Meimonews.com – Permasalahan Danau Tondano yang berada di Kabupaten Minahasa terus jadi pembicaraan bukan hanya di daerah ini tapi (bahkan) secara internasional.

Bentuk kepedulian terhadap permasalahan Danau Tondano, yang sebenarnya memiliki potensi penting bagi daerah ini, membuat Unima dan Jepang melakukan kolaborasi.

Kolaborasi tersebut diawali penandatangan kerjasama antara Unima dan DEA Consultants, Inc Japan di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Pusat Unima, Kamis (27/11/2025).

Penandatangan telah dilakukan Rektor Unima Joseph Philip Kambey dan Head of Survey and Measurement Department Fukasawa Takeshi (IDEA Consultants, Inc Japan).

Kolaborasi dengan Tim IDEA Jepang ini untuk melakukan penelitian di Danau Tondano seperti mengontrol perkembangan eceng gondok dan penanggulangan bencana.

Mendampingi Takashi adalah Researcher of Survey and Measurement David Erick Angmalisang dan tim dari IDEA Consultants, Inc. Japan. Dari Unima, hadir Wakil Rektor 3 Unima Lenny Leorina Evinita (mewakili Rektor) dan perwakilan fakultas-fakultas. (FA)

Meimonews.com – Salah satu janji kampanye Yulius Selvanus (YS) saat menjadi calon Gubernur Sulut adalah memperindah Danau Tondano agar menjadi tujuan wisata favorit di Sulut.

Sekarang YS telah terpilih dan untuk membantunya mewujudkan rencananya, tukang bridge mencoba memberi masukan dengan menampung berbagai masukan dari WA Group Memajukan Tondano.

Rencana Pembangunan Pariwisata Danau Tondano (RPPDT) direncanakan dengan tujuan Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal melalui pariwisata; Mengembangkan Danau Tondano sebagai destinasi pariwisata yang berkelanjutan; Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

Sasarannya adalah Meningkatkan jumlah pengunjung Danau Tondano sebesar 20% dalam 2 tahun; Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dari pariwisata sebesar 30% dalam 3 tahun; Mengembangkan 5 destinasi pariwisata baru di sekitar Danau Tondano dalam 5 tahun.

Ada empat strategi terkait dengan RPPDT. Pertama, Pengembangan Infrastruktur yakni membangun dan memperbaiki jalan akses ke Danau Tondano; membangun fasilitas umum seperti toilet, tempat parkir, dan restoran.

Kedua, Pengembangan Destinasi Pariwisata dengan Mengembangkan 5 destinasi pariwisata baru di sekitar Danau Tondano, seperti taman wisata, pantai, dan desa wisata; dan Mengembangkan paket wisata yang menarik dan berkelanjutan.

Ketiga, Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Melatih dan mengembangkan kemampuan masyarakat lokal dalam bidang pariwisata; dan Mengembangkan program pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

Keempat, Pengembangan Promosi dan Pemasaran dengannMengembangkan strategi promosi dan pemasaran yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan minat pengunjung; dan Mengembangkan kerjasama dengan agen perjalanan dan operator pariwisata untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

YS mengungkapkan sejumlah rencana besar yang akan mengubah wajah danau ikonik tersebut.

Salah satu langkah awal yang telah disiapkan adalah alokasi dana sebesar Rp 1,26 triliun untuk membangun dan meningkatkan infrastruktur di sekitar Danau Tondano.

Menurutnya, dana yang cukup besar ini akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai fasilitas yang dapat menarik lebih banyak wisatawan ke Sulawesi Utara.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah akses pengunjung dan meningkatkan pengalaman wisata di lokasi yang sudah dikenal dengan keindahan alamnya.

Group Memajukan Tondano dibuat untuk memberikan masukan agar apa yang direncanakan bisa terwujud dan bermanfaat untuk masyarakat di DAS Danau Tondano dan sekitarnya.

Dari masukan yang diterima ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yakni
pemberantasan enceng gondok. Ini yang harus menjadi prioritas utama.

Ada beberapa usul, pertama basmi tuntas; kedua, kalau tidak bisa dibasmi tuntas bertemanlah dengan encek gondok dengan memanfaatkannya.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk kesehatan, pembersih air, bahan baku kerajinan, dan energi alternatif.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kesehatan yakni menyehatkan kulit karena mengandung antijamur, antibakteri, dan antimikroba, antiperadangan, memperlancar pencernaan, menurunkan berat badan, meredakan gatal-gatal.

Pembersih air yakni menyerap zat-zat berbahaya seperti logam berat dan bahan kimia dari air mengolah air limbah yang mengandung logam berat dan ion terlarut, menyerap hidrokarbon minyak bumi.

Bahan baku kerajinan yakni kursi, meja, tali, hiasan dinding, gurniture, fompet, tas, taplak, gorden.

Energi alternatif yakni dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas karena kandungannya yang tinggi akan hemiselulosa dan selulosa.

Manfaat lain adalah habitat untuk satwa liar, seperti ikan, burung air, dan serangga air; penyerap karbon; penahan erosi; pakan ternak, terutama untuk sapi dan kambing.

Estetika lanskap. Masalahnya pilihan kedua ini tidak mudah karena perkembangan enceng gondok yang sangat cepat.

Selanjutnya menangani dengan sebaik-baiknya rencana revitalisasi Danau Tondano oleh Kementerian PUPR karena Danau Tondano masuk 15 Danau kritis di Indonesia.

Sayangnya, program yang dimulai sejak tahun 2016 tidak terlihat manfaatnya secara nyata.
Menangani dengan benar Peraturan yang mengatur penanganan danau di Indonesia, antara lain Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 28 Tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Danau.

Selain itu, Perpres Nomor 60 Tahun 2021 mengatur tentang Penetapan 15 Danau Prioritas Nasional; Koordinasi, sinergi, sinkronisasi, dan harmonisasi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah; Pembentukan Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional; fan Pendanaan penyelamatan danau prioritas nasional.

Sementara itu, Permen PUPR Nomor 28 Tahun 2015 mengatur tentang: Penetapan garis sempadan danau, Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan danau.

Prinsip-prinsip dasar pengelolaan danau adalah Terpadu, menyeluruh, dan berkelanjutan; Melibatkan pemangku kepentingan; Bersifat adaptif terhadap perubahan kondisi; Membagi tugas, fungsi, beban biaya, dan manfaat secara adil; Berlandaskan azas akuntabilitas
Upaya pemulihan ekosistem danau, antara lain Pembersihan gulma, Pembuatan kompos, Pemantauan kualitas air, Pengelolaan sampah.

Jika, hal-hal di atas sudah tertangani dengan baik maka baru dipikirkan mengenai infrastruktur penunjang seperti jalan lingkar luar Danau Tondano dan lain-lain.

Selanjutnya mengenai pemanfaatan Danau Tondano sebagai objek pariwisata.

Gubernur YS sudah merencanakan membuat 8 terminal atau dermaga di Danau Tondano hanya kalah dengan Danau Toba yang punya 12 terminal atau dermaga.

Sepertinya, yang cocok sebagai pusat adalah Dermaga di Benteng Moraya. Sebelum naik kapal mengelilingi Danau Tondano mereka bisa menikmati sajian di Benteng Moraya di mana ada aneka kuliner Minahasa, aneka cindera mata khas Sulut, pertunjukan drama Lahirnya Danau Tondano serta kisah heroic Perang Tondano, kemudian ada museum di Lodji Tondano yang sudah dipindahkan ke Benteng Moraya dan mungkin ada ide yang lain.

Sisa tujuh dermaga atau terminal bisa dimintakan untuk dibangun di kampung-kampung sekeliling Danau Tondano yang ada objek wisata seperti gereja tua di Eris, lapangan terbang Tasuka, pulau Likri, Sumaru Endo Remboken dan lain-lain.

Tentu saja perlu ditambah dengan kegiatan lainnya sehingga lebih menarik. Seperti dibentuk sanggar kesenian yang mengadakan pertunjukan terjadwal secara rutin.

Pulau Likri dibangun gereja oikumene dan dibuat duplikat bahtera Nabi Nuh. Restoran, café, tempat pemeliharaan ikan dibuat aturan sehingga tertib dan tidak mengganggu eko sistim danau.

Selanjutnya, dilanjutkan dengan penanganan teberan atau Sungai Tondano dilanjutkan dengan membuat fish market di pasar bawah Tondano serta night market untuk weekend di jalan dari pasar bawah ke pasar atas Tondano.

Dari uraian di atas,bada 5 objek wisata baru yang dibuat, yaitu 2 kampung wisata yang dipilih dari kampung-kampung yang mengelilingi Danau Tondano, Fish dan Night Market Tondano, wisata sungai Tondano dan Pulau Likri. Ditambah dua yang sudah ada yaitu Benteng Moraya dan Sumaru Endo Remboken berarti sudah ada 7 objek wisata. (Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Berbagai upaya dalam penanggulangan eceng gondok danau Tondano Kabupaten Minahasa terus-menerus dilakukan.

Hal ini, antara lain terlihat saat Fakultas Pertanian (Faperta) Unsrat Manado, dalam hal ini Tim Peneliti dari Program Studi (Prodi) Proteksi Tanaman Jurusan Hama dan Penyakit bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa dan PT PLN melakukan upaya dimaksud secara alami di Danau Tondano.

“Upaya penanggulangan secara alami eceng gondok Danau Tondano yang merupakan kerjasama Pemerintah Kabupaten Minahasa, PT PLN dan Fakultas Pertanian Unsrat semakin menjanjikan,” ujar Dekan Faperta Unsrat Ir. Dedie Tooy, M.Si, PhD kepada Meimonews.com  via WhasApp, Sabtu (1/6/2024).

Tim dari Faperta Unsrat Manado, sebut Tooy, terdiri Prof. Dr. Ir. Max Tulung, MS , Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS, Dr. Ir. Wilson M. Moniaga, MS, Ir Caroulus S. Rante, MS dan  Ir. Daisy S. Kandowangko, M.Si.

Tooy menjelaskan, presentasi hasil penelitian skala kecil terbukti selama 3 bulan sudah ada hasil yang signifikan. “Upaya alami, dan memberikan jaminan ekosistem dan tidak mengganggu secara ekologis,” ujarnya.

Menurutnya, kerjasama ABG Akademisi, Bisnis dan Government terus menjadi upaya yang kiranya terus berkesinambungan. Tim merasa bangga sebagai bagian Fakultas Pertanian Unsrat.

Tooy mengimbau warga Sulut dan Indonesia untuk join dengan Prodi Proteksi Tanaman Jurusan Hama dan Penyakit Faperta Unsrat Manado. (FA)

Meimonews.com – Selain mengikuti beberapa kegiatan di Jakarta, Bupati Minahasa Royke Octavian Roring (ROR) menemui Menteri Sosial Tri Risma Harini di kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa (10/1/2023).

Ada beberapa usulan dan program yang disampaikan ROR, yang di dampingi Asisten II Wenny Talumewo, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jeffry Tangkulung, Kadis PMD Arthur Palilingan, Kadis Perdagangan Jorry Gumansing, Kadis DLH Vicky Kaloh, Kadis DP2KB Syultje Panambunan, sejumlah Kabag, Camat, dan Hukum Tua.

”Dalam pertemuan dengan Ibu Menteri, ada beberapa hal yang diusulkan, baik diusulkan langsung dan ada yang akan diikuti lewat permohonan nanti,” jelas ROR.

Hal-hal yang diusulkan dalam pertemuan dengan Menkes adalah penambahan Penerima Bantuan Iuran-Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN) bagi masyarakat Minahasa,  program bantuan untuk penyandang disabilitas, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan peningkatan perekonomian yakni perahu di Danau Tondano.

ROR tak lupa menyampaikan terima kasih atas respon dari Mensos yang siap membantu Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Minahasa.

”Terima kasih atas respon baik dari Ibu Menteri. Semoga permintaan kami dapat diterima Ibu Mensos, demi masyarakat Minahasa yang kita cintai,” sebut ROR. (Fer)

              (Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kota Tondano sebagai ibukota Kabupaten Minahasa termasuk salah satu kota yang langka di dunia ini tanpa disadari. Sebagai kota di tepi Danau terhitung sangat jarang ada di dunia ino, apalagi dikelilingi oleh pegunungan.

Memang ada beberapa di Amerika Serikat, sebut saja ada Michigan dan New Hampshire. Di China ada Danau Barat di Hangzhou, Danau Baikal di Kota Irkutsk Russia dan lain-lain. Tapi tidak banyak, paling sekitar 20-an.

Belum lagi danau yang ada pulau di tengahnya. Selain pulau Samosir di Danau Toba ada Pulau Bled di Danau Bled di Slovenia yang sudah menjadi daerah kunjungan wisata terkenal.
Kondisi Danau Bled hampir mirip dengan Danau Tondano. Danau ini terletak di antara Pegunungan Alpen dan juga Lautan Mediterania. Warna hijau zamrud dari danau ditambah adanya Pulau Bled di tengah-tengahnya akan jadi pemandangan utama ketika berada di sini.

Pemandangan danau Bled ini juga bisa dinikmati dari kastil yang dibangun di pegunungan sekitarnya.

Ini semua bisa dibuat di danau Tondano. Malah lebih keren lagi karena sudah tersedia jalan untuk mengelilingi Danau Tondano tanpa membosankan karena akan melewati banyak kampung yang juga sekalian bisa dijadikan kampung wisata.

Tentu saja yang pertama perlu konsentrasi adalah penanganan enceng gondok agar tuntas. Apa yang dibuat sekarang sepertinya tidak menyelesaikan masalah hanya menunda saja dan anggaran habis percuma.

Setelah enceng gondok terselesaikan maka pemanfaatan danau kemudian diatur sebaik mungkin. Jika memang karamba mau dipertahankan maka perlu diatur hanya daerah tertentu serta penerapan aspek lingkungan hidup yang ketat.

Lebih baik di atas karamba dibuat restoran terapung, pemancingan dan lain-lain tapi tertata rapih dan tidak merusak lingkungan danau.
Ikan-ikan khas Danau Tondano seperti nike, payangka, mujair dan lain-lain kembali disebar dan hanya nelayan dengan perahu bolotu dan menggunakan alat tangkap yang sudah diijinkan saja yang boleh menangkap ikan di Danau.
Namun agar nelayan dari Tondano bisa ikut maka sungai Tondano atau ‘teberan” perlu diperdalam lagi selain menghancurkan enceng gondok.

Ini juga nantinya akan menjadi alternatif transportasi di kota Tondano. Di tengah danau Tondano ada Pulau Likri yang mungkin perlu diperluas sedikit dengan cara reklamasi. Di pulau ini bisa dibangun Gereja Oikumene dan kegiatan terkait atau dibangun  replica bahtera Nabi Nuh.

Lingkungan di sekitar Danau Tondano bisa dibilang berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena pasokan hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Di pegunungan ini telah banyak dibangun objek wisata, tempat menginap dengan view Danau Tondano.

Masih banyak yang bisa dibangun di sini seperti bukit doa, Kapel atau gereja yang unik. Apalagi kemudian di sampingnya ada kelenteng, masjid, pura , sinagoge. Bisa juga miniature Jerusalem dibuat disini.

Bisa juga  dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

Selanjutnya, mari benahi Kota Tondano. Selama ini banyak yang menyebut Tondano itu kota mati dari dulu begitu-begitu saja.

Penulis justru melihat ini sebagai “Blessing in Disguise”. Kenapa? Justru keterbelakangan Tondano membuat kitab Isa menjadikan Tondano sebagai Kota Tua seperti Old Delhi yang kebetulan penulis sempat ke sana.

Tapi bisa juga tidak se ekstrim itu langsung menjadikan kota tua tapi bisa meniru cara China yang sempat penulis lihat di Wuyi. Pemerintah memilih satu kompleks dan menetapkan sebagai kampung wisata. Terpilihnya kompleks tersebut karena masih banyak rumah-rumah tua yang ada. Selanjutnya pemilik tidak bisa merubah tempatnya membiarkan seperti jaman dulu dan tentu saja pemerintah memberikan subsidi.

Ketika ke sana memang penulis melihat kehidupan jaman dulu seperti yang sering dilihat di film-film silat China.

Selanjutnya karena kondisi lalulintas belum sekusut di kota besar lainnya maka Tondano dengan jalan-jalan yang datar, udara yang sejuk bisa dijadikan kota sepeda.

Ini juga akan membuat masyarakat lebih sehat dan tidak malas. Jalan-jalan tertentu hanya boleh dilewati sepeda dan bendi ataupun kalau boleh motor hanya motor listrik.

Menjadikan kota sepeda bukan pekerjaan sulit karena rasanya ada pabrik sepeda yang bersedia menjadi sponsor. Dengan aplikasi maka peminjaman dan pengembalian sepeda menjadi mudah. Pemerintah tinggal menyediakan tempat peminjaman sepeda sekaligus tempat pengembalian.

Jika ini bisa terlaksana maka menjadikan Tondano sebagai Kota Hijau jadi lebih mudah. Tahun lalu Alumni Smanto 170.1 Tondano dan WAG Tondano Kinatouanku telah merintisnya dengan menanam tanaman hias tabebuia dan lomba menghias pekarangan rumah.

Kalau ini semua sukses maka pasar bawah Tondano bisa dibangun “fishmart’ di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayur-sayuran.

Kemudian, ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tidak bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak pedas dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari danau tapi bisa ditambah dengan ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya, tinggal memilih jalan untuk dijadikan seperti “night market” di Taiwan yang terkenal termasuk di beberapa kota besar Asia dan dunia.

Meimonews.com – Danau Tondano dengan alam sekitarnya sangat terkait satu sama lainnya. Kelestarian danau Tondano juga memerlukan dukungan dari kelestarian alam sekitarnya.

Selain berkaitan dengan lingkungan hidup dan danau Tondano sebagai sumber air bagi seluruh Tanah Minahasa yang dilaluinya sampai ke Kota Manado, ada sudut pandang lain yang perlu juga dicermati dari manfaat danau Tondano bagi pariwisata di Tanah Minahasa (Minahasa, Tomohon, Minsel, Mitra, Minut, Manado dan Bitung).

“Untuk itu, perlu masterplan atau grandstrategy pembangunan pariwisata danau Tondano ke depan sampai tahun 2045, Indonesia Emas,” ujar Irjen Pol. (Purn) Dr. Ronny F. Sompie dalam percakapan dengan Meimonews.com via telefon, Selasa (15/2/2022).

Untuk mendukung visi tersebut, sambung mantan Dirjen Imigrasi tersebut, diperlukan juga Perda Tata Ruang bagi kepentingan pembangunan pariwisata danau Tondano. Tata Ruang yang baik, akan menjadi pedoman bagi Pemda dalam mengendalikan dan mengatur para investor dan masyarakat pemilik hak atas tanah di sekitar danau Tondano.

Dikemukakan, akses publik untuk menjangkau pinggiran danau Tondano untuk menikmati keindahan alam di pinggir danau tersebut perlu disediakan dan tidak ditutup oleh kepentingan para pemilik hotel, restoran, rumah makan dan semua kegiatan di sekeliling danau Tondano.

“Kita bisa belajar dari Pemda Kabupaten Sangihe, ketika membangun boulevard di sepanjang pantai Kota Tahuna. Bibir pantai di sepanjang jalan Boulevard di Kota Tahuna tidak ditempati toko, resto dan hotel, sehingga publik bisa bebas menikmati keindahan pantai di Kota Tahuna,” saran Analis Keimigrasian Ahli Utara Kemenkumhan RI ini.

Pengalaman itu juga bisa kita belajar dari Pemda Kabupaten Badung dalam membangun pariwisata di Kuta dan Seminyak yang memberikan akses bagi publik untuk mengitari pantai Bali tanpa harus dipagari kepentingan hotel dan seluruh bangunan privat yang menggunakan lahan ke arah pantai Bali. Hal itu juga terjadi di sepanjang pantai Sanur Bali di wilayah Kota Denpasar.

Dengan demikian, sebut mantan Kapolda Bali tersebut. kalau kita mau mengitari pantai dari Sanur sampai Seminyak sangat mudah, baik dengan jalan kaki maupun naik sepeda bahkan naik sepeda motor.

Kalau mau benchmarking di luar negeri, kita bisa belajar dari Pemerintah Singapore dalam menata ruang bagi publik di Pulau Sentosa. Akses publik untuk turun ke pantainya tidak tertutup oleh kepentingan investasi di sana yang membangun hotel, resto dan kegiatan usaha lainnya.

“Hal itu juga yang dibangun oleh Pemerintah Malaysia dan Philipina dalam membangun pariwisata di pinggiran sungai dan pantainya,” sebut Ketua KKK Indonesia kelahiran Surabaya, 17 September 1961 ini.

Kita bisa belajar banyak dari negara tetangga kita terdekat soal membangun pariwisata di pinggiran danau, laut dan sungai.

“Artinya, sungai mulai dari muara danau Tondano sampai ke Kota Manado juga perlu diatur dengan Tata Ruang Daerah yang bisa dijadikan pedoman bagi para investor dan setiap rakyat,” ujar Sompie yang menjadi Kepala Devisi Humas Mabes Polri tahun 2013 – 2015.

Ini, ungkapnya, sedikit pandangannya untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran bagi Pemda setempat dan masyarakat di sekitar danau Tondano tentang bagaimana sebaiknya memperlakukan dan menggunakan danau Tondano untuk kepentingan (destinasi) pariwisata ke depan sampai tahun 2045, Indonesia Emas. (lk)