Meimo News

Meimonews.com – Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ)  menggelar Kapitel II di Tomohon, Sulawesi Utara, 11-25 April 2024.

Sejumlah agenda kegiatan dilaksanakan pada forum tersebut. Salah satunya adalah pemilihan Dewan Pimpinan Umum (DPU) masa bakti 2024-2030.

Peserta Kapitel yang mengangkat tema
Walking Together as Prophets of Hope at the Dawn ini berjumlah 31 suster yang terdiri dari delegasi ex-officio dan peserta yang dipilih dalam Kapitel Provinsi-provinsi (Jakarta, Makassar dan Manado).

Lewat proses pemilihan, Suster Theresia Supriyati terpilih kembali menjadi Pemimpin Umum kongregasi tersebut untuk enam tahun ke depan.

DPU ini dilengkapi Anggota Dewan Pimpinan lainnya, di mana ada beberapa yang terpilih kembali. Anggota DPU tersebut adalah Sr.Jeannette Runtu, Sr. Monika Kalangi, Sr. Theresia Tulung dan Sr. Anita Sampe.

Pada misa penutupan Kapitel yang dilaksanakan di Panti Samadi, diwarnai pengukuhan DPU tersebut.

Misa penutupan dipimpin Pastor Hengki Ponamon MSC (selebran utama) serta Pastor CB Kusmaryanto SCJ, Pastor Aloysius Wilar, Pastor Inno CSE dan Pastor Fecky Singal (co-selebran).

Para anggota Kongregasi SJMJ yang diwakili oleh Para Delegasi Kapitel Umum berjanji melaksanakan 7 Komitmen yang diputuskan dalam Kapitel Umum ini. Ketujuh Komitmen itu adalah spiritualitas, komunitas, misi, pembinaan, kepemimpinan,  merawat alam, dan solidaritas. (lk)

Meimonews.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan Percepatan Penurunan Stunting.

Rakernas yang diadakan di Auditorium BKKBN RI, Jakarta, Kamis (26/4/2024) ini dibuka pelaksanaannya oleh Wakil Presiden (Wapres) RI Prof. Dr. (Hc) KH Ma’aruf Amin diikuti perutusan dari BKKBN Perwakilan Sulut yakni Ir. Diano Tino Tandaju, M.Erg (Kepala), Lady D. Ante, S.Pd, MAP (Sekretaris), Ignasius P. Worung, SE. M.Si (Ketua Pokja Dalduk), dan Ferouw RJ Ratu, ST (Ketua Pokja Adv KIE dan Kehumasan).

Dalam sambutannya, Wapres mengingatkan kembali tanggung jawab bersama dalam mengawal kebijakan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Dengan jumlah penduduk usia produktif diproyeksikan mendekati 70 persen dari total populasi, bisa dikatakan bahwa modal besar menuju Indonesia Emas 2045 sebetulnya sudah kita kantongi. Namun, pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana memastikan potensi bonus demografi ini bisa terkelola dengan baik,” ujar Wapres.

Tentu, sambungnya,  kita inginkan sumber daya manusia yang ada nantinya betul-betul menjadi aset dan kekuatan bangsa. Apalagi, dihadapkan dengan dinamika dan beragam tantangan dunia yang harus kita antisipasi, strategi dan kebijakan pembangunan manusia yang tepat dan komprehensif menjadi semakin krusial.

Diungkapkan, dalam dua dekade mendatang, penduduk dunia diperkirakan akan mencapai lebih dari 9 miliar jiwa. Kondisi ini tidak hanya dibarengi dengan peningkatan jumlah penduduk usia lanjut, tetapi juga urbanisasi dan arus migrasi. Di sisi lain, sumber daya alam semakin terbatas, berbanding terbalik dengan kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.

Tantangan lainnya mencakup pemanasan global, tren perkembangan teknologi, dan perubahan geopolitik.
Oleh karena itu, Wapres menaruh harapan yang tinggi terhadap Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting, untuk menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang bisa menjawab berbagai tantangan dimaksud.

Guna menghadirkan generasi penerus bangsa yang sehat, unggul, berdaya saing, serta terdepan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, program ini haruslah responsif dan adaptif terhadap kebutuhan sumber daya manusia.

“Semoga program ini mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun keluarga dan masyarakat Indonesia yang sehat, terdidik, berakhlak, makmur, dan sejahtera,” tandasnya pada acara yang turut dihadiri sejumlah Menteri ini.

Dikemukakan, daya saing bangsa bertumpu pada mutu sumber daya manusianya. Menyadari hal ini, Pemerintah telah menetapkan percepatan penurunan stunting menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.

Untuk itu, Pemerintah Pusat dan Daerah harus terus bersinergi untuk memastikan ketersediaan layanan kesehatan bagi keluarga-keluarga di Indonesia dengan kualitas yang semakin baik. Di tahun ini, seluruh target dalam RPJMN 2020-2024 akan dievaluasi, termasuk target prevalensi stunting 14 persen tahun 2024.

Wapres berharap beberapa hal agar menjadi perhatian. “Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap program yang sudah dilaksanakan, baik terkait capaian, pembelajaran, maupun rekomendasi,” ajaknya.

Kepala BKKBN Sulut Ir. Diano Tino Tandaju, M.Erg

Disebutkan, evaluasi ini penting agar program yang sudah dilakukan dapat berlanjut dan menjadi prioritas pemerintahan, selanjutnya  faktor-faktor yang menyebabkan capaian penurunan stunting semakin melambat dalam dua tahun terakhir ini, agar diidentifikasi dan dinavigasi.

Fokuskan strategi dan pendekatan pada pencegahan terjadinya stunting baru, tanpa mengurangi intervensi pada anak stunting, arahkan berbagai intervensi kebijakan pada hal-hal yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk mempercepat penurunan stunting.

Diingatkan agar komitmen dan visi pimpinan terhadap program penurunan stunting, baik di pusat maupun daerah, tetap terjaga, utamanya memasuki masa transisi dan pergantian kepemimpinan di tahun ini.

Kepala BKKBN RI  Dr. (Hc) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) dalam laporannya menyampaikan bahwa tema Rakernas tahun 2024 seiring dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden untuk menyiapkan kualitas SDM dengan sebaik-baiknya.

“Kita tahu bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 menjadi akhir dari SDGs dan menjadi batu loncatan menuju Indonesia Emas 2045. Untuk itu, kita harus bebas dari kemiskinan ekstrem, kelaparan, di mana stunting juga menjadi bagian di dałamnya,” ujarnya.

Dokter Hasto, sapaannya menegaskan, tugas BKKBN sangat simpel. Pertama, menjaga Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS). Kedua, bagaimana menciptakan keluarga berkualitas.

Untuk menjaga pertumbuhan penduduk seimbang, BKKBN menggunakan indikator Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total rata-rata.

TFR Indonesia di 1971 sebesar 5. Bahkan ada yang melahirkan 6 hingga 10 anak.
“Dulu, anaknya banyak. Tetapi dengan program pemerintah yang luar biasa dengan jargon Dua Anak Cukup, angka rata-rata perempuan melahirkan ditargetkan 2,1 tercapai di 2024. Ternyata di 2022 TFR sudah menyentuh angka 2,18,” jelasnya.

Atas capaian ini, dokter Hasto menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas lapangan sebagai ujung tombak di lapangan, meski disparitas masih terjadi.

Ada daerah yang TFR-nya sudah 2,1, seperti di Jawa, Bali, DI Yogyakarta , DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur. Namun, di sejumlah daerah secara keseluruhan frekuensi kehamilan masih cukup memprihatinkan, seperti NTT dan Papua. “Kesenjangan ini harus bisa dikurangi,” tegasnya.

Di bagian lain sambutannya, dokter Hasto menyatakan mendukung apa yang menjadi target Menteri Kesehatan terkait Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). AKI dan AKB menjadi indikator derajat kesehatan bangsa.

“Satu bangsa dinilai derajat kesehatannya baik kalau AKI dan AKB nya juga baik. Dan dengan KB yang baik dan program yang ada, akan menurunkan AKI dan AKB,” ujarnya.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, dalam pandangan dokter Hasto, adalah bagaimana pergerakan Age Specific Fertility Rate (ASFR) rentang usia 15-19 tahun. Ternyata, dari tahun ke tahun angkanya turun cukup signifikan. “Setiap 1000 perempuan kalau ditanya sudah hamil atau melahirkan yang menjawab saat ini di angka 20,” jelas dokter Hasto.

Berkaitan dengan bonus demograsi, dokter Hasto menjelaskan, turunnya TFR membuat dependency ratio antara penduduk yang bekerja dan tidak bekerja dan konsumtif semakin turun. Terbukti, tahun 2020 dependency ratio mencapai angka 44,33. Artinya, 100 penduduk yang bekerja menanggung hanya 44 penduduk yang tidak produktif.

Puncak bonus demografi ini sesungguhnya sudah terjadi di 2020. “Kita sering mengatakan bahwa negara ini tengah memasuki bonus demografi. Tetapi secara nasional sebetulnya kita sudah pelan-pelan meninggalkan window opportunity bonus demografi. Hanya saja satu provinsi dengan provinsi lainnya tidak sama,” ujarnya.
.
Dengan demikian, dicoba meluruskan posisi puncak bonus demografi yang ternyata tercapai lebih awal dibanding proyeksi tahun 2015 yang ketika itu diproyeksikan puncaknya terjadi di 2030.

Kenapa bonus demografi maju ? Menurut dokter Hasto, karena TFR nya turun. Selain itu, tren orang nikah menurun signifikan. Sepuluh tahun lalu pernikahan terjadi sebanyak 2 juta pertahun. Saat ini turun menjadi 1,5 juta pertahun.

Tahapan bonus demografi memang tidak merata antar provinsi. Ada provinsi yang sudah masuk tahapan bonus demografi, ada yang sedang berjalan, ada yang agak memprihatinkan seperti NTT. Bahkan provinsi tersebut belum bisa diramal kapan bonus demografinya dicapai.

Selain itu, meningkatkan kualitas SDM, mau tidak mau harus dilakukan. Ketika kualitas meningkat, bonus demografi akan dicapai.

Terkait pertambahan aging population, dokter Hasto menjelaskan, akan otomatis terjadi karena angka harapan hidup penduduk Indonesia meningkat. Yang pasti, tidak ada program pemerintah untuk mengurangi populasi lansia, kecuali pengendalian kelahiran (bayi) melalui pemakaian kontrasepsi.
“Kita harus berhati-hati menghadapi aging population, di mana ‘sandwich generation’ harus menanggung beban.

‘Kalau sandwich generationnya tidak berkualitas memang cukup berat (bagi bangsa ini untuk maju),” ujarnya

Dalam laporannya, dokter Hasto menyinggung juga soal keluarga berkualitas. “BKKBN harus menciptakan keluarga berkualitas. Karena keluarga merupakan fondasi utama, dan kita fokus di dalam keluarga,” ujarnya.

Adapun ukuran kualitas keluarga adalah iBangga. Indeks Pembangunan Keluarga tersebut di atas dihasilkan dari Indeks Ketenteraman (59.44), Kemandirian (53,58), dan Kebahagiaan (71,26). Jika dilihat menurut provinsi, ketiga indeks tersebut bervariasi antar satu provinsi dengan provinsi lainnya.

“Di beberapa daerah walaupun belum mandiri secara ekonomi tapi bahagia banyak, seperti Aceh dan Kalimantan Utara. Di Daerah itu meskipun sebagian penduduknya miskin tapi kebahagian tinggi,” urai dokter Hasto.

Soal stunting, juga disinggung dokter Hasto. Dikatakan, dari tahun ke tahun prevalensi stunting mengalami penurunan signifikan. Meskipun penurunan tersebut belum sesuai harapan, tetapi jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) mengalami penurunan signifikan.

“Jadi, keluarga yang tidak punya air bersih, jambannya tidak standar, rumah kumuh, mengalami penurunan yang signifikan,” jelasnya.

Data yang dimiliki BKKBN menunjukkan, tahun 2023 jumlah KRS sebanyak 11.896.367 keluarga, turun dari 13.123.418 keluarga di 2022.
Dokter Hasto mengatakan, setiap tahun terjadi 1,7 juta pernikahan di Indonesia . Dari pernikahan itu sering calon pengantin (catin) tidak melakukan persiapan menghadapi kehamilan. Perhatian mereka terhadap pre konsepsi sangat rendah.

“Dari 1,5 juta yang menikah di tahun 2023, catin yang bersedia mengukur lingkar lengannya, berat badannya, hanya sebanyak 613.113 calon pengantin. Dari jumlah itu masih banyak yang terlalu kurus, mencapai 140.163 catin,” papar dokter Hasto.

Sementara catin yang mengalami anemia mencapai 20 persen (anemia ringan, sedang, dan berat). “Sebetulmya kalau yang nikah di screening betul, banyak yang bisa ditangkap (ditangani, red) di tingkat hulu. Seharusnya kalau mau hamil harus sehat dulu agar melahirkan bayi yang sehat, terbebas dari stunting,” ujarnya.

Komitmen di 2024, menurut dokter Hasto, BKKBN harus bergerak lebih cepat. Untuk itu, di sela rakernas diluncurkan program Akselerasi dalam Percepatan Penurunan Stunting (SIDAK Stunting). “Kita akan melakukan akselerasi, mendampingi dan beraksi dalam program tersebut. Tim Pendamping Keluarga (TPK) di lapangan akan siap mendampingi keluarga berisiko stunting,” ujarnya. (Fer)

Meimonews.com – SMA Negeri 7 Manado menggelar Try Out Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Teknologi (SNBT) 2024 di aula sekolah, Kamis (25/4/2024).

Kegiatan yang diikuti 300-an siswa kelas 12 SMA Negeri 7 Manado yang akrab disebut Smantu dan beberapa siswa dari beberapa sekolah seperti SMA Katolik Rec Mundi Manado merupakan kegiatan kolaborasi dengan Telkomsel.

Sejumlah trainer seperti dari Ruang Guru dihadirkan dalam kegiatan bersifat nasional ini, yang dilakukan Telkomsel di delapan kota besar Indonesia, di mana salah satunya adalah kota Manado dan sekolah yang dipilih adalah SMA Negeri 7 Manado.

Kepala SMA Negeri 7 Manado Dr. Hanny William Rawung, S.Fil, M.Hum dalam percakapan dengan Meimonews.com di ruang kerjanya, usai kegiatan menjelaskan maksud dan manfaat dari kegiatan ini.

Dikemukakan, pelaksanaan Try Out  UTBK SNBT  ini sangat membantu bagi para siswa yang akan ikut penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) lewat jalur SNBT.

Mereka bisa tahu bentuk-bentuk soal, bentuk-bentuk tes, trik-trik menjawab soal atau mengerjakannya yang nantinya akan diikuti saat tes masuk PTN karena seperti diketahui tes masuk PTN dilakukan secara terbuka dan kompetitif.

“Dengan adanya try out ini akan membantu para siswa masuk PTN lewat jalur UTBK SNBT. Dan, try out ini gratis,” ujar kepala sekolah kreatif ini.

Disebutkan, kalau para siswa menggunakan wadah-wadah lain atau tempat-tempat les, mungkin berbayar. Sementara di sini tidak berbayar (gratis).

Para siswa yang memiliki nilai tertinggi dari test ini diberikan hadiah oleh Telkomsel. Dan yang memiliki ranking 1-3 tingkat nasional (8 kota) akan pula diberikan hadiah dari Telkomsel.

“Dengan adanya try out ini, akan meningkatkan kemampuan, nilai, daya saing para siswa untuk berkompetisi masuk ke PTN melalui jalur UTBK,” tandasnya. (Fer)

Meimonews.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Manado menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pemetaan Program Pemberdayaan Masyarakat di Hotel Gran Puri Manado, Kamis (25/4/2024).

Sekitar 30 peserta utusan/perwakilan lembaga pemerintah, organisasi/LSM dan wartawan mengikuti Rakor yang berlangsung sehari itu.

Kasat Reserse Narkoba Polresta Manado AKBP Hilman Muthalib, SH, Asisten 1 Pemkot Manado Julises Oehlers dan Akademisi Dr. Ita Pingkan Rorong ME menjadi narasumber kegiatan yang dibuka pelaksanaannya oleh Kepala BNN Kota Manado AKBP Heru Yulianto, SH, MH.

Peserta Rakor yang berasal dari berbagai perwakilan pemerintah, organisasi/LSM dan wartawan

Dalam sambutannya, Kepala BNN Kota Manado menegaskan tentang bahaya narkoba dan bagaimana agar tidak ada lagi yang menggunakan narkoba dan menjadi pengedar narkoba.

Apalagi, sebutnya, di dalam lapas (lembaga pemasyarakatan) saja ada yang bisa mengedarkan narkoba. Demikian pun di beberapa tempat lain.

Oleh karena itu, ia mengajak para peserta dapat mencari solusi bagaimana agar masyarakat tidak menggunakan narkoba atau tidak lagi menggunakan narkoba serta tidak menjadi pengedar narkoba.

Kasatpol PP Manado Johanis Waworuntu saat memanfaatkan sesi tanya-jawab

“Kalau ada yang mengunakan, silahkan melapor maka akan diadakan rehabilitasi,” ujarnya seraya mengajak peserta untuk melakukan test urine di instansi/lembaga masing-masing dalam rangka P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba). (elka)

Meimonews.com – Konsultan pada Diskasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan dan Sekretaris Eksekutif Himpunan Para Pemimpin Umum Tarekat Wanita (Union International of Superior General UISG Sr. Patricia Murray IBVM sangat mengapresiasi budaya Minahasa.

Apresiasi itu disampaikan Suster Patricia di awal pemaparannya pada Culture Sharing bertemakan The role of culture in education (Peran Kebudayaan dalam Pendidikan) yang diselenggarakan Yayasan Joseph Esa Ene (milik Tarekat SJMJ) di Rumah Budaya Wale Ma’zani Wailan Tomohon, Rabu (17/4/2024).

Suster Patricia mengungkap apresiasinya setelah menyaksikan pertunjukan budaya Minahasa saat dia dan tamu undangan diterima di Wale Ma’zani, yang sangat kaya dengan instrumen musik, tarian dan lagu, pakaian dan makanan, bahasa serta artefak budaya yang ada di sana.

“Semuanya ini menampakkan apa yang ada, yang jauh di balik yang kelihatan yakni nilai-nilai budaya, sistem kepercayaan, perayaan (selebrasi), serta relasi antar manusia. Sungguh sebuah komunitas budaya yang sangat kaya,” ujarnya.

Suster Patricia mengingatkan, apa yang tampak dalam sebuah kebudayaan hanyalah puncak gunung es di lautan yang hanya kelihatan sebagian kecil dibanding apa yang ada dalam air yang tak kelihatan. Ia mengingatkan, budaya di satu pihak dapat mempersatukan, namun di pihak lain dapat memisahkan kita.

Sr. Patricia Murray IBVM

Suster Patricia lantas membagikan pengalamannya sebagai seorang Irlandia yang bangsanya pernah dijajah oleh Inggris. Inggris berusaha untuk menggantikan budaya Irlandia dengan budaya Inggris. Karena itu, orang Irlandia berusaha untuk merebut kembali budaya mereka yang berbeda dengan Inggris.

Ditegaskan, budaya adalah jiwa sebuah bangsa. Budaya sebagai jiwa sifatnya sangat hakiki untuk menunjukkan jati diri kita, identitas kita, siapakah kita sebenarnya. Karena itu anak-anak Irlandia diajarkan untuk mendalami budaya mereka. Dengan mengenal siapakah diri mereka membuat mereka percaya diri ketika menjadi bagian dari warga dunia karena merasa aman dengan identitasnya.

Sr. Patricia Murray IBVM dan Dosen Universitas IAIN Kalijaga Prof. Syafaatun Almirzanah, M.A., M.Th, Ph.D, D.Min dan beberapa tamu/undangan makan siang dengan menu dan peralatan khas Minahasa

‘Identitas budaya menjadi bagian dari pendidikan yang holistik untuk mengembangkan karakter dan kepribadian, fisik maupun psikis, untuk bertumbuh secara manusiawi dan berbudaya. Semakin kuat identitas semakin kepercayaan dirinya meningkat,” ujarnya.

menurutnya, saat ini kita dibombardir oleh budaya global yang membuat kita berusaha untuk menirunya dan akhirnya membuat kita kehilangan identitas. Karena itu sangat penting mengakui dan meneguhkan budaya kita sendiri sehingga kita dapat menghidupi perasaan terdalam mengenai siapakah kita yang sesungguhnya yakni jiwa kita.

“Oleh karena itu sangatlah penting di sekolah kita mempromosikan budaya lokal, musik, tarian, drama, serta menciptakan dan mengembangkan budaya yang baru secara kreatif sambil melanjutkan warisan budaya. Orang Irlandia telah bermigrasi ke berbagai bangsa, ke Australia, Amerika Serikat, Amerika Latin, Rusia,” sebutnya.

Menurutnya, seluruh dunia kini dapat menyaksikan tarian Irlandia yang telah bertransformasi sesuai dengan konteks bangsa-bangsa tersebut. Ketika diadakan festival budaya terciptalah pelbagai kekayaan budaya Irlandia sesuai konteks masing-masing.

“Kembangkanlah budayamu. Kreatif mengembangkan budayamu, dorong masyarakat untuk menghidupi nilai-nilai budayanya. Terus mengisahkan cerita-cerita budaya. Tetap memeliharanya di rumah masing-masing tapi juga membagikannya kepada yang lain,” pintanya.

Saat pelaksanaan Culture Sharing

Jadikan budaya sebagai jembatan antar budaya. Terus menerus memperkayanya secara kreatif. Baik dalam hidup sehari-hari (Popular culture) maupun lewat drama-musik-tarian (High culture).

Diingatkan bahwa budaya dapat memisahkan atau memecah-belah. Pengalaman Irlandia dan Inggris adalah contohnya. Di Belfast terlihat jelas perpecahan antara Irlandia dan Inggris seakan sebagai perpecahan antara Katolik dan Protestan. Di sana diberi label religius atau keagamaan padahal yang ada adalah perbedaan budaya.

Sampai perbedaan warna pun dihubungkan dengan agama. Yang hijau adalah Katolik dan yang oranye adalah Protestan. Perbedaan warna ini mengajarkan siapa teman dan siapa orang lain, siapa yang sama dan siapa yang berbeda. Akhirnya perbedaan menjadi sesuatu yang menakutkan bukannya sesuatu yang perlu dirayakan.

“Oleh sebab itu pentinglah untuk mendalami keunggulan budaya sendiri dan menjadikannya nilai dalam diri sendiri (innerself). Budaya menjadi jiwa dan bukan lagi sesuatu yang bersifat luaran,” tandas Suster Patricia seraya menyebutkan bahwa ia melihat di Manado ini nilai kemurahan hati (generosity) dan nilai-nilai budaya yang melimpah yang menjadi kebanggaan masyarakat Minahasa.

Tantangan bagi kita sekarang, khususnya dalam dunia pendidikan, menurutnya, adalah bagaimana kita melihat nilai-nilai yang dalam yang berlaku dalam praktek hidup sehari-hari. Bagaimana kita membantu para murid untuk menghargai perbedaan-perbedaan yang ada, melihat pelbagai kekayaan dalam budaya sebagai harta karun yang perlu dibagikan.

Untuk mereka dapat mengerti satu sama lain, dan menjadi kaya oleh multi kultur. Agar terjadi suatu hubungan antar budaya yang saling memperkaya dan saling memperbaharui. Kita menjadi saudara atau sahabat.

“Inilah tanggungjawab pendidikan untuk menjadikan budaya sebagai jembatan yang saling menghubungkan. Strangers are friends we are to meet” (Orang asing adalah sahabat-sahabat yang akan kita temui). Untuk itu perlulah mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan, kemanusiaan, ke dalam kurikulum,” sarannya.

Ditambahkan, menjadikan mata pelajaran misalnya geografi, selain belajar mengenai berbagai bangsa dan tempat, serentak menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai moral perdamaian antar bangsa. Demikian juga mata pelajaran lain seperti statistik, menjadi kesempatan untuk menggali makna kehidupan.

Pembelajaran menjadi kesempatan untuk berdialog, berkomunikasi, bekerjasama dan berpartisipasi. Dengan demikian Cultural Competency menjadi salah satu kompetensi yang sangat diperlukan sekarang ini. Termasuk dalam hal mencari jalan mengekspresikan iman sebagai bagian dari budaya (inkulturasi).

Selain itu, kreatif mengembangkan budaya, menghargai kearifan lokal, memberi ruang baru untuk melihat kesamaan, kesatuan dalam kepelbagaian (unity in diversity), sambil terus memeriksa batin untuk membuat keputusan yang bijak (discernment) dan menemukan keseimbangan antara iman dan ilmu, pengetahuan dan nilai, karakter maupun akademik.

Culture Sharing yang diikuti seratusan pastor, suster, frater, bruder dan guru-guru perwakilan Yayasan Pendidikan Katolik yang dipandu Pastor Revi Rafael Tanod ini turut menghadirkan Dosen Universitas IAIN Kalijaga Prof. Syafaatun Almirzanah, M.A., M.Th, Ph.D, D.Min sebagai pembicara.

Kegiatan yang diadakan di lokasi milik Youdy Aray ini diawali prakata dari Sekretaris Yayasan Joseph Esa Ene Suster Jasinta Wowor SJMJ. Kegiatan menggunakan bahasa Inggris.

Saat makan siang, para tamu dan undangan disuguhi makanan khas Minahasa dan menggunakan peralatan khas Minahasa. (lk)

Meimonews.com – Dipanggil untuk menabur benih harapan dan membangun perdamaian jadi tema pesan Minggu Panggilan ke-61, Minggu (21/4/2024) Paus Fransiskus.

Dikemukakan, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan (Minggu Panggilan) mengundang kita, setiap tahun, untuk merenungkan karunia berharga dari panggilan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, umatNya yang setia dalam sebuah perjalanan agar kita dapat mengambil bagian dalam rencana kasihNya dan menjelmakan keindahan Injil dalam berbagai kondisi kehidupan.

Mendengarkan panggilan ilahi, jauh dari sebagai sebuah tugas yang dipaksakan dari luar, mungkin atas nama idealisme religius, adalah cara yang paling pasti yang kita miliki untuk memelihara hasrat akan kebahagiaan yang kita bawa di dalam diri kita,  hidup kita terwujud dan terpenuhi ketika kita menemukan siapa diri kita, apa kualitas kita, di bidang apa kita dapat menggunakannya dengan baik, jalan apa yang dapat kita ambil untuk menjadi tanda dan alat cinta, penerimaan, keindahan dan kedamaian, dalam konteks tempat di mana kita hidup.

Oleh karena itu, hari ini selalu menjadi kesempatan yang indah untuk mengingat dengan rasa syukur di hadapan Tuhan akan komitmen terus menerus, setiap hari dan sering kali tersembunyi dari mereka yang telah menerima panggilan yang melibatkan seluruh hidup mereka.

“Saya teringat akan para ibu dan ayah yang tidak mementingkan diri mereka sendiri dan tidak mengikuti arus gaya hidup yang dangkal, tetapi menghabiskan keberadaan mereka untuk memelihara relasi, dengan cinta dan tanpa pamrih, membuka dirinya terhadap anugerah kehidupan dan memusatkan diri mereka untuk melayani anak-anaknya dan demi pertumbuhan mereka,” tulis Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus teringat akan semua orang yang melakukan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi dan semangat kerjasama. Mereka yang berkomitmen, dalam berbagai bidang dan cara, untuk membangun dunia yang lebih adil, ekonomi yang lebih mendukung, politik yang lebih adil, masyarakat yang lebih manusiawi.

“Singkatnya, semua orang yang dengan kehendak baik membaktikan dirinya untuk kebaikan bersama. Saya teringat akan para religius, yang mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dalam keheningan doa dan juga dalam karya kerasulan, kadang-kadang di tempat-tempat perbatasan dan tanpa menyisihkan tenaga, secara kreatif mewujudkan karisma mereka dan membuat dirinya siap sedia bagi orang-orang yang mereka temui,” sebutnya.

Paus Fransiskus teringat pula akan mereka yang telah menerima panggilan untuk ditahbiskan menjadi imam dan membaktikan diri mereka untuk mewartakan Injil dan membagi-bagikan hidup mereka, bersama dengan Roti Ekaristi, untuk saudara dan saudarinya, menabur harapan dan memperlihatkan kepada semua orang keindahan Kerajaan Allah.

Kepada kaum muda, terutama mereka yang merasa jauh atau tidak percaya kepada Gereja, Paus Fransiskus ingin mengatakan, biarkanlah dirimu terpesona oleh Yesus, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang penting kepada-Nya, melalui lembaran-lembaran Injil, biarkanlah dirimu digelisahkan oleh kehadiran-Nya, yang terkadang sering menempatkan kita dalam krisis yang bermanfaat.

Dia, sambung Paus Fransiskus, menghormati kebebasan kita lebih dari yang lain, tidak memaksakan diriNya tetapi menawarkan diriNya, berilah Dia tempat dalam dirimu dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu dalam mengikuti Dia, jika Dia memintamu, dalam pemberian dirimu sepenuhnya kepada Dia.

Dikemukakan, kepelbagaibentukan karisma dan panggilan, yang diakui dan didampingi oleh Komunitas Kristiani, membantu kita untuk memahami sepenuhnya identitas kita sebagai orang Kristen: sebagai umat Allah yang sedang dalam perjalanan di dunia, digerakkan oleh Roh Kudus dan diincorporasikan seperti batu-batu yang hidup ke dalam Tubuh Kristus, masing-masing dari kita menemukan diri kita sebagai anggota dari sebuah keluarga besar, seorang anak Bapa dan saudara atau saudari bagi satu sama lain.

Kita, menurut Paus Fransiskus, bukanlah bagai pulau-pulau yang menutup diri kita sendiri, tetapi kita adalah bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ini memiliki karakter sinodalitas: ada banyak karisma dan kita dipanggil untuk mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama untuk menemukannya dan untuk melakukan discernment terhadap apa Roh Kudus kehendaki demi kebaikan semua orang.

“Maka, pada momen historis saat ini, perjalanan bersama ini membawa kita menuju Tahun Yubileum 2025. Marilah kita berjalan sebagai peziarah harapan menuju Tahun Suci, sehingga dalam menemukan kembali panggilan kita masing-masing dan menghubungkan karunia-karunia Roh yang berbeda, kita dapat menjadi pembawa dan saksi-saksi impian Yesus di dunia: untuk membentuk satu keluarga, bersatu dalam cinta kasih Allah dan dipererat oleh ikatan cinta kasih, saling berbagi, dan persaudaraan,” ajaknya.

Secara khusus, tambahnya, hari ini didedikasikan, untuk berdoa memohon karunia panggilan suci dari Bapa untuk membangun Kerajaan-Nya: “Karena itu berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu,” sebutnya mengutip injil Lukas 10:2.

Ditambahkan, dan berdoa – kita tahu – lebih banyak terdiri dari mendengarkan daripada kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan. Tuhan berbicara ke dalam hati kita dan ingin agar hati kita terbuka, tulus dan murah hati. Firman-Nya telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus, yang menyatakan dan mengkomunikasikan kepada kita seluruh kehendak Bapa.

Pada tahun 2024 ini, yang didedikasikan secara khusus untuk doa dalam persiapan untuk Yubileum, sebutnya, kita dipanggil untuk menemukan kembali karunia yang tak ternilai untuk dapat berdialog dengan Tuhan, dari hati ke hati, dan dengan demikian menjadi peziarah pengharapan, karena “doa adalah kekuatan pertama dari pengharapan. Kamu berdoa dan pengharapan bertumbuh, bergerak maju. Menurut saya, doa membuka pintu pengharapan. Harapan itu ada di sana, tetapi dengan doa saya membuka pintu bagi pengharapan” (Katekese, 20 Mei 2020).

Menjadi pertanyaan, apa artinya menjadi peziarah ? Bagi Paus Fransiskus, orang yang berziarah pertama-tama berusaha untuk memiliki tujuan yang jelas, dan selalu membawanya di dalam hati dan pikirannya. Namun, pada saat yang sama, untuk mencapai tujuan itu, seseorang harus berkonsentrasi pada langkah saat ini, untuk menghidupinya ia harus ringan, melepaskan diri dari beban yang tidak perlu, membawa hal-hal yang penting dan berjuang setiap hari sehingga kelelahan, ketakutan, ketidakpastian dan kegelapan tidak menghalangi jalan yang ditempuh.

Dengan demikian, menjadi peziarah berarti mulai lagi setiap hari, selalu memulai lagi, menemukan kembali semangat dan kekuatan untuk menempuh berbagai tahap perjalanan yang, meskipun lelah dan sulit, selalu terbuka di hadapan kita cakrawala baru dan pandangan yang tak diketahui.

“Makna perziarahan kristiani adalah: kita berada dalam perjalanan untuk menemukan cinta Tuhan dan, pada saat yang sama, menemukan diri kita sendiri, melalui perjalanan batin tetapi selalu didorong oleh banyaknya relasi,” jelas Paus Fransiskus.

Jadi, kita  adalah peziarah karena dipanggil: dipanggil untuk mencintai Tuhan dan mencintai satu sama lain. Dengan demikian, perjalanan kita di bumi ini tidak pernah berakhir dengan kelelahan tanpa tujuan atau pengembaraan tanpa tujuan; sebaliknya, setiap hari, menanggapi panggilan kita, kita mencoba mengambil langkah-langkah yang mungkin menuju dunia baru, di mana kita hidup dalam kedamaian, keadilan, dan cinta.

“Kita adalah peziarah pengharapan karena kita cenderung menuju masa depan yang lebih baik dan berusaha untuk membangunnya di sepanjang jalan,” tegasnya.

Pada akhirnya, inilah tujuan dari setiap panggilan: untuk menjadi manusia yang penuh pengharapan. Sebagai individu dan sebagai komunitas, dalam berbagai karisma dan pelayanan, kita semua dipanggil untuk “memberikan tubuh dan hati” bagi harapan Injil di dunia yang ditandai dengan tantangan zaman: ancaman perang dunia ketiga yang semakin dekat, himpunan kaum migran yang melarikan diri dari tanah air mereka untuk mencari masa depan yang lebih baik, jumlah orang miskin yang terus bertambah, bahaya yang secara terus menerus membahayakan kesehatan planet kita.

Dan dari semua yang sudah disebutkan itu harus pula ditambahkan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi setiap hari dan yang, kadang-kadang, berisiko membuat kita menyerah atau kalah.

Maka, di masa-masa seperti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita umat Kristiani untuk mengembangkan sebuah pandangan yang holistik tentang pengharapan, agar kita dapat bekerja dengan baik, menanggapi panggilan yang dipercayakan kepada kita, demi melayani Kerajaan Allah, Kerajaan yang penuh dengan kasih, keadilan dan perdamaian.

Paulus, sebut Paus Fransiskus, meyakinkan kita bahwa pengharapan ini “tidak mengecewakan” (Roma 5:5), karena ini adalah janji yang telah Tuhan Yesus berikan kepada kita untuk selalu menyertai kita dan melibatkan kita dalam karya penebusan yang ingin Dia capai dalam hati setiap orang dan dalam “hati” ciptaan.

Pengharapan ini menemukan pusat pendorongnya dalam Kebangkitan Kristus, yang “mengandung kekuatan hidup yang telah menembus dunia. Di saat segala sesuatu tampak mati, tunas-tunas kebangkitan muncul dari mana-mana. Ini adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Memang benar bahwa sering kali tampaknya Allah tidak ada: kita melihat ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian dan kekejaman yang tidak berkurang.

Tetapi sama pastinya bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu mulai bersemi, yang cepat atau lambat akan menghasilkan buah” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 276). Sekali lagi Rasul Paulus menyatakan bahwa “dalam pengharapan” kita “telah diselamatkan” (Roma 8:24).

Penebusan yang dicapai dalam Paskah memberikan pengharapan, pengharapan yang pasti dan dapat diandalkan, yang dengannya kita dapat menghadapi tantangan-tantangan di masa kini.

Maka, menjadi peziarah pengharapan dan pembawa damai berarti mendasarkan keberadaan kita pada batu karang kebangkitan Kristus, dengan mengetahui bahwa setiap komitmen yang kita buat, dalam panggilan yang telah kita raih dan upayakan, tidak akan sia-sia. Meskipun ada kegagalan dan kemunduran, kebaikan yang kita tabur bertumbuh diam-diam dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari tujuan akhir: perjumpaan dengan Kristus dan sukacita hidup dalam persaudaraan satu sama lain untuk selama-lamanya.

Kita harus mengantisipasi panggilan terakhir ini setiap hari: hubungan kasih dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita dimulai dari sekarang untuk mewujudkan impian Allah, impian persatuan, perdamaian dan persaudaraan.

Janganlah ada seorang pun merasa tidak termasuk dari panggilan ini! Masing-masing kita, dengan cara kecil kita sendiri, dalam keadaan hidup kita sendiri dapat menjadi penabur pengharapan dan perdamaian, dengan bantuan Roh Kudus.

“Untuk semua ini saya katakan, sekali lagi, seperti pada Hari Orang Muda Sedunia di Lisabon: ‘Bangkitlah!’ Marilah kita bangun dari tidur, marilah kita keluar dari ketidakpedulian, marilah kita membuka jeruji penjara yang terkadang mengurung diri kita sendiri, sehingga kita masing-masing dapat menemukan panggilan kita di Gereja dan di dunia dan menjadi peziarah pengharapan dan pembangun perdamaian !” ajaknya.

Paus Fransiskus mengajak pula kepada kita agar sungguh tergerak untuk hidup dan berkomitmen terhadap kepedulian yang penuh kasih bagi orang-orang di sekitar kita dan lingkungan yang kita tinggali. “Saya ulangi, beranikanlah dirimu untuk terlibat !” sebutnya

Pastor Oreste Benzi, seorang rasul cinta kasih yang tak kenal lelah, yang selalu berpihak pada mereka yang paling kecil dan tak berdaya, tambahnya, selalu mengulangi bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, dan tidak ada seorang pun yang begitu kaya sehingga tidak perlu menerima sesuatu.

“Marilah kita bangkit dan bergerak sebagai peziarah pengharapan, sehingga, seperti yang dilakukan oleh Maria kepada Elizabeth, kita juga dapat membawa berita sukacita, membangkitkan kehidupan baru dan menjadi pembangun persaudaraan dan perdamaian,” ajak Paus Fransiskus. (lk)

Meimonews.com – Terobosan penting dilakukan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulut dalam kaitannya dengan penanganan masalah hukum di bidang perdata dan tata usaha negara (datun).

Hal itu terlihat pada kehadiran Tim Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut di Kantor Bapenda Sulut, Jumat (19/4/3034) pada rapat yang membahas kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara tentang Penanganan permasalahan Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

Rapat  yang dipimpin Kepala Bapenda Sulut  June E. Silangen, SE.Ak, MM dan didampingi Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejati Sulut Franky Son, SH, MH, Kepala BKAD Sulut Clay J.H. Dondokambey, S.STP, MAP ini dihadiri jajaran Kejati, Inspektorat, BKAD, Bapenda, dan Biro Pemerintahan dan Biro Hukum Pemprov Sulut.

Dalam rapat tersebut, secara detail dibahas hal-hal seperti penguatan legal opinion dari pihak terkat (Kejati Sulut) bila ada permasalahan hukum di jajaran pemerintah Pemprov Sulut. Dengan ada legal opinion ini maka jajaran Pemprov Sulut tidak perlu ragu-ragu lagi dalam pengambilan keputusan.

June menjelaskan, dalam rangka penagihan pajak perlu bersamaan dengan Kejati Sulut. Awalnya hanya dengan Bapenda tapi pihak Bapenda mengusulkan kepada Asdatun Kejati Sulut untuk bersama dengan Pemprov Sulut/Gubernur Sulut.

“Diusulkan demikian karena Pemprov Sulut dan jajarannya perlu juga pendampingan bukan hanya masalah seperti pajak, pengadaan barang dan jasa tapi juga masalah-masalah lain,” ujar June dalam percakapan dengan Meimonews.com di ruang kerjanya, usai rapat.

Oleh karenanya, sambung June, dibuatlah draf nota kesepahaman untuk dibahas bersama, dan ke depan bukan hanya Bapenda Sulut saja yang membuat nota kesepahaman bersama dengan Kejati tapi dengan OPD (organisasi perangkat daerah lain) juga. (elka)

Meimonews.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Utara mewisuda 66 siswa Sekolah Lanjut Usia (lansia) di Desa Munte Kabupaten Minahasa Selatan untuk mengantisipasi terjadinya banjir populasi menua atau aging population.

Kegiatan yang dilaksanakan, Jumat (19/4/2024) ini dihadiri Kepala BKKBN Sulut Ir. Diano Tino Tandaju, M.Erg dan staf serta Bupati Minsel Franky Donny Wongkar, SH, Ketua TP-PKK Minsel Elsje Rosje Wongkar Sumual, Sekda Minsel Glady Kawatu, SH, M.Si, Forkopimda Minsel, para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Minsel, dan Forum Koordinasi Pimpinan  Kecamatan.

Sekolah lansia adalah pendidikan non formal sebagai upaya pemberian informasi, pelatihan tentang kesehatan, sosial budaya agar lansia dapat hidup bahagia sejahtera.

“Ini merupakan komitmen BKKBN untuk mewujudkan lansia Indonesia yang sehat, mandiri, aktif,  produktif, dan bermartabat (Smart), sebagai bentuk integrasi program bina keluarga lansia (BKL) dan sekolah lansia,” ujar Tandaju saat memberikan sambutan.

Diungkapkan, Sekolah Lansia Smart  Pakalowiren  merupakan sekolah lansia  pertama di Sulawesi Utara dengan sasaran usia pra lansia 45 tahun ke atas.

Sekolah Lansia Smart Pakalowiren   diluncurkan pada 9  September 2023 lalu dengan pembelajaran selama enam bulan (September 2023 hingga April 2024).

Untuk pertama kalinya, sekolah ini telah meluluskan 66 siswa pada angkatan pertamanya dengan predikat Sangat Baik dan Baik.

Tandaju berharap, sekolah lansia ini akan terus berlanjut di desa lainnya di Kabupaten Minahasa Selatan dan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sulut.

Menurutnya, alumni Sekolah Lansia Smart Pakalowiren dapat menjadi motivator bagi lansia lainnya yang ada di Desa Munte agar tetap berkarya. “Semangat lansia dalam menimba ilmu ini juga dapat menjadi contoh bagi generasi muda,’ ujarnya.

Disebutkan, pendidikan bagi lansia merupakan salah satu hal penting. Ini menunjukkan bahwa lansia memiliki semangat belajar yang tinggi, menjadi pribadi yang sehat dan produktif.

“Menjadi tua adalah sebuah perjalanan hidup yang pasti terjadi, tetapi menjadi sehat dan terus produktif di usia senja adalah pilihan,” ujar Tandaju.

Sekolah lansia merupakan sebuah upaya dari pemerintah untuk mewujudkan lansia Indonesia yang tangguh dan tujuan program sekolah ini yakni untuk meningkatkan kualitas kegiatan BKL dan tujuh dimensi lansia tangguh, yang mencakup spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, profesional dan kejujuran, serta lingkungan. “Usia tua tidak menjadi penghalang untuk menimba ilmu,” tandas Tandaju.

Bupati Minahasa Selatan Franky Donny  Wongkar, SH dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para lansia yang diwisuda.

Dengan hadirnya program sekolah  Lansia Bina Keluarga Lansia (BKL), sebutnya menjadi  Solusi  dalam  meningkatkan potensi lansia khususnya  bagi lansia yang masih potensial dalam  keluarga dan masyarakat  untuk  mewujudkan lansia yang Smart.

“Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Perwakilan BKKBN Provinsi Sulut, Dinas PPKB Kabupaten Minsel dan  Pemerintah Daerah dan segenap  masyarakat Desa  Munte atas  semangat, antusiasme dan dedikasi  dalam pelaksanaan  program ini,” ujar Wongkar.

Bahkan, sambungnya, telah  mengikuti  kegiatan penilaian Kampung  Keluarga  Berkualitas (KB) tahun  2024 dan berbagai kegiatan strategis lainnya yang  merupakan bentuk partisipasi dan  kontribusi yang telah diberikan,’ ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Wongkar mengajak seluruh masyarakat  Desa  Munte untuk terus berjuang dan solid bergerak bersama dengan Pemerintah  Kabupaten Minahasa Selatan.

Sebagai siswa terbaik putra diraih Rori  Mongkau sementara putri oleh Lientje  Assa.

Di acara tersebut, turut diserahkan  piagam penghargaan Keluarga  Harmonis kepada keluarga Mongkau-Piri  dan keluarga Ngayow-Piri. (Fer)

Oleh :

RD Dismas Valens Salettia

Meimonews.com  – Di antara semua dosa besar, ada satu yang sering diabaikan, mungkin karena namanya yang seringkali tidak dapat dipahami oleh banyak orang yaitu tentang acedia.

Oleh karena itu, dalam daftar keburukan, istilah acedia seringkali diganti dengan istilah lain yang lebih umum digunakan yakni kelambanan atau kemalasan. Pada kenyataannya, kemalasan lebih merupakan akibat ketimbang sebab.

Kalau seseorang diam di tempat, lamban, acuh tak acuh, kita mengatakan bahwa ia malas. Namun, sebagaimana diajarkan oleh kebijaksanaan para bapa di padang gurun dahulu kala, sering kali akar dari kemalasan ini adalah acedia, yang dalam bahasa Yunani aslinya berarti tidak peduli.

Acedia adalah godaan yang sangat berbahaya dan tidak boleh dijadikan lelucon. Seolah-olah orang-orang yang menjadi korbannya dihancurkan oleh hasrat akan kematian : mereka merasa jijik pada segala hal; hubungan dengan Allah menjadi membosankan bagi mereka.

Bahkan perbuatan paling suci sekalipun, yang pada masa lalu menghangatkan hati mereka, kini tampak sama sekali tidak berguna bagi mereka. Seseorang mulai menyesali berlalunya waktu, dan masa muda yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Acedia/kemalasan adalah wujud keputusasaan spiritual yang membuat manusia tenggelam dalam kesedihan meratapi hidup tanpa harapan sehingga tidak lagi mau peduli pada dirinya dan pada keadaan sekitar.

Iman, yang tersiksa oleh ujian acedia, tidak kehilangan nilainya. Justru iman yang benar, iman yang sangat manusiawi, yang meskipun segala sesuatunya, meskipun kegelapan membutakannya, tetap percaya dengan rendah hati.

Iman itulah yang tetap ada di dalam hati, bagaikan bara api di bawah abu. Iman tersebut selalu ada. Dan jika salah satu dari kita menjadi korban kejahatan ini, atau godaan acedia, cobalah mencari ke dalam diri kita dan mengipasi bara api iman; begitulah cara kita terus maju. (Pastor Dismas adalah Anggota BKSAUA Minahasa dan Pastor Paroki St. Antonius De Padua Tataaran)

Meimonews.com – Erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro) tidak saja berdampak kepada masyarakat daerah setempat tapi juga masyarakat di sejumlah daerah.

Menyikapi adanya penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ruang tersebut, Pemerintah Kota Manado di bawah kepemimpinan Andrei Angouw (Walikota) dan Richard Sualang (Wakil Walikota) mengimbau kepada masyarakat Kota Manado yang akan beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan masker.

Abu vulkanik yang tersebar di atas motor yang diparkir di halaman terbuka baru sekitar dua jam

Kenapa harus menggunakan masker ? Karena abu vulkanik yang terhirup bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Setidaknya, sebut imbauan Pemkot Manado tersebut, ada tiga dampaknya. Pertama, radang saluran pernapasan atas akut; kedua, radang pada selaput mata, dan ketiga, dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan radang di paru-paru. (lk)