Meimonews.com – Buoati Minahasa Dr. Ir. Royke Octavian Roring, MSi di dampingi Sekda Frits Muntu, S.Sos dan Plt. As. I Dra. Riviva Maringka, MSi menerima Sekretaris Panitia Pelaksana Konser Virtual Tou Kawanua 2021 Viddi Supit di rumah Dinas Bupati, Rabu (17/11/2021).

Bupati mengapresiasi prakarsa KKK untuk menggelar konser ini dan saangat mendukung pelaksanaannya.

“Bupati menyambut baik acaranya dan juga akan mendukung dengan penyiapan video dalam acara konser,” ujar Supit, seperti dikutip Ketua Umum DPP KKK Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny Sompie, SH, MH kepada Meimonews.com via telefon, Rabu (17/11/2021).

Malam ini, sambung Sompie, sedang ditindaklanjuti koordinasi antara Sekretaria Panitia dengan Asisten 1 dan Kadis Kominfo Pemkab Minahasa.

Konser yang digagas DPP Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) yang diketuai Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny Sompie, SH., MH ini akan mendukung penguatan pariwisata di Tanah Minahasa melalui penggelaran konser budaya Minahasa oleh para artis Ibukota asal Minahasa pada 27 November 2021.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Ketum DPP KKK Ronny Sompie bersama Ketua Panitia Konser Virtual Nova Rumondor dan Viddy Supit kepada Gubernur Sulut di kantor gubernur, Sabtu (13/11/2021)

Pada kesempatan itu, Gubernur, Olly Dondokambey sangat menyambut baik rencana DPP KKK melalui Panitia Konser Virtual yang akan mengadakan penggelaran seni budaya Minahasa dalam rangka memperkuat pelestarian budaya khas Minahasa sekaligus juga penguatan Pembangunan KEK Likupang sebagai salah satu di antara “destinasi wisata super prioritas di tanah air.”

Gubernur, jelas Sompie, akan hadir secara langsung untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara konser tersebut.

Diharapkan di akhir tahun 2021 ini, masyarakat Sulut digelorakan semangatnya untuk segera menyiapkan diri membangun bersama di seluruh wilayah Sulut, sehingga KEK Likupang akan memberikan gelora semangat menjadikan Sulut sebagai destinasi wisata yang digemari baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara dengan kearifan lokalnya yang khas Sulut terddmasuk khas Minahasa. (af)

Meimonews – Sebagai salah satu daerah destinasi wisata, Tondano memiliki berbagai tempat dan budaya yang dapat dikembangkan seperti wisata alam di dalamnya terdapat wisata alam Danau Tondano, Uluna, pemandian air panas , wisata sejarah goa Jepang, wisata religius ada Gereja tua di Tondano, Eris, ada Mesjid di Kampung Jawa, Sinagoga bahkan Pura, wisata seni dan budaya dan masih banyak lagi.

“Sayangnya, ini belum tertangani dengan baik. Pandemi covid-19 membuka peluang karena setelah itu akan ada model kehidupan baru. Ini memberi dampak pada pilihan untuk wisata,” ujar Bert Toar Polii kepada Meimonews.com  lewat pesan WA, Senin (7/6/2021)

Pilihan wisata di dalam negeri, sebut pemerhati pariwisata dan budaya Minahasa ini, akan menjadi pilihan ke depan sehingga objek wisata alam yang menarik akan laku keras, apalagi akan mendapat limpahan turis dari destinasi parawisata prioritas Likupang.

Namun, ungkapnya, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemda, yaitu pertama, bagaimana meningkatan pendapatan masyarakat melalui kepariwisataan; kedua, pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber penerimaan pendapatan daerah meliputi perencanaan berlanjutnya pembangunan Benteng Moraya yang akan dijadikan tempat wisata budaya kuliner, pembangunan jembatan 300 meter di Danau Tondano, dan juga pengembangan wisata di puncak Urongo.

“Perencanaan selanjutnya meliputi area pantai di bagian Timur Kabupaten Minahasa yang juga telah di senangi oleh masyarakat, sebut Berce, sapaan akrabnya.

Ketiga, peningkatan kemampuan anggota masyarakat untuk dapat memperoleh manfaat yang besar bagi kegiatan pariwisata; keempat, terwujudnya masyarakat sadar wisata melalui sapta pesona, sehingga tercipta suasana yang mendukung dan menunjang semakin berkembangnya usaha dan kegiatan kepariwisataan lainnya seperti tarian daerah Kabupaten Minahasa di antaranya tarian Maengket, Cakalele, Kabasaran, Katrili, Kumandong, Lengso.

Pebridge andal Indonesia ini mengeemukakan, ada 3 faktor yang akan berperan dalam pengembangan ini yakni Sumber Daya Manusia, promosi serta sarana dan prasarana. (lk)

Meimonews.com – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Manado mengadakan sosialisasi Surat Edaran (SE) Walikota Manado No. 44 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro dan Kota dalam rangka Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan Pandemi Covid-19.

Kegiatan dilaksanakan di Kantor Dinas Pariwisata Manado, Selasa (27/4/2021) yang dihadiri sekitar 50 orang stake-holder (pemangku kepentingan) pariwisata khususnya owner dan manager pengusaha hiburan malam/pub/cafe/karouke dan live music di Kota Manado.

Peserta sosialisasi

Turut hadir pada kegiatan yang tetap memperhatikan prokes Pandemi Covid-19 tersebut adalah Kasatpol PP, Kasat Binmas dan Kabag Ops Polresta Manado, Pasi Ops dan Pasiter Kodim 1309 Manado, BPBD Manado serta Jubir Covid-19 Pemkot Manado.

“Kegiatan yang difasilitasi oleh Ibu Kadis Pariwisata Manado ini diawali pemaparan maksud dan tujuan rapat serta menyampaikan dari beberapa narasumber terkait dengan SE Walikota tentang PPKM Berbasis Mikro (Lingkungan) dan Kota,” ujar Kepala BPBD Manado Donald Sambuaga.

Setelah penjelasan tersebut, debut Sambuaga kepada Meimonews.com di Manado, Rabu 28/4/2021), dilakukan tanya-jawab.

“Pada kesempatan itu, ada penandaranganan kesepakatan keputusan bersama untuk menaati SE Walikota terutama tentang pembatasan jam operasional dan kapasitas tempat duduk, pembelakuan prokes di tempat usaha,” ujar Sambuaga. (af)

Meimonews.com – Guna memajukan Kota Tondano, Kabupaten Minahasa (Sulawesi Utara) ide menarik ditawarkan Bert Toar Polii (BTP), Pemerhati Budaya Minahasa yang adalah juga PB Gabsi (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia).

Dalam percakapan lewat telefom dengan Meimonews.com, Selasa (14/7/2020), Berce, sapaan Bertje Toar Polii (BTP) mengurai panjang lebar seputar ide untuk memajukan Kota Tondano yang adalah Ibukota Kabupaten Minahasa itu.

“Saya coba kumpulkan beberapa ide menarik untuk memajukan Kota Tondano yang selama ini ada di ‘kepala torang sandiri ‘ Kota Tondano adalah kota mati dan tidak maju-maju,” ujarnya.

Pertama, ungkap BTP, orang Tondano harus menghapus stigma jelek yang telah tertanam di benak orang bahwa Tondano itu kota yang tidak aman.

Biarkanlah Pemda Minahasa bekerja keras untuk membuat Kota Tondano hidup selama 24 jam tanpa henti dan itu sudah terlihat kenyataanya sekarang. Ada Alfa Mart dan lain-lain yang bahkan buka 24 jam. Ada KFC dan café yang menjamur yang menandakan Kota Tondano itu aman karena memang orang Tondano dari sananya adalah pambae dan sangat menerima perbedaan.

Contoh nyata ada Kampung Jawa, Kampung Gorontalo, ada Synagoga dan peranakan China tidak merasa berbeda demikian juga orang India yang puluhan tahun membuka toko di pasar bawah. Tapi orang bukan menyebut dari India tapi Bombay kota asal mereka.

“Chella yang tinggi menjulang tidak merasa risih sekolah bareng-bareng kami Tondano asli dan teman-teman dari Kampung Jawa,” ujar BTP soraya menjelaskan, Chella anak dari Bombay ini sekelas dengannya di SMA Tondano.

Dasar ini, sebutnya, sudah bagus sekali untuk memulai mengajak para investor untuk mau datang membuka usaha di Tondano.

Kota Tondano bisa disebut kota yang tata kotanya tergolong rapih karena dibuat oleh Inggeris dulu zaman penjajahan. Ada dua jalan lurus Touliang dan Toulimbat di tengahnya ada teberan Tondano yang membelah kota Tondano.

“Bisa dibayangkan kalau teberan Tondano bisa dibuat lagi seperti dulu, air mengalir dan bersih serta perahu hilir mudik dari Danau Tondano membawa ikan hasil tangkapannya untuk di jual di pasar bawah Tondano,” tutur penyandang World Life Master Senior dari World Bridge Federation ini.

Dikemukalan, bayangkan kemudian kalau di pasar bawah Tondano dibangun “fish mart” di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayuran kemudian ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tinggal bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari Danau bisa ditambah juga ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya keterbelakangan Tondano dalam pembangunan justru kita jadikan berkat dengan mempertahankan bangunan-bangunan tua yang sudah berusia 50 tahun ke atas untuk tetap dipertahankan. Pemerintah memberi subsidi kepada keluarga yang bersedia memberikan bibit bunga untuk ditanam di halaman rumahnya dan tentu saja perawatan.

“Dengan demikian bisa dipertahankan Tondano sebagai kota tua. Bisa melihat contoh New Delhi dan Old Delhi serta beberapa kota lainnya di dunia “.jelas mantan pegawai asuransi PT Jiwasraya ini.

Selanjutnya, karena lalulintas juga belum macet maka ini perlu dipertahankan dengan menjadikan Kota Tondano sebagai “green city” dan kota sepeda. Adakan rutin kegiatan bersepeda keliling Danau Tondano dan untuk para lansia yang cukup banyak di Tondano cukup dari Stadion Maesa Sasaran ke Benteng Moraya.
Kegiatan lain seperti yang sudah akan dibuat adalah membuat Koperasi untuk menangani persawahan di Tondano sehingga bisa memberi manfaat yang positif buat para pemiliknya. Dengan demikian keinginan untuk menjual otomatis berkurang dan keindahan bisa dinikmati, entah dari sawah yang menghijau atau tanaman lain yang mungkin lebih produktif tapi tetap indah untuk dipandang.

Ide lain adalah membuat lomba menghias pekarangan rumah dengan bunga atau tanaman hias lainnya. Ini memang khas Tondano dulu kala dimana hamper semua rumah berlomba-lomba menghias pekarangan rumahnya.

Kemudian menyangkut parawisata agar ada One Day Tour Tondano dan Danau Tondano dengan demikian perlu dibenahi objek-objek wisata yang akan dikunjungi. Mulai dari Masarang, Lodji Tondano, Makam Dr. Sam Ratulangi, Makam Kiay Modjo, Gereja Sentrum, Synagoga, kemudian Pura Danu Mandara yang berada di antara Kiniar dan Touliang Oki. Selanjutnya ada Gereja Tua di Watumea. Pulau Likri sedikit diperluas dibangun Gereja Oikumene.

Selanjutnya ada bekas lapangan terbang di Tasuka dan mungkin di Sumaru Endo Remboken dibuat sebagai pusat olahraga air dan lain-lain.

Kemudian di Benteng Moraya dibuat berbagai atraksi kesenian dan pertunjukan terciptanya Danau Tondano diselang-seling dengan kisah heroik Perang Tondano.

Selanjutnya membantu pemerintah melestarikan Danau Tondano jangan sampai berkat Tuhan yang luar biasa buat Minahasa ini bernasib sama dengan Danau Limboto. “Ini banyak masalah terutama menyangkut penanganan enceng gondok dan penghutanan kembali DAS Tondano,” papar pria kelahiran tahun 1953 ini.

Ada ide menanam seho seperti anjuran salah satu Tokoh Kawanua Alm. Om Ventje Sumual. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membuat program adopsi pohon. Misalnya, koperasi sudah berdiri bisa saja ada satu bagian yang menangani ini.

Cukup banyak tanah yang menganggur dan pemiliknya bersedia menjadikan tanahnya untuk ditanami pohon. Bisa seho tapi juga bisa apa saja. Selanjutnya, koperasi akan menghitung biaya yang dibutuhkan sampai tanaman ini bisa mandiri.
Berdasar hitungan ini maka ditetapkan bagi yang berminat adopsi pohon diwajibkan membayar sejumlah dana. Kepada mereka diberikan penghargaan berupa sertifikat, namanya dicantumkan di pohon yang di adopsi dan lain-lain.
Penyuluhan untuk mencintai lingkungan harus terus digalakkan, seperti misalnya dalam kegiatan lomba sepeda ada kegiatan menanam pohon serta kuis-kuis yang menyangkut lingkungan hidup. Poster dan lain-lain juga membantu.

“Terakhir muncul untuk membuat miniature Jerusalem di Danau Tondano dan sekitarnya. Memang di bukit-bukit apakah di sebelah timur atau barat Danau Tondano jika ada tempat untuk kegiatan religious dan hotel pasti akan menarik minat turis.

Mungkin ini juga, sebut BTP, bisa dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

“Jika dipasarkan dengan baik dan ditangani dengan benar ini bisa memberikan pemasukan devisa untuk Minahasa khususnya dan Sulut pada umumnya,” ujar BTP seraya berterima kasih untuk teman-teman yang telah menyumbangkan ide. (lk)