Meimonews.com – Menyusul adanya informasi resmi dari Vatikan tentang kematian Paus Fransiskus (Pemimpin Gereja Katolik Dunia), Keuskupan Manado  mengeluarkan pemberitahuan Masa Berkabung

Dalam surat nomor : 14/S/SE/IV/2025 tertanggal 22 April 2025 yang dirandatangani Sekretaris Keuskupan Manado Pastor Laurentius Paulus Pitoy MSC disebutkan, sesuai tradisi gereja maka bersama umat Katolik sedunia, umat Katolik Keuskupan Manado berkabung selama sembilan hari (novemdiales).

“Selama masa berkabung, ada beberapa hal yang akan dibuat,” sebut pemberitahuan tersebut seraya merincikan hal-hal yang akan dibuat.yakni foto/gambar Paus Fransiskus dalam bingkai diketakkan di depan altar dan di luar gereja dapat dibuat baliho foto/gambar Paus serta ucapan dukacita; serta memasang bendera Vatikan setengah tiang di depan gereja.

Depan Gereja Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado

Masing-masing paroki dapat menentukan satu hari untuk mengadakan misa requiem sedangkan sebagai umat Katolik se-Keuskupan Manado akan dirayakan misa requiem yang dipimpin Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC pada Jumat (25/4/2025) jam 18.00 -selesai di gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado.

Depen Gereja Paroki St. Josep Pelindung Pekerja Manado

Terkait dengan doa-doa dan kegiatan liturgis seperti misa, disebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan, yakni, penyebutan nama Paus Fransiskus dalam doa syukur agung ditiadakan. Pada bagian doa syukur agung di mana didoakan orang-orang yang sudah meninggal, dapat disebutkan nama Paus Fransiskus.

Misa Requiem Paus Fransiskus di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan yang dipimpin Pastor Herry Purasa MSC, Selasa (22/4/2025) malam

Untuk bacaan misa, karena dalam Oktaf Paskah, diambil dari bacaan Oktaf Paskah. Sedangkan rumusan doa-doa diambil dari buku Rosale Rumanum, buku Misa Orang Mati untuk Paus.

Selain itu, warna liturgi dapat dipilih warna ungu, putih atau hitam, tapi karena kita ada dalam Oktaf Paskah maka kiranya lebih tepat adalah warna putih. (elka)

Meimonews.com – Pada Hari Raya Natal Tuhan Kita Yesus Kristus (25 Desember 2024), dari Balkon Utama Basilika Vatikan, Paus Fransiskus, sebelum memberikan Berkat Urbi et Orbi untuk kota Roma dan untuk dunia, menyampaikan Pesan Natal tradisional kepada umat beriman yang hadir di Lapangan Santo Petrus dan mereka yang mendengarkannya melalui radio, televisi, dan pelbagai media komunikasi lainnya.

Berikut ini Pesan Bapa Suci untuk Natal 2024, yang diterjemahkan dari teks bahasa Latin.

Saudari-saudari yang terkasih, Selamat Natal  !

Malam ini misteri yang tidak pernah berhenti membuat kita takjub dan terharu, telah diperbaharui: Perawan Maria melahirkan Yesus, Putera Allah, membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya di palungan. Demikianlah para gembala di Betlehem menemukan-Nya, penuh sukacita, sementara para malaikat bernyanyi: “Kemuliaan bagi Allah dan damai sejahtera bagi manusia” (bdk. Luk 2:6-14). Damai sejahtera bagi manusia.

Ya, peristiwa yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu ini, diperbaharui oleh Roh Kudus, Roh Kasih dan Hidup yang sama yang telah membuat rahim Maria mengandung dan dari dagingnya yang menjadi manusia, membentuk Yesus. Maka hari ini, dalam kesusahan zaman kita, Sabda keselamatan yang kekal sekali lagi dan sungguh-sungguh berinkarnasi, yang berkata kepada setiap orang, pria dan wanita, yang berkata kepada seluruh dunia – inilah pesannya -: “Aku mengasihi engkau, Aku mengampuni engkau, kembalilah kepada-Ku, pintu hati-Ku terbuka bagimu!”

Saudara-saudari, pintu hati Allah selalu terbuka, marilah kita kembali kepada-Nya! Marilah kita kembali kepada hati yang mengasihi kita dan mengampuni kita! Marilah kita memberi diri untuk diampuni oleh-Nya, marilah kita diperdamaikan dengan-Nya! Tuhan selalu mengampuni! Tuhan mengampuni segala sesuatu. Marilah kita membiarkan diri kita diampuni oleh-Nya..

Inilah makna Pintu Suci Yubileum, yang saya buka di sini di Santo Petrus tadi malam, yaitu melambangkan Yesus, Pintu keselamatan yang terbuka bagi semua orang. Yesus adalah Pintu; Dia adalah Pintu yang telah dibuka oleh Bapa yang penuh belas kasihan di tengah-tengah dunia, di tengah-tengah sejarah, sehingga kita semua dapat kembali kepada-Nya. Kita semua seperti domba yang hilang dan kita membutuhkan Gembala dan Pintu untuk kembali ke rumah Bapa. Yesuslah Gembala, Yesuslah Pintu itu.

Saudara-saudari, janganlah takut! Pintu itu terbuka, Pintu itu terbuka lebar! Tidak perlu mengetuk pintu. Pintunya terbuka. Masuklah! Marilah kita diperdamaikan dengan Allah, dan kemudian kita akan diperdamaikan dengan diri kita sendiri dan mampu berdamai satu sama lain, bahkan dengan musuh-musuh kita. Belas kasihan Allah dapat melakukan segalanya, melonggarkan setiap ikatan, meruntuhkan setiap tembok perpecahan, belas kasihan Allah melarutkan kebencian dan semangat balas dendam. Datanglah! Yesuslah Pintu Damai.

Seringkali kita hanya berhenti di ambang pintu; kita tidak memiliki keberanian untuk melewatinya, karena kita memperdebatkannya. Memasuki pintu itu membutuhkan pengorbanan untuk melangkah – pengorbanan kecil; melangkah untuk sesuatu yang begitu besar – hal itu membutuhkan kerelaan untuk meninggalkan perselisihan dan perpecahan, untuk berserah diri pada tangan terbuka Anak yang adalah Raja Damai. Pada Natal ini, awal Tahun Yubileum, saya mengundang setiap orang, setiap orang dan bangsa untuk memiliki keberanian melangkah melalui Pintu, untuk menjadi peziarah harapan, untuk membungkam senjata dan mengatasi perpecahan!

Hentikanlah bunyi senjata-senjata di Ukraina yang menderita! Biarlah ada keberanian untuk membuka pintu negosiasi dan gerakan dialog dan perjumpaan, untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi.

Hentikanlah bunyi senjata-senjata di Timur Tengah! Dengan mata yang tertuju ke tempat lahirNya di Betlehem, saya teringat akan komunitas Kristen di Palestina dan Israel, dan khususnya kepada komunitas yang terkasih di Gaza, di mana terdapat situasi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Hendaknya dilakukan gencatan senjata, pembebasan para sandera dan bantuan kepada penduduk yang kelelahan karena kelaparan dan perang. Hati saya merasa dekat dengan komunitas Kristen di Lebanon, khususnya di selatan, dan komunitas Kristen di Suriah, pada saat-saat yang sangat sulit ini. Biarlah pintu-pintu dialog dan perdamaian dibuka di seluruh wilayah yang tercabik-cabik oleh konflik. Dan dari sini saya juga ingat akan rakyat Libya, dan mendorong mereka untuk mencari jalan keluar yang memungkinkan terjadinya rekonsiliasi nasional.

Semoga kelahiran Juruselamat membawa harapan bagi ribuan keluarga ribuan dari anak yang sekarat akibat wabah campak di Republik Demokratik Kongo, serta bagi masyarakat di bagian timur negara itu dan mereka yang berada di Burkina Faso, Mali, Nigeria, dan Mozambik. Krisis kemanusiaan yang menimpa mereka terutama disebabkan oleh konflik bersenjata dan momok terorisme, dan diperparah oleh dampak perubahan iklim yang menghancurkan, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan migrasi jutaan orang. Saya juga ingat akan orang-orang di negara-negara Semenajung Afrika yang untuk mereka semua saya berdoa dan memohon karunia perdamaian, kerukunan dan persaudaraan. Semoga Sang Putra Yang Mahatinggi mendukung upaya-upaya komunitas internasional dalam memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil Sudan dan dalam memulaikan pelbagai bentuk negosiasi baru untuk tercapainya gencatan senjata.

Semoga pewartaan Natal membawa penghiburan bagi penduduk Myanmar, yang karena bentrokan bersenjata yang terus menerus, menderita penderitaan yang luar biasa dan terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Semoga Kanak-kanak Yesus mengilhami para pemimpin politik dan semua orang yang berkehendak baik di benua Amerika, sehingga solusi yang efektif dalam kebenaran dan keadilan dapat ditemukan sesegera mungkin, untuk memajukan keharmonisan sosial, terutama di Haiti, Venezuela, Kolombia, dan Nikaragua, dan bahwa upaya-upaya untuk membangun kebaikan bersama dan menemukan kembali martabat setiap orang, dengan mengatasi perpecahan politik, dapat dilakukan, terutama di Tahun Yubelium ini,

Semoga Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan untuk meruntuhkan semua tembok pemisah: tembok ideologis, yang sering kali mewarnai kehidupan politik, dan juga tembok fisik, seperti perpecahan yang telah melanda pulau Siprus selama lima puluh tahun ini dan telah mengoyak tatanan sosial dan kemanusiaan. Saya berharap bahwa solusi yang disepakati dapat dicapai, solusi yang akan mengakhiri perpecahan dengan penghormatan penuh terhadap hak-hak dan martabat semua komunitas Siprus.

Yesus, Sabda Allah yang kekal yang telah menjadi manusia, adalah Pintu yang terbuka lebar dan yang ke sanalah kita diundang untuk melewatinya agar dapat menemukan kembali makna keberadaan kita dan kesakralan setiap kehidupan – setiap kehidupan adalah sakral – dan untuk menemukan kembali nilai-nilai yang mendasari keluarga manusia. Dia menunggu kita di ambang pintu. Dia menunggu kita masing-masing, terutama yang paling rapuh: Dia menunggu anak-anak, semua anak yang menderita perang dan kelaparan; Dia menunggu para lansia, yang sering kali dipaksa untuk hidup dalam kondisi kesepian dan pengabaian; Dia menunggu mereka yang telah kehilangan tempat tinggal mereka atau mengungsi dari tanah mereka, dalam upaya untuk menemukan tempat berlindung yang aman; Dia menunggu mereka yang kehilangan atau tidak dapat menemukan pekerjaan; Dia menunggu para tahanan yang, terlepas dari segalanya, tetap menjadi anak-anak Tuhan, selalu menjadi anak-anak Tuhan; Dia menunggu mereka yang dianiaya karena iman mereka. Mereka semua ada bengitu banyak.

Pada hari raya ini, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah melakukan yang terbaik untuk kebaikan secara diam-diam dan setia: Saya teringat akan orang tua, pendidik, dan guru, yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi masa depan; Saya teringat akan para petugas kesehatan, polisi, dan semua orang yang terlibat dalam karya amal, terutama para misionaris yang tersebar di seluruh dunia, yang membawa terang dan penghiburan bagi begitu banyak orang yang mengalami kesulitan. Kepada mereka semua, saya ingin mengucapkan: terima kasih!

Saudara dan saudari, semoga Yubileum ini menjadi kesempatan untuk mengampuni hutang, terutama hutang yang membebani negara-negara miskin. Setiap orang dipanggil untuk mengampuni kesalahan-kesalahan yang telah dialaminya, karena Putra Allah, yang lahir di tengah dingin dan gelapnya malam, mengampuni semua utang kita. Ia datang untuk menyembuhkan kita dan mengampuni kita. Para peziarah pengharapan, marilah kita keluar untuk bertemu dengan-Nya! Marilah kita membuka pintu hati kita kepada-Nya. Marilah kita membuka pintu hati kita kepada-Nya, sebagaimana Ia telah membuka lebar-lebar pintu hati-Nya kepada kita.

Saya mengucapkan selamat Natal kepada anda semua. (*)

Meimonews.com – Dipanggil untuk menabur benih harapan dan membangun perdamaian jadi tema pesan Minggu Panggilan ke-61, Minggu (21/4/2024) Paus Fransiskus.

Dikemukakan, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan (Minggu Panggilan) mengundang kita, setiap tahun, untuk merenungkan karunia berharga dari panggilan yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, umatNya yang setia dalam sebuah perjalanan agar kita dapat mengambil bagian dalam rencana kasihNya dan menjelmakan keindahan Injil dalam berbagai kondisi kehidupan.

Mendengarkan panggilan ilahi, jauh dari sebagai sebuah tugas yang dipaksakan dari luar, mungkin atas nama idealisme religius, adalah cara yang paling pasti yang kita miliki untuk memelihara hasrat akan kebahagiaan yang kita bawa di dalam diri kita,  hidup kita terwujud dan terpenuhi ketika kita menemukan siapa diri kita, apa kualitas kita, di bidang apa kita dapat menggunakannya dengan baik, jalan apa yang dapat kita ambil untuk menjadi tanda dan alat cinta, penerimaan, keindahan dan kedamaian, dalam konteks tempat di mana kita hidup.

Oleh karena itu, hari ini selalu menjadi kesempatan yang indah untuk mengingat dengan rasa syukur di hadapan Tuhan akan komitmen terus menerus, setiap hari dan sering kali tersembunyi dari mereka yang telah menerima panggilan yang melibatkan seluruh hidup mereka.

“Saya teringat akan para ibu dan ayah yang tidak mementingkan diri mereka sendiri dan tidak mengikuti arus gaya hidup yang dangkal, tetapi menghabiskan keberadaan mereka untuk memelihara relasi, dengan cinta dan tanpa pamrih, membuka dirinya terhadap anugerah kehidupan dan memusatkan diri mereka untuk melayani anak-anaknya dan demi pertumbuhan mereka,” tulis Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus teringat akan semua orang yang melakukan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi dan semangat kerjasama. Mereka yang berkomitmen, dalam berbagai bidang dan cara, untuk membangun dunia yang lebih adil, ekonomi yang lebih mendukung, politik yang lebih adil, masyarakat yang lebih manusiawi.

“Singkatnya, semua orang yang dengan kehendak baik membaktikan dirinya untuk kebaikan bersama. Saya teringat akan para religius, yang mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dalam keheningan doa dan juga dalam karya kerasulan, kadang-kadang di tempat-tempat perbatasan dan tanpa menyisihkan tenaga, secara kreatif mewujudkan karisma mereka dan membuat dirinya siap sedia bagi orang-orang yang mereka temui,” sebutnya.

Paus Fransiskus teringat pula akan mereka yang telah menerima panggilan untuk ditahbiskan menjadi imam dan membaktikan diri mereka untuk mewartakan Injil dan membagi-bagikan hidup mereka, bersama dengan Roti Ekaristi, untuk saudara dan saudarinya, menabur harapan dan memperlihatkan kepada semua orang keindahan Kerajaan Allah.

Kepada kaum muda, terutama mereka yang merasa jauh atau tidak percaya kepada Gereja, Paus Fransiskus ingin mengatakan, biarkanlah dirimu terpesona oleh Yesus, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang penting kepada-Nya, melalui lembaran-lembaran Injil, biarkanlah dirimu digelisahkan oleh kehadiran-Nya, yang terkadang sering menempatkan kita dalam krisis yang bermanfaat.

Dia, sambung Paus Fransiskus, menghormati kebebasan kita lebih dari yang lain, tidak memaksakan diriNya tetapi menawarkan diriNya, berilah Dia tempat dalam dirimu dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu dalam mengikuti Dia, jika Dia memintamu, dalam pemberian dirimu sepenuhnya kepada Dia.

Dikemukakan, kepelbagaibentukan karisma dan panggilan, yang diakui dan didampingi oleh Komunitas Kristiani, membantu kita untuk memahami sepenuhnya identitas kita sebagai orang Kristen: sebagai umat Allah yang sedang dalam perjalanan di dunia, digerakkan oleh Roh Kudus dan diincorporasikan seperti batu-batu yang hidup ke dalam Tubuh Kristus, masing-masing dari kita menemukan diri kita sebagai anggota dari sebuah keluarga besar, seorang anak Bapa dan saudara atau saudari bagi satu sama lain.

Kita, menurut Paus Fransiskus, bukanlah bagai pulau-pulau yang menutup diri kita sendiri, tetapi kita adalah bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu, Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ini memiliki karakter sinodalitas: ada banyak karisma dan kita dipanggil untuk mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama untuk menemukannya dan untuk melakukan discernment terhadap apa Roh Kudus kehendaki demi kebaikan semua orang.

“Maka, pada momen historis saat ini, perjalanan bersama ini membawa kita menuju Tahun Yubileum 2025. Marilah kita berjalan sebagai peziarah harapan menuju Tahun Suci, sehingga dalam menemukan kembali panggilan kita masing-masing dan menghubungkan karunia-karunia Roh yang berbeda, kita dapat menjadi pembawa dan saksi-saksi impian Yesus di dunia: untuk membentuk satu keluarga, bersatu dalam cinta kasih Allah dan dipererat oleh ikatan cinta kasih, saling berbagi, dan persaudaraan,” ajaknya.

Secara khusus, tambahnya, hari ini didedikasikan, untuk berdoa memohon karunia panggilan suci dari Bapa untuk membangun Kerajaan-Nya: “Karena itu berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu,” sebutnya mengutip injil Lukas 10:2.

Ditambahkan, dan berdoa – kita tahu – lebih banyak terdiri dari mendengarkan daripada kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan. Tuhan berbicara ke dalam hati kita dan ingin agar hati kita terbuka, tulus dan murah hati. Firman-Nya telah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus, yang menyatakan dan mengkomunikasikan kepada kita seluruh kehendak Bapa.

Pada tahun 2024 ini, yang didedikasikan secara khusus untuk doa dalam persiapan untuk Yubileum, sebutnya, kita dipanggil untuk menemukan kembali karunia yang tak ternilai untuk dapat berdialog dengan Tuhan, dari hati ke hati, dan dengan demikian menjadi peziarah pengharapan, karena “doa adalah kekuatan pertama dari pengharapan. Kamu berdoa dan pengharapan bertumbuh, bergerak maju. Menurut saya, doa membuka pintu pengharapan. Harapan itu ada di sana, tetapi dengan doa saya membuka pintu bagi pengharapan” (Katekese, 20 Mei 2020).

Menjadi pertanyaan, apa artinya menjadi peziarah ? Bagi Paus Fransiskus, orang yang berziarah pertama-tama berusaha untuk memiliki tujuan yang jelas, dan selalu membawanya di dalam hati dan pikirannya. Namun, pada saat yang sama, untuk mencapai tujuan itu, seseorang harus berkonsentrasi pada langkah saat ini, untuk menghidupinya ia harus ringan, melepaskan diri dari beban yang tidak perlu, membawa hal-hal yang penting dan berjuang setiap hari sehingga kelelahan, ketakutan, ketidakpastian dan kegelapan tidak menghalangi jalan yang ditempuh.

Dengan demikian, menjadi peziarah berarti mulai lagi setiap hari, selalu memulai lagi, menemukan kembali semangat dan kekuatan untuk menempuh berbagai tahap perjalanan yang, meskipun lelah dan sulit, selalu terbuka di hadapan kita cakrawala baru dan pandangan yang tak diketahui.

“Makna perziarahan kristiani adalah: kita berada dalam perjalanan untuk menemukan cinta Tuhan dan, pada saat yang sama, menemukan diri kita sendiri, melalui perjalanan batin tetapi selalu didorong oleh banyaknya relasi,” jelas Paus Fransiskus.

Jadi, kita  adalah peziarah karena dipanggil: dipanggil untuk mencintai Tuhan dan mencintai satu sama lain. Dengan demikian, perjalanan kita di bumi ini tidak pernah berakhir dengan kelelahan tanpa tujuan atau pengembaraan tanpa tujuan; sebaliknya, setiap hari, menanggapi panggilan kita, kita mencoba mengambil langkah-langkah yang mungkin menuju dunia baru, di mana kita hidup dalam kedamaian, keadilan, dan cinta.

“Kita adalah peziarah pengharapan karena kita cenderung menuju masa depan yang lebih baik dan berusaha untuk membangunnya di sepanjang jalan,” tegasnya.

Pada akhirnya, inilah tujuan dari setiap panggilan: untuk menjadi manusia yang penuh pengharapan. Sebagai individu dan sebagai komunitas, dalam berbagai karisma dan pelayanan, kita semua dipanggil untuk “memberikan tubuh dan hati” bagi harapan Injil di dunia yang ditandai dengan tantangan zaman: ancaman perang dunia ketiga yang semakin dekat, himpunan kaum migran yang melarikan diri dari tanah air mereka untuk mencari masa depan yang lebih baik, jumlah orang miskin yang terus bertambah, bahaya yang secara terus menerus membahayakan kesehatan planet kita.

Dan dari semua yang sudah disebutkan itu harus pula ditambahkan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi setiap hari dan yang, kadang-kadang, berisiko membuat kita menyerah atau kalah.

Maka, di masa-masa seperti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita umat Kristiani untuk mengembangkan sebuah pandangan yang holistik tentang pengharapan, agar kita dapat bekerja dengan baik, menanggapi panggilan yang dipercayakan kepada kita, demi melayani Kerajaan Allah, Kerajaan yang penuh dengan kasih, keadilan dan perdamaian.

Paulus, sebut Paus Fransiskus, meyakinkan kita bahwa pengharapan ini “tidak mengecewakan” (Roma 5:5), karena ini adalah janji yang telah Tuhan Yesus berikan kepada kita untuk selalu menyertai kita dan melibatkan kita dalam karya penebusan yang ingin Dia capai dalam hati setiap orang dan dalam “hati” ciptaan.

Pengharapan ini menemukan pusat pendorongnya dalam Kebangkitan Kristus, yang “mengandung kekuatan hidup yang telah menembus dunia. Di saat segala sesuatu tampak mati, tunas-tunas kebangkitan muncul dari mana-mana. Ini adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Memang benar bahwa sering kali tampaknya Allah tidak ada: kita melihat ketidakadilan, kejahatan, ketidakpedulian dan kekejaman yang tidak berkurang.

Tetapi sama pastinya bahwa di tengah-tengah kegelapan, sesuatu yang baru selalu mulai bersemi, yang cepat atau lambat akan menghasilkan buah” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 276). Sekali lagi Rasul Paulus menyatakan bahwa “dalam pengharapan” kita “telah diselamatkan” (Roma 8:24).

Penebusan yang dicapai dalam Paskah memberikan pengharapan, pengharapan yang pasti dan dapat diandalkan, yang dengannya kita dapat menghadapi tantangan-tantangan di masa kini.

Maka, menjadi peziarah pengharapan dan pembawa damai berarti mendasarkan keberadaan kita pada batu karang kebangkitan Kristus, dengan mengetahui bahwa setiap komitmen yang kita buat, dalam panggilan yang telah kita raih dan upayakan, tidak akan sia-sia. Meskipun ada kegagalan dan kemunduran, kebaikan yang kita tabur bertumbuh diam-diam dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari tujuan akhir: perjumpaan dengan Kristus dan sukacita hidup dalam persaudaraan satu sama lain untuk selama-lamanya.

Kita harus mengantisipasi panggilan terakhir ini setiap hari: hubungan kasih dengan Allah dan dengan saudara-saudari kita dimulai dari sekarang untuk mewujudkan impian Allah, impian persatuan, perdamaian dan persaudaraan.

Janganlah ada seorang pun merasa tidak termasuk dari panggilan ini! Masing-masing kita, dengan cara kecil kita sendiri, dalam keadaan hidup kita sendiri dapat menjadi penabur pengharapan dan perdamaian, dengan bantuan Roh Kudus.

“Untuk semua ini saya katakan, sekali lagi, seperti pada Hari Orang Muda Sedunia di Lisabon: ‘Bangkitlah!’ Marilah kita bangun dari tidur, marilah kita keluar dari ketidakpedulian, marilah kita membuka jeruji penjara yang terkadang mengurung diri kita sendiri, sehingga kita masing-masing dapat menemukan panggilan kita di Gereja dan di dunia dan menjadi peziarah pengharapan dan pembangun perdamaian !” ajaknya.

Paus Fransiskus mengajak pula kepada kita agar sungguh tergerak untuk hidup dan berkomitmen terhadap kepedulian yang penuh kasih bagi orang-orang di sekitar kita dan lingkungan yang kita tinggali. “Saya ulangi, beranikanlah dirimu untuk terlibat !” sebutnya

Pastor Oreste Benzi, seorang rasul cinta kasih yang tak kenal lelah, yang selalu berpihak pada mereka yang paling kecil dan tak berdaya, tambahnya, selalu mengulangi bahwa tidak ada seorang pun yang begitu miskin sehingga tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, dan tidak ada seorang pun yang begitu kaya sehingga tidak perlu menerima sesuatu.

“Marilah kita bangkit dan bergerak sebagai peziarah pengharapan, sehingga, seperti yang dilakukan oleh Maria kepada Elizabeth, kita juga dapat membawa berita sukacita, membangkitkan kehidupan baru dan menjadi pembangun persaudaraan dan perdamaian,” ajak Paus Fransiskus. (lk)

Meimonews.com – Bacaan Injil hari Minggu (14/4/2024) menghantar kita kembali ke peristiwa malam sesudah Paskah. Para rasul berkumpul di Ruang Atas (Cenaculum, ruang makan), ketika kedua murid kembali dari Emaus dan menceritakan pertemuan mereka dengan Yesus.

Dan ketika mereka sedang mengungkapkan sukacita mereka atas pengalaman itu, Dia yang Bangkit menampakkan diri kepada seluruh komunitas. Yesus datang tepat ketika mereka sedang berbagi kisah perjumpaan mereka dengan-Nya.

“Peristiwa ini membuat saya berefleksi bahwa berbagi itu baik, berbagi iman itu penting. Kisah ini membuat kita berpikir tentang pentingnya berbagi iman akan Yesus yang telah bangkit,” ujar Paus Fransiskus dalam salah satu pokok permenungannya, sebagaimana dibagikannya sebelum Doa Regina Caeli, Minggu (14/4/2024).

Diungkapkan, setiap hari kita dibombardir oleh ribuan pesan. Banyak pesan yang dangkal dan tidak berguna, yang lain mengungkapkan rasa ingin tahu yang tidak bijaksana atau yang lebih buruk lagi, muncul dari gosip dan kedengkian. Pesan-pesan seperti itu adalah berita yang tidak ada gunanya, bahkan menyakitkan.

Namun, ada juga berita yang baik, positif dan membangun, dan kita semua tahu betapa senangnya mendengar hal-hal yang seperti itu, dan betapa kita merasa lebih baik lagi ketika hal itu terjadi. Dan juga adalah baik untuk berbagi kenyataan yang, baik atau buruk, telah menyentuh hidup kita, sehingga kita dapat membantu orang lain.

“Namun, ada satu hal yang sering kali sulit kita bicarakan. Kita bergumul untuk membicarakan tentang apa ? Tentang hal terindah yang harus kita bicarakan yakni perjumpaan kita dengan Yesus. Masing-masing dari kita, sanbungnya, telah berjumpa dengan Tuhan dan kita bergumul untuk membicarakannya,” sebutnya.

Masing-masing dari kita dapat berbicara banyak tentang hal ini yakni untuk melihat bagaimana Tuhan telah menyentuh kita, dan ini untuk dibagikan, bukan untuk menguliahi orang lain, tetapi dengan membagikan momen-momen unik di mana kita merasakan Tuhan hidup, dekat, menyalakan sukacita di dalam hati kita atau menghapus air mata, menularkan kepercayaan diri dan penghiburan, kekuatan dan semangat, atau pengampunan dan kelembutan.

Perjumpaan-perjumpaan seperti ini, yang masing-masing kita telah alami dengan Yesus, menurut Paus Fransiskus, harus dibagikan dan diteruskan. Hal ini penting untuk dilakukan di dalam keluarga, di dalam komunitas, dengan teman-teman.

Sama halnya dengan menceritakan inspirasi-inspirasi baik yang telah mengarahkan hidup kita, pikiran dan perasaan baik yang sangat membantu kita untuk maju, bahkan upaya dan usaha yang kita lakukan untuk memahami dan maju dalam kehidupan iman, bahkan mungkin untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan kita.

“Jika kita melakukan hal ini, Yesus, seperti yang dilakukan-Nya kepada murid-murid di Emaus pada malam sesudah Paskah, akan mengejutkan kita dan membuat perjumpaan dan lingkungan kita menjadi lebih indah,” tandasnya.

Jadi, marilah kita coba ingat kembali, saat-saat yang sangat berpengaruh dalam hidup kita, sebuah perjumpaan dengan Yesus yang menentukan jalan dan arah hidup kita. Setiap orang pernah mengalaminya, setiap orang pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

“Marilah kita hening sejenak dan ingat kapan saya menemukan Tuhan ? Kapan Tuhan menjadi dan terasa begitu dekat dengan saya ? Marilah kita bermenung dalam keheningan. Dan kisah perjumpaan dengan Tuhan ini, apakah saya bagikan untuk memuliakan Tuhan ? Dan juga, apakah saya juga mendengarkan orang lain ketika mereka bercerita tentang perjumpaannya dengan Yesus ?” ajak Paus Fransiskus.

Semoga Bunda Maria, sambungnya, membantu kita untuk membagikan iman kita untuk membuat komunitas kita semakin menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan. (*/lk)

Meimonews.com – Dalam wejangannya sesudah Doa Angelus, di Roma, Minggu (22/1/2023), Paus Fransiskus menyampaikan salam perdamaian dan kebaikannya kepada mereka yang merayakan Imlek, tahun baru 2574 (tahun 2023).

“Hari ini, saya ingin menyampaikan salam perdamaian dan segala kebaikan dari saya kepada semua orang yang merayakan Tahun Baru Imlek di Asia dan di berbagai belahan dunia,” ujar Pemimpin Gereja Katolik Dunia ini.

Terutama,  pada kesempatan yang menggembirakan ini, Paus harus mengungkapkan kedekatan spiritualnya kepada semua orang yang telah mengalami saat-saat pencobaan akibat pandemi virus corona, dan dengan harapan agar kesulitan saat ini akan segera teratasi.

“Akhir kata, semoga kebaikan, kepekaan, kebersamaan dan keharmonisan yang dialami dalam keluarga-keluarga yang berkumpul menurut tradisi ini dapat selalu merasuk dan mewarnai hubungan kita, keluarga dan sosial, agar dapat menjalani kehidupan yang damai dan bahagia. Selamat Tahun Baru!” ujar Paus Fransiskus. (Fer)