Meimonews.com – Tanggal 29 Juni 2026 merupakan hari yang istemewa bagi Pastor Johanis Mangkey MSC. Betapa tidak, pada tanggal tersebut, Pastor Yance (panggilan akrabnya) genap 45 tahun imamatnya.
Memperingati tahun imamatnya tersebut Pastor Yance merayakannya di Seminari Menengah Kakaskasen pada Sabtu (18/7/2026).
Dipilihnya tempat ini karena di seminari inilah menjadi tempat pendidikan/pembinaan awal sebelum ia menjadi imam/pastor.

Ada beberapa agenda acara pada peringatan 45 tahun imamatnya di seminari yang berlokasi di Kota Tomohon tersebut yakni ziarah ke makam dua rekan imam seangkatan, perayaan ekaristi, syukuran dan launching bukunya yang berjudul 45 Tahun Imamatku : Luceat lux vestra coram hominibus… Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang….(Mat. 5 : 16.).
Menariknya, saat launching buku setebal 210 halaman (di luar cover depan dan belakang) tersebut, Pastor Yance mengumumkan bahwa hasil penjualan buku di momen peringatan tersebut disumbangkan bersama dengan sejumlah uang untuk donasi bagi Seminari Menengah Kakaskasen,

Launching di awali Kata Pengantar oleh Dr. Frits Herman Pangemanan, M.Sc dan penyerahan buku tersebut oleh Pastor Yance kepada sejumlah di antaranya Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dan Rektor Seminari Kakaskasen Pastor Danny Surentu Pr.
Buku tersebut berisi tulisan dalam dua bahasa yakni Indonesia dan bahasa Inggris karena karya tersebut memuat tulisannya baik yang dimuat secara online dalam Majalah Good News Bulletin maupun dalam Bulletin of St. Peter Canisius International Catholic Parish di Menteng, Jakarta Pusat. Kedua media tersebut berbahasa Inggris sehingga perlu ada teriemahannya dalam nahasa Indonesia.
Selain Sekapur Sirih dari Frits, Sapaan Khusus dari Uskup Agung Merauke Mgr. PC Mandagi MSC dan Dari Penulis oleh Pastor Yance, buku ini berisi tiga bagian dalam bahasa Indonesia dan tiga bagian dslam bahasa Inggris serta Daftar Pustaka dan Kilasan tentang Pengarang.
Dalam bahasa Indonesia, bagian satu : Misi Kasih Manusia berisi tujuh tulisan. Pertama, Manusia Pengemban Misi; kedua, Hati Kudus Yesus, Lambang Kasih Allah yang Sejati; ketiga, Dia Harus makin Besar, Aku Harus makin Kecil (Yohanes 3 : 30).
Keempat, Kasih adalah Jalan Panggilanku; kelima, Mewartakan Sabda Allah; keenam Kehidupan Liturgis; dan ketujuh Kuasa Pengampunan.
Bagian dua tentang Hidup dalam Iman berisi delapan tulisan. Pertama Doa Yesus; kedua, Salam, Penuh Rahmat; ketiga, Hidup dalam Kedamaian Batin; keempat, “Diam ! Tenanglah !” (Markus 4 : 35-41).
Keempat, Kasih adalah Jalan Panggilanku; kelima, Tindakan Kecil Berdampak Besar; keenam, Ephphata – Terbukalah !; ketujuh, Perjumpaan dan Pertobatan; dan kedelapan, Orang-Orang Kudus di Sekitar Kita.
Bagian ketiga tentang Membawa Terang Bagi Dunia berisi enam tulisan. Pertama, Cahaya bagi Bangsa-Bangsa; kedua, Keberpihakan pada Kaum Miskin dan Renta; ketiga, Menjalankan Kebebasan Bertanggung Jawab; keempat, Kaum Pengungsi dan Perdagangan Manusia; kelima, Hak untuk Bekerja dan Mendapatkan Pekerjaan; dan keenam, Memahami Gangguan Kecemasan.
Dalam bahasa Inggris, Chapter One : Original Source of the Reflevtions yang berisi tujuh tulisan. Pertama, A Person with A Mission; kedua, The Sacred Heart of Jesus, the Eloquent Symbol; ketiga, He Must Increase I Must Decrease (John 3 : 30).
Keempat, My Vocation Is Love; kelima, Preaching the Word of God; keenam, Liturgical Life; dan ketujuh, The Power of Forgiveness.
Chapter Two : Life in Faith yang berisi delapan tulisan. Pertama, Jesus Prayer; kedua, Hail, Full of Grace; ketiga, To Be At Peace; keempat, “Quiet ! Be still !” (Mark 4 : 35-41);
Kelima, Small Action, Significant Impact; keenam, Ephphatha – Be Opened !; ketujuh, Encounter and Conversion; dan kedelapan, Saints Next Door.
Chapter Three : Bringing Light to the Word berisi enam tulisan. Pertama, A Light to the Nations; kedua, Option for the Poor and Vulnerable; ketiga, The Responsible Practice of Freedom; keempat, Refugees and Human Trafficking; kelima, The Right To Work And To Education; dan keenam, Anxiety Disorder.
Kumpulan tulisan-tulisan dalam buku ini, menurut Pastor Yance, merupakan lanjutan dari buku berjudul Tolle Lege yang terbit pada HUTnya ke-70 pada Mei 2024.
Dalam perjalanan imamat selama 45 tahun (Pastor Yance bersama dua rekan seangkatan yang telah meninggal yakni Pastor Aloysius Roong MSC dan Pastor Fransiskus Rares MSC ditahbiskan sebagai imam pada 29 Juni 1981 di gereja Katedral Manado oleh Uskup Manado Mgr. Theodorus HAJ Moors), Pastor Yance telah mengalami begitu banyak kasih, perhatian, dukungan dan doa dari begitu banyak orang.
Ada begitu banyak tantangan, oergumulan dan tanda tanya yang dihadapi. Di atas semuanya, ada Tuhan yang selalu setia berjalan dan mendampinginya serta tidak segan menegurnya apabila tidak setia.
Sambil tetap menimba inspirasi dari motto tahbisannya yakni Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3 : 30), Pastor Yance menyadari bahwa ia harus membawa dan menjadi terang yang “bercahaya di depab orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (sic luceat lux vestra coram hominibus ut videant vestra bona opera et glorificent Patren vestrum qui in caelis est (Matius 5 : 16).
Lahirnya buku ini dengan bagian sederhana, menurut Frits H. Pangemanan, mengikuti hakikat isi naskah-naskah yang tampak kontemplatif.
Garapan naskah oleh pengarang ini (Pastor Yance – red), kecuali tidak bertele-tele, juga menunjukkan kedalaman pikiran. Dari kekayaan pikirannya lahir refleksi-refleksk kontemplatir bernilai ‘eksistensial’ yang ditemuoan di banyak peristiwa yang dilaluinya.
Kepekaan penulis untuk melihat makna tersirat di balik peristiwa-peristiwa, menunjukkan pengarang melihat tak hanya dengan.mata, tapi juga dengan hati yang penuh bela-rasa (compassion). Dari hati berbela-rasa, lahir narasi-narasi reflektif yang menyentuj sukma.
Pada hemat Frits, yang ditulisnya pada Sekapur Sirih buku ini, setiap naskah lahir dari meditasi mendalam Pastor Yance sebelum menuliskannya sebagai bahan publikasi di banyak media.
Naskah-naskah itu berbicara sendiri dan mengantar pada discernment rohani bagi pembaca yang merindukan makna eksistensial yang hilang di peradaban kini. (Lexie Kalesaran)

