Meimonews.com – Gubernur Sulut Mayjen TNI Purn. Yulius Selvanus memberikan apresiasi yang tinggi kepada 11 personil Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Manado di Wisma Negara Bumi Beringin, Senin (18/5/2026).

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan aksi heroik mereka dalam menyelamatkan korban saat insiden kebakaran yang terjadi Megamall Manado, Sabtu (16/5/2026) malam.

Atas penghargaan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, dalam hal ini Dinas Damkar Manado menyampaikan terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Gubernur Sulut.

Semoga apresiasi ini semakin memperkuat komitmen Dinas Damkar Manado untuk terus hadir memberikan pelayanan yang cepat, tanggap, profesional, dan humanis demi keselamatan masyarakat Kota Manado.

Diketahui, pada Sabtu (16/5/2026) malam Megamall Manado mengalami musibah kebakaran. Dinas Damkar Manado bergerak cepat.

Dalam penanganan darurat tersebut seluruh armada milik Dinas Damkar Kota Manado dikerahkan ke lokasi.

Upaya pengendalian api dan lokalisir area juga mendapat dukungan penuh dari personil Korps Brimob, Polresta Manado, Basarnas, serta tim medis untuk penanganan cepat terhadap para korban luka ringan.

Begitu mengetahui adanya kebakaran tersebut Wakil Walikota Manado Richard Sualang langsung meninjau lokasi musibah kebakaran guna memastikan langkah-langkah evakuasi dan pemadamam berjalan secara terintegrasi.

Pemerintah Kota Manado pimpinan duet Walikota Andrei Angouw dan Wakil Walikota Richard Sualang menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam atas korban meninggal dunia akibat insiden ini, juga memberikan apresiasi kepada para petugas yang berjuang di tempat kejadian.

Masyarakat diminta untuk mempercayakan proses penyelidikan penyebab kebakaran kepada pihak kepolisian. (elka)

Meimonews.com – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Gunung Maria Tomohon melakukan langkah nyata dalam meningkatkan fasilitas pendidikan yang lebih modern dan mendukung pembelajaran berbasis praktik.

Hal itu terlihat ketika sekolah tinggi negeri swasta yang bernaung di bawah Yayasan Ratna Miriam ini melakukan peletakan batu pertama pembangunan Ruang Kuliah dan Laboratorium Keperawatan, Senin (8/5/2026).

Peletakan batu pertama di momen bersejarah ini diawali ibadah yang dipimpin Pastor Revi Rafael Hendrico Mario Tanod Pr (Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Kolongan Tomohon).

Hadir pada acara ini, Provinsial SJMJ Manado Sr. Margaretha Toliu SJMJ bersama Dewan Pimpinan Provinsi Manado serta sejumlah suster SJMJ, pimpinan Yayasan Ratna Miriam Sr. Maria Kobun SJMJ dan Sr. Rosaline Mukkun SJMJ.

Selain itu, Ketua Stikes Gunung Maria Tomohon Henny Pongantung bersama dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa dari 5 program studi.

Dengan adanya pembangunan ini diharapkan menjadi langkah awal yang penuh berkat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Stikes Gunung Maria Tomohon serta dapat menunjang kualitas lulusan yang profesional, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja.

Suster Toliu menegaskan, pembangunan ini menjadi tanda bahwa Stikes Gunung Maria terus bertumbuh dan berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan demi menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di masa kini dan masa depan.

“Ruang kelas dan laboratorium yang akan dibangun ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi tempat lahirnya proses pembelajaran, penelitian, keterampilan, dan pembentukan karakter para mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan yang profesional dan berjiwa melayani,” ujarnya ketika.memberikan sambutan pada acara tersebut,

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, sebutnya, kita disadarkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk hati dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam semangat Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 60 dengan tema Menjaga suara dan wajah nanusia, kita diingatkan untuk menghadirkan dunia pendidikan yang menghargai martabat manusia, mendengarkan suara-suara yang membutuhkan perhatian, dan menghadirkan pelayanan yang penuh empati, belas kasih, dan kemanusiaan.

“Karena itu, harapan kita, melalui ruang-ruang pembelajaran dan laboratorium ini, Stikes Gunung Maria semakin mampu membentuk generasi tenaga kesehatan yang bukan hanya cakap dalam ilmu dan keterampilan, tetapi juga memiliki hati yang peka, mampu menjaga suara kemanusiaan, dan merawat wajah sesama dengan kasih dan pengabdian,” ujarnya.

Suster Tolou berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pembangunan ini: para pimpinan, Yayasan Ratna Miriam, tenaga pendidik, benefaktor/benefaktris, pemerintah, mahasiswa, dan seluruh sahabat dan mitra karya. Semoga kebersamaan dan semangat pelayanan yang kita bangun hari ini menjadi berkat bagi banyak orang.

Kiranya Tuhan, tambahnya, memberkati pembangunan ini, melindungi semua yang terlibat dalam prosesnya, dan menjadikan tempat ini sebagai ruang tumbuhnya ilmu pengetahuan, integritas, belas kasih, dan harapan bagi masa depan. (FA)

Meimonews.com – Pada Minggu Paskah VII, umat Katolik sedunia memperingati Hari Komunikasi (Komsos) Sedunia, yang pada tahun ini memasuki peringatan yang ke-60.

Berkaitan dengan momen ini, Paus Leo XIV, Pemimpin Katolik Sedunia mengeluarkan pesannya dengan tema Menjaga suara dan wajah manusia. Pesan ini dikeluarkan Paus Leo XIV pada peringatan Santo Fransisiskus de Sales, Sabtu (24/1/2026) waktu Vatikan.

Berikut pesan selengkapnya, hasil terjemahan Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) seperti dikutip Meimonews.com,

Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.

Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya, mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti “wajah,” yaitu sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan terjadinya hubungan.

Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare) juga mengandung makna suara, bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik seseorang.

Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk hidup melalui Sabda-Nya.

Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan.

Sabda Allah—cara Allah menyatakan diri-Nya—dapat kita dengar dan lihat secara nyata (lih. 1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra Allah.

Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti dikatakan Santo Gregorius dari Nisa, Allah meninggalkan pantulan kasih-Nya pada wajah manusia agar manusia dapat hidup sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih.

Karena itu, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus. Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama.

Jika wajah dan suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja.

Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut
kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan antarpribadi.

Karena itu, tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri.

Menjaga wajah dan suara berarti
menjaga martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang menyertainya.

Jangan Berhenti Berpikir Sendiri
Sudah lama ada banyak bukti bahwa algoritma media sosial—yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna demi keuntungan platform—lebih mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sementara justru menghambat ungkapan manusia yang membutuhkan waktu, seperti usaha untuk memahami dan merenung.

Dengan mengurung kelompok-kelompok orang dalam “gelembung” persetujuan instan dan kemarahan yang mudah, algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat.

Situasi ini diperparah oleh sikap mempercayai kecerdasan buatan secara naif dan tanpa sikap kritis, seolah-olah ia adalah “teman” yang mahatahu, penyedia semua informasi, penyimpan seluruh ingatan, dan “peramal” segala nasihat.

Semua ini berisiko semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir secara analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara struktur bahasa dan arti yang sesungguhnya.

Walaupun kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi, menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi kita.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks, musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih.

Sementara itu, karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.

Namun, persoalan utama bukanlah apa yang dapat atau akan dapat dilakukan oleh
mesin, melainkan apa yang dapat dan akan dapat kita lakukan sebagai manusia –bertumbuh dalam kemanusiaan dan pengetahuan—dengan menggunakan secara bijaksana alat-alat yang sangat kuat ini.

Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk mengambil buah pengetahuan tanpa usaha keterlibatan, pencarian, dan tanggung jawab pribadi. Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.

Menjadi atau Berpura-pura : Simulasi Relasi dan Realitas
Saat kita terus menggulir arus informasi (feed), semakin sulit untuk mengetahui apakah kita sedang berinteraksi dengan manusia lain atau dengan “bot” dan “influencer virtual”.

Campur tangan agen otomatis ini, yang sering kali tidak transparan, mempengaruhi perdebatan publik dan pilihan-pilihan pribadi. Terutama chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) terbukti sangat efektif dalam persuasi tersembunyi melalui interaksi yang terus dioptimalkan secara personal.

Struktur dialog yang adaptif dan meniru manusia dari model bahasa ini mampu menirukan perasaan manusia dan dengan demikian mensimulasikan suatu relasi.

Antropomorfisasi ini—yang kadang tampak menghibur—sebenarnya menyesatkan, terutama bagi orang-orang yang rentan. Chatbot yang dibuat terlalu “penuh perhatian”, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi.

Teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi tidak hanya dapat
membawa dampak menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengklasifikasikan pikiran kita dan membangun di sekitar kita dunia cermin, di mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita sendiri”.

Dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda dari kita—padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah kita belajar berdialog. Tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati maupun persahabatan.

Tantangan besar lainnya adalah masalah distorsi atau bias, yang menyebabkan terbentuk dan tersebarnya pemahaman realitas yang keliru.

Model kecerdasan buatan dibentuk oleh pandangan dunia para pembuatnya dan dapat memaksakan cara berpikir tertentu dengan meniru stereotip dan prasangka yang ada dalam data pelatihannya.

Kurangnya transparansi dalam perancangan algoritma, ditambah dengan representasi sosial data yang tidak memadai, berisiko menjebak kita dalam jaringan yang memanipulasi pikiran serta melanggengkan dan memperdalam ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang sudah ada.

Risikonya sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan mengambil alih wajah dan suara kita. Kita hidup dalam dunia yang semakin berlapis, di mana membedakan antara kenyataan dan rekayasa menjadi makin sulit.

Masalah lain yang menyertai adalah kurangnya ketepatan. Sistem yang menyajikan probabilitas statistik seolah-olah itu pengetahuan sejati sebenarnya hanya memberikan perkiraan kebenaran, yang kadang berubah menjadi “halusinasi”.

Ketika verifikasi sumber diabaikan—ditambah krisis jurnalisme lapangan yang menuntut kerja langsung untuk mengumpulkan dan memeriksa fakta di tempat kejadian—maka ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat.

Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan
Di balik kekuatan besar yang tak terlihat ini—yang memengaruhi kita semua— sebenarnya hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya, baru-baru ini bahkan dipuji sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan.

Situasi ini menimbulkan kekuawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak (oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat manusia—termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.

Tantangan kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dengan bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda.

Setiap orang dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman. Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama : tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang kita bangun bersama.

Bagi para pemimpin platform digital, tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka tidak hanya didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh kepedulian terhadap kesejahteraan bersama—sebagaimana mereka peduli pada masa depan anak-anak mereka sendiri.

Para perancang dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap transparan dan bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan dan sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.

Tanggung jawab yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat manusia.

Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang berlebihan dengan chatbot, serta membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, sehingga integritas informasi tetap terjaga.

Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya mengejar perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi, bukan sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya.

Konten yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang jelas dan dibedakan dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya para jurnalis serta kreator konten harus dilindungi. Informasi adalah milik publik.

Pelayanan publik yang bermakna dan membangun harus berlandaskan keterbukaan sumber, pelibatan pihak terkait, dan standar kualitas yang tinggi.

Kita semua juga dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama.

Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting : meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik
pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan.

Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil.

Sebagai umat Katolik, kita dapat dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk tidak memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat.

Literasi ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan buatan—yang bisa saja keliru—melindungi privasi dan data pribadi, serta memahami pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan.

Penting untuk belajar menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk penipuan digital, perundungan siber, atau deepfake yang melanggar privasi dan martabat manusia.

Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar manusia mampu beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital— bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam kecerdasan buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi kita, serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.

Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.

Dengan menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi. (*/leka)

Meimonews com – Pelayanan kesehatan yang humanis dan profesional terus menjadi komitmen RSUP Prof. Dr. RD Kandou (akrab disebut RSUP Kandou atau RS Kandou) Manado dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, termasuk pasien rujukan dari berbagai daerah di Indonesia Timur.

Komitmen tersebut merupakan instruksi langsung Direktur Utama RSUP Kandou Starry Homenta Rampengan bersama jajaran direksi untuk terus mengedepankan pelayanan prima kepada seluruh pasien.

Apresiasi datang dari Mey Klafie, orangtua pasien asal Papua yang tengah menjalani pengobatan di Poliklinik Estela RSUP Kandou. Dengan penuh haru, ia mengaku sangat puas terhadap pelayanan yang diterima selama mendampingi anaknya menjalani perawatan.

“Saya Mey Klafle asal Papua, orangtua pasien rujukan dari Papua ke RS Kandou dan berobat di Poliklinik Estela. Di sini saya merasa sangat puas sekali dengan pelayanan tim medis di RS Kandou. Susternya sangat ramah, dokternya juga baik. Pokoknya semua memuaskan,” ungkap Mey di ruang Estela, Rabu (13/5/2026), seperti dikutip Humas RSUP Kandou.

Mey sampai menangis melihat perhatian dan keramahan tenaga kesehatan yang melayani pasien dan keluarga dengan penuh kepedulian. “Kami tidak bisa membalas kebaikan tenaga medis yang melayani anak kami. Saya doakan Tuhan memberkati semua pelayanan di RS Kandou supaya menjadi berkat bagi banyak orang,” tambahnya.

Apresiasi atas pelayanan baik dari RSUP Kandou datang pula dari Asmi Mokodongan, pasien asal Kotamobagu yang mengaku puas dengan pelayanan selama menjalani perawatan dan operasi di rumah sakit rujukan terbesar di Sulawesi Utara ini.

Asmi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh tenaga medis RS Kandou, mulai dari dokter, perawat hingga petugas pelayanan yang dinilainya ramah dan profesional selama proses pengobatan.

“Saya merasa bangga dan sangat puas dengan pelayanan di RS Kandou Manado. Dokternya sangat bagus, susternya juga luar biasa ramah. Pelayanannya sangat baik,” ujar Asmi di ruang perawatan Irina D Atas RS Kandou Selasa (11/5/2026).

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada dokter yang menangani operasi dirinya, terutama dr. Joel, serta tim anestesi dan seluruh tenaga medis di ruang Irina D Atas yang disebutnya memberikan perhatian penuh selama masa perawatan.

“Terima kasih kepada dokter yang telah menangani dan melaksanakan operasi saya, terutama fokter Joel. Saya sangat berterima kasih karena sekarang saya sudah sehat,” katanya.

Asmi juga mengaku terkesan dengan sikap para perawat dan tenaga kesehatan yang dinilainya selalu memberikan pelayanan dengan penuh perhatian dan keramahan kepada pasien.

Menurutnya, pelayanan di RSUP Kandou Manado sangat membantu proses pemulihan pasien, sehingga dirinya merasa nyaman selama menjalani pengobatan.

“Suster-suster di Irina D Atas luar biasa. Dokter-dokternya hebat, pelayanannya mantap. Saya sangat berterima kasih kepada Direktur Utama Prof Starry Rampengan dan seluruh jajaran RS Kandou,” sebutnya, seperti dikutip Humas RSUP Kandou.

Sebelum keluar rumah sakit Asmi turut mengajak masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan agar tidak ragu berobat di RSUP Kandou Manado.

“Saya mengajak masyarakat yang mau berobat supaya datang ke RS Kandou Manado, karena pelayanannya luar biasa,” tandasnya.

Direktur Utama RSUP Kandou Starry Homenta Rampengan pada setiap pimpin apel selalu menegaskan bahwa pihak rumah sakit terus mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan terbaik, cepat, profesional, dan penuh empati kepada masyarakat.

Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman dan kepedulian bagi pasien maupun keluarga.

Dirut terus mengingatkan seluruh jajaran agar memberikan pelayanan dengan hati. Kepuasan dan kenyamanan pasien menjadi prioritas utama RS Kandou sebagai rumah sakit rujukan nasional di kawasan timur Indonesia.

Testimoni pasien dan keluarga seperti ini menjadi motivasi bagi RSUP Kandou untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas, humanis, dan terpercaya bagi masyarakat. (Fer)

Meimonews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar puncak Perayaan Paskah Tahun 2026 di Auditorium Fakultas Kedokteran Unsrat Manado, Rabu (13/5/2026). Ibadah dipimpin Ketua BPMS GMIM Pdt. Adolf Katuuk Wenas (khadim) di dampingi Pastor Dismas Valens Salettia Pr.

Tema yang diangkat pada perayaan Paskah tahun 2026 adalah Terang kebangkitan Kristus menyinari sivitas akademika Universitas Sam Ratulangi, bertumbuh dalam budaya mutu, berdampak bagi sesama dan berwawasan internasional.

Hadir pada kegiatan ini, para Wakil Rektor dan Dekan di lingkungan Unsrat, tenaga pendidik dan pegawai administrasi serta mahasiswa dari berbagai fakultas serta tamu penting yakni Pangdam XIII/Mdk Mayjen TNI Mirza Agus dan perwakilan Pemprov Sulut.

Perayaan yang penuh khidmat ini tidak hanya menjadi momentum refleksi iman, tetapi juga mempererat sinergitas antarlembaga di Sulawesi Utara.

Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menambah kehikmatan acara yang dipusatkan di lingkungan kampus Unsrat.

Dalam sambutannya, Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran unsur Forkopimda dan pemerintah daerah.

“Kehadiran Bapak Pangdam dan perwakilan Pemerintah Provinsi merupakan bentuk dukungan nyata terhadap atmosfir akademik yang harmonis di Unsrat,” ujar Rektor.

Terkait dengan tema yang diangkat pada perayaan Paskah tahun ini, Rektor menegaakan, tema ini mengandung makna yang sangat mendalam bagi komunitas akademik.

“Kebangkitan Kristus bukan hanya menjadi simbol kemenangan atas maut, tetapi juga menghadirkan terang pengharapan, pembaharuan hidup serta semangat untuk terus bertumbuh dan memberi dampak posotif bagi dunia di sekitar kita,” ujar Rektor.

Melalui momen Paskah ini, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika Unsrat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat pelayanan, meningkatkan kualitas diri dan menghadirkan terang Kristus melalui karya, pengabdian dan keteladanan hidup masing-masing.

“Kiranya terang kebangkitan Kristus senantiasa menerangi langkah, karya dan pengabdian kita bersama demi kemajuan Universitas Sam Ratulangi, masyarakat, bangsa dan negara,” harap Rektor.

Dalam khotbahnya, pendeta Wenas menekankan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber pengharapan dan kekuatan bagi dunia pendidikan untuk terus melahirkan generasi yang berintegritas.

Perayaan Paskah 2026 Unsrat ini diselenggarakan oleh panitia yang merupakan kolaborasi Fakultas Teknik pimpinan Liany Amelia Hendrata sebagai Ketua, Fakultas Ilmu Budaya pimpinan Golda Juliet Tulung Wakil Ketua, Fakultas Pertanian pimpinan Dedie Tooy Seketaris, dan Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran pimpinan Max RJ Runtuwene Bendahara.

Ada sejumlah kegiatan yang diadakan pada Perayaan Paskah 2026 yang dibuka pelaksanaannya oleh Rektor yang ditandai pelepasan burung ke udara yang diadakan di kompleks Kantor Pusat Urusan internasional UnsratUnsrat, Rabu (5/5/2026)

Kegiatan itu adalah donor darah (5)5/2026), anjangsana dan berbagi kasih di Panti Sosial Bartemeus (8/5/2026) dan acara puncak (13/5/2026). (FA)

Meimonews.com – Sebanyak 10 guru besar (profesor) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dikukuhkan dalam sidang senat terbuka Unsrat yang dipimpin Ralf Kairupan di Auditorium Unsrat Manado, Kamis (7/5/2026).

Pengukuhan ini berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Kemenediktisanitek RI) Brian Juliarto yang dibacakan Wakil Rektor 2 Unsrat Royke Iwan Montolalu.

Kesepuluh guru besar tersebut adalah Steenie Edward Walla, Tiny Mananoma, Dolfie Paulus Pandara, Henny Lieke Rampe, Joy Elly Tulung, Dedie Tooy, Dantje Taroreh, Betsy Agustina Naomi Pinaria, Leonardus Ricky Rengkung, dan
Carnels Djelfie Massie,

Sebelum dikukuhkan, para guru besar tersebut menyampaikan orasi ilmiah (secara singkat) di hadapan pimpinan dan anggota senat universitas, pimpinan unsrat dan fakultas, serta tamu/undangan termasuk Kepala Bapelitbang Sulut, Dewan Pengawas Kemendiktiaaintek, Kabidkum Polda Sulut dan keluarga guru besar yang dikukuhkan.

Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie mengatakan, hari ini, di ruangan ini kita menyaksikan buah dari sebuah perjuangan panjang itu. Menjadi guru besar bukan perjalanan yang singkat.

“Di balik toga dan gelar profesor yang hari ini dikenakan, ada malam-malam panjang yang diisi penelitian, ada lelah yang sering disimpan dalam diam, ada kegagalan yang dilalui dengan ketekunan, dan ada doa keluarga yang tidak pernah berhenti menyertai,” ujarnya.

Karena itu, sambung Rektor, pengukuhan hari ini bukan hanya kebanggaan pribadi tetapi juga kebanggaan keluarga, kebanggaan Unsrat dan kebanggaan masyarakat Sulut.

“Hari ini Universitas Sam Ratulangi bersyukur karena memiliki 10 guru besar baru yang akan menjadi cahaya bagi generasi muda, menjadi penggerak lahirnya inovasi dan menjadi suara akademik yang membawa solusi bagi masyarakat,’ tandas Rektor.

Gubernur Sulut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Bapelitbang Sulut Yani Lukas mengatakan, guru besar adalah pencapaian luar biasa yang diraih nelalui proses panjang, penuh dedikasi, kerja keras dan ketekunan.

“Tidak semua orang mampu mencapai titik ini, sehingga apa yang diraih hari ini patut disyukuri dan dibanggakan,” ujar Lukas,

Guru besar, menurut Gubernur, bukan sekedar capaian akademik tertinggi melainkan simbol tanggung jawab yang besar. Di balik gelar tersebut, tersimpan harapan agar para.guru besar mampu menjadj pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidik yang membenruk generasi unggul sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat.

“Dengan demikian, seorang guru beaar tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga kebijakaanaan serta kemampuan untuk menghadirkan dampak nyata,’ sebutnya. (FA)

Meimonews.com – Dua poin penting terkait Aksi Demonstrasi di Polda Sulut, baru-baru diklarifikasi pimpinan Unsrat saat Konferensi Pers yang diadakan di ruang rapat kantor pusat Unsrat, Manado, Selasa (5/5/2026).

Dari pimpinan Unsrat hadir Wakil Rektor 3 Ralfie Pinasang dan Wakil Rektor 2 Royke Iwan Montolalu (mewakili Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie) di dampingi Humas Unsrat Philips Morse Regar dan Gabriel Senduk. Turut hadir Ketua BEM Unsrat Solideo Saul dan Ketua MPM Unsrat Justin Anlo,

Kedua poin penting tersebut adalah keikutsertaan 3 (tiga) dosen dan mahasiswa Unsrat serta tudingan adanya korupsi dana sertifikasi dosen (serdos).

Terkait adanya dosen yang terlibat dalam aksi demonsteasi tersebut, Pinasang menegaskan,
keterlibatan oknum dosen Unsrat pada aksi demonstrasi di Polda Sulut, baru-baru tidak terkait dengan institusi Unsrat. Itu adalah aksi pribadi.

Kehadiran tiga dosen tersebut, menurut Ralfie, bukan bagian dari sikap ataupun agenda resmi institusi kampus. Itu dilakukan mereka secara personal dan tidak ada izin dari pimpinan institusi, sebagaimana aturan yang berlaku bagi aparatir sipil negara (ASN).

Ketiga dosen tersebut, tambahnya akan dipanggil untuk dimintai klarifikasi oleh pihak rektorat.

Terkait dengan adanya demonstran mahasiswa Unsrat, Pimpinan Unsrat didukung BEM dan MPM Unsrat menegaskan tidak benar adanya mahasiswa Unsrat dalam akai demonstrasi tersebut.

Status mereka yang ikut demo itu adalah alumni, bukan mahasiswa aktif. ‘Kami sudah melakukan koordinasi dan pengecekan secara internal, ternyata yang terlibat bukan mahasiswa, melainkan alumni,” ujar Pinasang.

Pimpinan Unsrat juga membantah dugaan penyalahgunaan dana sertifikasi dosen (serdos) seperti yang disuarakan saat aksi demonstrasi karena mekanisme pembayaran serdos sepenuhnya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.

“Unsrat hanya menyalurkan. Jadi tuduhan adanya korupsi ataupun penahanan dana itu tidak benar,” tandasnya.

Dijelaskan, ada dosen yang belum menerima hak serdos karena sedang menjalani sanksi administratif berupa pemberhentian sementara dari jabatan akademik. Keadaan tersebut otomatis berdampak pada penghentian hak jabatan selama masa sanksi berlangsung.

Keputusan tersebut, menurut Montolalu, telah sesuai mekanisme dan sudah dilaporkan kepada Kementerian terkait.

Dijelaskan, salah satu dosen yang terlibat aksi sebelumnya pernah dikenai sanksi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemensiktisaintek) terkait dugaan kasus bullying. Faktor itu menjadi pertimbangan kampus dalam kebijakan akademik tertentu, termasuk pemberian kesempatan penelitian.

Unsrat memastikan akan memproses persoalan ini sesuai ketentuan disiplin ASN sebagainana diatur dalam PP No. 94 tahun 2021.

Ralfie menyebutkan bahwa klarifikasi tetap dilalukan untuk mengetahui fakta sebenarnya termasik motif dan tujuan keterlibatan para dosen tersebut pada aksi demonstrasi di Polda Sulut. (FA)

Meimonews.com – Momen penuh sukacita mewarnai Penamatan Siswa SMA Negeri Negeri 8 (Smandel) Manado yang dilaksanakan di aula sekolah, jalan Politeknik Kairagi Dua Manado, Selasa (5/5/2026).

Ada sebanyak 357 siswa (189 laki-laki dan 168 perempuan) yang dalam tahun ajaran 2025/2026 yang telah dinyatakan selesai belajar di institusi pendidikan menengah atas yang memiliki visi Terwujudnya manusia unggul yang bernapaskan Pancasila ini. 351 siswa telah dinyatakan lulus sementara 6 siswa masih ditangguhkan kelulusannya karena harus menyelesaikan tagihan dalam ujian esai.

Walaupun dalam suasana sederhana merujuk pada aturan Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Suut namun para siswa yang telah tiga tahun (6 semester) belajar dan lulus pada ujian akhir tetap dengan penuh sukacita mengikuti acara penamatan.

Kepala SMA Negeri 8 Manado Mediatrix Maryani Ngantung dalam sambutannya mengungkapkan, tidak terasa hari ini akhirnya tiba di mana adik-adik siswa mengakhiri tugas belajar selama 3 tahun di SMA Negeri 8 Manado.

Kebersanaan selama 3 tahun belajar di SMA Negeri 8 Manado, prestasi-prestasi yang telah diraih selama ini, proses belajar yang sudah dijalani semuanya telah dilalui dan dinikmati bersama. Dan itu akan menjadi kenangan. Kenangan yang manis selama berada di sekolah ini.

Setelah ini, sebutnya, anda (para lulusan) akan menapaki dunia yang lebih luas lagi. Bukan lagi sebatas di lokasi sekolah tetapi akan melangkah ke dunia yang lebih luas lagi. Ada yang ke perguruan tinggi di Sulut tapi ada yang akan keluar daerah atau dunia kerja. Itu masa depan anda.

“Selaku Kepala Sekolah, saya menyampaikan banyak selamat kepada semua siswa kelas 12 yang telah menyelesaikan tugas belajar selama 3 tahun di sekolah ini. Selamat berjuang menghadapi hari esok,” ujarnya,

Kepala sekolah penggerak kreatif dan inovatif ini mengemukakan, cita-cita anda (para lulusan) masih panjang. Masih jauh. Masih banyak yang bisa diraih. Bawalah nama almamater, berikanlah yang terbaik di manapun berada.

“Tunjukkanlah kemampuan diri anda sendiri. Berbaktilah kepada keluarga, kepada gereja, kepada agama dan kepada masyarakat dan negara. Dan terlebih berikanlah diri anda yang terbaik untuk dunia,” ujarnya.

Ketika memberikan sambutan, Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Daerah Sulut Jefri Umboh (mewakili Kadis Diksa Sulut Femny J. Suluh) menjelaskan, acara penamatan dan kelulusan adalah agenda resmi dari Pemerintah Provinsi Sulut karenanya telah diterbitkan surat edaran untuk dilakukan oleh setiap sekolah. Oleh karena itu, terima kasih kepada Kepala SMA Negeri 8 Manado yang telah merealisasikan isi edaran tentang acara penamatan/kelulusan siswa seperti sekarang ini.

“Ini (kesederhaan) adalah bagian dari dunia pendidikan menunjang program nasional tentang efisiensi tidak perlu berbiaya mahal. Sederhana tapi tidak boleh mengurangi semangat dan kebahagiaan kita,” tandasnya.

Karena apa yang diawali adik-adik di sini, juga adalah bagian dari kesukacitaan dari Dinas Pendidikan Daerah Sulut karena telah menyelenggarakan program pendidikan secara luas.

Apa yang didapat selama belajar di sekolah ini menjadi bekal/modal di kemudian hari. Mulai besok, kalian (para lulusan) akan berada di lingkungan yang lebih luas. Tidak lagi datang jam 06.30 ke sekolah dan pulang jam 15.00. Status siswa tidak ada lagi. Anda sudah berada di tengah-tengah masyatakat.

Dinamika yang ada di lingkungan sosial masyarakat jauh lebih maju, jauh lebih rumit dan sulit untuk dihadapi. Semangat yang diberikan selama di SMA Negeri 8 Manado menjadi modal kuat bagi adik-adik untuk masuk ke dunia modern saat ini.

Diungkapkan, Sulawesi Utara yang mengikuti ujian tahun ini (kelas 12) ada 20.126. SMA Negeri 8 Manado mampu menjadi penyelenggara pendidikan di atas rata-rata. SMA Negeri 8 telah memberikan peran yang luar biasa bagi kemajuan pendidikan di Sulawesi Utara.

“Tetaplah berprestasi. Ingat anda 3 tahun hidup di sekolah ini. Ketika anda meninggalkan sekolah ini, ingat yang anda harus buat. Sekecil apapun itu untuk kemajuan SMA Negeri 8 Manado yang dicintai bersama ini,” pesan Kabid Dik SMA Dikda Sulut.

Setelah sambutan dari Ketua Komite Smandel Manado Johanes Don Bosco diadakan penyerahan secara simbolis ijasah kepada siswa perwakilan kelas.

Penyerahan dilakukan oleh Kabid Dik SMA Dikda Sulut di dampingi Kepala Sekolah, Ketua Komite Smandel Manado serta disaksikan para wakil Kepala Sekolah, para wali kelas serta guru dan staf. (Fer)

Meimonews.com – Peringatan 63 tahun integrasi Papua merupakan pengingat bahwa Papua adalah bagian dari jantung Indonesia,

Hal tersebut disampaikan Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie ketika memberikan sambutan pada upacara peringatan ke-63 Hari Integrasi Papua yang diadakan di Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Manado, Jumat (1/5/2026).

“Di Asrama Mahasiswa Nusantara ini, kita melihat miniatur Indonesia yang sesungguhnya, di mana perbedaan menjadi kekuatan untuk maju bersama,” ujar Rektor.

Di momen peringatan bersejarah tersebut Rektor menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya peran mahasiswa, khususnya mahasiswa asal Papua yang menempuh studi di berbagai daerah, termasuk di Universitas Sam Ratulangi.

Kehadiran Rektor Unsrat ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap semangat persatuan nasional dan penguatan harmoni antar-etnis di lingkungan akademik.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air.

Peringatan Hari Integrasi Papua yang jatuh setiap tanggal 1 Mei ini dimaknai sebagai momentum untuk memperkokoh komitmen kebangsaan di bawah naungan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (FA)

Meimonews.com – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK SNBT) Unsrat tahun 2026 berakhir dan ditutup pelaksanaannya oleh Wakil Rektor 1 Unsrat/Ketua Panitia UTBK SNBT Unsrat Arthur Gehart Pinaria mewakili Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie, Kamis (30/4/2026).

Dalam sambutannya, Pinaria menegaskan, secara keseluruhan kegiatan UTBK-SNBT Unsrat telah berjalan sangat baik, karena didukung oleh kekompakan semua komponen pantia yang telah bekerja cerdas dan bekerja keras serta bertanggung jawab sesuai fungsi dan peran masing-masing.

“Untuk itulah saya ucapkan terima kasih,” ujarnya pada kegiatan yang dilaksanakan di Gedung TIK Unsrat Manado yang turut dihadiri Ketua Tim Monev Panitia Pusat Andi Ridwan Makkulawa dan staf.

Dalam sambutannya, Makkulawa menyimpulkan bahwa keseluruhan jalannya UTBK-SNBT Unsrat berlangsung sangat baik dan tidak ditemukan adanya praktik kecurangan oleh Panitia, Pengawas dan Peserta.

“UTBK Unsrat berlangsung sangat baik karena didukung oleh fasilitas komputer, koneksi internet, ruangan AC, Monitor CCTV, metal detektor di setiap ruangan untuk scan peserta serta antisipasi gangguan kesehatan peserta, panitia menyediakan Posko dan Tim Medis,” ujarnya.

Ditambahkan, panitia juga telah melaksanakan tugas sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik.

Diketahui, pelaksanaan UTBK SNBT Unsrat tahun 2026 berlangsung sejak Selasa (21/4/2026) dan dibuka pelaksanaannya oleh Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie dan di dampingi Pinaria dan Tim Monev Panitia Pusat (Baca : Buka UTBK SNBT Unsrat, Rektor Ingatkan untuk tidak Memberi Uang Pelicin pada Siapapun yang Menjanjikan Kelulusan). (FA)