Meimonews.com – Kerjasama Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dengan Wuhu Institute of Technology terus berlanjut bukan hanya dalam bentuk saling berkunjung.

Hal itu terlihat saat kedua pihak melaunching Luban Workshop dan Program Student Exchange yang dilaksanakan di Lantai 5 Fakultas Teknik (Fatek) Unsrat Manado, Sabtu (27/4/2024).

Hadir pada momen ini, Sekretaris Daerah Sulut Steve Hartke Andries Kepel, ST, M.Si mewakili Gubernur Sulut Prof. Dr. (HC) Olly Dondokambey, SE, President Wuhu Institute of Technology and Conch Mr. Gao Wu, Direktur PT Conch Clement Wilayah Indonesia dan Direktur Utama Conch North Sulawesi Clement Mr. Chen Xiaobing, Rektor Unsrat Manado Prof. Dr. Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie, M.Eng Asean IPU Eng, Ketua DPRD Sulut dr. Fransiskus Andi Silangen, Sp.B-KBD, Komisaris BSG.

Selain itu, Wakil-wakil Rektor, pimpinan lembaga Unsrat, para Dekan, sejumlah tamu/undangan lainnya serta sejumlah mahasiswa yang ikut dalam program Unsrat dan Wuhu Technologi and Conch.

Acara seremoni launching ditandai sambutan-sambutan dari President Wuhu Institute of Technologi, Direktur Utama Conch North Sulawesi Clement, Rektor Unsrat Manado serta Sekda Sulut mewakili Gubernur Sulut.

Setelah itu, pembukaan selubung papan kegiatan dan penyerahan cenderamata kedua pihak dan serta penyerahan cendera mata dari Wuhu Institute of Technology dan PT Conch kepada sejumlah mahasiswa.

Mengakhiri kegiatan launching, para tamu dan undangan diajak ke Ruang Conch yang berada di salah satu ruangan Fatek Unsrat yang berada di lantai dasar gedung lama.

Sejumlah perangkat teknologi dan brosur/gambar tentang kemajuan teknologi hasil kerjasama kedua pihak terpapar di lokasi, dan sejumlah penjelasan terkait dengan apa yang ada dijelaskan baik Dekan Fatek Unsrat Manado Prof. Dr. Ir. Fabian J. Manoppo dan tim kedua pihak.

Tamu dan undangan terlihat senang dengan apa yang ada dan berharap agar kerjasama yang telah terlihat ini akan terus berlanjut dan bahkan meningkat di waktu-waktu mendatang. (FA)

Meimonews.com – Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ)  menggelar Kapitel II di Tomohon, Sulawesi Utara, 11-25 April 2024.

Sejumlah agenda kegiatan dilaksanakan pada forum tersebut. Salah satunya adalah pemilihan Dewan Pimpinan Umum (DPU) masa bakti 2024-2030.

Peserta Kapitel yang mengangkat tema
Walking Together as Prophets of Hope at the Dawn ini berjumlah 31 suster yang terdiri dari delegasi ex-officio dan peserta yang dipilih dalam Kapitel Provinsi-provinsi (Jakarta, Makassar dan Manado).

Lewat proses pemilihan, Suster Theresia Supriyati terpilih kembali menjadi Pemimpin Umum kongregasi tersebut untuk enam tahun ke depan.

DPU ini dilengkapi Anggota Dewan Pimpinan lainnya, di mana ada beberapa yang terpilih kembali. Anggota DPU tersebut adalah Sr.Jeannette Runtu, Sr. Monika Kalangi, Sr. Theresia Tulung dan Sr. Anita Sampe.

Pada misa penutupan Kapitel yang dilaksanakan di Panti Samadi, diwarnai pengukuhan DPU tersebut.

Misa penutupan dipimpin Pastor Hengki Ponamon MSC (selebran utama) serta Pastor CB Kusmaryanto SCJ, Pastor Aloysius Wilar, Pastor Inno CSE dan Pastor Fecky Singal (co-selebran).

Para anggota Kongregasi SJMJ yang diwakili oleh Para Delegasi Kapitel Umum berjanji melaksanakan 7 Komitmen yang diputuskan dalam Kapitel Umum ini. Ketujuh Komitmen itu adalah spiritualitas, komunitas, misi, pembinaan, kepemimpinan,  merawat alam, dan solidaritas. (lk)

Meimonews.com – SMA Negeri 7 Manado menggelar Try Out Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Teknologi (SNBT) 2024 di aula sekolah, Kamis (25/4/2024).

Kegiatan yang diikuti 300-an siswa kelas 12 SMA Negeri 7 Manado yang akrab disebut Smantu dan beberapa siswa dari beberapa sekolah seperti SMA Katolik Rec Mundi Manado merupakan kegiatan kolaborasi dengan Telkomsel.

Sejumlah trainer seperti dari Ruang Guru dihadirkan dalam kegiatan bersifat nasional ini, yang dilakukan Telkomsel di delapan kota besar Indonesia, di mana salah satunya adalah kota Manado dan sekolah yang dipilih adalah SMA Negeri 7 Manado.

Kepala SMA Negeri 7 Manado Dr. Hanny William Rawung, S.Fil, M.Hum dalam percakapan dengan Meimonews.com di ruang kerjanya, usai kegiatan menjelaskan maksud dan manfaat dari kegiatan ini.

Dikemukakan, pelaksanaan Try Out  UTBK SNBT  ini sangat membantu bagi para siswa yang akan ikut penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) lewat jalur SNBT.

Mereka bisa tahu bentuk-bentuk soal, bentuk-bentuk tes, trik-trik menjawab soal atau mengerjakannya yang nantinya akan diikuti saat tes masuk PTN karena seperti diketahui tes masuk PTN dilakukan secara terbuka dan kompetitif.

“Dengan adanya try out ini akan membantu para siswa masuk PTN lewat jalur UTBK SNBT. Dan, try out ini gratis,” ujar kepala sekolah kreatif ini.

Disebutkan, kalau para siswa menggunakan wadah-wadah lain atau tempat-tempat les, mungkin berbayar. Sementara di sini tidak berbayar (gratis).

Para siswa yang memiliki nilai tertinggi dari test ini diberikan hadiah oleh Telkomsel. Dan yang memiliki ranking 1-3 tingkat nasional (8 kota) akan pula diberikan hadiah dari Telkomsel.

“Dengan adanya try out ini, akan meningkatkan kemampuan, nilai, daya saing para siswa untuk berkompetisi masuk ke PTN melalui jalur UTBK,” tandasnya. (Fer)

Meimonews.com – Konsultan pada Diskasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan dan Sekretaris Eksekutif Himpunan Para Pemimpin Umum Tarekat Wanita (Union International of Superior General UISG Sr. Patricia Murray IBVM sangat mengapresiasi budaya Minahasa.

Apresiasi itu disampaikan Suster Patricia di awal pemaparannya pada Culture Sharing bertemakan The role of culture in education (Peran Kebudayaan dalam Pendidikan) yang diselenggarakan Yayasan Joseph Esa Ene (milik Tarekat SJMJ) di Rumah Budaya Wale Ma’zani Wailan Tomohon, Rabu (17/4/2024).

Suster Patricia mengungkap apresiasinya setelah menyaksikan pertunjukan budaya Minahasa saat dia dan tamu undangan diterima di Wale Ma’zani, yang sangat kaya dengan instrumen musik, tarian dan lagu, pakaian dan makanan, bahasa serta artefak budaya yang ada di sana.

“Semuanya ini menampakkan apa yang ada, yang jauh di balik yang kelihatan yakni nilai-nilai budaya, sistem kepercayaan, perayaan (selebrasi), serta relasi antar manusia. Sungguh sebuah komunitas budaya yang sangat kaya,” ujarnya.

Suster Patricia mengingatkan, apa yang tampak dalam sebuah kebudayaan hanyalah puncak gunung es di lautan yang hanya kelihatan sebagian kecil dibanding apa yang ada dalam air yang tak kelihatan. Ia mengingatkan, budaya di satu pihak dapat mempersatukan, namun di pihak lain dapat memisahkan kita.

Sr. Patricia Murray IBVM

Suster Patricia lantas membagikan pengalamannya sebagai seorang Irlandia yang bangsanya pernah dijajah oleh Inggris. Inggris berusaha untuk menggantikan budaya Irlandia dengan budaya Inggris. Karena itu, orang Irlandia berusaha untuk merebut kembali budaya mereka yang berbeda dengan Inggris.

Ditegaskan, budaya adalah jiwa sebuah bangsa. Budaya sebagai jiwa sifatnya sangat hakiki untuk menunjukkan jati diri kita, identitas kita, siapakah kita sebenarnya. Karena itu anak-anak Irlandia diajarkan untuk mendalami budaya mereka. Dengan mengenal siapakah diri mereka membuat mereka percaya diri ketika menjadi bagian dari warga dunia karena merasa aman dengan identitasnya.

Sr. Patricia Murray IBVM dan Dosen Universitas IAIN Kalijaga Prof. Syafaatun Almirzanah, M.A., M.Th, Ph.D, D.Min dan beberapa tamu/undangan makan siang dengan menu dan peralatan khas Minahasa

‘Identitas budaya menjadi bagian dari pendidikan yang holistik untuk mengembangkan karakter dan kepribadian, fisik maupun psikis, untuk bertumbuh secara manusiawi dan berbudaya. Semakin kuat identitas semakin kepercayaan dirinya meningkat,” ujarnya.

menurutnya, saat ini kita dibombardir oleh budaya global yang membuat kita berusaha untuk menirunya dan akhirnya membuat kita kehilangan identitas. Karena itu sangat penting mengakui dan meneguhkan budaya kita sendiri sehingga kita dapat menghidupi perasaan terdalam mengenai siapakah kita yang sesungguhnya yakni jiwa kita.

“Oleh karena itu sangatlah penting di sekolah kita mempromosikan budaya lokal, musik, tarian, drama, serta menciptakan dan mengembangkan budaya yang baru secara kreatif sambil melanjutkan warisan budaya. Orang Irlandia telah bermigrasi ke berbagai bangsa, ke Australia, Amerika Serikat, Amerika Latin, Rusia,” sebutnya.

Menurutnya, seluruh dunia kini dapat menyaksikan tarian Irlandia yang telah bertransformasi sesuai dengan konteks bangsa-bangsa tersebut. Ketika diadakan festival budaya terciptalah pelbagai kekayaan budaya Irlandia sesuai konteks masing-masing.

“Kembangkanlah budayamu. Kreatif mengembangkan budayamu, dorong masyarakat untuk menghidupi nilai-nilai budayanya. Terus mengisahkan cerita-cerita budaya. Tetap memeliharanya di rumah masing-masing tapi juga membagikannya kepada yang lain,” pintanya.

Saat pelaksanaan Culture Sharing

Jadikan budaya sebagai jembatan antar budaya. Terus menerus memperkayanya secara kreatif. Baik dalam hidup sehari-hari (Popular culture) maupun lewat drama-musik-tarian (High culture).

Diingatkan bahwa budaya dapat memisahkan atau memecah-belah. Pengalaman Irlandia dan Inggris adalah contohnya. Di Belfast terlihat jelas perpecahan antara Irlandia dan Inggris seakan sebagai perpecahan antara Katolik dan Protestan. Di sana diberi label religius atau keagamaan padahal yang ada adalah perbedaan budaya.

Sampai perbedaan warna pun dihubungkan dengan agama. Yang hijau adalah Katolik dan yang oranye adalah Protestan. Perbedaan warna ini mengajarkan siapa teman dan siapa orang lain, siapa yang sama dan siapa yang berbeda. Akhirnya perbedaan menjadi sesuatu yang menakutkan bukannya sesuatu yang perlu dirayakan.

“Oleh sebab itu pentinglah untuk mendalami keunggulan budaya sendiri dan menjadikannya nilai dalam diri sendiri (innerself). Budaya menjadi jiwa dan bukan lagi sesuatu yang bersifat luaran,” tandas Suster Patricia seraya menyebutkan bahwa ia melihat di Manado ini nilai kemurahan hati (generosity) dan nilai-nilai budaya yang melimpah yang menjadi kebanggaan masyarakat Minahasa.

Tantangan bagi kita sekarang, khususnya dalam dunia pendidikan, menurutnya, adalah bagaimana kita melihat nilai-nilai yang dalam yang berlaku dalam praktek hidup sehari-hari. Bagaimana kita membantu para murid untuk menghargai perbedaan-perbedaan yang ada, melihat pelbagai kekayaan dalam budaya sebagai harta karun yang perlu dibagikan.

Untuk mereka dapat mengerti satu sama lain, dan menjadi kaya oleh multi kultur. Agar terjadi suatu hubungan antar budaya yang saling memperkaya dan saling memperbaharui. Kita menjadi saudara atau sahabat.

“Inilah tanggungjawab pendidikan untuk menjadikan budaya sebagai jembatan yang saling menghubungkan. Strangers are friends we are to meet” (Orang asing adalah sahabat-sahabat yang akan kita temui). Untuk itu perlulah mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan, kemanusiaan, ke dalam kurikulum,” sarannya.

Ditambahkan, menjadikan mata pelajaran misalnya geografi, selain belajar mengenai berbagai bangsa dan tempat, serentak menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai moral perdamaian antar bangsa. Demikian juga mata pelajaran lain seperti statistik, menjadi kesempatan untuk menggali makna kehidupan.

Pembelajaran menjadi kesempatan untuk berdialog, berkomunikasi, bekerjasama dan berpartisipasi. Dengan demikian Cultural Competency menjadi salah satu kompetensi yang sangat diperlukan sekarang ini. Termasuk dalam hal mencari jalan mengekspresikan iman sebagai bagian dari budaya (inkulturasi).

Selain itu, kreatif mengembangkan budaya, menghargai kearifan lokal, memberi ruang baru untuk melihat kesamaan, kesatuan dalam kepelbagaian (unity in diversity), sambil terus memeriksa batin untuk membuat keputusan yang bijak (discernment) dan menemukan keseimbangan antara iman dan ilmu, pengetahuan dan nilai, karakter maupun akademik.

Culture Sharing yang diikuti seratusan pastor, suster, frater, bruder dan guru-guru perwakilan Yayasan Pendidikan Katolik yang dipandu Pastor Revi Rafael Tanod ini turut menghadirkan Dosen Universitas IAIN Kalijaga Prof. Syafaatun Almirzanah, M.A., M.Th, Ph.D, D.Min sebagai pembicara.

Kegiatan yang diadakan di lokasi milik Youdy Aray ini diawali prakata dari Sekretaris Yayasan Joseph Esa Ene Suster Jasinta Wowor SJMJ. Kegiatan menggunakan bahasa Inggris.

Saat makan siang, para tamu dan undangan disuguhi makanan khas Minahasa dan menggunakan peralatan khas Minahasa. (lk)

Meimonews.com – Dipanggil untuk menabur benih harapan dan membangun perdamaian jadi tema pesan Minggu Panggilan ke-61, Minggu (21/4/2024) Paus Fransiskus.

Dikemukakan, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan (Minggu Panggilan) mengundang kita, setiap tahun, untuk merenungkan karunia berharga dari panggilan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, umatNya yang setia dalam sebuah perjalanan agar kita dapat mengambil bagian dalam rencana kasihNya dan menjelmakan keindahan Injil dalam berbagai kondisi kehidupan.

Mendengarkan panggilan ilahi, jauh dari sebagai sebuah tugas yang dipaksakan dari luar, mungkin atas nama idealisme religius, adalah cara yang paling pasti yang kita miliki untuk memelihara hasrat akan kebahagiaan yang kita bawa di dalam diri kita,  hidup kita terwujud dan terpenuhi ketika kita menemukan siapa diri kita, apa kualitas kita, di bidang apa kita dapat menggunakannya dengan baik, jalan apa yang dapat kita ambil untuk menjadi tanda dan alat cinta, penerimaan, keindahan dan kedamaian, dalam konteks tempat di mana kita hidup.

Oleh karena itu, hari ini selalu menjadi kesempatan yang indah untuk mengingat dengan rasa syukur di hadapan Tuhan akan komitmen terus menerus, setiap hari dan sering kali tersembunyi dari mereka yang telah menerima panggilan yang melibatkan seluruh hidup mereka.

“Saya teringat akan para ibu dan ayah yang tidak mementingkan diri mereka sendiri dan tidak mengikuti arus gaya hidup yang dangkal, tetapi menghabiskan keberadaan mereka untuk memelihara relasi, dengan cinta dan tanpa pamrih, membuka dirinya terhadap anugerah kehidupan dan memusatkan diri mereka untuk melayani anak-anaknya dan demi pertumbuhan mereka,” tulis Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus teringat akan semua orang yang melakukan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi dan semangat kerjasama. Mereka yang berkomitmen, dalam berbagai bidang dan cara, untuk membangun dunia yang lebih adil, ekonomi yang lebih mendukung, politik yang lebih adil, masyarakat yang lebih manusiawi.

“Singkatnya, semua orang yang dengan kehendak baik membaktikan dirinya untuk kebaikan bersama. Saya teringat akan para religius, yang mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dalam keheningan doa dan juga dalam karya kerasulan, kadang-kadang di tempat-tempat perbatasan dan tanpa menyisihkan tenaga, secara kreatif mewujudkan karisma mereka dan membuat dirinya siap sedia bagi orang-orang yang mereka temui,” sebutnya.

Paus Fransiskus teringat pula akan mereka yang telah menerima panggilan untuk ditahbiskan menjadi imam dan membaktikan diri mereka untuk mewartakan Injil dan membagi-bagikan hidup mereka, bersama dengan Roti Ekaristi, untuk saudara dan saudarinya, menabur harapan dan memperlihatkan kepada semua orang keindahan Kerajaan Allah.

Kepada kaum muda, terutama mereka yang merasa jauh atau tidak percaya kepada Gereja, Paus Fransiskus ingin mengatakan, biarkanlah dirimu terpesona oleh Yesus, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang penting kepada-Nya, melalui lembaran-lembaran Injil, biarkanlah dirimu digelisahkan oleh kehadiran-Nya, yang terkadang sering menempatkan kita dalam krisis yang bermanfaat.

Dia, sambung Paus Fransiskus, menghormati kebebasan kita lebih dari yang lain, tidak memaksakan diriNya tetapi menawarkan diriNya, berilah Dia tempat dalam dirimu dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu dalam mengikuti Dia, jika Dia memintamu, dalam pemberian dirimu sepenuhnya kepada Dia.

Dikemukakan, kepelbagaibentukan karisma dan panggilan, yang diakui dan didampingi oleh Komunitas Kristiani, membantu kita untuk memahami sepenuhnya identitas kita sebagai orang Kristen: sebagai umat Allah yang sedang dalam perjalanan di dunia, digerakkan oleh Roh Kudus dan diincorporasikan seperti batu-batu yang hidup ke dalam Tubuh Kristus, masing-masing dari kita menemukan diri kita sebagai anggota dari sebuah keluarga besar, seorang anak Bapa dan saudara atau saudari bagi satu sama lain.

Kita, menurut Paus Fransiskus, bukanlah bagai pulau-pulau yang menutup diri kita sendiri, tetapi kita adalah bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ini memiliki karakter sinodalitas: ada banyak karisma dan kita dipanggil untuk mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama untuk menemukannya dan untuk melakukan discernment terhadap apa Roh Kudus kehendaki demi kebaikan semua orang.

“Maka, pada momen historis saat ini, perjalanan bersama ini membawa kita menuju Tahun Yubileum 2025. Marilah kita berjalan sebagai peziarah harapan menuju Tahun Suci, sehingga dalam menemukan kembali panggilan kita masing-masing dan menghubungkan karunia-karunia Roh yang berbeda, kita dapat menjadi pembawa dan saksi-saksi impian Yesus di dunia: untuk membentuk satu keluarga, bersatu dalam cinta kasih Allah dan dipererat oleh ikatan cinta kasih, saling berbagi, dan persaudaraan,” ajaknya.

Secara khusus, tambahnya, hari ini didedikasikan, untuk berdoa memohon karunia panggilan suci dari Bapa untuk membangun Kerajaan-Nya: “Karena itu berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu,” sebutnya mengutip injil Lukas 10:2.

Ditambahkan, dan berdoa – kita tahu – lebih banyak terdiri dari mendengarkan daripada kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan. Tuhan berbicara ke dalam hati kita dan ingin agar hati kita terbuka, tulus dan murah hati. Firman-Nya telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus, yang menyatakan dan mengkomunikasikan kepada kita seluruh kehendak Bapa.

Pada tahun 2024 ini, yang didedikasikan secara khusus untuk doa dalam persiapan untuk Yubileum, sebutnya, kita dipanggil untuk menemukan kembali karunia yang tak ternilai untuk dapat berdialog dengan Tuhan, dari hati ke hati, dan dengan demikian menjadi peziarah pengharapan, karena “doa adalah kekuatan pertama dari pengharapan. Kamu berdoa dan pengharapan bertumbuh, bergerak maju. Menurut saya, doa membuka pintu pengharapan. Harapan itu ada di sana, tetapi dengan doa saya membuka pintu bagi pengharapan” (Katekese, 20 Mei 2020).

Menjadi pertanyaan, apa artinya menjadi peziarah ? Bagi Paus Fransiskus, orang yang berziarah pertama-tama berusaha untuk memiliki tujuan yang jelas, dan selalu membawanya di dalam hati dan pikirannya. Namun, pada saat yang sama, untuk mencapai tujuan itu, seseorang harus berkonsentrasi pada langkah saat ini, untuk menghidupinya ia harus ringan, melepaskan diri dari beban yang tidak perlu, membawa hal-hal yang penting dan berjuang setiap hari sehingga kelelahan, ketakutan, ketidakpastian dan kegelapan tidak menghalangi jalan yang ditempuh.

Dengan demikian, menjadi peziarah berarti mulai lagi setiap hari, selalu memulai lagi, menemukan kembali semangat dan kekuatan untuk menempuh berbagai tahap perjalanan yang, meskipun lelah dan sulit, selalu terbuka di hadapan kita cakrawala baru dan pandangan yang tak diketahui.

“Makna perziarahan kristiani adalah: kita berada dalam perjalanan untuk menemukan cinta Tuhan dan, pada saat yang sama, menemukan diri kita sendiri, melalui perjalanan batin tetapi selalu didorong oleh banyaknya relasi,” jelas Paus Fransiskus.

Jadi, kita  adalah peziarah karena dipanggil: dipanggil untuk mencintai Tuhan dan mencintai satu sama lain. Dengan demikian, perjalanan kita di bumi ini tidak pernah berakhir dengan kelelahan tanpa tujuan atau pengembaraan tanpa tujuan; sebaliknya, setiap hari, menanggapi panggilan kita, kita mencoba mengambil langkah-langkah yang mungkin menuju dunia baru, di mana kita hidup dalam kedamaian, keadilan, dan cinta.

“Kita adalah peziarah pengharapan karena kita cenderung menuju masa depan yang lebih baik dan berusaha untuk membangunnya di sepanjang jalan,” tegasnya.

Pada akhirnya, inilah tujuan dari setiap panggilan: untuk menjadi manusia yang penuh pengharapan. Sebagai individu dan sebagai komunitas, dalam berbagai karisma dan pelayanan, kita semua dipanggil untuk “memberikan tubuh dan hati” bagi harapan Injil di dunia yang ditandai dengan tantangan zaman: ancaman perang dunia ketiga yang semakin dekat, himpunan kaum migran yang melarikan diri dari tanah air mereka untuk mencari masa depan yang lebih baik, jumlah orang miskin yang terus bertambah, bahaya yang secara terus menerus membahayakan kesehatan planet kita.

Dan dari semua yang sudah disebutkan itu harus pula ditambahkan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi setiap hari dan yang, kadang-kadang, berisiko membuat kita menyerah atau kalah.

Maka, di masa-masa seperti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita umat Kristiani untuk mengembangkan sebuah pandangan yang holistik tentang pengharapan, agar kita dapat bekerja dengan baik, menanggapi panggilan yang dipercayakan kepada kita, demi melayani Kerajaan Allah, Kerajaan yang penuh dengan kasih, keadilan dan perdamaian.

Paulus, sebut Paus Fransiskus, meyakinkan kita bahwa pengharapan ini “tidak mengecewakan” (Roma 5:5), karena ini adalah janji yang telah Tuhan Yesus berikan kepada kita untuk selalu menyertai kita dan melibatkan kita dalam karya penebusan yang ingin Dia capai dalam hati setiap orang dan dalam “hati” ciptaan.

Pengharapan ini menemukan pusat pendorongnya dalam Kebangkitan Kristus, yang “mengandung kekuatan hidup yang telah menembus dunia. Di saat segala sesuatu tampak mati, tunas-tunas kebangkitan muncul dari mana-mana. Ini adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Memang benar bahwa sering kali tampaknya Allah tidak ada: kita melihat ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian dan kekejaman yang tidak berkurang.

Tetapi sama pastinya bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu mulai bersemi, yang cepat atau lambat akan menghasilkan buah” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 276). Sekali lagi Rasul Paulus menyatakan bahwa “dalam pengharapan” kita “telah diselamatkan” (Roma 8:24).

Penebusan yang dicapai dalam Paskah memberikan pengharapan, pengharapan yang pasti dan dapat diandalkan, yang dengannya kita dapat menghadapi tantangan-tantangan di masa kini.

Maka, menjadi peziarah pengharapan dan pembawa damai berarti mendasarkan keberadaan kita pada batu karang kebangkitan Kristus, dengan mengetahui bahwa setiap komitmen yang kita buat, dalam panggilan yang telah kita raih dan upayakan, tidak akan sia-sia. Meskipun ada kegagalan dan kemunduran, kebaikan yang kita tabur bertumbuh diam-diam dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari tujuan akhir: perjumpaan dengan Kristus dan sukacita hidup dalam persaudaraan satu sama lain untuk selama-lamanya.

Kita harus mengantisipasi panggilan terakhir ini setiap hari: hubungan kasih dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita dimulai dari sekarang untuk mewujudkan impian Allah, impian persatuan, perdamaian dan persaudaraan.

Janganlah ada seorang pun merasa tidak termasuk dari panggilan ini! Masing-masing kita, dengan cara kecil kita sendiri, dalam keadaan hidup kita sendiri dapat menjadi penabur pengharapan dan perdamaian, dengan bantuan Roh Kudus.

“Untuk semua ini saya katakan, sekali lagi, seperti pada Hari Orang Muda Sedunia di Lisabon: ‘Bangkitlah!’ Marilah kita bangun dari tidur, marilah kita keluar dari ketidakpedulian, marilah kita membuka jeruji penjara yang terkadang mengurung diri kita sendiri, sehingga kita masing-masing dapat menemukan panggilan kita di Gereja dan di dunia dan menjadi peziarah pengharapan dan pembangun perdamaian !” ajaknya.

Paus Fransiskus mengajak pula kepada kita agar sungguh tergerak untuk hidup dan berkomitmen terhadap kepedulian yang penuh kasih bagi orang-orang di sekitar kita dan lingkungan yang kita tinggali. “Saya ulangi, beranikanlah dirimu untuk terlibat !” sebutnya

Pastor Oreste Benzi, seorang rasul cinta kasih yang tak kenal lelah, yang selalu berpihak pada mereka yang paling kecil dan tak berdaya, tambahnya, selalu mengulangi bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, dan tidak ada seorang pun yang begitu kaya sehingga tidak perlu menerima sesuatu.

“Marilah kita bangkit dan bergerak sebagai peziarah pengharapan, sehingga, seperti yang dilakukan oleh Maria kepada Elizabeth, kita juga dapat membawa berita sukacita, membangkitkan kehidupan baru dan menjadi pembangun persaudaraan dan perdamaian,” ajak Paus Fransiskus. (lk)

Oleh :

RD Dismas Valens Salettia

Meimonews.com  – Di antara semua dosa besar, ada satu yang sering diabaikan, mungkin karena namanya yang seringkali tidak dapat dipahami oleh banyak orang yaitu tentang acedia.

Oleh karena itu, dalam daftar keburukan, istilah acedia seringkali diganti dengan istilah lain yang lebih umum digunakan yakni kelambanan atau kemalasan. Pada kenyataannya, kemalasan lebih merupakan akibat ketimbang sebab.

Kalau seseorang diam di tempat, lamban, acuh tak acuh, kita mengatakan bahwa ia malas. Namun, sebagaimana diajarkan oleh kebijaksanaan para bapa di padang gurun dahulu kala, sering kali akar dari kemalasan ini adalah acedia, yang dalam bahasa Yunani aslinya berarti tidak peduli.

Acedia adalah godaan yang sangat berbahaya dan tidak boleh dijadikan lelucon. Seolah-olah orang-orang yang menjadi korbannya dihancurkan oleh hasrat akan kematian : mereka merasa jijik pada segala hal; hubungan dengan Allah menjadi membosankan bagi mereka.

Bahkan perbuatan paling suci sekalipun, yang pada masa lalu menghangatkan hati mereka, kini tampak sama sekali tidak berguna bagi mereka. Seseorang mulai menyesali berlalunya waktu, dan masa muda yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Acedia/kemalasan adalah wujud keputusasaan spiritual yang membuat manusia tenggelam dalam kesedihan meratapi hidup tanpa harapan sehingga tidak lagi mau peduli pada dirinya dan pada keadaan sekitar.

Iman, yang tersiksa oleh ujian acedia, tidak kehilangan nilainya. Justru iman yang benar, iman yang sangat manusiawi, yang meskipun segala sesuatunya, meskipun kegelapan membutakannya, tetap percaya dengan rendah hati.

Iman itulah yang tetap ada di dalam hati, bagaikan bara api di bawah abu. Iman tersebut selalu ada. Dan jika salah satu dari kita menjadi korban kejahatan ini, atau godaan acedia, cobalah mencari ke dalam diri kita dan mengipasi bara api iman; begitulah cara kita terus maju. (Pastor Dismas adalah Anggota BKSAUA Minahasa dan Pastor Paroki St. Antonius De Padua Tataaran)

Meimonews.com – Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ) menggelar Kapitel Kedua di Panti Samadi Tomohon, 11-27/4/2024.

Sebanyak 31 suster yang terdiri dari delegasi ex-officio dan peserta yang dipilih dalam Kapitel Provinsi-provinsi (Jakarta, Makassar dan Manado) mengikuti kapitel yang mengusung tema Walking Together as Prophets of Hope at the Dawn.

Dalam kapitel ini, para peserta dibimbing oleh Sr. Brigid Lawlor, RGS dari Amerika. Sr. Brigid adalah Penasehat Paus untuk Religius.

Ada juga fasilitator Mrs. Maureen Jenkins dari Amerika. Beliau adalah seorang fasilitator internasional bidang Imaginal Training dan pernah memberi training di Telkomsel.

Kapitel dipimpin Dewan Pimpinan Umum yakni Sr. Theresia Supriyati (Pemimpin Kongregasi), Sr. Francinetti Manua, Sr. Jeannette Runtu dan Sr. Monika Kalangi (Anggota Dewan).

Pelaksanaan Kapitel diawali misa yang dipersembahkan Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC yang diadakan di Gereja Hati Kudus Tomohon. (lk)

Meimonews.com – Berbagai prestasi terus diukir siswa SMA Negeri 7 Manado pimpinan Dr. Hanny William Rawung, S.Fil, M.Hum di tahun 2024.

Terbaru, dalam Festival Pramuka (Fespra) yang digelar SMA Frater Don Bosco Manado, siswa lembaga pendidikan atas yang berlokasi Kelurahan Tingkulu Manado ini menjadi juara umum.

Juara umum dalam lomba yang diadakan, Sabtu (13/4/2024) karena siswa sekolah ini meraih tiga juara pertama lomba dan dua juara lomba.

Tiga juara pertama adalah Lomba Cerdas Cermat, Lomba Estafet Berita, dan Lomba Yel-yel sedang dua juara tiga adalah Lomba Estafet Berita dan Lomba Cerdas Cermat.

Peraih juara pertama Lomba Cerdas Cermat adalah Francisco Ezra, Christania Tiara Pratasik dan Syalom Angginaloy. Peraih juara pertama Lomba Estafet Berita adalah Juliandro Kalalo, Lukas Sadewa Mulyono dan Francisco Ezra. Peraih juara pertama Lomba Yel-yel ada 10 Anggota Ambalan.

Untuk dua juara ketiga adalah Lomba Estafet Berita terdiri dari Injilli Ndruru, Yolanda Diamanti dan Syalom Angginaloy dan juara Lomba Cerdas Cermat adalah Arshavin Lintang, Lukas Sadewa Mulyono, dan Claudia Mendalora.

Kepala SMA Negeri 7 Manado Dr. Hanny Wiliam Rawung, S.Fil, M.Hum

Siswa sekolah yang akrab disebut Smantu Manado ini bisa meraih prestasi yang membanggakan ini karena ada persiapan yang mantap yang dibina oleh Ketua Gugus Depan (Gudep) O4.015 04016 Purnawan Suwono, S.Pd, Pembina Putra Marives Agumais, S.Pd dan Pembina Putri Elsye Meiske Massie, S.Pd.

Di sekolah ini, setiap minggu sekali yakni hari Jumat, para siswa mengikuti kegiatan kepramukaan. Dan, saat menghadapi Festival Pramuka yang diselenggarakan SMA Frater Don Bosco Manado, mereka berlatih rutin setiap hari.

“Terima kasih kepada Ketua Gudep dan para pembina baik putra maupun putri serta para siswa yang telah mengharumkan nama sekolah di ajang tersebut,” ujar Kepala SMA Negeri 7 Manado Dr. Hanny William Rawung, S.Fil, M.Hum kepada Meimonews.com di Manado, Selasa (16/4/2024).(Fer)

Meimonews.com – Bacaan Injil hari Minggu (14/4/2024) menghantar kita kembali ke peristiwa malam sesudah Paskah. Para rasul berkumpul di Ruang Atas (Cenaculum, ruang makan), ketika kedua murid kembali dari Emaus dan menceritakan pertemuan mereka dengan Yesus.

Dan ketika mereka sedang mengungkapkan sukacita mereka atas pengalaman itu, Dia yang Bangkit menampakkan diri kepada seluruh komunitas. Yesus datang tepat ketika mereka sedang berbagi kisah perjumpaan mereka dengan-Nya.

“Peristiwa ini membuat saya berefleksi bahwa berbagi itu baik, berbagi iman itu penting. Kisah ini membuat kita berpikir tentang pentingnya berbagi iman akan Yesus yang telah bangkit,” ujar Paus Fransiskus dalam salah satu pokok permenungannya, sebagaimana dibagikannya sebelum Doa Regina Caeli, Minggu (14/4/2024).

Diungkapkan, setiap hari kita dibombardir oleh ribuan pesan. Banyak pesan yang dangkal dan tidak berguna, yang lain mengungkapkan rasa ingin tahu yang tidak bijaksana atau yang lebih buruk lagi, muncul dari gosip dan kedengkian. Pesan-pesan seperti itu adalah berita yang tidak ada gunanya, bahkan menyakitkan.

Namun, ada juga berita yang baik, positif dan membangun, dan kita semua tahu betapa senangnya mendengar hal-hal yang seperti itu, dan betapa kita merasa lebih baik lagi ketika hal itu terjadi. Dan juga adalah baik untuk berbagi kenyataan yang, baik atau buruk, telah menyentuh hidup kita, sehingga kita dapat membantu orang lain.

“Namun, ada satu hal yang sering kali sulit kita bicarakan. Kita bergumul untuk membicarakan tentang apa ? Tentang hal terindah yang harus kita bicarakan yakni perjumpaan kita dengan Yesus. Masing-masing dari kita, sanbungnya, telah berjumpa dengan Tuhan dan kita bergumul untuk membicarakannya,” sebutnya.

Masing-masing dari kita dapat berbicara banyak tentang hal ini yakni untuk melihat bagaimana Tuhan telah menyentuh kita, dan ini untuk dibagikan, bukan untuk menguliahi orang lain, tetapi dengan membagikan momen-momen unik di mana kita merasakan Tuhan hidup, dekat, menyalakan sukacita di dalam hati kita atau menghapus air mata, menularkan kepercayaan diri dan penghiburan, kekuatan dan semangat, atau pengampunan dan kelembutan.

Perjumpaan-perjumpaan seperti ini, yang masing-masing kita telah alami dengan Yesus, menurut Paus Fransiskus, harus dibagikan dan diteruskan. Hal ini penting untuk dilakukan di dalam keluarga, di dalam komunitas, dengan teman-teman.

Sama halnya dengan menceritakan inspirasi-inspirasi baik yang telah mengarahkan hidup kita, pikiran dan perasaan baik yang sangat membantu kita untuk maju, bahkan upaya dan usaha yang kita lakukan untuk memahami dan maju dalam kehidupan iman, bahkan mungkin untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan kita.

“Jika kita melakukan hal ini, Yesus, seperti yang dilakukan-Nya kepada murid-murid di Emaus pada malam sesudah Paskah, akan mengejutkan kita dan membuat perjumpaan dan lingkungan kita menjadi lebih indah,” tandasnya.

Jadi, marilah kita coba ingat kembali, saat-saat yang sangat berpengaruh dalam hidup kita, sebuah perjumpaan dengan Yesus yang menentukan jalan dan arah hidup kita. Setiap orang pernah mengalaminya, setiap orang pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

“Marilah kita hening sejenak dan ingat kapan saya menemukan Tuhan ? Kapan Tuhan menjadi dan terasa begitu dekat dengan saya ? Marilah kita bermenung dalam keheningan. Dan kisah perjumpaan dengan Tuhan ini, apakah saya bagikan untuk memuliakan Tuhan ? Dan juga, apakah saya juga mendengarkan orang lain ketika mereka bercerita tentang perjumpaannya dengan Yesus ?” ajak Paus Fransiskus.

Semoga Bunda Maria, sambungnya, membantu kita untuk membagikan iman kita untuk membuat komunitas kita semakin menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan. (*/lk)