Meimonews.com – Upaya War on Drugs melalui upaya pemberantasan jaringan sindikat narkoba kembali membuahkan hasil signifikan. Dalam kurun waktu 20-27 April 2021, BNN berhasil mengungkap tiga jaringan sindikat narkoba internasional dengan barang bukti yang sangat fantastis yaitu sabu seberat 581,31 kilogram.

Jumlah yang berhasil disita tersebut tidaklah sepadan jika diukur dengan nilai uang, karena ketika sabu tersebut disita dan dimusnahkan maka tidak ada nilainya sama sekali.

“Akan tetapi, penyitaan sabu yang jumlahnya lebih dari setengah ton ini sangat bernilai penting yaitu menyelamatkan lebih dari 2,9 juta jiwa dari penyalahgunaan narkoba,” demikian Siaran Pers Biro Humas dan Protokol BNN-RI, Rabu (5/5/2021).

Keberhasilan pengungkapan kasus ini tidak lepas dari kerja sama lintas sektor, yaitu BNN dengan Bea Cukai serta didukung peran masyarakat yang responsif menyampaikan informasi kepada aparat di lapangan.

Adapun kronologi pengungkapan tiga jaringan sindikat narkoba tersebut, antara lain Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap sebuah rumah yang menjadi gudang penyimpanan narkoba di daerah Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, pada 21 April 2021.

Di TKP, petugas menyita 420 boks plastik yang berisi sabu seberat 536,84 kilogram dari tersangka berinisial BU. Dari hasil penyelidikan, sabu ini berasal dari Pakistan yang dibawa ke Aceh melalui jalur laut.

Berdasarkan keterangan tersangka, sabu tersebut diambil oleh kurir ABK dengan menggunakan kapal tuna. Selanjutnya petugas melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan HY di daerah Jalan Lintas Meulaboh-Banda Aceh.

Tak berhenti di situ, petugas BNN juga menangkap anggota jaringan sindikat lainnya yaitu MUR, di Aceh Besar serta dua warga binaan lapas yaitu AM dan MT. Pengembangan kasus ini terus dilakukan, dan tim penyidik saat ini sedang mendalami dugaan keterlibatan warga asing berinisial AZ.

BNN berhasil pula menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu yang dilakukan oleh tiga orang pria, masing-masing berinisial MH, US, dan RU pada Selasa, (20/4/2021).

Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi tentang peredaran narkoba di wilayah Bireun yang dilanjutkan dengan penyelidikan dan pembuntutan terhadap kendaraan yang digunakan para pelaku. Pelaku pertama yang diamankan adalah MH, di parkiran Masjid di daerah Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Setelah dilakukan pengembangan, petugas mengamankan US di parkiran masjid di daerah Gampong Beusa Meuranoe, Kabupaten Aceh Timur. US diketahui merupakan oknum anggota DPRK Bireun.

Dari hasil penggeledahan di dalam kendaraan US, petugas menemukan sabu seberat 26,66 kg yang disembunyikan di bawah wiper, bemper depan, dan jok belakang. Selanjutnya petugas mengamankan RU di Bireun, yang ikut terlibat dalam upaya penyelundupan sabu Aceh – Medan tersebut.

Selain itu, Tim Gabungan BNN dan Bea Cukai mendapatkan informasi tentang adanya kapal kayu dari Malaysia yang diduga kuat menyelundupkan narkoba.

Selanjutnya, tim gabungan melaksanakan penyelidikan dan operasi bersama. Tepat pada 27 April 2021, tim gabungan melakukan patroli di sekitar Pulau Burung dan memberhentikan sebuah kapal kayu bernama KM Tohor Jaya yang mencurigakan. Selanjutkan kapal tersebut dibawa ke Kanwil DJBC Khusus Kepri untuk dilakukan pemeriksaan.

“Dari hasil penggeledahan, petugas berhasil mengamankan 2 buah tabung gas yang di dalamnya terdapat 17 bungkus teh China berisi sabu seberat 17,81 kg berikut seorang tersangka berinisial SU,” sebut Biro Humas dan Protokol BNN RI. (lk)

Meimonews.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia menggelar Rapat Evaluasi Bidang Rehabilitasi Tingkat Provinsi di Jakarta, Rabu – Kamis (21-22/2020).

Sebanyak 50 orang terdiri dari 27 orang Kepala atau perwakilan Bidang Rehabilitasi BNN Provinsi dan 16 orang dari BNN-RI ikutserta pada kegiatan yang dibuka pelaksanaannya oleh Kepala BNN-RI Heru Winarko.

Rapat ini bertujuan untuk melakukan analisa dan evaluasi serta mengukur keberhasilan program rehabilitasi. Selain itu, untuk memperoleh bahan masukan bagi peningkatan dan perbaikan program rehabilitasi di tahun yang akan datang.

“Rapat ini dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja serta mengembangkan layanan bidang rehabilitasi kepada seluruh BNN Provinsi maupun BNN Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia,” jelas Plt. Deputi Rehabilitasi BNN-RI dr. Budiono.

Diharapkan dengan terselenggaranya pelaksanaan rapat evaluasi Deputi Bidang Rehabilitasi ini, dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan layanan rehabilitasi berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Winarko mengapresiasi semua tugas Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Provinsi yang telah melaksanakan tugasnya secara optimal.

WIinarko berharap agar standarisasi rehabilitasi yang sudah dibuat harus benar-benar dipahami oleh seluruh jajaran bidang rehabilitasi baik yang berada di BNN Provinsi maupun BNN Kabupaten/Kota.

Terkait evaluasi pekerjaan rehabilitasi, Winarko menekankan agar hal tersebut dibahas semuanya dalam rapat ini.

“Memang sejauh ini pekerjaan masih banyak yang belum optimal dan sekarang saya mencoba membuat terobosan agar semua ini bisa berjalan optimal,” ujar Winarko.

Untuk Tim Asesmen Terpadu (TAT), yang dulu domainnya di Deputi Bidang Rehabilitasi, sekarang dibagi ke Bidang Pemberantasan. Domain utamanya sebenarnya tetap ada di Deputi Bidang Rehabilitasi, tetapi strategi yang dilakukan adalah menyerahkan ke tim pemberantasan agar tim tersebut yang berdiskusi dengan para jaksa dan hakim. Tetapi misi yang diusung adalah misi rehabilitasi. (lk)

Meimonews.com – Guna menyamakan persepsi, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, dalam hal ini Deputi Hukum dan Kerjasama (Hukker) menggelar Asistensi dan Diskusi tentang Kerjasama Nasional dan Internasional di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda), BNN Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.

Kegiatan yang diadakan di Hotel Senyum World Batu, Jatim, Selasa-Kamis (20-22/2020) dan diikuti puluhan orang perwakilan Pemprov Jatim, BNNP serta BNNK tersebut dibuka Direktur Kerjasama BNN RI Achmad Djatmiko mewakili Deputi Bidang Hukum dan Kerjasama BNN-RI Puji Sarwono.

Dalam sambutan Deputi Hukker yang dibacakan Direktur Kerjasama diungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk menyatukan persepsi antara BNN RI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam rangka melaksanakan kerjasama di bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) sehingga terwujud hubungan dan sinergitas yang berkesinambungan.

Dalam dinamikanya di lapangan, disadari bahwa kerjasama yang telah dilaksanakan dengan berbagai pihak belum sepenuhnya maksimal. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah data dukung berupa dokumen nota kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama yang ada saat ini masih belum lengkap.

Oleh karena itulah lewat kegiatan ini dapat dimanfaatkan dalam hal penyusunan dokumen kerjasama baik Nota Kesepahaman maupun Perjanjian Kerjasama.

Dengan adanya globalisasi dan perubahan jaman yang terus berkembang sejak Badan Narkotika Nasional terbentuk, maka muatan dari ruang lingkup nota kesepahaman itu harus disesuaikan dengan kondisi terkini.

Momentum kegiatan ini juga bisa menjadi bahan diskusi, sehingga kegiatan kerjasama dapat terlaksana dengan baik. “Kita harapkan masalah terselesaikan, sehingga dalam pelaksanaan program dapat maksimal,” sebutnya.

Selain pembahasan kerjasama dengan Pemda setempat, disebutkan, kegiatan selama tiga hari kedepan ini juga membahas tentang isu terbaru di tingkat global yang perlu untuk dipahami oleh seluruh personil BNN di Indonesia yaitu tentang pembahasan rekomendasi WHO tentang ganja.

Kabag Umum BNNP Provinsi Jatim Hari Prianto berharap agar dengan kegiatan ini jajaran di daerah dan pusat bisa saling berkoordinasi dalam hal penyiapan dokumen kerjasama.

Dikemukakan, kondisi saat ini, animo sejumlah daerah untuk vertikalisasi BNN cukup tinggi. Beberapa pemerintah daerah sudah mengajukan untuk kerjasama namun karena adanya moratorium maka vertikalisasi belum bisa terlaksana.

Kepala BNN Kota Batu AKBP Mudawaroh menilai, kegiatan ini sangat penting sehingga ia sangat berharap agar selama tiga hari ke depan, banyak masukkan baru yang dapat dibahas untuk dijadikan pedoman di wilayah. (lk)

Meimonews.com – Saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada situasi Darurat Narkoba yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari seluruh komponen bangsa mulai dari unsur pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, tokoh agama dan paling utama adalah guru selaku tenaga pendidik bagi generasi muda.

Keberhasilan dan kesuksesan kita selama ini tidak lepas dari peranan guru dan pengajar sejak mulai kita belajar di sekolah dasar hingga melanjutkan menuntut ilmu di bangku kuliah.

“Dalam mewujudkan generasi muda Indonesia yang unggul, maka diperlukan peranan guru selaku tenaga pendidik yang profesional dan mumpuni agar mampu membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter, beradab dan bermartabat,” ujar Kepala BNN-RI Drs. Heru Winarko, SH ketika bertemu dengan perwakilan dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional di Kantor BNN-RI, Jakarta, baru-baru.

Winarko menambahkan, guru sangat berperan penting dalam memberikan materi pelajaran narkoba kepada murid. Para guru seharusnya memperkenalkan bahaya narkotika kepada murid-muridnya.

“Selain memberikan materi pelajaran tentang narkoba, guru juga harus mampu mengawasi murid-murid dan lingkungan sekolahnya agar bersih dari permasalahan narkoba,” jelasnya.

Menurutnya, sekolahan itu adalah tempat pendidikan anak – anak menggapai ilmu pengetahuan dan ketrampilan sehingga anak-anak sebagai murid harus belajar dengan baik dan benar.

Guru harus berperan aktif dalam mengawasi murid-muridnya sehingga sekolah menjadi tempat belajar yang baik dan bermutu bagi proses belajar mengajar dan transfer ilmu pengetahuan.

Jika hal tersebut dapat terwujud, maka cita-cita generasi penerus bangsa Indonesia yang berkarakter, beradab dan bermartabat serta bebas dari jeratan narkotika bisa terwujud.

Saat pertemuan tersebut, Winarko menjelaskan tentang arti dan maksud Tagline #hidup100% Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia.

Tagline baru BNN tersebut merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat agar selalu sadar akan bahaya narkoba, agar tubuh kita sehat untuk selalu produktif dan menghasilkan kebahagiaan sehingga akan terwujud generasi emas Indonesia yang unggul, maju, berkarakter dan sukses. (lk)