 objek wisata. (Bert Toar Polii)

                 Oleh : Bert Toar Polii

Meimonews.com – Salah satu konvensi yang diperkenalkan oleh Marty Bergen seorang pakar bridge dari Amerika dikenal dengan sebutan Obar Bids yang sebenarnya merupakan singkatan dari  Opponents Bid and Raise, Balance In Direct Seat.

Ini untuk melengkapi penggunaan Law of Total Tricks yang diperkenalkan oleh Marty Bergen sendiri bersama pasangannya Larry Cohen.

Menggunakan konvensi ini memang sedikit agresif tapi dilindungi oleh dua teori dasar.
Pertama, ketika lawan ada fit hampir pasti kita punya fit juga serta tentu saja yang kedua adalah Law of Total Tricks.

Pada session pertama Kejurnas Bridge Antar Kabupaten/Kota (Jumat 25/11),  penulis langsung menemui kasus ini. Grobogan vs Mamuju di Kelas B

6/T/TB Utara
S J1086
H A9765
D KQ7
C 5
S AKQ72 S 543
H KQ2 H 10
D 852 D 1043
C 83 C AKJ1072
S 9
H J843
D AJ96
C Q964

Barat Utara Timur Selatan
Tanudjan S Bert T P
Pass Pass
1S Pass 2S Pass
Pass 3H Pass Pass
Dbl //

Keberanian Tanudjan Sugiarto untuk bid 3H memang agak nyerempet bahaya dan sedikit agresif. Namun, dia punya dasar di atas tadi lawan ada fit dan kita kemunginan ada fit apalagi dia tahu dari bidding partnernya paling banyak punya selembar spade.

Sebagai partner kita juga harus membantu dengan jangan bid 4H dengan pegangan kita karena itu akan membuat keberanian mengambil resiko dari utara akan mubazir.

Lawan lead CA lanjutkan C7 karena berharap partnernya singleon club yang membuat tugas declarer menjadi mudah. Declarer main C9 menang. Lanjutkan main spade dan kontrak bikin. Sebenarnya, declarer punya peluang plus satu jika main HJ menyeret H10.

Beberapa contoh penggunaan Obar Bids :

Barat Utara Timur Selatan
1D Pass 2D Pass
Pass ?

Utara dengan pegangan ini bisa bid 2H

S 87
H AQ1093
D 42
C J1092

Berapa point persyaratan untuk melakukan Obar Bids sangat tergantung posisi papan. Jelas dalam keadaan bahaya harus lebih berhati-hati. Minimal 6HCP buat pemain agresife masih bisa dipertanggungjawabkan.

Bukan hanya overcall tapi take-out double juga berlaku.
Barat Utara Timur Selatan
1D Pass 2D Pass
Pass ?
Utara bisa double dengan pegangan ini :
S J875
H Q1087
D 4
C A652

(Prnulis adalah pemain bridge dan Humas PB Gabsi)

Meimonews.com – Perkumpulan Alumni Smanto 170.1 (berdiri pada 13 Oktober 2022) yang dipimpin Irjen Pol. (Purn) Drs. Carlo Bric Tewu sukses menggelar Tondano Culinary Festival pada 5 November 2022 di Lapangan Sam Ratulangi Tondano.

“Tondano Culinary Festival ini diadakan sekaligus untuk memeriahkan HUT ke-594 Minahasa, HUT ke-63 SMA Negeri 1 Tondano dan HUT ke-3 Perkumpulan Alumni Smanto 170.1, yang ditandai dengan peniupan lilin bersama,” ujar Bert Toar Polii, salah satu Pengurus Perkumpulan Alumni Smanto (SMA Negeri 1 Tondano) 170.1 kepada Meimonews.com via WA, Jumat (11/11/2022).

Selain acara puncak, sebutnya,.pihaknya juga menggelar berbagai kegiatan tambahan, seperti Fun Run dengan partisipasi Minahasa Runner, siswa SMA Negeri 1 Tondano dan para alumni sekolah ini; Zumba dan lion dance dari alumni dan komunitas lion dance Tondano;  Ice carving demo dengan mengangkat suminsim, hewan endemik danau Tondano sebagai maskot TCF 2022; Fruits/vegetables carving demo dengan tema budaya Minahasa; dan Cooking demo dari Indonesian Chef Assosiation target audience 100 orang masyarakat pengunjung dengan tema makanan western grill dan canapé.

Acara utama diawali dengan Culinary workshop di mana  narasumber berasal dari para akademisi pemerhati kuliner dan praktisi kuliner dari para chef hotel berbintang di Sulut. Kemudian ada Audience UMKM dan pengelola usaha kuliner di Tondano dan sekitarnya.

Acara puncaknya adalah Kompetisi masak dengan 3 kategori yakni student dari sekolah SMK tata boga se-Sulut; Junior chef peserta dari perorangan, alumni dan resto/cafe se-Sulut; dan Professional class (black box) peserta dari hotel bintang 5 di Sulut.

Para pemenang pelajar (pemenang pertama hingga ketiga) adalah Aldeis Sagindole (SMKN 1 Airmadidi),  Intan Naderayan (SMKN 1 Airmadidi) dan Friedrich Saputra (Unima). Junior chef pemenangnya adalah Rachmat Mopangga (Sentra Medika Hospital), Gerianto Pangayang (Novotel Hotel) dan Alfrit Paramulia (Ibis Hotel). Black Box pemenang pertama hingga keempat  adalah Team A Team B, Team D, dan Team C.

Sesuatu yang patut dicontoh adalah kerja bakti dari para alumni Smanto 170 untuk pembersihan lapangan Sam Ratulangi sesudah iven terutama karena saat pelaksanaan event hujan turun.

Santo Presiden dari Indonesia Chef Association mengapresiasi acara ini dan berharap kuliner Minahasa semakin eksis dan mendunia.

Tondano Culinary Festival ini digelar Perkumpulan Alumni Smanto 170.1 bekerjasama dengan Indonesia Chef Association (ICA) dan disponsori BRI, Pegadaian, BTN,  PLN Suluttenggo dan Pelindo Mandiri. (Fer)

              (Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kota Tondano sebagai ibukota Kabupaten Minahasa termasuk salah satu kota yang langka di dunia ini tanpa disadari. Sebagai kota di tepi Danau terhitung sangat jarang ada di dunia ino, apalagi dikelilingi oleh pegunungan.

Memang ada beberapa di Amerika Serikat, sebut saja ada Michigan dan New Hampshire. Di China ada Danau Barat di Hangzhou, Danau Baikal di Kota Irkutsk Russia dan lain-lain. Tapi tidak banyak, paling sekitar 20-an.

Belum lagi danau yang ada pulau di tengahnya. Selain pulau Samosir di Danau Toba ada Pulau Bled di Danau Bled di Slovenia yang sudah menjadi daerah kunjungan wisata terkenal.
Kondisi Danau Bled hampir mirip dengan Danau Tondano. Danau ini terletak di antara Pegunungan Alpen dan juga Lautan Mediterania. Warna hijau zamrud dari danau ditambah adanya Pulau Bled di tengah-tengahnya akan jadi pemandangan utama ketika berada di sini.

Pemandangan danau Bled ini juga bisa dinikmati dari kastil yang dibangun di pegunungan sekitarnya.

Ini semua bisa dibuat di danau Tondano. Malah lebih keren lagi karena sudah tersedia jalan untuk mengelilingi Danau Tondano tanpa membosankan karena akan melewati banyak kampung yang juga sekalian bisa dijadikan kampung wisata.

Tentu saja yang pertama perlu konsentrasi adalah penanganan enceng gondok agar tuntas. Apa yang dibuat sekarang sepertinya tidak menyelesaikan masalah hanya menunda saja dan anggaran habis percuma.

Setelah enceng gondok terselesaikan maka pemanfaatan danau kemudian diatur sebaik mungkin. Jika memang karamba mau dipertahankan maka perlu diatur hanya daerah tertentu serta penerapan aspek lingkungan hidup yang ketat.

Lebih baik di atas karamba dibuat restoran terapung, pemancingan dan lain-lain tapi tertata rapih dan tidak merusak lingkungan danau.
Ikan-ikan khas Danau Tondano seperti nike, payangka, mujair dan lain-lain kembali disebar dan hanya nelayan dengan perahu bolotu dan menggunakan alat tangkap yang sudah diijinkan saja yang boleh menangkap ikan di Danau.
Namun agar nelayan dari Tondano bisa ikut maka sungai Tondano atau ‘teberan” perlu diperdalam lagi selain menghancurkan enceng gondok.

Ini juga nantinya akan menjadi alternatif transportasi di kota Tondano. Di tengah danau Tondano ada Pulau Likri yang mungkin perlu diperluas sedikit dengan cara reklamasi. Di pulau ini bisa dibangun Gereja Oikumene dan kegiatan terkait atau dibangun  replica bahtera Nabi Nuh.

Lingkungan di sekitar Danau Tondano bisa dibilang berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena pasokan hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Di pegunungan ini telah banyak dibangun objek wisata, tempat menginap dengan view Danau Tondano.

Masih banyak yang bisa dibangun di sini seperti bukit doa, Kapel atau gereja yang unik. Apalagi kemudian di sampingnya ada kelenteng, masjid, pura , sinagoge. Bisa juga miniature Jerusalem dibuat disini.

Bisa juga  dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

Selanjutnya, mari benahi Kota Tondano. Selama ini banyak yang menyebut Tondano itu kota mati dari dulu begitu-begitu saja.

Penulis justru melihat ini sebagai “Blessing in Disguise”. Kenapa? Justru keterbelakangan Tondano membuat kitab Isa menjadikan Tondano sebagai Kota Tua seperti Old Delhi yang kebetulan penulis sempat ke sana.

Tapi bisa juga tidak se ekstrim itu langsung menjadikan kota tua tapi bisa meniru cara China yang sempat penulis lihat di Wuyi. Pemerintah memilih satu kompleks dan menetapkan sebagai kampung wisata. Terpilihnya kompleks tersebut karena masih banyak rumah-rumah tua yang ada. Selanjutnya pemilik tidak bisa merubah tempatnya membiarkan seperti jaman dulu dan tentu saja pemerintah memberikan subsidi.

Ketika ke sana memang penulis melihat kehidupan jaman dulu seperti yang sering dilihat di film-film silat China.

Selanjutnya karena kondisi lalulintas belum sekusut di kota besar lainnya maka Tondano dengan jalan-jalan yang datar, udara yang sejuk bisa dijadikan kota sepeda.

Ini juga akan membuat masyarakat lebih sehat dan tidak malas. Jalan-jalan tertentu hanya boleh dilewati sepeda dan bendi ataupun kalau boleh motor hanya motor listrik.

Menjadikan kota sepeda bukan pekerjaan sulit karena rasanya ada pabrik sepeda yang bersedia menjadi sponsor. Dengan aplikasi maka peminjaman dan pengembalian sepeda menjadi mudah. Pemerintah tinggal menyediakan tempat peminjaman sepeda sekaligus tempat pengembalian.

Jika ini bisa terlaksana maka menjadikan Tondano sebagai Kota Hijau jadi lebih mudah. Tahun lalu Alumni Smanto 170.1 Tondano dan WAG Tondano Kinatouanku telah merintisnya dengan menanam tanaman hias tabebuia dan lomba menghias pekarangan rumah.

Kalau ini semua sukses maka pasar bawah Tondano bisa dibangun “fishmart’ di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayur-sayuran.

Kemudian, ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tidak bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak pedas dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari danau tapi bisa ditambah dengan ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya, tinggal memilih jalan untuk dijadikan seperti “night market” di Taiwan yang terkenal termasuk di beberapa kota besar Asia dan dunia.

Meimonews.com – Tim Djarum Black sementara memimpin babak penyisihan Pesta Sukan Bridge Championship 2022 setelah menyelesaikan 8 sesi dari rencana 11 sesi babak penyisihan, yang berakhir Sabtu (6/8/2022).

Tim Djarum Black dengan para pemain Leslie Gontha/Stefanus Supeno, Agus Kustrijanto/ Anthony Soebroto, Santoso Sie/Sugeng Triworo berhasil meraih kemenangan sempurna  dan memperoleh 121.27 VP.

“Dengan hasil ini praktis mereka telah mengunci satu tiket ke semi final kecuali terjadi keajaiban,” ujar Humas PB Gabsi Bert Toar Polii kepada Meimonews.com via WhassApp, Minggu (7/8/2022).

Tempat kedua diduduki FOA dari Singapura yang dipimpin mantan Presiden Singapore Contract Bridge Association  Chua Gang. Tim FOA berhasil meraih 102.93  Tempat ketiga diduduki Tim Jane Street  dari Hongkong yang berhasil mengumpulkan 99.82 VP.

Tim Djarum Super dengan para pemain M. Bambang Hartono, M Apin Nurhalim, Tanudjan Sugiarto, Bert Toar Polii, Jemmy Bojoh dan Paulus Sugandi menempati tempat keempat dengan perolehan 90.75 VP.

Tim Djarum Super bersaing ketat dengan Tim Coup de Grace yang dimotori Wakil Presiden World Bridge Federation Patrick Choy yang berpasangan dengan Alan Sia dari Malaysia.

Pertandingan babak penyisihan masih menyisakan 3  sesi yang berlangsung Minggu (7/8/2022) di SCBA Club House Bishan Singapura.

Acara selanjutnya, peringkat 1-4 lolos ke semi final bertanding sistim Knock Out dan sisanya bertanding consolation. (elka)

Meimonews.com – Dulu, ketika penulis mulai aktif bermain bridge begitu banyak klub bridge yang berjalan dengan baik.

Penulis mulai menekuni olahraga bridge tahun 1970 dan masuk klub bridge pertama di Manado tahun 1971. Waktu itu penulis  bergabung dengan Wanea Aces Bridge Club. Saat itu di Manado ada cukup banyak klub bridge yang aktif.

Selanjutnya, tahun 1977 penulis  pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Garuda Bridge Club kemudian Santay Bridge Club.

Saat itu juga klub bridge di Jakarta cukup banyak. Ada Pattimura, Buana, Palupi, RPA, Maesa, Kris, Bhinneka dan lain-lain. Bahkan kompetisi antar klub cukup marak.

Sayangnya hampir semua klub di atas sudah tidak tentu rimbanya. Memang ada Bhinneka dan Garuda yang bertahan tapi itupun tinggal namanya saja. Salah satu klub bridge yang bertahan justru adalah IBWI (Ikatan Bridge Wanita Indonesia).

Klub yang beranggotakan pemain bridge wanita tahun ini memasuki usia 57 tahun dan punya anggota yang terdaftar serta membayar iuran dan yang lebih penting lagi punya latihan rutin. Mereka punya jadwal latihan setiap hari Selasa pagi di Bridge Centre Bulungan dan sering dilanjutkan pada sore hari dimana peserta umum bisa ikut berlatih.

Saat pandemi Covid-19  tempat berlatih Bridge Centre Bulungan sedang direnovasi dan latihan pindah ke rumah ketuanya Ibu Caroline Hidayat Japadermawan. Namun saat PSBB latihan dihentikan untuk sementara.

Sekarang, tepatnya tanggal 5 Juli 2022 setelah Covid-19 melandai dan pemerintah mengijinkan kegiatan olahraga, latihan dimuali lagi di Bridge Centre Bulungan malah terbuka untuk umum.

Latihan rutin IBWI setiap Selasa jam 09.30
IBWI berdiri tahun 1965 atau 12 tahun setelah Gabsi berdiri tahun 1953 atas prakarsa almarhumah Ibu Soebandrio yaitu Isteri Menlu RI pada waktu itu bersama Ibu Tilly Koeshardjono, Ibu Rose Rambitan dan Ibu Netty Karnadi. Ibu Soebandrio pernah menjadi Ketum PB Gabsi. Jadi, PB Gabsi pernah dipimpin dua orang wanita, satu lagi Ibu Miranda S Goeltom.

Para Ketua IBWI dari tahun ke tahun adalah ibu Rose Rambitan, ibu Yo Muthalieb, ibu Indah Sutatio, ibu Eus Gontha, ibu Dora Soemitro, ibu Doly Soeryosoemrno, ibu Supeni, ibu Suko Sabandi, ibu Nani Wisnu Djadjengminardo (Ketua terlama beberapa periode), ibu Endang Sri Redjeki Wardijas, ibu Henny Tamala, ibu Caroline Hidayat Japadermawan.

Saat ini, anggota IBWI rata-rata sudah lansia dan tempat berlatih di Bridge Centre Bulungan ada di lantai 2 sehingga menyulitkan Ibu-ibu ini karena mereka harus naik turun tangga untuk mencapai tempat latihan.

Tahun 2014, tepatnya bulan Maret, Ibu Caroline, IBWI sebagai Ketua mengambil inisiatif untuk menulis surat kepada Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok agar di Bridge Centre Bulungan diberikan tangga landai untuk memudahkan para ibu-ibu anggota IBWI yang umumya sudah lansia dipermudah.

Ternyata gayung bersambut hanya selang beberapa minggu kemudian sudah ada petugas yang datang survei dan melakukan pengukuran dan pada bulan Desember 2014 tangga sudah bisa digunakan.

Menurut Ibu Caroline, peristiwa yang menurutnya hampir tidak masuk akal ini sangat membekas dihatinya. Secara jujur ia mengatakan, walaupun sudah menulis surat ia masih tidak percaya akan berhasil. Kata hatinya, paling dibuang ke kotak sampah. Ternyata yang terjadi sangat berlawanan. “Terima kasih Jokowi dan Ahok” katanya.

Semoga tangga yang landai ini tetap dipertahankan sehingga setelah renovasi, IBWI bisa berlatih kembali di Bridge Centre Bulungan seperti biasanya. Harapannya terkabul karena setelah renovasi tangga tersebut tetap dipertahankan malah dipercantik.

Selamat ulang tahun ke 57 buat satu-satunya klub bridge wanita di Indonesia dan mampu bertahan sampai 57 tahun. (Bert Toar Polii/Pengurus PB Gabsi dan Pemain Bridge)