Meimonews.com – Tanggal 8 Juli 2017 menjadi tanggal bersejarah bagi Keuskupan Manado. Pada tanggal tersebut, Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC ditahbiskan menjadi Uskup Manado menggantikan Mgr. Yos Suwatan MSC.

Dalam kaitannya dengan lima tahun kegembalaan/kepemimpinannya (2022), dipastikan telah ada hal mendasar dan penting yang dilakukan gembala kelahiran Lembean, 4 Januari 1957 itu.

Di awal kegembalaannya, Mgr. Rolly (sapaan akrabnya) telah melakukan beberapa hal dan melanjutkan apa yang sudah dibuat uskup-uskup sebelumnya yakni Mgr. Josef Suwatan MSC, Mgr. Theodorus Hubertia Antonius Jakobus Moors MSC,  Mgr. Verhoeven dan saat masih menjadi Prefek/Vikaris oleh Pastor Panis, Pastor Vester dan lain membentuk pelayanan lokal dari sebelumnya dari Surabaya, Batavia yang membangun center for excellent.

“Saya melanjutkan apa yang telah dibuat dengan membangun persekutuan terutama ketika menemukan dalam FGD (Forum Group Discustions) seperti kebutuhan umat akan katekese, kebutuhan akan pemahaman iman,”  ujarnya kepada Meimonews.com di Manado, baru-baru.

Hal tersebut dilakukan agar umat tahu dan paham apa itu ajaran iman dan perlu ditingkatkan lagi dengan perkembangan-perkembangan yang ada, umat semakin banyak, hidup dalam heterogenitas dengan masyarakat lainnya, kebutuhan akan pemahaman iman Katolik semakin perlu bukan untuk menjadi kelompok eksklusif tapi supaya menyadari imannya dan agar menjadi garam dan terang bagi orang lain.

Kemudian, bagaimana memberdayakan kekuatan umat dalam memberdayakan ‘harta benda gereja.’  Itu merupakan sarana membangun.

“Itu awal-awal yang dilakukan. Mengadakan Sinode, Jalan Bersama Umat untuk mengadakan refleksi apa yang sudah terjadi, lalu ke depan kita mengharapkan apa setelah ini. Lalu, input-input dari lapangan termasuk dari para ahli, diadakan Sinode Keuskupan Manado,” paparnya.

Baru satu tahun memegang ‘tongkat kegembalaan’, mantan Provinsial MSC Indonesia ini mendengar dan memulai dengan Sinode untuk melihat apa yang akan dilakukan ke depan. Di awal kegembalaannya, Mgr. Rolly membuat suatu sistem. Membangun gereja dengan suatu sistem.

Berkaiitan dengan tantangan ke depan, Mgr. Rolly menegaskan, dengan umat yang tersebar  di wilayah yang luas, ada yang di pulau-pulau, tantangannya adalah bagaimana membangun suatu persekutuan, termasuk yang ada di pulau-pulau kecil, seperti yang ada di Talaud, yang dianggap pinggiran/terluar (berbatasan dengan negara lain) di mana kita menanamkan rasa persatuan, sebagai sahabat dan bagaimana mengajak mereka berpikir besar walau kecil di sini, hanya satu keluarga di satu kampung atau dua-tiga keluarga di satu stasi tapi berbuat yang besar.

Tantangan karena daerah luas, Mgr. Rolly suka hadir di mana-mana. Semua paroki (74 paroki) sudah dikunjungi. Ia bercita-cita, lima tahun ini semua stasi sudah dikunjungi namun terkendala dengan Pandemi Covid-19 sekitar dua tahun, sehingga terhenti. Dari 470 stasi, sudah 351 yang dikunjungi.

Jadi itu tantangannya. Daerah yang luas tapi bagaimana menjaga kesatuan itu dengan kehadiran berupa kunjungan ke paroki-paroki atau stasi-stasi. Tapi yang mau ditekankan bahwa kehadiran itu bukan hanya uskup tapi, terutama, kehadiran para pastor/imam di tengah-tengah umat. “Laut dan medan yang sulit tidak boleh jadi alasan sehingga umat tidak dikunjungi,” tegasnya.

Menyinggung hal yang sudah dicapai dalam 5 tahun kegembalaan, Mgr. Rolly menjelaskan, hal pertamanya adalah lewat Sinode yang sudah dibuat, setelah satu tahun (menjadi Uskup) khan suatu langkah yakni Jalan Bersama Umat dan sudah disosialisasikan dan diimplementasikan.

Diagendakan turun ke lapangan lewat kegiatan yang disebut monitoring. Akan dilihat apa yang sudah dikerjakan. Ia menemukan, sebagian sudah jalan, dan karena ini hal baru sehingga masih dalam penyusunan-penyusunan.

Tapi, minimal orang mulai melihat bahwa ini yang harus dikoreksi/diperbaiki. Ini kita punya ideal ke depan, yang disesuaikan dengan visi, misi dan renstra, pola bersama yang mau dilaksanakan di paroki, stasi, wilayah rohani, kelompok kategorial , dan lain-lain. Itu sudah jalan, tinggal melihat. Tahun depan, ada evaluasi untuk lima tahun berikut.

Disebutkan, karena masih hal baru, tentu ada tantangan-tantangannya, membutuhkan waktu. Tantangannya, itu torang harus turun ke daerah-daerah atau wilayah-wilayah yang cukuo luas.

Terkait dengan hubungan dengan umat beragama lain, diungkapkan, sudah berjalan dengan baik. Sudah terjadi di mana-mana. Selain lewat center-center (pusat-pusat) pendidikan di mana persekolahan-persekolahan Katolik menerima murid-murid bukan hanya Katolik tapi beragama lain maka hubungan itu sudah terjalin dengan baik.

Selain itu, saat berkunjung ke paroki-paroki atau stasi terlihat hubungan antarumat beragama terjalin dengan baik. “Saya melihat umat Katolik dekat dengan umat beragama lain. Saya bahkan terharu, terperangah, ada di suatu stasi yang hanya ada beberapa umat Katolik sudah ada gereja, yang pembangunannya ada keterlibatan umat beragama lain,” sebut Mgr. Rolly.

Begitu pun, kalau ada kegiatan-kegiatan gereja, terlihat ada umat beragama lain yang ikut membantu. Begitu sebaliknya, umat Katolik membantu, ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan umat beragama lain.

Kalau ada iven-iven keagamaan, umat beragama lain berpartisipasi seperti menjaga gereja/tempat-tempat ibadah.Begitu juga sebaliknya umat Katolik seperti yang tergabung dalam LC (Legio Christi) turut berpartisipasi menjaga gereja/tempat-tenpat ibadah saat umat beragama lain merayakan iven keagamaan mereka. (af)

Meimonews.com – Gubernur Sulut Olly Dondokambey menegaskan, ungkapan syukur merupakan bentuk aktualisasi nyata dari rasa terima kasih atas segala berkat dan anugerah yang senantiasa dilimpahkan Tuhan kepada setiap pribadi manusia.

“Di mana di dalamnya terkandung nilai pembangunan iman yang sangat kental dikarenakan terkait dengan hubungan antara manusia dan Tuhan sebagai Pencipta langit dan bumi dan segala isinya,” sebut Gubernur dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Bapenda Sulut Olvie Atteng pada Perayaan Puncak Yubileum 150 Tahun Berdirinya DSY di Dunia, Selasa (21/6/2022).

Sehingga, lanjut Gubernur, suatu ungkapan syukur kemudian harus diaktualisasikan dengan cara dan konteks yang berkenan di hadapan Tuhan agar mampu memantapkan kualitas iman.

Rangkaian acara ini, menurut Gubernur, diimani sebagai wujud pengakuan iman atas kuasa dan kasih Tuhan yang telah menuntun, menyertai dan memberkati umat Katolik di manapun berada.

“Secara khusus , merupakan suatu bentuk syukur atas segala karunia, kekuatan dan keteguhan iman yang diberikan Tuhan kepada Kongregasi Suster-suster DSY Manado dalam memberikan karya serta pelayanan kepada umat, sebagaimana mestinya.

Pemimpin Umum Kongregasi DSY Manado Sr. Chatrina Tandayu dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas karya agung Tuhan serta kemurahan kasihNya yang sudah menyertai Kongregasi sampai saat ini yakni usia 150 tahun.

“Kongregasi DSY bangga pada Bapak Savelberg (Petrus Yoseph Savelberg -Red) yang telah mendirikan kongregasi di bumi ini sampai di bumi Indonesia,” ujar Suster Christina seraya menambahkan, bapak Saverberg mendirikan kongregasi karena keprihatinan dan karena cintanya dan kepeduliannya kepada orang kecil, miskin, cacat, yang sakit.

Turut memberikan sambutan pada acara yang turut dimeriahkan sejumlah atraksi termasuk koor suster-suster DSY (Dina Santu Yoseph) adalah Mgr. Mandagi dan Mgr.Lega.

Puncak peringatan kegiatan yang panitianya diketuai Sr. Yohana Taroreh diwarnai misa dan perayaan syukur.

Misa dipersembahkan Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC di dampingi Uskup Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, Uskup Sorong/Manokwari Mgr. Datus Lega Pr dan Pastor Paroki St. Yohanes dan Kornelius Lotta Pastor Rhein Saneba Pr yang diadakan di Gereja Paroki St. Yohanes dan Kornelius Lotta. Kotbah oleh Mgr. Mandagi.

Selain itu, ada 40-an imam baik diosesan maupun Tarekat Religius baik yang ada di Keuskupan Manado maupun keuskupan lain di mana ada pelayanan dari suster-suster DSY ikut dalam misa serta tak kurang dari 50-an suster DSY perwakilan komunitas.

Sejumlah undangan turut hadir dalam misa yang dirangkaikan dengan penerimaan busana biara 3 postulan dan kaul pertama 2 novis serta 25 tahun dan 40 tahun hidup membiara 4 suster dan  3 suster, di antaranya Kepala Bapenda Sulut Olvie Atteng mewakili Gubernur Sulut Olly Dondokambey, frater, bruder, suster dari beberapa kongregasi yang ada.

Tiga suster yang menerima busana adalah Sr. Patrisia Koke, Sr. Hendrieta Ngilamela dan Sr. Alberta Abaulu. Dua suster kaul pertama adalah Sr. Inviolata Batmanlusi dan Sr. Mikaela Tiwi. Empat suster yang 25 tahun hidup membiara adalah Sr. Alfonsa Batfin, Sr. Alwina Larinti, Sr. Juliva Motulo dan Sr. Petronela Korompis sedang yang 40 tahun membiara adalah Sr. Bertilla Bille, Sr. Christina Tandayu dan Sr. Mathilda Lamongi.

Usai misa, acara dilanjutkan dengan Perayaan Syukur di Aula Rumah Retret Sta. Clara Lotta (samping gereja paroki) yang ditandai seremoni acara syukur, pemotongan kue ulang tahun oleh suster-suster yang merayakan 25 tahun dan 40 tahun hidup membiara di dampingi Dewan Pimpinan Umum DSY Manado, dan penyerahan kue dari beberapa suster kepada antara lain ketiga uskup dan Kepala Bapenda Sulut, serta makan bersama. (af)

Meimonews.com – Memperingati 60 Tahun Hidup Membiara Mgr. Josephus ‘Yos’ Suwatan MSC, Komunitas MSC Wilayah Sulawesi dan Kalimantan Timur (Sulkaltim) menggelar Misa Syukur di Kapel Biara MSC Paal 3 Karombasan Manado, Selasa (31/5/2022).

Mgr.Yos memimpin misa di dampingi Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dan Superior Daerah (Supda) MSC Sulkaltim Pastor Herry Purasa MSC.

Usai misa, acara syukuran dilanjutkan dengan pemasangan lilin, pemotongan kue dan penyerahan kue dari Mgr. Yos kepada Mgr. Rolly, Pastor Tinggogoy MSC dan Pastor Agus Sumaraw Pr,  penyuapan kue dari Supda MSC Sulkaltim Pastor Herry Purasa kepada Mgr. Yos dan makan bersama di samping biara (didirikan tenda). Di sela acara, Mgr. Rolly didaulat Pastor Igo MSC untuk meminta menyanyikan lagu Ave Maria guna menghibur dan menyemarakkan acara.

Sejumlah pastor, frater, bruder, suster dan undangan terbatas menghadiri acara syukuran Mgr. Yos, Uskup Emeritus Manado tersebut dengan tetap mengikuti prokes yang ada.

Walaupun sudah berunur lansia (82 tahun),  namun biarawan kelahiran Tegal, 10 April ini masih kuat berdiri dan memimpin langsung misa termasuk memberikan kotbah.

Baik Mgr. Rolly, Pastor Herry, sejumah pastor lain, frater, bruder, suster maupun umat yang menghadiri perayaan syukur ini terlihat dan bersyukur karena Mgr. Yos masih diberi kekuatan dan memimpin langsung misa syukur 60 tahun mantan Uskup Manado dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini.

Mgr. Yos berterima kasih karena bisa merayakan ulang tahun hidup membiaranya yang ke-60 tahun. Banyak sukaduka dialaminya mulai dari ketertarikannya untuk masuk seminari dan komunitas MSC.

Mantan Mahasiswa Fakultas Kedokteran ini tak menyangka bisa menjadi seorang imam, biarawan bahkan bisa menduduki jabatan pelayanan seperti Provinsial MSC Indonesia, Uskup Manado dan bahkan Ketua KWI tersebut.

Mgr. Rolly mengapresiasi perjalanan pengabdian, panggilan Mgr. Yos mulai dari saat menjadi seorang biarawan, seorang imam, bahkan sampai menduduki jabatan penting seperti Uskup Manado bahkan Ketua KWI.

“Mgr. Yos telah mengabdikan diri lewat komunitas (MSC), hidup bersama, lewat hidup doa, sebagai lansia dan sedang menerjemahkan sebuah buku dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, untuk menunjukkan aktivitasnya  sebagai anak (Bunda) Maria. Ini menunjukkan semangatnya tetap ada,” ujar Mgr. Rolly.

Provinsial MSC Indonesia Pastor Samuel Maranresy dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asistem 3 Bruder Yanny Wati mengakui peran cukup beaar dari Mgr. Yos dalam karya pelayanannya termasuk untuk komunitas MSC.

Satu hal yang istimewa dalam diri Mgr. Yos Suwatan adalah kesetiaan beliau dalam komunitas.  Bukan hanya komunitas dunia nyata tapi juga dunia maya. Di era teknologi internet, beliau  juga tetap eksis dalam WA Group MSC Indonesia.

“Mgr. Yos selalu hadir dengan sapaan-sapaan beliau dan postingan-postingan yang memancing diskusi para konfrater. Misal yang terakhir adalah mengingatkan Hari Lanjut Usia Nasional (29 Mei),” sebut Pastor Samuel. (lk)