Meimonews.com – Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) Ignatius  JC Tuerah melantik Pengurus Ikatan Alumni Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa periode 2024-2025.

Pada pelantikan yang dilaksanakan di Lantai 1 FBS Unima, Jumat  (20/12/2024) ini dihadiri Ketua Senat FBS Unima sekaligus sebagai Pembina Ruddy Pakasi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Arie Tulus, Kepala Bagian FBS Unima Valentino Tangkau, Wakil Ketua Alumni Seni Rupa Auclemwish Makienggung.

Selain itu, Sekretaris Friets Konduwes, Koordinator Bidang DKV dan Dokumentasi Gerrit Kalalo, Koordinator Bidang Produksi dan Pameran Melky Runtu dan anggota Bidang Hubmas dan kerjasama Jacky Kaunang.

Turut hadir Nicolas Gosal, dosen senior di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis, dan pegawai FBS Unima lainnya  di antaranya Jein Prang, dan Jendri Rompas.

Dalam sambutannya, Javier (sapaan akrab Dekan FBS Unima) mengungkapkan, para lulusan Prodi Pendidikan Seni Rupa ini sejak masih Fakultas Keguruan Sastra Seni, dan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni ketika masih Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) hingga menjadi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, tenaganya sangat diperlukan di masyarakat,

“Apakah sebagai guru ataupun sebagai pekerja seni di daerah ini bahkan di luar Sulawesi Utara lahan pengabdiannya masih sangat luas,” ujarnya.

Ketua Ikatan Alumni Prodi Pendidikan Seni Rupa Elbamun Lingkanbene Mingkid dalam sambutannya menegasoan, setelah pelantikan ini, sebagai Ketua dan pengurus lainnya bertekad akan bekerja semaksimal mungkin berdasarkan agenda kerja yang nantinya akan disepakati bersama pada rapat pengurus nanti.

“Yang sudah disepakati melalui pembicaraan pembicaraan antar pengurus dan pembina, pada Februari 2025 nanti, Alumni Seni Rupa FBS Unima akan menggelar Pameran Bersama Karya Seni Rupa,” ujarnya.

Selain itu, akan dilaksanakan pula agenda penting lainnya untuk kemajuan Prodi Pendidikan Seni Rupa pada khususnya, dan Unima pada umumnya,

Pengurus, sebutnya, akan  matangkan rencana kegiatan ini melalui rapat pengurus. (FA)

Meimonews.com – Guna memperkenalkan budaya Jepang kepada masyarakat Sulawesi Utara, Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar Bunkasai Unima 2024.

Festival budaya tahunan yang berlangsung dua hari, baru-baru di kompleks fakultas dan dibuka pelaksanaannya oleh Plt. Wakil Rektor 1 Mister Gideon Maru mewakili Rektor Unima Deitje Adokfien Katuuk ini menarik perhatian banyak pihak, mulai dari civitas akademika hingga komunitas budaya, dan menjadi jembatan bagi keragaman budaya, seni, dan edukasi.

Hadir dalam acara ini Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Ignasius JC Tuerah, Wakil Dekan II  Jans Mangare, Wakil Dekan III Arie Tulus, Ketua Badan Kerja Sama Luar Negeri Jeane Tuilan, Ketua Jurusan Bahasa Asing Franky Reymond Najoan, serta Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Sandra Rakian.serta seluruh staf/jajaran FBS Unima.

Kehadiran mereka menegaskan pentingnya dukungan fakultas dan universitas dalam memperkuat hubungan lintasbudaya, terutama dalam konteks pendidikan bahasa dan budaya Jepang di Unima.

Dalam sambutannya, Maru menyampaikan apresiasi Unima atas terlaksananya festival ini sebagai wadah edukasi dan kolaborasi budaya. “Bunkasai Unima diharapkan menjadi ajang pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Jepang, khususnya di Sulawesi Utara,” ujarnya.

Festival Bunkasai Unima 2024 menyuguhkan berbagai kegiatan budaya Jepang yang autentik dan menarik. Pengunjung diajak menyaksikan Odori (tarian tradisional Jepang) dan Soran Bushi (tarian rakyat khas nelayan Jepang yang enerjik). Selain itu, mereka dapat mencoba mengenakan Yukata (busana tradisional Jepang musim panas) serta berpartisipasi dalam perayaan Tanabata.

Tanabata, sebuah festival tradisional Jepang yang biasanya dirayakan pada bulan Juli, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menulis harapan di atas kertas warna-warni dan menggantungnya di pohon bambu, sebagai simbol pengharapan dan kebahagiaan.

Festival ini juga menyediakan ruang ekspresi bagi mahasiswa dan komunitas penggemar budaya Jepang yang berbakat. Para peserta tampil dalam berbagai kategori seni, seperti menyanyi, menari, berakting, melukis, cosplay, dan bermain musik.

Pengunjung disuguhi penampilan penuh warna dari para peserta cosplay yang mengenakan kostum karakter anime favorit mereka, menciptakan suasana seperti di tengah-tengah perayaan budaya Jepang yang sesungguhnya.

Kompetisi seni ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan sekaligus mengekspresikan kecintaan mereka terhadap budaya Jepang di hadapan publik.

Berbagai lomba pengetahuan seputar budaya Jepang menjadi daya tarik utama bagi peserta yang tertarik mendalami informasi seputar negeri sakura ini. Lomba ini mencakup berbagai topik, seperti bahasa Jepang, sejarah, seni, dan budaya populer Jepang.

Dengan kompetisi ini, peserta dari berbagai sekolah di Sulawesi Utara dan kalangan mahasiswa dapat memperdalam pemahaman mereka tentang budaya Jepang sambil bersaing dalam suasana yang menyenangkan dan edukatif.

Selain berbagai kegiatan budaya, Bunkasai Unima 2024 juga menyediakan stand-stand yang menawarkan kuliner khas Jepang, seperti  takoyakisushiramen dan dorayaki.

Pengunjung juga dapat membeli merchandise khas anime, pakaian Jepang, serta produk dari berbagai merek populer. Kehadiran stand ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menyeluruh tentang budaya Jepang melalui cita rasa kuliner dan produk-produk khasnya.

Sebagai nilai tambah, festival ini juga dihadiri oleh tamu dari Jepang yang memberikan perspektif langsung tentang kebudayaan mereka. Kehadiran tamu-tamu ini memperkaya wawasan para peserta dan pengunjung, serta memberikan pengalaman langsung yang lebih otentik tentang budaya Jepang.

Rakian menyampaikan harapannya agar Bunkasai Unima dapat terus berkembang dan menjadi perayaan budaya Jepang yang semakin besar setiap tahunnya. “Kami berharap acara ini tidak hanya memperkenalkan budaya Jepang, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat untuk saling mengenal, mengapresiasi, dan berbagi ide,” ujarnya.

Festival ini, tambahnya, adalah wujud nyata dari komitmen Unima untuk memfasilitasi generasi muda dalam memahami dan menghargai keberagaman budaya.

Dengan antusiasme yang besar dari masyarakat, Bunkasai Unima diharapkan dapat terus menjadi tradisi tahunan yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang, sekaligus mendorong semangat kolaborasi lintas budaya di kalangan generasi muda di Sulawesi Utara. (FA)