Meimonews.com – Sektor pertanian menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi dan tuntutan akan keamanan pangan yang semakin meningkat.
Itulah sebabnya, Sam Herodian (Staf Khusus Kementerian Pertanian Indonesia) menegaskan pentingnya memperkuat pendidikan tinggi pertanian melalui inovasi dan teknologi untuk mencapai swasembada pangan.
Penegasan tersebut disamipaikannya ketika menjadi Keynote Speaker Onsite pada International Conference on Agriculture, Food, Environment and Energy (InCaffe) 2025 yang diadakan lewat zoom dan secara hibrid di Sintesa Peninsula Hotel Manado, Kamis (7/8/2025).

Dikemukakan, dalam mencapai visi besar Indonesia Emas 2045 beserta Asta Cita 2 dalam mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, pemerintah menekankan perguruan tinggi pertanian harus menjadi garda terdepan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang terampil, berpengetahuan luas, dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
“Kurikulum pendidikan tinggi pertanian perlu direformasi agar lebih relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja,” tandasnya saat membawakan materi dengan judul Strengthening Agricultural Higher Education Through Innovation and Technology to Achieve Food Self-Sufficiency.
Hal ini, sebutnya, termasuk mengajak petani milenial/Gen Z dalam pertanian cerdas seperti pengenalan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan precision farming.
Diingatkan perlunya kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, sektor swasta, dan petani untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan inovatif.
“Pemerintah dan juga Kementerian juga mengajak para akademisi, mahasiswa, dan peneliti untuk terus berkontribusi dalam menemukan solusi-solusi kreatif untuk tantangan-tantangan pertanian, dengan tujuan akhir menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” ujarnya.
Kegiatan yang dilaksanakan panitia pimpinan Fabiola Saroinsong (Ketua) dan diikuti 140 peserta dari 5 negara yang merupakan peneliti, pelaku industri (pariwisat), dosen dan mahasiswa ini merupakan kolaborasi Fakultas Pertanian (Faperta) Unsrat Manado pimpinan Dedie Tooy (Dekan) berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTi) Wilayah Timur Indonesia dan Perhimpunan Agroteknologi Indonesia (PAGI).
Kegiatan yang mengusung tema Strengthening Agricultural Higher Education Through Inovation and International Collaboration for Sustainable Food Environment Energy ini menampilkan sejumlah pakar internasional sebagai pembicara.
Invited Speaker Onsite terdiri dari Fabian M. Dayritt (Filipina), Rajesh M. K (India), Fahrul Zaman Huyop (Malaysia), Jeremy Badgery Parker (Australia), Jelfina C. Alow (Indonesia) dan Samanhudi, (Indonesia).
Keynote online yakni Letjen TNI (Purn) Anton Nugroho, (Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia) sementara Invited Speaker online terdiri dari Tamara Jackson (Adelaide University, Australia), Nurul Huda (Universiti Malaysia Sabah, Malaysia), dan Jean-Marc Roda (French Agricultural Research Centre for International Development (CIRAD), Prancis.
Dalam pemaparan materinya, Anton Nugroho mengungkapkan, penguatan pendidikan tinggi pertanian, khususnya di Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia, menjadi strategi penting untuk mendukung keberlanjutan pangan, lingkungan, dan energi di Indonesia.
Visi Indonesia 2045 mencakup pilar-pilar utama, termasuk pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Pembangunan berkelanjutan ini menghadapi tantangan, seperti permintaan pangan yang terus meningkat namun kapasitas produksi yang menurun, sehingga neraca bahan pangan masih defisit,” ujarnya dalam materinya berjudul Penguatan Pendidikan Tinggi Pertanian melalui Inovasi dan Kolaborasi Internasional dalam rangka keberlanjutan pangan, lingkungan dan energi.
Di sisi lingkungan, visi 2045 menargetkan ekonomi hijau dengan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 34-41 persen dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di atas 80.
Dalam menghadapi tantangan ini, Unhan RI berperan aktif dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk pertahanan negara, khususnya dalam menghadapi krisis pangan dan energi.
Peran ini diwujudkan melalui berbagai program studi yang relevan, seperti Sains Pangan dan Ketahanan Energi di tingkat magister, serta program diploma di bidang pertanian, perikanan, dan kelautan.
Selain itu, Unhan RI juga melakukan riset kolaboratif untuk mendukung swasembada pangan dan ketahanan energi. Riset-riset tersebut meliputi pengolahan lahan dengan larutan mikroba buatan, penyiapan benih menggunakan mikoriza, pembuatan pupuk organik nusantara, oestisida organik, dan pestisida sulfur, dan pengembangan gandum, Program SMC untuk Ketahanan Energi Berbasis Sawit dan Ketahanan Pangan.
“Upaya ini sejalan dengan program swasembada pangan nasional (PSPN) yang mencakup pencetakan sawah baru, revitalisasi sistem irigasi, pengembangan benih unggul, dan transformasi pertanian modern,” tandasnya.
Dengan demikian, menurutnya, pendidikan tinggi pertanian di Unhan RI berfungsi sebagai pilar untuk menciptakan SDM yang mandiri, berkarakter, dan kompeten guna mengatasi ancaman krisis pangan dan energi sebagai bagian dari pertahanan negara.
Dekan Faperta Unsrat Manado Dedie Tooy, dalam sambutannya mengungkapkan, suatu bagin bagi Faperta Unsrat karena bisa melaksanakan kegiatan ini yang diikuti lebih dari 200 peserta baik secara langsung maupun daring, termasuk lebih dari 20 Dekan Faperta dari seluruh Indonesia.
Kegiatan InCAFEE ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan kolaborasi yang diselenggarakan beberaa hari tersebut. Kegiatan lainnya adalah Lokakarya Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Wilayah Timur dan Kongres Nasional Perhimpunan Agroteknologi Indonesia.
“Kami bangga menjadi tuan rumah pertemuan akademik internasional ini di Manado dan berharap acara ini dapat memperkuat kolaborasi dan inovasi di bidang pertanian,” ujarnya. (FA)

