(Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Di seluruh dunia, jutaan orang menunggu babak semifinal Piala Dunia 2026 dengan harapan sederhana : melihat negaranya menjadi juara dunia. Namun, di sebuah warung kopi, ada seorang pria yang justru sibuk menghitung sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bukan peluang juara. Bukan probabilitas adu penalti, melainkan peluang siapa yang akan menjadi pencetak gol terbanyak.

Temannya mulai heran. “Negara mana yang kamu dukung ?” Pria itu mengangkat kepala sebentar. “Saya mendukung Mbappé, Messi, Kane… dan tadi sebenarnya Haaland juga.”
“Lho ? Bukannya mereka main untuk negara yang berbeda ?” “Itulah justru indahnya.” Temannya langsung sadar. “Oh… kamu tukang bridge, ya ? Pria itu hanya tersenyum.

Bagi pemain bridge, dunia memang sedikit berbeda. Kalau orang lain melihat bagan pertandingan, mereka melihat jalan menuju trofi. Pemain bridge melihat pohon kemungkinan (game tree).

Kalau orang lain menghitung penguasaan bola, pemain bridge menghitung peluang. Kalau orang lain berteriak “Ayo menyerang!”, pemain bridge malah bertanya, “Kalau Inggris lolos, berarti Kane masih punya dua kesempatan menambah gol. Tapi kalau Norwegia yang lolos, Haaland juga masih hidup. Mana yang lebih menguntungkan ?”

Begitulah otak seorang pemain bridge bekerja. Awalnya, ia memiliki impian yang menurutnya sangat indah. Semifinal diisi oleh Prancis, Inggris, Norwegia, dan Argentina. Empat negara.
Empat monster pencetak gol. Mbappé. Messi. Haaland. Kane.

Semuanya masih hidup sampai akhir turnamen. Persaingan Sepatu Emas dijamin berlangsung sampai detik terakhir. Sayangnya… Sesudah membuka bagan pertandingan FIFA lebih teliti, wajahnya langsung berubah. “Lho…”

“Inggris ketemu Norwegia di perempat final?” Ia menepuk jidat. “Berarti salah satu pasti pulang.” Logika bridge yang begitu rumit akhirnya dikalahkan oleh sesuatu yang sangat sederhana. Bagan pertandingan.

Tetapi pemain bridge jarang menyerah.
Kalau kontrak gagal, masih ada papan berikutnya. Kalau rencana A gagal, buat rencana B. Maka lahirlah skenario baru. Prancis. Argentina. Spanyol. Ditambah salah satu dari Inggris atau Norwegia. Masih lumayan. Minimal perebutan Sepatu Emas tetap panas.

Di sinilah orang biasa dan pemain bridge mulai sulit saling memahami. Seorang penggemar sepak bola berkata, “Saya ingin negara saya juara dunia.” Pemain bridge menjawab, “Saya ingin top skor baru ditentukan pada pertandingan terakhir.” “Jadi kamu tidak peduli siapa juara?” “Bukan begitu.”

“Lalu?” “Kalau juara sudah ketahuan, pertandingan selesai.” “Kalau Sepatu Emas belum selesai, setiap gol masih mengubah cerita.”

Bahkan ia memiliki teori sendiri. Trofi Piala Dunia hanya diangkat satu kali. Tetapi perebutan Sepatu Emas bisa berubah setiap menit. Satu gol. Satu penalti. Satu tendangan bebas. Satu sundulan.

Semuanya bisa mengubah klasemen pencetak gol. Itulah drama yang membuatnya tidak berani meninggalkan televisi, bahkan hanya untuk membuat secangkir kopi.

Ketika Mbappé mencetak gol kedelapannya, ia tersenyum. Ketika Messi menyamai jumlah gol itu, ia mengangguk puas. Ketika Kane terus mendekat, ia mulai menghitung ulang. Dan ketika Haaland masih memiliki peluang, ia bahkan sempat berharap Norwegia membuat kejutan. Bukan karena ia orang Norwegia. Melainkan karena persaingan akan semakin seru.

Temannya kembali bertanya. “Kalau nanti Inggris mengalahkan Argentina?” Ia menjawab santai. “Berarti Kane naik.” “Kalau Argentina menang?” “Messi menjauh.” “Kalau Mbappé cetak hat-trick?” “Lebih bagus lagi.” “Kalau tidak ada yang mencetak gol?” Ia menghela napas.
“Itu namanya hasil seri bagi para pemburu Sepatu Emas.”

Akhirnya temannya tertawa. “Sekarang saya mengerti.” “Mengerti apa?” “Kalau menonton sepak bola bersama pemain bridge ternyata berbeda.” “Kenapa?” “Karena kami menonton pertandingan.” “Kalau kamu?” “Aku sedang memainkan probabilitas.”

Dan mungkin, hanya mungkin, di seluruh dunia memang ada segelintir orang yang menonton semifinal Piala Dunia bukan terutama untuk melihat siapa yang akan mengangkat trofi. Melainkan untuk memastikan persaingan Sepatu Emas tetap hidup hingga peluit terakhir final.

Kalau anda bertemu orang seperti itu, jangan heran. Kemungkinan besar, ia adalah seorang pemain bridge. Dan, di kepalanya, setiap pertandingan selalu terasa seperti satu papan besar yang harus dianalisis sebelum kartu pertama dimainkan. (Penulis adalah Pengurus dan Pemain Bridge)

Meimonews.com – Di Indonesia ada 109 bahasa daerah belum termasuk Papua dan sebagian besar terancam kepunahan. Menurut data UNESCO, setiap tahun ada sepuluh bahasa di dunia ini yang punah.

Pada abad ke-21 ini, diperkirakan laju kepunahan bahasa akan lebih cepat lagi. Di antara 6.000 lebih bahasa yang ada di dunia pada abad ke-20, hanya tinggal 600-3.000 bahasa saja yang masih dapat bertahan menjelang abad ke-21 ini.

Dari 6.000 bahasa di dunia itu, sekitar separuh adalah bahasa yang dengan jumlah penutur tidak sampai 10.000 orang, dan seperempatnya lagi kurang dari 1.000 penutur. Padahal, salah satu syarat lestarinya sebuah bahasa adalah jika penuturnya mencapai 100.000 orang, Salah satu bahasa daerah yang terancam punah adalah bahasa kampung saya, bahasa Tondano.

Bahasa Tondano buat tukang bridge adalah bahasa ibu karena merupakan
bahasa pertama yang dipelajari sejak lahir melalui interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar, yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi alami dan dasar identitas budaya.

Bahasa ini memungkinkan ekspresi pikiran, perasaan, dan ide secara lebih jelas dan mendalam, serta menjadi warisan yang menghubungkan anak dengan budaya dan tradisi nenek moyan.

Menguasai bahasa ibu di Indonesia penting untuk melestarikan identitas dan warisan budaya daerah, memperkuat hubungan keluarga dan komunitas, serta menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif dan kemampuan belajar bahasa asing anak.

Dengan menguasai bahasa ibu, generasi muda dapat terhubung dengan akar budayanya dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan dari leluhur.

Pentingnya Bahasa Ibu untuk Identitas dan Budaya
Pertama, fondasi Identitas dan Warisan Budaya :.Bahasa ibu adalah bagian dari jati diri dan warisan budaya yang tak ternilai. Melestarikan bahasa daerah berarti juga melestarikan budaya dan peradaban masyarakatnya.

Kedua, memperkuat Identitas Nasional : Mempertahankan bahasa daerah memperkuat keberagaman linguistik dan budaya Indonesia, yang merupakan bagian dari identitas nasional.
Manfaat untuk Perkembangan Anak.

Ketiga, Perkembangan Kognitif : Menguasai bahasa ibu sejak dini membantu anak lebih mudah memahami konsep, tata krama, dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar.

Keempat, Kemampuan Berpikir Kritis dan Logis :
Penggunaan bahasa yang tepat akan mengasah kemampuan anak dalam berpikir kritis dan logis, serta membangun kerangka berpikir yang kuat.

Kelima, Fondasi Belajar Bahasa Lain : Penguasaan bahasa ibu yang baik menjadi fondasi bagi anak untuk mempelajari bahasa asing atau internasional.

Keenam, Meningkatkan Kepercayaan Diri : Anak yang merasa dianggap sebagai bagian dari sebuah kebudayaan akan merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dan memiliki rasa bangga terhadap asal usulnya.

Koneksi dengan Keluarga dan Komunitas
Pertama, Memperkuat Hubungan Keluarga :
Bahasa ibu menjadi cara untuk mempererat hubungan dengan anggota keluarga, terutama dengan generasi yang lebih tua seperti kakek dan nenek.

Kedua, Memperkaya Wawasan : Melalui bahasa ibu, anak dapat mempelajari literatur daerah, musik, dan cerita rakyat yang memperkaya wawasan dan tumbuh kembang emosionalnya.

Pentingnya dalam Era Globalisasi
Menyeimbangkan Globalisasi : Mengejar globalisasi bukan berarti meninggalkan identitas bangsa. Penting untuk mengajarkan anak bahasa asing sekaligus menanamkan pentingnya mengutamakan dan melestarikan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia.

Semoga dengan pemahaman ini, semua stake holder yang terkait mau bahu membahu mempertahankan bahasa ibu terutama yang mulai terancam punah seperti bahasa ibu tukang bridge bahasa Tondano.

Secara pribadi tukang bridge telah mulai pada tanggal 19 November 2008 dengan memberanikan diri membuat Group Lestarikan Bahasa Tondano di Facebook yang saat itu mulai mewabah di Indonesia.

Kenapa saya pilih Facebook karena menurut pengalaman saya, keengganan anak-anak Tondano menggunakan bahasa daerah karena mereka malu. Ber bahasa Tondano terkesan kampungan.

Jadi, dengan adanya bahasa Tondano di Facebook mudah-mudahan generasi muda yang akrab dengan internet akan tertarik dan merasa bangga menggunakan bahasa Tondano.

Melihat hanya dalam tempo kurang dari setahun, anggota group Lestarikan Bahasa Tondano telah mencapai sekitar 3100 orang maka rasanya misi saya cukup berhasil. (Bert Toar Polii)