Meimonews.com – Umat Katolik sedunia, Minggu (23/11/2025) waktu Indonesia memperingati Hari Raya (HR) Yesus Kristus Raja Semesta Alam (akrab disingkat Kristus Raja), yang tahun ini dalam rangka Tahun Yubileum yang juga dirayakan sebagai Yubileum Paduan Suara.

Dalam kotbahnya saat memimpin misa di Lapangan Santu Petrus Vatikan, Paus Leo XIV menyampaikan lima pokok permenungan, yang diharapkan kita (paduan suara) turut perhatikan demi liturgi gereja yang bermakna, meriah dan menyelamatkan.

Pertama, Paduan Suara punya peran dalam menghadirkan “musik liturgi sebagai instrumen yang berharga,” yang melaluinya kita melaksanakan pelayanan pujian kepada Allah dan mengungkapkan sukacita kehidupan baru dalam Kristus.

Lapangan Santu Petrus Vatikan saat misa yang dipimpin Paus Leo XIV

Kedua, Bernyanyi mengingatkan kita bahwa kita adalah Gereja dalam sebuah perjalanan, “sebuah realitas sinode yang autentik,” yang mampu berbagi dengan semua panggilan untuk memuji dan bersukacita, dalam ziarah kasih dan harapan.

Ketiga, Pelayanan (melalui Paduan Suara) yang menuntut disiplin dan semangat melayani, terutama ketika kamu “harus mempersiapkan” liturgi khidmat atau beberapa acara penting bagi komunitasmu.

Paduan suara yang menyemarakan Misa Yubileum Paduan Suara Memeringati HR Kristus Raja

Keempat, Dalam pelayanan itu, hendaklah kamu semua senantiasa “mampu melibatkan umat Allah,” tanpa menyerah pada “godaan pertunjukan” yang menghalangi partisipasi aktif seluruh umat liturgi dalam nyanyian.

Kelima, Pastikanlah “kehidupan rohanimu” senantiasa hidup sesuai dengan standar pelayanan yang kamu laksanakan, sehingga dapat secara autentik mengungkapkan rahmat Liturgi. (

Meimonews.com – Minggu (27/7/2025) waktu Indonesia, selisih 6 jam dengan Roma, Italia (Roma lebih cepat dari wilayah Indonesia Bagian Barat) seluruh umat Katolik di dunia memperingati Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia V di Minggu Biasa XVII.

Berkenaan dengan momen tersebut, Paus Leo XIV (Peminpin Gereja Katolik Sedunia) memberikan renungan “Pengharapan : Tuntunan pada Sukacita,” mengacu pada Kitab Kejadian 18:20-33, Kolose 2:12-14 dan injil Lukas 11:1-13).

Sebagian (poin-poin penting) atau seluruh renungan itu dibacakan/disampaikan Pastor/Pemimpin Misa di gereja setempat.

Di awal renungannya, Paus Leo XIV mengungkapkan, dalam perayaan ini mendiang Paus Fransiskus telah memilih tema Berbahagialah yang tidak kehilangan harapannya (Sir. 14:2).

Para kakek nenek dan lansia Paroki St. Fransisius Xaverius Pineleng foto bersama usai misa memperingati Hari Kakek Nenek dan Lansia V yang dipimpin Pastor Anis Salaki MSC

Pengharapan selalu menuntun kita pada sukacita dan kasih. Paus Fransiskus saat terakhir dirawat di RS menulis bahwa meskipun kondisi fisik kita lemah, tak ada yang dapat menghalangi kita untuk mengasihi, berdoa, memberi diri dan menjadi berkat bagi yang lain.

Menjadi lansia (lanjut usia) merupakan sebuah ritme alami yang akan dihadapi oleh semua orang. Karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan para lansia kesepian dan kehilangan harapan. Kehadiran para lansia mengajak kita untuk merenungkan bahwa Tuhan kita setia dari masa ke masa.

Paus Leo XIV, dalam pesannya, mengajak kita untuk melihat pengalaman beberapa tokoh penting dalam KS, antara lain : Abraham dan Sara, Zakharia dan Elisabet, yang merasa kehilangan harapan akan masa depan karena tidak memiliki anak.

Kedua pasangan ini kemudian secara ajaib Tuhan tunjukan bahwa Dia setia pada janji-Nya dan mendengarkan jeritan hati semua orang yang berharap kepada-Nya. Mereka pun akhirnya dianugerahi buah hati.

Tokoh berikut adalah Musa. Musa dipanggil Tuhan pada saat dia sudah berusia 80 thn. Musa pun seakan kehilangan harapan karena sudah tua. Namun sekali lagi Tuhan menunjukkan bagaimana tangan-Nya yang perkasa memberi harapan pada Musa untuk berani mengambil keputusan membawa keluarga bangsa Israel keluar dari penderitaan di Mesir.

Akhirnya, harapan itu diteguhkan Yesus pada hari ini dengan mengajak kita untuk tidak malu meminta kepada Allah, Bapa kita. “Mintalah, maka kamu akan diberi,” kata Yesus. Yesus mengajarkan kita untuk tetap percaya dan berharap bahwa Bapa akan memberi yang terbaik bagi kita.

Paus Leo XIV mengajak, narilah kita menunjukkan cinta kita pada mereka yang telah lanjut usia, sebab dalam diri para lansia kita melihat tanda pengharapan bahwa Tuhan adalah kekuatan kita. Rasul Paulus, mengatakan, “Jika aku lemah maka aku kuat,” (2Kor. 12:10) karena Tuhan.(*)

Meimonews.com – Minggu (20/7/2025) berlangsung Pengucapan Syukur di Wilayah Minahasa (acapkali disebut juga Minahasa Induk). Momen unik untuk merasakan dan mengalami hal “menjamu dan dijamu” dalam suasana ungkapan syukur.

Di negeri yang ramah tamah ini, apakah kita semakin terbantu dan membudayakan tradisi “menjamu dan dijamu” seperti dalam kisah-kisah bacaan Kitab Suci Minggu (20/7/2027) ?

Simak renungan Paus Leo XIV, yang teks aslinya berbahasa Italia.

Keramahtamahan (hospitalitas) Abraham dan istrinya Sarah, dan kemudian keramahtamahan Marta dan Maria, sahabat-sahabat Yesus, menjadi pusat perhatian kita liturgi hari ini (bdk. Kej 18:1-10; Luk 10:38-42).

Setiap kali kita menerima undangan Perjamuan Kudus dan mengambil bagian dalam meja Ekaristi, Allah sendirilah yang “datang untuk melayani kita” (bdk. Luk 12:37). Namun, Allah kita telah terlebih dahulu tahu bagaimana menjadikan diri-Nya sebagai tamu, dan bahkan hari ini Dia berdiri di depan pintu kita dan mengetuk (bdk. Why 3:20).

Dalam bahasa Italia, tamu berarti orang yang menjamu dan yang dijamu. Dengan demikian, pada hari Minggu di musim panas ini kita dapat merenungkan permainan kata saling menjamu, yang jika tidak demikian hidup kita menjadi miskin.

Dibutuhkan kerendahan hati untuk menjadi tuan rumah dan dijamu. Dibutuhkan kehalusan, perhatian dan keterbukaan. Dalam Injil, Marta mengambil risiko untuk tidak masuk sepenuhnya ke dalam sukacita perjumpaan ini.

Dia begitu sibuk dengan apa yang harus dia lakukan untuk menyambut Yesus, sehingga beresiko kehilangan momen perjumpaan yang tak terlupakan. Marta adalah seorang yang murah hati, tetapi Tuhan memanggilnya untuk sesuatu yang lebih indah daripada kemurahan hati itu sendiri. Dia memanggilnya untuk keluar dari dirinya sendiri.

Saudari-saudari yang terkasih, hanya inilah yang membuat hidup kita berkembang: membuka diri terhadap sesuatu yang menjauhkan kita dari diri kita sendiri dan pada saat yang sama memenuhi diri kita sendiri.

Pada saat Marta mengeluh karena saudarinya meninggalkannya sendirian dalam melayani (bdk. ay. 40), Maria seolah-olah kehilangan semua waktu dan ditaklukkan oleh sabda Yesus. Ia tidak kalah konkret dari saudarinya, dan juga tidak kurang murah hati. Akan tetapi, ia telah memanfaatkan kesempatan yang ada.

Inilah sebabnya mengapa Yesus menegur Marta: karena ia tetap berada di luar keakraban yang seharusnya dapat memberikan sukacita yang lebih besar baginya (bdk. ay. 41-42).

Waktu musim panas ini dapat membantu kita untuk “melambat” dan menjadi lebih seperti Maria daripada Marta. Terkadang kita tidak mengizinkan diri kita sendiri untuk mendapatkan bagian yang terbaik. Kita perlu beristirahat, dengan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang seni keramahtamahan.

Industri liburan ingin menyajikan berbagai macam pengalaman kepada kita, tapi mungkin bukan itu yang kita cari. Faktanya, liburan itu gratis, dan setiap perjumpaan sejati tidak dapat dibeli: baik perjumpaan dengan Tuhan, perjumpaan dengan orang lain, maupun perjumpaan dengan alam.

Kita hanya perlu menjadikan diri kita sebagai tamu: memberi ruang dan juga memintanya; menyambut dan disambut. Kita harus banyak menerima dan tidak hanya memberi.

Abraham dan Sarah, meskipun sudah tua, menemukan diri mereka berbuah ketika mereka diam-diam menyambut Tuhan sendiri dalam diri ketiga tamu itu. Bagi kita juga, ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang harus diterima.

Marilah kita berdoa kepada Perawan Maria, Bunda yang menyambut, yang menyambut Tuhan di dalam rahimnya dan bersama dengan Yusuf memberikan sebuah rumah kepada-Nya.

Dalam dirinya bersinarlah panggilan kita, panggilan Gereja untuk tetap menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang, untuk terus menyambut Tuhannya, yang memohon izin agar dapat masuk ke dalam rumah kita. (*)

Meimonews.com – Umat Katolik dunia telah memiliki Paus baru, pengganti Paus Fransiskus yang meninggal dunia pada 21 April 2025.

Pemilihan Paus baru yang juga Kepala Negara ini dilakukan dalam Konklaf yang berlangsung di Kapel Sistina, Roma (Italia).

Tak begitu lama, para Kardinal yang punya hak suara untuk memilih dan dipilih berhasil memilih Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267, Rabu (8/5/2025).

Paus baru kelahiran Chicago, Illinois, Amerika, 15 September 1955 iini menggunakan nama kepausan Paus Leo XIV.

Paus yang dilantik sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus pada 30 September 2023 ini, sebelumnya merupakan seorang prelatus Gereja Katolik yang menjabat Prrefek Dikasteri untuk Para Uskup sejak 12 April 2023.

Sebelumnya ia menjabat sebagai Uskup Chiclayo di Peru dari 2015 hingga 2023. Sebagai anggota Ordo St. Agustinus, ia bekerja di Peru tahun 1985 – 1986 dan dari tahun 1988 hingga 1998 sebagai pastor paroki, pejabat keuskupan, guru seminari dan administrator.

Prevost memimpin ordonya dari kantor pusatnya di Roma dari tahun 2001 hingga 2013. Ia menghabiskan tahun 1987 hingga 1988 dan 1998 hingga 2001 di Amerika Serikat, yang berbasis di Chicago.

Setelah terpilih sebagai Pemimpin Gereja Katolik Dunia (Paus) sekaligus Kepala Negara Vatikan, Paus bh Leo XIV menyampaikamenyampaikan sambutan perdana. Berikut sambutannya.

Damai sejahtera bagi kalian semua.
Saudara-saudari terkasih, ini adalah salam pertama dari Kristus yang bangkit, Gembala yang baik yang memberikan hidup-Nya untuk Tuhan.

Saya juga ingin agar salam damai ini masuk ke dalam hati kalian dan menyatukan semua orang, siapa pun mereka, di seluruh bumi. Damai sejahtera bagi kalian.

Ini adalah damai dari Kristus yang bangkit, damai yang melucuti senjata, rendah hati, dan juga akan bertahan, dan itu berasal dari Tuhan, Tuhan yang mengasihi kita semua tanpa syarat.

Mari kita terus mendengarkan bahkan suara-suara yang lemah, dan Paus Fransiskus selalu berani dan memberkati Roma. Paus yang memberkati Roma, dia memberkati seluruh dunia pada pagi Paskah itu. Jadi mari kita lanjutkan berkat itu.

Tuhan mengasihi kita, Tuhan mengasihi kalian semua, dosa tidak akan menang, kita semua berada di tangan Tuhan.

Dan pada saat yang sama tanpa rasa takut, mari kita bersatu tangan dengan Tuhan dan di antara kita sendiri, mari kita maju karena kita adalah murid-murid Kristus, Kristus mendahului kita, dunia membutuhkan terang kalian, umat manusia membutuhkan-Nya sebagai jembatan untuk dapat mencapai Tuhan dan meraih kasih Tuhan.

Kalian juga harus membantu kami dan saling membantu. Dan kita semua harus menjadi satu umat.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua saudara kardinal saya yang telah memilih saya untuk menjadi penerus Petrus dan berjalan bersama kalian sebagai gereja yang bersatu, selalu berusaha mencari damai, keadilan, dan selalu berusaha bekerja sebagai pria dan wanita yang setia kepada Yesus Kristus tanpa rasa takut dan juga menjadi misionaris.

Saya adalah anak dari Santo Agustinus, saya adalah seorang Kristen bersama kalian dan sejauh itu kita semua dapat berjalan bersama menuju tanah yang telah disiapkan Tuhan untuk kita.

Kepada gereja Roma, saya ingin memberikan salam khusus. Bersama-sama kita harus mencoba mencari tahu bagaimana menjadi gereja yang membangun jembatan, menjalin dialog, yang selalu terbuka untuk menerima di alun-alun ini dengan tangan terbuka kepada siapa pun yang membutuhkan kasih kita, kehadiran kita, dialog, dan cinta kita.

Dan saya juga ingin mengatakan sesuatu dalam bahasa Spanyol. Saya ingin secara khusus menyapa rekan-rekan saya dari Peru. Merupakan kesenangan besar bagi saya untuk bekerja di Peru.

Kepada kalian semua, saudara dan saudari, dari Roma, seluruh dunia, kita perlu menjadi gereja yang berjalan di jalan damai, yang selalu mencari kasih, yang selalu berusaha mendekat terutama kepada mereka yang menderita.

Hari ini, hari di mana kita berdoa kepada Madonna dari Pompeii, ibu kita Maria selalu ingin tetap dekat dengan kita dan membantu kita dengan kasih dan perantaraannya.

Mari kita berdoa bersama, untuk misi baru ini, untuk seluruh gereja, dan untuk perdamaian di seluruh dunia.

Dan mari kita mohon rahmat khusus ini dari Maria, ibu kita. Salam Maria. (elka)