Meimonews.com – Ada harapan yang disampaikan Dewan Pertimbangan (Depertim) dan Moderator kepada Pengurus dan Anggota PMKRI Calon Cabang (CC) Gorontalo di momen peringatan Dies Natalis ke-75 PMkRI (nasional) yang diselenggarakan di Sekretariat/Margasiswa PMKRI Calon Cabang (CC) Gorontalo St. Yohanes Paulus II, Jl. P. Kalengkongan Kelurahan Tenda Kota Gorontalo, Rabu (25/5/2022).

Talulembang Sule (salah satu Depertim PMKRI CC Gorontalo) berharap, peringatan Dies Natalis ke-75  PMKRI ini menjadi momen bagi PMKRI Calon Cabang Gorontalo St. Yohanes Paulus II untuk ke depan bisa betbuat yang terbaik untuk negara, masyarakat dan gereja.

Baca juga : Masyarakat Sulut Diajak Manfaatkan Momen Keringanan PKB

“Sebagai mahasiswa Katolik diharapkan mampu berkipah, memberikan yang terbaik, menjadi kader-kader terbaik yang berjuang negara, bangsa dan gereja,” ujar Lembang, sapaan akrab Talulembang Sule, yang bersama Lexie Kalesaran (Pembina) menjadi pemrakarsa kehadiran PMKRI Gorontalo.

Selain itu, Lembang menegaskan, kader-kader PMKRI harus kritis dan mengambil peran bila ada hal-hal berkaitan dengan permasalahan kebangsaan. “Kader-kader PMKRI termasuk di Gorontalo harus tampil terdepan dalam menanggapi isu-isu nasional,” harapnya.

Baca juga : Wujud Peduli Lingkungan, Karyawan Freshmart Bersih-bersih Muara Sungai Sario

Sementara Pastor Ronny Singal Pr (Moderator) menegaskan, tema yang diusung dalam dies kali ini yakni Kolaborasi Membangun Negeri berarti ada semacam cita-cita untuk mampu bersinergi, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.

“Entah dengan Pemerintah dan Gereja, untuk menjadi satu kekuatan dalam membangun Indonesia yang kita cintai,” ujar Pastor Ronny yang adalah juga Pastor Paroki St. Kristoforus Gorontalo.

Baca juga : Pertama Kali Ikut Lomba OSN, SMA Katolik St. Ignatius Malalayang Siapkan 10 Siswa

Dies Natalis ke-75 PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) St. Thomas Aquinas (nasional) 25 Mei 2022 yang diselenggarakan PMKRI Gorontalo diawali Misa Syukur yang dipersembahkan Moderator Pastor Ronny Singal Pr.

Usai misa dilanjutkan dengan Sidang Kehormatan yang dipimpin Ketua Presidium PMKRI CC Gorontalo St. Yohanes Paulus II Jujur Marpaung, dengan agenda antara lain pembacaan sejarah lahir PMKRI (nasional), sambutan-sanbuatan, selayang pandang kegiatan PMKRI Gorontalo dan penyerahan sertifikat bagi yang telah lulus MPAB (Masa Penerimaan Anggota Baru).

Baca juga : Menkes Beberkan Cara Cegah Hepatitis Akut

Acara selanjutnya adalah Syukuran yang ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua Presidium PMKRI Calon Cabang Gorontalo St. Yohanes Paulus II Jujur Marpaung dan diserahkan kepada Pastor Ronny Singal Pr, Pembimas Reine Koraag serta Depertim Daud Sandalayuk dan Wimala Weliangan. Setelah itu, makan bersama.

Kegiatan dies ini dihadiri Moderator PMKRI CC Gorontalo Pastor Ronny Singal Pr, Pembimas Katolik Kemenag Gorontalo Reine Koraag, Depertim Talulembang Sule, Daud Sandalayuk dan Wimala Weliangan, Pembina Lexie Kalesaran, Pengurus dan Anggota PMKRI Gorontalo, Pengurus Kelompok Kategorial dan Teritorial Paroki St. Kristogorus Gorontalo serta undangan lainnya. (af)

Meimonews.com – PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Kota Jajakan Gorontalo menggelar Dialog Moderasi Beragama untuk Menangkal Radikalisme dan Menumbuhkembangkan Toleransi Beragama, Sabtu (20/3/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan secara zoom meeting (dipandu Kartika F. Budiman/Pengurus PMKRI Gorontalo) dengan peserta perwakilan ormas kemahasiswaan berbasis keagamaan seperti GMKI, HMI, PMII, IMM, KMHDI dan PMKRI ini dibuka pelaksanaannya oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Gorontalo Dr. H. Syafrudin Baderung.

Ketua Tim Kerja Dialog Refalsy JB Melo melaporkan, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkembangkan rasa toleransi terhadap keberagaman beragama, mendukung program Pemerintah dalam pencegahan paham radikalisme, dan menjalin silaturahmi antarorganisasi kemahasiswaan melalui konsep pluralisme.

Koordinator PMKRI Kota Jajakan Gorontalo Stevan A. Lintang berharap, melalui kegiatan yang dilaksanakan ini akan terbangun kesadaran dan komitmen yang kuat dari para peserta (ormas berbasis keagamaan dan kebangsaan) untuk proaktif menumbuhkembangkan pemahaman dan praktek keagamaan yang moderat dan toleran dalam rangka terwujudnya integrasi bangsa di tengah kemajemukan sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Gorontalo Dr. H. Syafrudin Baderung mengungkapkan, moderasi beragama menjadi jargon nasional dalam penguatan cinta kebangsaan terhadap NKRI, dan termasuk dalam salah satu RPJMD oleh Pemerintahan Jokowi.

“Kemenag selalu berupaya mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada seluruh sendi umat beragama tentang pentingnya moderasi beragama,” ujar Baderung ketika memberikan aplikasi sekaligus materi pada kegiatan tersebut.

Ditegaskan, tidak ada agama yang disebarkan di nusantara ini dengan menggunakan kekerasan. Islam dalam sejarahnya disebarkan oleh ulama dan pedagang, sedangkan kristen disebarkan oleh misionaris kaum Eropa

“Agama selalu menggunakan budaya atau tradisi untuk berkembang dan saling menguatkan. Kita adalah bangsa yang terdiri dari ribuan bahasa, tetapi bahasa kita bukan dari salah satu suku di Indonesia. Itu bukti bahwa bangsa ini tidak memilih-milih budaya, yang ada saling menyatukan,” sebutnya.

Ditegaskan, semua agama moderat, karena semua agama cinta damai. “Yang tidak moderat adalah pola pikir yg sempit,” ujar Baderung

Ir. Alim Niode (Budayawan), dalam pemaparannya mengungkapkan, Gorontalo dulunya hanya berupa bukit-bukit yg tergenang udara, setelah surut jadilah daratan dan di situlah terbentuknya Gorontalo. 17 Linula (kerajaan kecil) sepakat membentuk suatu kerajaan yg disebut dengan Hulonthalo.

Pada tahun 1525, sebutnya, masuklah Islam melalui perkawinan Raja Sultan Amai dengan putri Kerajaan Palasa yang berada di Sulawesi Tengah. Raja Kerajaan Palasa mengharuskan syarat Raja Sultan Amai dan rakyatnya harus masuk Islam.

Semua agama apapun, paling tidak memiliki 5 kandungan yaitu: aspek mistikal, aspek ritual, aspek ideologikal, aspek intelektual dan aspek sosial. Banyak tokoh lintas agama yang bekerja sama dengan Nani Wartabone dalam mengibarkan merah putih dan memerdekakan Gorontalo, bukti moderasi agama sudah ada dalam sejarah Gorontalo, “ujar Niode.

Samsi Pomalingo, MA (PW NU Provinsi Gorontalo) menjelaskann, melihat banyaknya konflik sosial dan konflik agama, maka moderasi agama sangat penting. “Banyak yang bilang kenapa agama harus dimoderasi? Sebenarnya bukan agamanya yang dimoderasi, melainkan sikap kita terhadap agama yang harus dimoderasi,” tandasnya.

NU dan Muhamadiyah, jelasnya, terus mendukung Pemerintah dalam mewujudkan universal beragama. “Membangun moderasi agama memang bukan hal yang gampang, tetapi kita harus terus yakini bahwa pentingnya moderasi agama untuk mewujudkan toleransi di negeri ini,” kata Niode.

Pomalingo menegaskan, polemik dan konflik moderasi yang beragama lebih banyak pada kaum milenial, karena gampang mereka terprovokasi apalagi di dalam isu beragama. “Aksi kekerasan agama banyak dari kelompok anak muda yang salah belajar agama sejak dini,” tandasnya.

Pembimaskat Kemenag Provinsi Gorontalo Reinne Koraag menjelaskan, moderasi beragama bisa dimulai dengan membuka diri terhadap agama-agama lain.

Kami yang beragama Katolik, sebutnya, secara jumlah kecil, tetapi kami tidak minoritas, karena keberadaan kita di Gorontalo sangat bergantung dan tidak dibeda-bedakan oleh masyarakat Gorontalo. “Ini bukti bahwa moderasi beragama di Gorontalo sudah ada,” ujarnya.

Ditambahkan, kita punya satu keinginan, dengan kemajemukan Indonesia kita bisa bergandengan tangan dalam memajukan negeri ini. Kita tidak bisa berdialog dalam doktrin tataran, tetapi kita bisa berdialog dalam tataran universal yang bisa mempersatukan kita.

Depertim (Dewan Pertimbangan) PMKRI Kota Jajakan Gorontalo Sule berharap, menyampaikan para narasumber dapat diimplementasikan di organisasi dan kehidupan kita masing-masing.

“Upaya kita bersama menangkal radikalisme dan mengembangkan toleransi,” ujar mantan Ketua PMKRI Cabang Manado itu. (af)