Meimonews.com – Program Studi (Prodi) Kehutanan Fakultas Pertanian (Faperta) Unsrat berkolaborasi dengan Wikimedia Indonesia mengadakan WikiLatih Wikidata Kehutanan Unsrat.

Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa Prodi Kehutanan Faperta Unsrat ini diadakan di ruang sidang Fakultas Pertanian Unsrat Manado, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Koordinator Prodi Kehutanan Fabiola Saroinsong, Sekretaris Jurusan Budidaya Euis Pangemanan dan Wawan Nurmawan

Sebanyak 5 instruktur Wikimedia Indonesia menjadi pendamping kegiatan sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan teknologi informasi, keterbukaan data, dan kontribusi akademik menuju kampus yang unggul, inovatif, bermakna, dan berkelas internasional.

Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Dedie Tooy bersama Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Tineke Langi memandang kegiatan ini membuka peluang kolaborasi strategis di masa mendatang.

Kegiatan ini, menurut Tooy, menjadi langkah awal penguatan literasi digital, data terbuka, dan pengembangan pengetahuan berbasis Wikidata di lingkungan akademik kehutanan. (FA)

Meimonews.com – Guna memperkuat sinergi antaraperguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian dan inovasi, Fakultas Teknik (Fatek) Unsrat Manado dan Fakultas Teknologi Informatiika (FTI) Ciputra Surabaya mengadakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA).

Penandatanganan MoA dilakukan Dekan Fatek Unsrat Liany Amelia Hendrata dan Dekan FTI Ciiputra Surabaya di gedung rektorat Unsrat Manado, Kamis (21/5/2026). Turut hadir, Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie.

Rektor Unsrat dalam sambutannya menegasoan, kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Rektor berharap kerjasama ini dapat diwujudkan dalam berbagai program konkrit yang memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi, khususnya bagi mahasiswa dan dosen, serta pertukaran akademik, kolaborasi penelitian, pengembangan kompetensi, hingga penguatan implementasi Kampus Berdampak. (FA)

Meimonews.com – Jacobus Ronald Mawuntu, Sekretaris Senat Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Ketua Senat FH Unsrat Manado terpilih sebagai Dekan baru Fakultas Hukum (FH) Unsrat.

Keterpilihannya terjadi saat Sidang Senat Tertutup FH Unsrat dengan agenda pemilihan Dekan FH Unsrat masa bakti 2026-2030 yang dipimpin Plt Ketua Senat Donal Rumokoy di ruang rapat fakultas lantai 12, Kamis (21/5/2026).

Dari tiga calon yang maju dalam proses pemilihan dekan dengan jumlah suara 22 (dua puluh dua), Mawuntu meraih 15 (lima belas) suara, Flora Pricilla Kalalo 0 (nol) suara sementara Dani Robert Pinasang 7 (tujuh) suara.

Jacobus Ronald Mawuntu, Dekan terpilih Fakultas Hukum Unsrat masa bakti 2026-2030

Hadir pada proses pemilihan ini adalah para anggota senat fakultas dan Wakil Rektor 1 Unsrat Arthur Gelar Pinaria mewakili Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie sekaligus menggunakan hak suara 35 persen saat pemunggutan suara.

Sebelum proses pemilihan, ketiga calon memaparkan visi dan misi mereka ketika menjadi dekan, yang turut dihadiri Rektor Unsrat sekaligus Plt. Dekan FH Unsrat. (FA)

Meimonews.com – Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 di halaman kantor pusat Unima, Tondano, Rabu (20/5/2026).

Upacara yang diikuti pimpinan dan staf/pegawai kantor pusat dan fakultas-fakultas di lingkungan Unima ini dipimpin Rektor Unina Joseph Philip Kambey.

Di momen penting dan bersejarah ini, Rektor Unima membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI Meutya Viada Hafid.

Peringatan Harkitnas tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan, kolaborasi, serta inovasi dalam membangun pendidikan dan masa depan bangsa.

Semangat kebangkitan harus terus hidup di lingkungan kampus yakni melahirkan generasi yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi Indonesia.

Tema yang diangkat yakniJaga tunas bangsa demi kedaulatan negara iini, menurut Menkomdigi, sejalan dengan filosofi peringatan yang merepresentasikan semangat untuk bergerak maju bersama melalui perlindungan para tunas bangsa.

Tema ini juga menegaskan pentingnya kemandirian sebagai negara yang berdaulat.

Menkomdigi mengajak menjadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital dan memastikan setiap langkah pembangunan yang diambil senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama. (FA)

Meimonews.com – Semangat kebangkitan nasional terus digelorakan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Hal itu terlihat dengan adanya upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2026 yang dilaksanakan di kantor pusat Unsrat, Rabu (20/5/2026).

Upacara yang diikuti pimpnan, staf dan jajaran di lingkungan universitas yang memiliki visi Bersama menata Universitas Sam Ratulangi menjadi universitas unggul dan berbudaya ini dipimpin Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie.

Di momen bersejarah yang mengangkat tema Jaga tunas bangsa demi kedaulatan negara ini Rektor Unsrat membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Meutya Viada Hafid.

Tema ini, menurut Menteri, sejalan dengan filosofi peringatan tahun ini yang merepresentasikan semangat Ibu Pertiwi untuk bergerak maju bersama melalui perlindungan para tunas bangsa.

“Tema ini juga menegaskan pentingnya kemandirian sebagai negara yang berdaulat,” ujar Rektor membacakan sambutan Menteri.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, ungkap Menteri, visi kemandirian diwujudkan melalui berbagai program strategis nasional yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat, seperti Program Makan Bergisi Gratis telah berjalan secara masif di sekolah seluruh Indonesia.

Menteri mengajak kita menjadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital dan memastikan setiap langkah pembangunan yang diambil senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama. (FA)

Meimonews.com – Badan Tadzkir (BT) Fakultas Pertanian (FP) Unsrat Manado mengadakan BTFP Cup 2026 di GOR Unsrat dan Champion Bahu, Sabtu-Minggu (16-17/5/2026).

Ada 11 club futsal yang mengikuti kegiatan yang dilaksanakan panitia yang diketuai Innayah Nurani dengan pembina Uci S. Riani tersebut.

Kegiatan ini resmi dibuka Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Dedie Tooy yang ditandai dengan penendangan bola ke gawang dan ditutup Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Tineke M. Langi.

Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Dedie Tooy saat membuka kegiatan yang ditandai dengan penendangan bola

Kehadiran pimpinan fakultas yang memiliki visi Menjadi Fakultas Pertanian yang unggul, inovatif, bermakna, dan berkelas internasional ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan karakter, talenta, dan solidaritas mahasiswa.

BTFP Cup 2026 bukan sekadar kompetisi, tetapi momentum mempererat persaudaraan dan membangun jiwa unggul, sportif, serta berintegritas di lingkungan Fakultas Pertanian Unsrat.

Semangat sportivitas, kebersamaan, dan kekeluargaan mewarnai pelaksanaan BTFP Cup 2026.

Keluar sebagai juara 1 Tim A4W, juara 2 Tim BTFH sementara juara 3 Pasukan Daboy..(FA)

Meimonews.com – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Gunung Maria Tomohon melakukan langkah nyata dalam meningkatkan fasilitas pendidikan yang lebih modern dan mendukung pembelajaran berbasis praktik.

Hal itu terlihat ketika sekolah tinggi negeri swasta yang bernaung di bawah Yayasan Ratna Miriam ini melakukan peletakan batu pertama pembangunan Ruang Kuliah dan Laboratorium Keperawatan, Senin (8/5/2026).

Peletakan batu pertama di momen bersejarah ini diawali ibadah yang dipimpin Pastor Revi Rafael Hendrico Mario Tanod Pr (Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Kolongan Tomohon).

Hadir pada acara ini, Provinsial SJMJ Manado Sr. Margaretha Toliu SJMJ bersama Dewan Pimpinan Provinsi Manado serta sejumlah suster SJMJ, pimpinan Yayasan Ratna Miriam Sr. Maria Kobun SJMJ dan Sr. Rosaline Mukkun SJMJ.

Selain itu, Ketua Stikes Gunung Maria Tomohon Henny Pongantung bersama dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa dari 5 program studi.

Dengan adanya pembangunan ini diharapkan menjadi langkah awal yang penuh berkat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Stikes Gunung Maria Tomohon serta dapat menunjang kualitas lulusan yang profesional, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja.

Suster Toliu menegaskan, pembangunan ini menjadi tanda bahwa Stikes Gunung Maria terus bertumbuh dan berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan demi menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di masa kini dan masa depan.

“Ruang kelas dan laboratorium yang akan dibangun ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi tempat lahirnya proses pembelajaran, penelitian, keterampilan, dan pembentukan karakter para mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan yang profesional dan berjiwa melayani,” ujarnya ketika.memberikan sambutan pada acara tersebut,

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, sebutnya, kita disadarkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk hati dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam semangat Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 60 dengan tema Menjaga suara dan wajah nanusia, kita diingatkan untuk menghadirkan dunia pendidikan yang menghargai martabat manusia, mendengarkan suara-suara yang membutuhkan perhatian, dan menghadirkan pelayanan yang penuh empati, belas kasih, dan kemanusiaan.

“Karena itu, harapan kita, melalui ruang-ruang pembelajaran dan laboratorium ini, Stikes Gunung Maria semakin mampu membentuk generasi tenaga kesehatan yang bukan hanya cakap dalam ilmu dan keterampilan, tetapi juga memiliki hati yang peka, mampu menjaga suara kemanusiaan, dan merawat wajah sesama dengan kasih dan pengabdian,” ujarnya.

Suster Tolou berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pembangunan ini: para pimpinan, Yayasan Ratna Miriam, tenaga pendidik, benefaktor/benefaktris, pemerintah, mahasiswa, dan seluruh sahabat dan mitra karya. Semoga kebersamaan dan semangat pelayanan yang kita bangun hari ini menjadi berkat bagi banyak orang.

Kiranya Tuhan, tambahnya, memberkati pembangunan ini, melindungi semua yang terlibat dalam prosesnya, dan menjadikan tempat ini sebagai ruang tumbuhnya ilmu pengetahuan, integritas, belas kasih, dan harapan bagi masa depan. (FA)

Meimonews.com – Suasana penuh keakraban terlihat di Lapangan Tenis Kompleks Wisma Negara Bumi Beringin Manado, Sabtu (16/5/2026) malam.

Gubernur Sulut Mayjen TNI Purn. Yulius Selvanus hadir langsung untuk berolahraga dan bermain tenis bersama Rektor Unsrat Oktovian Beety Alexanser Sompie serta beberapa dosen dan civitas akademika.

Kegiatan olahraga bersama ini bukan sekadar ajang menjaga kebugaran, melainkan juga menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi antara Pemerintah Provinsi Sulut dan kalangan akademis.

Mengenakan pakaian olahraga Gubernur dan Rektor tampak kompak saat turun ke lapangan. Pertandingan berlangsung seru namun penuh tawa, memperlihatkan sisi humanis dan kedekatan antarpemimpin tersebut dengan para dosen Kampus Tumou Tou.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unsrat menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan Gubernur untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk bermain tenis bersama.

“Ini adalah kehormatan besar bagi kami. Olahraga bersama ini menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif, mencairkan sekat, dan membangun kemitraan yang lebih solid antara pihak kampus dan pemerintah daerah,” ujar Rektor.

Gubernur Sulut menekankan pentingnya kolaborasi sektor pendidikan dalam mendukung pembangunan di Sulawesi Utara. Menurutnya, pemikiran-pemikiran segar dari para dosen dan peneliti di Unsrat sangat dibutuhkan oleh pemerintah. (FA)

Meimonews.com – Pada Minggu Paskah VII, umat Katolik sedunia memperingati Hari Komunikasi (Komsos) Sedunia, yang pada tahun ini memasuki peringatan yang ke-60.

Berkaitan dengan momen ini, Paus Leo XIV, Pemimpin Katolik Sedunia mengeluarkan pesannya dengan tema Menjaga suara dan wajah manusia. Pesan ini dikeluarkan Paus Leo XIV pada peringatan Santo Fransisiskus de Sales, Sabtu (24/1/2026) waktu Vatikan.

Berikut pesan selengkapnya, hasil terjemahan Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) seperti dikutip Meimonews.com,

Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya, mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti “wajah,” yaitu sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan terjadinya hubungan.

Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare) juga mengandung makna suara, bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik seseorang.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk hidup melalui Sabda-Nya.

Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan.

Sabda Allah—cara Allah menyatakan diri-Nya—dapat kita dengar dan lihat secara nyata (lih. 1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra Allah.

Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti dikatakan Santo Gregorius dari Nisa, Allah meninggalkan pantulan kasih-Nya pada wajah manusia agar manusia dapat hidup sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih.

Karena itu, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus. Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama.

Jika wajah dan suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja.

Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut
kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan antarpribadi.

Karena itu, tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Menjaga wajah dan suara berarti
menjaga martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang menyertainya.

Jangan Berhenti Berpikir Sendiri
Sudah lama ada banyak bukti bahwa algoritma media sosial—yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna demi keuntungan platform—lebih mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sementara justru menghambat ungkapan manusia yang membutuhkan waktu, seperti usaha untuk memahami dan merenung.

Dengan mengurung kelompok-kelompok orang dalam “gelembung” persetujuan instan dan kemarahan yang mudah, algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat.

Situasi ini diperparah oleh sikap mempercayai kecerdasan buatan secara naif dan tanpa sikap kritis, seolah-olah ia adalah “teman” yang mahatahu, penyedia semua informasi, penyimpan seluruh ingatan, dan “peramal” segala nasihat.

Semua ini berisiko semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir secara analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara struktur bahasa dan arti yang sesungguhnya.

Walaupun kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi, menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi kita.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks, musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih.

Sementara itu, karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.

Namun, persoalan utama bukanlah apa yang dapat atau akan dapat dilakukan oleh
mesin, melainkan apa yang dapat dan akan dapat kita lakukan sebagai manusia –bertumbuh dalam kemanusiaan dan pengetahuan—dengan menggunakan secara bijaksana alat-alat yang sangat kuat ini.

Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk mengambil buah pengetahuan tanpa usaha keterlibatan, pencarian, dan tanggung jawab pribadi. Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Menjadi atau Berpura-pura : Simulasi Relasi dan Realitas
Saat kita terus menggulir arus informasi (feed), semakin sulit untuk mengetahui apakah kita sedang berinteraksi dengan manusia lain atau dengan “bot” dan “influencer virtual”.

Campur tangan agen otomatis ini, yang sering kali tidak transparan, mempengaruhi perdebatan publik dan pilihan-pilihan pribadi. Terutama chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) terbukti sangat efektif dalam persuasi tersembunyi melalui interaksi yang terus dioptimalkan secara personal.

Struktur dialog yang adaptif dan meniru manusia dari model bahasa ini mampu menirukan perasaan manusia dan dengan demikian mensimulasikan suatu relasi.

Antropomorfisasi ini—yang kadang tampak menghibur—sebenarnya menyesatkan, terutama bagi orang-orang yang rentan. Chatbot yang dibuat terlalu “penuh perhatian”, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi.

Teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi tidak hanya dapat
membawa dampak menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengklasifikasikan pikiran kita dan membangun di sekitar kita dunia cermin, di mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita sendiri”.

Dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda dari kita—padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah kita belajar berdialog. Tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati maupun persahabatan.

Tantangan besar lainnya adalah masalah distorsi atau bias, yang menyebabkan terbentuk dan tersebarnya pemahaman realitas yang keliru.

Model kecerdasan buatan dibentuk oleh pandangan dunia para pembuatnya dan dapat memaksakan cara berpikir tertentu dengan meniru stereotip dan prasangka yang ada dalam data pelatihannya.

Kurangnya transparansi dalam perancangan algoritma, ditambah dengan representasi sosial data yang tidak memadai, berisiko menjebak kita dalam jaringan yang memanipulasi pikiran serta melanggengkan dan memperdalam ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang sudah ada.

Risikonya sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan mengambil alih wajah dan suara kita. Kita hidup dalam dunia yang semakin berlapis, di mana membedakan antara kenyataan dan rekayasa menjadi makin sulit.

Masalah lain yang menyertai adalah kurangnya ketepatan. Sistem yang menyajikan probabilitas statistik seolah-olah itu pengetahuan sejati sebenarnya hanya memberikan perkiraan kebenaran, yang kadang berubah menjadi “halusinasi”.

Ketika verifikasi sumber diabaikan—ditambah krisis jurnalisme lapangan yang menuntut kerja langsung untuk mengumpulkan dan memeriksa fakta di tempat kejadian—maka ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat.

Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan
Di balik kekuatan besar yang tak terlihat ini—yang memengaruhi kita semua— sebenarnya hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya, baru-baru ini bahkan dipuji sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan.

Situasi ini menimbulkan kekuawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak (oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat manusia—termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.

Tantangan kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dengan bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda.

Setiap orang dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman. Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama : tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang kita bangun bersama.

Bagi para pemimpin platform digital, tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka tidak hanya didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh kepedulian terhadap kesejahteraan bersama—sebagaimana mereka peduli pada masa depan anak-anak mereka sendiri.

Para perancang dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap transparan dan bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan dan sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.

Tanggung jawab yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat manusia.

Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang berlebihan dengan chatbot, serta membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, sehingga integritas informasi tetap terjaga.

Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya mengejar perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi, bukan sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya.

Konten yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang jelas dan dibedakan dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya para jurnalis serta kreator konten harus dilindungi. Informasi adalah milik publik.

Pelayanan publik yang bermakna dan membangun harus berlandaskan keterbukaan sumber, pelibatan pihak terkait, dan standar kualitas yang tinggi.

Kita semua juga dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama.

Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting : meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik
pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan.

Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil.

Sebagai umat Katolik, kita dapat dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk tidak memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat.

Literasi ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan buatan—yang bisa saja keliru—melindungi privasi dan data pribadi, serta memahami pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan.

Penting untuk belajar menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk penipuan digital, perundungan siber, atau deepfake yang melanggar privasi dan martabat manusia.

Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar manusia mampu beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital— bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam kecerdasan buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi kita, serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.

Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.

Dengan menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi. (*/leka)