Masuk Masa Adven, Uskup Manado Keluarkan Surat Adven Tahun 2025 dengan Tema “Bersatu dan Bersama dalam Satu Bahtera menjadi Gereja Sinodal dan Misioner untuk Perdamaian”

oleh

Meimonews.com – Mulai Minggu (30/11/2025), umat Katolik di seluruh dunia memulai lagi Tahun Liturgi baru dengan Masa Adven selama empat pekan sebagai persiapan menyambut peristiwa inkarnasi, Sang Sabda menjadi Manusia pada Hari Natal.

Selama Tahun Yubileum 2025, sebagai Peziarah Pengharapan umat Katolik sering menyanyikan salah satu bait lagu hymne Yubileum 2025 yakni “Angkat matamu gerak bersama angin. Bergegaslah saatnya Tuhan datang. Lihat putra jadi manusia. Beribu-ribu orang temukan jalan.

Demikian awal Surat Adven Uskup Keuskupan Manado 2025 yang ditandatangani Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC tertanggal 30 November 2025.

Surat Adven bertemakan Bersatu dan bersama dalam satu bahtera menjadi gereja sinodal dan misioner untuk perdamaian ini ditujukan kepada para pastor, freter, bruder, suster, dan umat Katolik di Keuskupan Manado yang tersebar di Provinsi Sulawesi Utara Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Surat Adven tersebut dibacakan di gereja-gereja saat misa Minggu Adven 1 oleh para imam/pastor dan diteruskan pula ke jejaring umat terasuk lewat group-group yang ada.

Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC

Berikut Surat Adven selengkapnya. Jalan seperti apa yang kita temukan untuk berjunpa Tuhan yang datang itu ? Sebagai masa persiapan,masa Adven adalah saatnya kita berefleksi, membuka mata, telinga dan hati kita, bergerak bergagas bersama mempersiapkan jalan yang lurus supaya dapat dengan jelas dan terang melihat arah dan cara yang tepat untuk berjumpa dengan Dia yang datang menjumpai kita.

Marilah dalam masa Adven kita betefleksi dan merealisasikan arah dan cara yang tepat sesuai dengan apa yang dihadapi dan dijalani oleh Gereja dan masyarakat sekarang ini.

Tahun-tahun terakhir ini, Gereja Katolik Universal dan Lokal telah memberikan kita arah dan cara yang realiatis dan konkrit sesuai dengan situasi masyarakat dan Gereja masa kini.

Sinode para Uskup dan perayaan tahun Yubileum 2025 melalui tema-temanya mengajak kita sebagai suatu persekutuan dengan pelbagai macam perbedaan dan kekhususannya, untuk berjalan bersama, berlayar bersama. Gereja sebagai unat Allah, sebagai peziarah-pezaiarah pengharapan dipanggil untuk menjadikan Gereja kita semakin bersatu, terlibat, berbelarasa dan bermisi.

Kita dipanggil melaksanakan semua itu dalam semangat sinodal sebagai Umat Allah yang “berada dalam satu bahtera/kapal yang sama,” sebagaimana diungkapkan oleh Paus Fransiskus.

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) dan Sidang Sinodal Konferensi Gereja Indonesia tahun 2025 mengkonkritkan tema-tema para Uskup dan Tahun Yubileum itu dalam konteks Gereja dan masyarakat Indonesia.

Dalam spirit yang satu dan sama dengan Gereja Universal, Gereja Katolik Indonesia melalui Sidang Agungnya, sambil mengusung tema “Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pemgharapan : Menjadi Gereja Sinodal dan Misioner Untuk Perdamaian,” merasa terpanggil dan terutis serta berkomitmen untuk menjadikan Gereja Katolik Indonesia sebagai Gereja yang Sinidal dan Misioner untuk perdamaian.

Gereja Katolik di Indonesia dipanggil untuk menghidupi semangat sinodal sebagai umat Allah, saling mendengarkan dan berdialog dan terlibat aktif dalam perutusan Gereja di tengah- tengah masyarakat. Gereja juga mau berkomitmen untuk memembarui diri dan bertransformasi dalam imam, pengharapan dan kasih.

Dalam konteks ini, kita sebagai Gereja memberikan perhatian kepada kelompok yang terpinggirkan termasuk kaum muda, perempuan, lanjut usia dan difabel.

Dalam konteks Indonesia yang kaya akan budaya, agama dan alam, Gereja Katolik Indonesia berkomitmen pula untuk mengedepankan budaya saling mendengarkan dan berdialog lintas iman dan budaya serta berkomitmen untuk menjadi sarana dan suara kenabian untuk menjaga dan melestarikan alam. Gereja juga dipanggil untuk berjalan bersama dengan pemerintah tanpa kehilangan daya kritis dan indenpendensinya.

Sebagai Geteja di Keuskupan Manado, kita juga mau mengkongkritkan semangat sinodalitas dan misioner itu dalam konteks masyarakat dan Gereja Keuskupan Manado. Sebagai Keuskupan, kita menpunyai Arah dan Visi : “Dalam Terang Sabda Allah, Persekutuan Umat Allah Keuskupan Manado Mengembangkan Jati Diri dan Martabatnya untuk Menyinari Kehidupan Bersama di Dunia,” yang dikongkritkan dalam tahapan lima tahun melalui rencana strategis setiap tahun.
Bulan September 2025 kita telah mengadakan Musyawarah Pastoral yang telah menghasilkan Rencana Strategis untuk tahapan II dari Arah Dasar Keuskupan Manado dengan visinya : “Gereja Keuskupan Manado mengembangkan jati diri dan martabatnya dalan Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat.”

Sebagai kelanjutan Muspas 2025 maka di tingkat psroki telah dibuat pertemuan untuk membuat evaluasi dan perencanaan program serta anggaran tahun 2026. Sekarang ini sedang berlangsung Rapat-rapat kerja di tingkat Kevikepan.

Proses yang telah dan sementara dilangsungkan mulai dari Muspas di tingkat Kruskupan, tingkat Kevikepan dan Paroki bahkan sampai tingkat Stasi, Wilayah Rohani, Yayasan, Badan, Lembaga dan Kelompok Kategorial, sesungguhnya mau mengungkapkan dan menjalankan semangat sinodal dan misioner Gereja kita.

Semuanya itu mau mengungkapkan bahwa sebagai Gereja Keuskupan Manado kita berada dalam satu bahtera/kapal yang sama. Kita tidak hidup dan berjuang sendiri-sendiri sebagai paroki, stasi, wilayah rohani, yayasan, badan, lembaga atau kelompok apapun, orang tua, orang muda, anak-anak, lansia, difabel, miskin atau kaya dan lain sebagainya.

Di tingkat manapun atau kelompok apapun serta status apa saja kita semua dipanggil dan terutus untuk berperan dan terlibat dalam misi Gereja. Kita berjalan, berlayar dalam kapal.yang sama. Kita sukses atau bergembira, kita gagal atau menderita bersama.

Seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus ; “Bergembira dengan orang yang bergembira dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12 : 15).

Kita telah memprogramkan dan menganggarkan kegiatan atau tindakan yang akan dibuat menurut bidang-bidang rencana strategis kita. Semua itu bagus, tetapi kita bertanya, di manakah dalam bidang-bidang itu sesungguhnya nampak wajah Gereja yang Sinodal dan misioner itu ?

Wajah Gereja yang sesungguhnya, nampak bukan pada bangunan dengan bentuk.atau modelnya yang indah, melainkan pada hidup.dan karya kita sebagai batu-batu hidup melalui hidup dan karya-karya kerasulan Gereja.

Mari dala masa Adven dan seterusnya kita sebagai peziarah pengharapan.mwngambil langkah kongkrit yang benar-benar untuk berjalan bersama mewujudkan wajah Gereja kita yang sinodal dan misioner untuk perdamaian.

Dilampirkan pula beberapa petunjuk untuk perhatian. (elka)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Meimo News di saluran WHATSAPP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *