Oleh : Dr. drg. Paulus Januar

Meimonews.com Penglihatan merupakan unsur penting kehidupan. Namun, kesehatan mata kerap terabaikan dengan rendahnya kesadaran serta kurangnya pemeriksaan penglihatan, ditambah lagi semakin tingginya penggunaan layar digital.

Berdasarkan data IAPB (International Agency for Prevention of Blindness), terdapat lebih dari 1,2 miliar orang di dunia dengan gangguan penglihatan yang sebenarnya dapat dicegah atau diobati jika ditangani sejak dini. Hal ini menyebabkan penurunan produktivitas dan menimbulkan kerugian mencapai 411 miliar dollar per tahun.

Dengan demikian, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah gangguan penglihatan. Selain itu, penting pula dilakukan deteksi dini terhadap gangguan penglihatan maupun gangguan kesehatan mata lainnya.

Dengan deteksi dini akan mengurangi risiko terhadap gangguan kesehatan mata agar tidak menjadi lebih parah lagi. Di Indonesia, tantangan besar yang dihadapi adalah tingginya prevalensi kelainan refraksi yang tidak terkoreksi pada anak-anak, serta kasus kebutaan akibat katarak.

Deteksi Dini Gangguan Penglihatan

Saat ini, deteksi dini gangguan penglihatan dilakukan secara masif dan terintegrasi dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan Kementerian Kesehataan Republik Indonesia.

Pada tahun 2026 Cek Kesehatan Gratis dalam mana salah satunya juga dilakukan pemeriksaan penglihatan, ditargetkan terhadap sekitar 140 juta orang.

Pada kegiatan tersebut dilakukan pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan serta skrining kesehatan mata untuk berbagai kelompok usia, yakni dari siswa sekolah hingga lanjut usia.

Jika ditemukan indikasi gangguan refraksi maupun penyakit mata akan dilakukan penanganan pada fasilitas kesehatan lanjutan dan kalau perlu dirujuk ke dokter spesialis mata.

Sepanjang tahun 2025, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 55 juta penduduk, dengan hasil temuan sekitar 17 persen di antaranya mengalami gangguan penglihatan.

Gangguan penglihatan merupakan penurunan tajam penglihatan atau terjadi rasa tidak nyaman saat melihat. Gejala gangguan penglihatan terutama bila pandangan terasa kabur, mulai sering memicingkan mata ketika melihat suatu obyek, bila membaca harus dekat atau cepat terasa pusing.

Mungkin hal ini tidak terlalu dihiraukan, namun bila terus dibiarkan dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius terhadap kesehatan mata, bahkan tidak mustahil akan berakhir dengan kebutaaan.

Kesadaran Kesehatan Mata

Selain deteksi dini patut pula dilakukan penyadaran akan perlunya menjaga serta meningkatkan kesehatan mata.

Di era digital masa kini, terutama perlu dilakukan sosialisasi kebiasaan 20-20-20 yakni: istirahatkan mata setiap setelah 20 menit menatap layar komputer atau smartphone, dengan melihat objek sejauh 20 kaki (6 meter), selama minimal 20 detik. Cara ini efektif mengurangi ketegangan mata digital (digital eye strain).

Edukasi untuk penyadaran perlu pula mengenai jarak pandang ideal dengan layar monitor yakni sekitar 40–75 cm, serta pastikan ruangan memiliki pencahayaan yang cukup agar mata tidak bekerja terlalu keras. Posisikan kemiringan layar maksimal 20 derajat, dan sebaiknya pasang filter radiasi pada layar.

Patut pula ditumbuhkan kesadaran mengenai perlunya kecukupan nutrisi yang ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan mata. Kesehatan mata akan terjaga bila dengan rutin mengonsumsi makanan yang kaya vitamin A, C, E, omega-3, serta sayuran hijau dan ikan.

Perlu pula ditumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan mata. Pemeriksaan mata perlu dilakukan pada anak-anak, serta kemudian secara rutin tiap 2 tahun sekali.

Sedang bagi kelompok usia tua atau yang memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara berkala minimal satu tahun sekali.

Hari Penglihatan Sedunia 2026

Dalam rangka menggugah upaya di bidang kesehatan mata, setiap tahun secara internasional setiap hari kamis minggu kedua di bulan oktober ditetapkan sebagai Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day).

Tahun 2026 ini Hari Penglihatan Sedunia dilaksanakan pada 8 oktober 2026 dengan secara berkesinambungan selama beberapa tahun ini mengusung tema: Cintai Matamu (Love Your Eyes).

Tahun 2026 ini dengan tema Cintai Matamu berfokus pada peran masyarakat serta pentingnya pelayanan kesehatan mata yang tersedia, mudah diakses, serta terjangkau.

Di seluruh dunia diselenggarakan berbagai kegiatan seperti bakti sosial pelayanan kesehatan mata, pembagian kacamata gratis bagi yang membutuhkan, seminar dan kampanye publik, penyebaran media komunikasi, serta kegiatan sosial lainnya.

Di Indonesia pun Kementerian Kesehatan telah turut pula menetapkan Hari Penglihatan Sedunia diperingati secara nasional. Pada tahun 2026 ini Hari Penglihatan Sedunia selain diperingati secara formal oleh Kementerian Kesehatan, juga dikoordinasi serangkaian kegiatan terutama dari kalangan profesi kesehatan mata serta juga masyarakat umum.

Bersamaan dengan kegiatan di banyak negara lain, di Indonesia sepanjang Oktober 2026 diselenggarakan pula berbagai kegiatan dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia di beberapa daerah seperti pertama, Fun Walk dan pemeriksaan mata gratis pada Car Free Day di Jakarta; Kedua, Operasi katarak gratis pada berbagai rumah sakit seperti di Jakarta, Bandung, Denpasar, dan berbagai kota lainnya.

Ketiga, Bakti sosial edukasi dan pemeriksaan penglihatan, disertai pemberian kacamata gratis di berbagai wilayah di Jawa Timur dengan puncak acara di Mojokerto; Memadukan kegiatan fun walk, pemeriksaan mata, kunjungan ke sekolah, hingga seminar kesehatan mata di kota Padang; Keempat, Webinar Hari Penglihatan Sedunia di Medan.

Berbagai kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik tolak untuk meningkatkan komitmen mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata serta mencegah gangguan penglihatan dan kebutaan.

Selamat Hari Penglihatan Sedunia 2026. Cintai matamu untuk kehidupan yang cerah cemerlang ! (Penulis adalah Staf Pengajar Akademi Refraksi Optisi Kartika Indra Persada Jakarta)