Meimonews.com – Sebanyak 10 guru besar (profesor) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dikukuhkan dalam sidang senat terbuka Unsrat yang dipimpin Ralf Kairupan di Auditorium Unsrat Manado, Kamis (7/5/2026).

Pengukuhan ini berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Kemenediktisanitek RI) Brian Juliarto yang dibacakan Wakil Rektor 2 Unsrat Royke Iwan Montolalu.

Kesepuluh guru besar tersebut adalah Steenie Edward Walla, Tiny Mananoma, Dolfie Paulus Pandara, Henny Lieke Rampe, Joy Elly Tulung, Dedie Tooy, Dantje Taroreh, Betsy Agustina Naomi Pinaria, Leonardus Ricky Rengkung, dan
Carnels Djelfie Massie,

Sebelum dikukuhkan, para guru besar tersebut menyampaikan orasi ilmiah (secara singkat) di hadapan pimpinan dan anggota senat universitas, pimpinan unsrat dan fakultas, serta tamu/undangan termasuk Kepala Bapelitbang Sulut, Dewan Pengawas Kemendiktiaaintek, Kabidkum Polda Sulut dan keluarga guru besar yang dikukuhkan.

Rektor Unsrat Oktovian Berty Alexander Sompie mengatakan, hari ini, di ruangan ini kita menyaksikan buah dari sebuah perjuangan panjang itu. Menjadi guru besar bukan perjalanan yang singkat.

“Di balik toga dan gelar profesor yang hari ini dikenakan, ada malam-malam panjang yang diisi penelitian, ada lelah yang sering disimpan dalam diam, ada kegagalan yang dilalui dengan ketekunan, dan ada doa keluarga yang tidak pernah berhenti menyertai,” ujarnya.

Karena itu, sambung Rektor, pengukuhan hari ini bukan hanya kebanggaan pribadi tetapi juga kebanggaan keluarga, kebanggaan Unsrat dan kebanggaan masyarakat Sulut.

“Hari ini Universitas Sam Ratulangi bersyukur karena memiliki 10 guru besar baru yang akan menjadi cahaya bagi generasi muda, menjadi penggerak lahirnya inovasi dan menjadi suara akademik yang membawa solusi bagi masyarakat,’ tandas Rektor.

Gubernur Sulut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Bapelitbang Sulut Yani Lukas mengatakan, guru besar adalah pencapaian luar biasa yang diraih nelalui proses panjang, penuh dedikasi, kerja keras dan ketekunan.

“Tidak semua orang mampu mencapai titik ini, sehingga apa yang diraih hari ini patut disyukuri dan dibanggakan,” ujar Lukas,

Guru besar, menurut Gubernur, bukan sekedar capaian akademik tertinggi melainkan simbol tanggung jawab yang besar. Di balik gelar tersebut, tersimpan harapan agar para.guru besar mampu menjadj pelopor dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidik yang membenruk generasi unggul sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat.

“Dengan demikian, seorang guru beaar tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga kebijakaanaan serta kemampuan untuk menghadirkan dampak nyata,’ sebutnya. (FA)

Meimonews.con – Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar Sidang Senat Terbuka dengan agenda Pengukuhan Guru Besar (Profesor).

Sidang senat yang dipimpin Herry Sumual (Ketua) ini diadakan di Auditorium Unima, Tondano, Jumat (13/3/2026).

Hadir pada kegiaran ini, antara lain para anggota senat, Rektor Joseph Philip Kambey, para Wakil Rektor, pimpinan lembaga dan staf Unima lainnya serta para guru besar yang dikukuhkan dan keluarganya.

Para guru besar yang dikukuhkan pada momen akaremik tersebut adalah Prof. Dr. Roeth AO Najoan, M.Pd, Prof. Dr. Fredrik A. Makadada, M.Kes, AIFO, Prof. Dr. Dra. Elisabeth Z. Oroh, M.Hum, Prof. Dr. Fredrik D. Sumarauw, M.Kes, AIFO dan Prof. Dr. Sherly F. Lensun, S.Pd, M.Pd

Pengukuhan ini menjadi wujud komitmen Unima dalam memperkuat kualitas akademik, penelitian, dan kontribusi keilmuan bagi kemajuan pendidikan dan masyarakat.

Diharapkan dengan adanya pengukuhan ini akan terus menginspirasi membawa kemajuan bagi Unima dan dunia pendidikan. (*/FA)

Meimonews.com – Universitas Negeri Manado (Unima) kembali mencatatkan capaian penting dalam upaya mencetak tenaga pendidik berkualitas dengan mengukuhkan 104 lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 2 Tahun 2024.

Kegiatan yang dihadiri pimpinan universitas, pejabat pendidikan, dosen, guru pamong, staf serta keluarga lulusan ini diadakan di Hotel Peninsula Manado, Kamis (25/9/2025).

Pengukuhan ini menjadi bukti konsistensi Unima dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia.

Melalui PPG, para lulusan dibekali kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, sekaligus semangat pengabdian sebagai pendidik yang berintegritas.

Rektor Unima Joseph Philip Kambey memimpin prosesi pengukuhan dan memberikan arahan strategis. Arahan dan pesan rektor menjadi peneguhan bahwa Unima menempatkan profesi guru sebagai pilar utama peradaban bangsa.

Rektor menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk generasi cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman, sejalan dengan visi Unima sebagai perguruan tinggi unggul, mandiri, dan kompetitif.

Hadirnya lulusan PPG ini juga memiliki arti penting bagi Sulawesi Utara yang masih menghadapi kekurangan tenaga guru. Dengan sertifikasi profesi yang dimiliki, para lulusan diharapkan dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan pendidikan, khususnya di daerah yang masih terbatas jumlah pendidiknya.

Selain itu, tantangan rendahnya literasi dan semangat belajar siswa di era digital menjadi perhatian penting. Para lulusan PPG didorong untuk menghadirkan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana penunjang pendidikan.

Koordinator PPG Unima menegaskan, kehadiran program ini merupakan wujud komitmen universitas untuk mencetak guru profesional yang siap bersaing dan mengabdi di berbagai wilayah.

Dengan pengukuhan ini, Unima semakin meneguhkan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkontribusi nyata dalam membangun generasi emas Indonesia. (*/FA)

Meimonews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mengadakan Sidang Senat Pengukuhan Guru Besar di Auditorium Unsrat Manado, Kamis (16/2/2025).

Ada sebanyak 21 guru besar (profesor) yang ada di lingkungan universitas dengan visi Menjadikan Unsrat sebagai universitas yang unggul dan berbudaya ini yang dikukuhkan.

Dalam sambutannya, Rektor Unsrat Manado Oktovian Berty Alexander Sompie menegaskan, pengukuhan guru besar bukan hanya puncak dari sebuah perjalanan panjang akademik, melainkan sebuah titik awal dari tanggung jawab baru yang lebih besar.

Jabatan Guru Besar, menurut Rektor, bukan sekedar pengakuan atas keunggulan intelektual, tetapi komitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pengabdian pada masyarakat.

Rektor berharap, guru besar mampu menjadi teladan, baik dalam integritas akademik, pengajaran, maupun dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi.

Ke-21 guru besar (profesor) tersebut adalah Prof Arthur Gehart Pinaria (Fakultas Pertanian), Prof. Royke Iwan Montolalu (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Prof. Diana Vanda Daturara Doda (Fakultas Kedokteran), Prof. Stefanus Sampe (FISIP), Prof. Nurmeilita Taher (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan)

Prof. Mien Lapian (Fakultas Peternakan), Prof. Hanny Frans Sangian (FMIPA), Prof. Djuhria Wonggo (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Prof. Darus Sa’adah Johanis Paransa (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Prof . Billy Wagey (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan).

Prof. Junit Maja Pertiwi (Fakultas Kedokteran), Prof. Christine Fransin Mamuaja (Fakultas Pertanian), Prof. Rignolda Djamaluddin (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Prof. Medy Ompi (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Prof .Lena Jeane Damongilala (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan).

Prof. Tiltje Ransaleleh (Fakultas Peternakan), Prof. Wehelmina Rumawas (FISIP), Prof. Dina Victoria Rombot (Fakultas Kedokteran), Prof. Maya Pinkan Warouw (Fakultas Ilmu Budaya), Prof. Jeffrie Mokolensang (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), dan Prof. Meity Sompie (Fakultas Peternakan). (FA)