Meimonews.com – Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar Pemantapan Pembelajaran Menggunakan Learning Management System (LMS), Case Method, dan Project Base Learning (PBL) di Wale Christian Kaima, Kabupaten Minahasa Utara.

Kegiatan yang dilaksanakan Kamis-Jumat (23-23/8/2024) ini diikuti 200 peserta yakni
Wakil Rektor Rektor, para Dekan, para Wakil Dekan Bidang Akademik, para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala Biro, para Kepala Bagian, para Kepala UPA, serta seluruh dosen dengan jabatan fungsional Lektor Kepala dan Asisten Ahli.

Turut hadir pada kegiatan yang dilaksanakan Tim Indikator Kinerja Utama Unima pimpinan Vivi Winny Saroinsong, S.Pi, MAP (Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Unima) iini adalah Tim Belmawa Kemendikbudristek RI yakni Agus Soemantri serta Hartoto, S.Pd, M.Pd (Universitas Negeri Makassar dan Dr. Ishaq Madeamin, S.Pd, M.Pd (Universitas Muhammadiyah Makassar).

Rektor Unima Prof. Dr. Deitje Adolfien Katuuk, MPd dalam sambutannya menjelaskan, peserta berkumpul pada kegiatan pemantapan pembelajaran ini akan fokus pada tiga metode pembelajaran inovatif: Learning Management System (LMS), Case Method, dan Project Based Learning (PBL).

“Ketiga metode ini adalah fondasi penting dalam mendukung proses pembelajaran yang efektif dan relevan di era digital saat ini,” ujar Rektor.

Dengan LMS, sebutnya, kita tidak hanya mempermudah akses materi ajar, tetapi juga memperkaya interaksi antara pengajar dan peserta didik. case nethod memberikan kesempatan untuk menggali dan menganalisis situasi nyata, memperkuat pemahaman konsep secara mendalam. Sedangkan PBL mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah melalui proyek yang menantang.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap setiap peserta dapat memahami dan memanfaatkan ketiga metode ini secara optimal, sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa kita menghadapi tantangan di dunia profesional,” ujarnya.

Dalam pemaparan materi Tim Bermawa Kemendikbudristek RI menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat untuk kegiatan pemantapan pembelajaran yang fokus pada penggunaan Learning Management System (LMS), Case Method, dan Project Based Learning (PBL).

Kegiatan ini, menurut mereka adalah bagian dari upaya kita bersama untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

LMS memberikan kita platform yang fleksibel dan efisien untuk menyampaikan materi ajar, mengelola proses belajar mengajar, serta memfasilitasi interaksi antara pengajar dan peserta didik. Case method memungkinkan kita untuk mengintegrasikan teori dengan praktik melalui analisis kasus nyata, yang sangat penting untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan problem solving. Sementara itu, Project Based Learning mendorong kreativitas dan kolaborasi melalui pengalaman belajar berbasis proyek, yang relevan dengan tantangan dunia nyata.

Dengan mengimplementasikan ketiga metode ini, tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi profesional yang siap menghadapi tantangan global. Kami berharap kegiatan ini akan memberikan wawasan baru, memperkuat kompetensi, dan menginspirasi inovasi dalam proses pembelajaran

Kemendikbudristek berterima kasih atas komitmen dan dedikasi dalam mengembangkan pendidikan. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang besar dan mendalam bagi kita semua.. (FA)

Meimonews.com – Kemendikbudristek melalui Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (PLPP/Puslapdik) resmi membuka kesempatan bagi mahasiswa baru di seluruh Indonesia untuk menjadi penerima KIP Kuliah Merdeka sesuai jenjang studinya baik sarjana maupun diploma untuk tahun 2024.

Hal tersebut terungkap pada webinar Sosialisasi Pendaftaran KIP Kuliah Merdeka di Jakarta, Senin (12/2/2024).

Dalam siaran persnya, Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Setjen Kementerian pendidikan, Kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbudristek) menjelaskan, Kemendikbudristek terus berkomitmen untuk meningkatkan akses pendidikan dasar, menengah, dan tinggi untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia unggul guna meningkatkan produktivitas, memajukan kebudayaan, dan mencapai kesejahteraan menuju Indonesia Emas 2045.

Wujud komitmen tersebut berfokus pada peningkatkan pembangunan SDM yang salah satunya dilakukan melalui Program Indonesia Pintar Pendidikan Tinggi atau yang umum disebut Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) Merdeka.

Pelaksana tugas Kepala Puslapdik Abdul Kahar, mengatakan, Kemendikbudristek telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp13,9 triliun di tahun 2024. Dana tersebut, akan digunakan untuk membiayai Program KIP Kuliah Merdeka dengan total sasaran penerima 985.577 mahasiswa yang terdiri dari 200.000 mahasiswa penerima KIP Kuliah baru dan sisanya adalah mahasiswa penerima KIP Kuliah on going dan mahasiswa penerima bantuan biaya pendidikan on going.

Penerima KIP Kuliah Merdeka di 2024 akan mendapatkan pembebasan biaya pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi pada jalur UTBK-SNBT serta seleksi lain oleh perguruan tinggi bagi pelamar KIP Kuliah Merdeka yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan/atau menerima program bantuan sosial sesuai Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 4/PMK.02/2023.

Penerima KIP Kuliah Merdeka di tahun 2024 akan mendapatkan biaya pendidikan atau biaya kuliah (UKT/SPP) yang dibayarkan langsung ke rekening perguruan tinggi dan bantuan biaya hidup per bulan yang ditransfer langsung ke rekening mahasiswa yang besarannya ditetapkan berdasarkan perhitungan indeks harga lokal masing-masing wilayah perguruan tinggi.

Dana tersebut akan diberikan dalam 5 klaster besaran per bulan, yaitu Rp. 800.000, Rp. 950.000, Rp. 1.100.000, Rp. 1.250.000, dan Rp. 1.400.000.

Bantuan biaya hidup tersebut sepenuhnya merupakan hak mahasiswa yang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama kuliah dan tidak boleh dimanfaatkan perguruan tinggi untuk biaya tambahan apapun.

Dijelaskan, pada tahun 2024 akan dilaksanakan peningkatan kualitas sasaran dan inovasi Program KIP Kuliah Merdeka. Di antaranya pertama, peningkatan kuota penerima KIP Kuliah Merdeka menjadi 200.000 penerima, meningkat kembali dari tahun 2022 dan 2023 sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk peningkatan sumberdaya manusia dan pemerataan akses pendidikan tinggi;

Kedua, integrasi data calon penerima yang lebih baik dengan Pusdatin Kemendikbudristek untuk data ekonomi calon penerima sebagai upaya peningkatan ketepatan sasaran; Ketiga,  peningkatan layanan KIP Kuliah Merdeka melalui pengembangan Monitoring Proses Pencairan;

Keempat, penyediaan layanan penyaluran biaya hidup melalui layanan keuangan digital (fintech) yang akan diujicoba bagi mahasiswa baru pada semester gasal tahun akademik 2024/2025.

Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Suharti mengatakan, Kemendikbudristek melihat bahwa kesempatan untuk melanjutkan kuliah pada program studi unggulan di kampus-kampus terbaik di seluruh Indonesia harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia.

Pihaknya berharap, tunas bangsa yang menyelesaikan studinya tersebut nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan berkontribusi dalam membangun negeri.

“Diutamakan orang pertama dari keluarga miskin atau rentan miskin yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, tidak perlu khawatir melanjutkan studi ke perguruan tinggi di prodi unggulan dengan akreditasi terbaik karena dijamin pembiayaan pendidikan sampai lulus sesuai jangka waktu pemberian KIP Kuliah Merdeka,” ujarnya.

Suharti berharap, KIP Kuliah Merdeka di tahun 2024 dapat berjalan lebih baik dan senantiasa  memberi asa bagi generasi muda Indonesia dari seluruh pelosok negeri untuk menggapai pendidikan tinggi sehingga dapat memutus mata rantai kemiskinan demi Indonesia yang lebih sejahtera di masa depan menuju Indonesia Emas tahun 2045. (Fer)