Meimonews.com – Sejak tahun 1996 hingga 2025, sudah 20-an buku dihadirkan DR. Frits Herman Pangemanan, M.Sc baik yang ditulis sendiri maupun bersama beberapa rekan penulis.

“Sampai saat ini, sudah 20-an buku yang saya buat, baik secara pribadi maupun ada beberapa bersama teman,” ujar Frits dalam percakapan dengan Meimonews.com via telefon, Sabtu (9/1/2026).

Ada lima buka yang dibuat pria kelahiran Manado, 19 Oktober 1956 ini di awal tahun-tahun dalam karyanya sebagai penulis yakni dari tahun 1996 hingga 1999.

Buku pertama yang dihadirkan berjudul Sejarah Perrtambangsn Minyak Indonesia. Buku yang diterbitkan Majalah Uang & Efek Jakarta pada Oktober 1996 ini ditulisnya bersama dua teman wartawan.

Buku yang kedua ditulis secara penuh (dengan hanya 1 artikel diambahan sebagai sumbangan dari seorang kawan wartawan Budi Purnomo) berjudul Panorama Bursa Jiran: Dari Malaysia Hingga Singapura – Dialog Persahabatan AEI (Asosiasi Emiten Indonesia) (Jakarta: Penerbit Grafika Sacra, terbitan November 1997).

 

Buku ketiga adalah Mengapa Harus Reksa Dana? (Jakarta: Majalah Uang & Efek, terbitan Desember 1997 — Co-Author).

Buku keempat berjudul Tragedi Peradaban: Refleksi Kehidupan Sosial (Jakarta: Grasindo & Hati Baru, terbit Maret 1999).

Buku kelima berjudul Mencinta Hingga Terluka: Refleksi Peradaban Cinta (Jakarta: Grasindo & Hati Baru, terbit Maret 1999).

Penulis lepas buk dan publikask Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manilia (Filipina yang dijagokan menjadi Duta Besar RI untuk Filipina ini lantas menjelaskan buku-buku lainnya yang dihasilkan hingga tahun 2025.

Di antara lebih dua puluh karya publikasi bukunya di dalam maupun luar negeri, tersaji di sini panorama karya ilmiah bukunya. Di antaranya, pertama, A Short History of Indonesia: Land, People, and Society (Manila dan Yogyakarta: Kedutaan Besar Republik Indonesia Manila dan Penerbit Pohon Cahaya, Edisi-1 2019 dan Edisi-2 2024).

Kedua, Melihat dari Dekat Sistem Pendidikan Filipina (Manila dan Yogyakarta: Kedutaan Besar Republik Indonesia Manila dan Penerbit Pohon Cahaya, 2024). Ketiga, Sun-Shattering Mythology of Tanimbar, Indonesia – A Transformative Journey To Humanity (Manila: The Asian Social Institute, 2022).

Keempat, Myth Within Us – Revisiting Mythology from Eliade, Campbell, and Jung (Manila: The Asian Social Institute, 2020). Kelima, HUMANITY: From Without and From Within – People-Centered Models of Field Studies in Applied Cosmic Anthropology (Co-writer and assisting editor), (Manila: Asian Social Institute, 2019).

Keenam, Journeys toward Transformative Praxis (Co-writer and assisting editor), (Manila: Asian Social Institute, 2018). Ketujuh, Restorasi Misi Katolik di Kepulauan Maluku: 1888-1994 – Sebuah Catatan Kronologis (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2016).

Kedelapan, Masuknya Agama Katolik di Awear, Pulau Fordata, Tanimbar (MTB) – Percikan Dinamika Kebudayaan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2014). Kesembilan, Uskup Johannes Aerts MSC: Vikaris Apostolik Papua Belanda – 1921-1942, Tewas oleh Kekejaman Pasukan Jepang (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2012).

Kesepuluh, Pengantar Umum Kitab Suci (Jakarta: Grafika Sacra, 2011). Kesebelas, Sejarah Gereja Katolik di Tanimbar 1910-2010 (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010). Keduabelas, Refleksi 50 Tahun Hidup Membiara MSC: ‘Ad omne opus bonum paratus’ (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010).

Ketigabelas, Profil Negara-Negara Filipina (The Republic of the Philippines) (Manila: KBRI Manila, 2008). Kesempatbelas, Let’s Speak Indonesian – An Introduction to Indonesian Grammar (Manila: Indonesian Embassy, 2007).
Karya terjemahan:

Karya terjemahan sang penulis mencakup, antara lain Bila Warga Ikut Menata Negara: Wacana Negeri-Negeri Jiran, Thailand, Indonesia, Filipina (Manila: IPD, 2005) dari karya asli Citizen Participation in Local Governance: Experiences from Thailand, Indonesia, and the Philippines (2004); dan Buku Panduan Strategi Advokasi dan Pengembangan Teknik-teknik (Manila: IPD, 2004) dari karya asli Handbook on Advocacy Strategy and Techniques Development (Manila: IPD, 2004).

Dalam bidang editing (sebagai editor penulis), Kepala Pusat Publikasi Ilmiah Graduate Studies Institute Ilmu-ilmu Sosial Asia Manila, Filipina ini juga menyunting sejumlah buku filsafat sosial, teologi, sejarah, dan pastoralia.

Produk tersebut, antara lain Perang Melanda Kepulauan Kei (Penerbit Kanisius, 2012); Tanah “Langgur: Sebuah Mutiara dari Timur (Penerbit Kanisius: 2010); Sejarah Gereja Katolik di Kepulauan Aru (Penerbit Hati Baru, 2009); Buah-Buah Iman dalam Peziarahan Iman:

Antara Refleksi dan Pemikiran (Penerbit Hati Baru, 2009); Buah-Buah Iman dalam Praksis Pastoral – Sebuah Dialog Teologal di Ranah Sosial Politik (Penerbit Hati Baru, 2009); Umat Yang Terkasih (Penerbit Hati Baru, 2009); dan Oase Kehidupan: Wacana Refleksi Kegembalaan, Seri-1 (Penerbit Kanisius, 2011). (Lexie)

Meimonews.com – Tahun ini (2024) provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dan kabupaten/kota di Sulut akan mencari pemimpin baru untuk periode tahun 2024-2029 lewat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Beberapa nama telah mencuat untuk dijagokan menjadi nomor satu baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ada yang diharapkan lewat jalur partai politik (parpol) atau gabungan parpol dan ada juga lewat jalur independen.

Ada satu nama yang dijagokan untuk menjadi orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai ini. Apalagi yang dijagokan adalah kaum perempuan, yang diharapkan memberi nuansa baru sebagai pemimpin di daerah ini.

Ir. Rita Maya Tamuntuan (RT) dikerumuni mahasiswa Fakultas Pertanian Unsrat Manado saat Dies Natalis ke-64 Faperta, baru-baru

“Figur tersebut dinilai pantas memimpin Sulut karena memiliki kriteria yang diharapkan untuk Sulut lebih maju dan bersinergi. Dia adalah Ir. Rita Maya Tamuntuan,” ujar Dr. Herry Pinantik, seorang akademisi dan mantan aktivis 98.

Dalam percakapan dengan Meimonews.com via telefon, baru-baru, Pinantik lantas memberikan alasan mengapa menjagokan Rita, sapaan istri Gubernur Sulut Prof. Dr. (Hc) Olly Dondokambey, SE.

RT bersama Koordinator Sahabat RT For Sulut One Dr. Herry Pinantik

Pinantik menjelaskan, berdasarkan pemantauannya di lapangan, nama tersebut banyak kali dibicarakan dan diyakni mampu memberi nuansa baru di daerah ini.

Berdasarkan data-data yang didapat di lapangan maka ia dan teman-temannya membentuk Sahabat RT For Sulut One sebagai bentuk dukungan kepada Ir. Rita Maya Tamuntuan (RT).

Pinantik dan kawan-kawan menilai dukungan tersebut dengan berbagai kajian sehingga melahirkan sebuah keputusan berupa dukungan.

“Ada beberapa kriteria yang dimiliki Ir. Rita Tamuntuan sehingga saya dan kawan-kawan membentuk Tim tersebut,” ujar Koordinator Sahabat RT For Sulut One.

Koordinator Sahabat RT For Sulut One Dr. Herry Pinantik

Pertama, RT sudah pengalaman dampingi Gubernur Olly Dondokambey di Pemerintahan Sulut. Kedua, RT adalah Ketua Umum Ikatan Alumni Unsrat dan Ketum IKA Faperta, Ketiga, reķam jejaknya bagus. Keempat, isu saatnya Gubernur Sulut Perempuan pertama, momen cetak sejarah di Sulut. Kelima, tokoh wanita GMIM representasi kelompok golongan Kristen terbesar dan tokoh perempuan Sulut yang populer dan berpengaruh, dengan meraih beberapa penghargaan secara nasional

Keenam, punya modal/capital yang tidak diragukan. Ketujuh, hubungan baik dengan mantan Presiden Megawati dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Kedelapan, saatnya Gubernur Sulut back to alumni Unsrat. Kesembilan, beberapa prestasi RT meraih penghargaan tingkat nasional bahkan dunia. (*)