Meimonews.com – Tim dosen Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) mendampingi satu usaha batu bata di Kota Manado untuk meningkatkan kualitas produksinya.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Klaster 2 Unsrat tahun 2026 ini dipimpin Jefrey Ignatius Kindangen bersama Johansen C. Mandey dan Loudy MB Kalalo serta dibantu tiga mahasiswa.
Hasil survei dan wawancara tim menunjukkan, pengusaha bata di Manado dan sekitarnya umumnya bekerja sendiri-sendiri dan baru berproduksi jika ada pesanan. Akibatnya, pasokan sering terlambat, harganya naik turun, dan ukuran batanya tidak seragam.
Bata untuk dinding ekspos, bata berlubang, dan bata modular fasad juga belum tersedia di pasar lokal, sehingga harus didatangkan dari luar pulau. Ukuran bata yang seragam berpengaruh langsung terhadap biaya pembangunan.
Dalam perhitungan tim untuk dinding setengah bata, selisih ukuran yang memaksa tambahan plesteran 1 cm pada tiap sisi dinding meningkatkan kebutuhan adukan sekitar 44 persen per meter persegi.
Pendampingan mencakup tiga hal: pembentukan kelompok usaha, perbaikan proses produksi dan desain produk, serta penguatan pemasaran.
Tim juga mengenalkan bata arsitektural, yaitu bata untuk dinding ekspos dan dinding berongga, yang bernilai jual lebih tinggi dan mulai banyak dicari oleh para perancang bangunan.
“Kami ingin usaha bata lokal mampu memenuhi kebutuhan pembangunan di Sulawesi Utara dengan mutu yang terjamin,” ujar Kindangen yang adalah juga Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Unsrat,
Kegiatan ini sejalan dengan fokus pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Strategis LPPM Unsrat 2025–2030. (FA)





