Meimonews.com – Kita ingin membangun Indonesia yang maju. Tetapi kemajuan bukan hanya tentang gedung yang menjulang tinggi, teknologi yang semakin canggih, atau kekayaan yang berlimpah.

Kemajuan sejati dimulai dari manusia. Dari karakter. Dari hati yang mencintai tanah air, dari jiwa yang tidak menyerah, dan dari kepedulian terhadap sesama.

‘Karena itu, kita harus membentuk generasi masa depan yang patriotik, gigih, dan berempati,” ujar Wakil Rektor 1 (Bidang Akademik) Unsrat Arthur Gehart Pinaria ketika membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) pada upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda di halaman Kantor Pusat Unsrat, Rabu (28/1/2026).

Dijelaskan, patriotik, yang mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pengabdian dan tindakan nyata. Gigih, yang tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, tidak runtuh ketika mengalami kegagalan, dan tidak berhenti berjuang sebelum memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Dan berempati, yang tidak hanya memikirkan keberhasilan dirinya sendiri, tetapi juga merasakan kesulitan saudaranya. Yang tidak berpaling ketika melihat rakyatnya membutuhkan pertolongan.

“Sebab patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” sebut Menpora pada kegiatan yang mengusung tema tema Patriotik, Gigih, Berempati Pemuda Indonesoa.

Dikemukakan, dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Besar Sertifikasi Elektronik (BSrE), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Para pemuda Indonesia, diajak untuk berrmimpi setinggi langit. Bekerjalah sekeras mungkin. Jadilah manusia yang kuat, tetapi jangan kehilangan kelembutan hati. Jadilah generasi yang berani memimpin, tetapi juga bersedia melayani.

“Generasi yang mampu berdiri tegak untuk bangsanya, sekaligus mengulurkan tangan kepada sesamanya. Jadikanlah setiap ilmu, setiap karya, dan setiap pengorbanan sebagai bukti cinta kita kepada Indonesia,” ajaknya.

Upacara memperingati Sumpah Pemuda di lingkungan Unsrat dilaksanakan di unit kerja masing-masing. Khusus di halaman Kantor Pusat dihadiri pimpinan dan staf serta satuan kerja tingkat universitas di mana bertindak sebagaii inspektur upacara adalah Wakil Rektor 1 mewalilki Plt Rektor Jamaluddin Jompa. (FA)

Meimonews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menggelar Rountable Meeting dengan tema Membangun Koalisi untuk Transisi Net Zero di Provinsi Sulawesi Utara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif program PAIR (Partnerships for Australia-Indonesia Research) yang bertujuan untuk menggalang kerjasama lintassektor dalam mencapai target emisi nol bersih atau Net Zero di wilayah Sulawesi Utara.

Berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari pemerintah provinsi, akademisi, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah hadir pada kegiatan yang diadakan di Ruang Rapat Kantor Pusat Unsrat Manado, Rabu (6/8/2025) ini.

Rountable Meeting yang turut dihadiriWakil Gubernur Sulut Johanis Victor Mailangkay ini diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah konkret untuk membentuk sebuah Koalisi Net Zero Sulawesi Utara yang solid.

Rektor Unsrat Oktoviab Berty Alexander Sompie dalam sambutan yang dibacakan Wakil Rektor 1 Unsrat Arthur G. Pinaria menjelaskan, dalam forum ini akan dibahaa agenda besar membangun koalisi menuju transisi energi net zero di Sulut.

Semua tahu bahwa perubahan iklim adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Damaknya sudah dirasakan yakni cuaca ekstrim, kenaikan nuka air laut, dan kerentanan daerah pesisir yang semakin meningjat.

“indonesia telah menegaskan target net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepatcepat. Ini bukan tugas mudah. Butuh jerha keras lintas sektor dan lintas generas,” tegasnys.

Sulawesi Utara, menurut Rektor, meniliki peluang emas. Kita memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa yakni energi surya di pesisir, enerpi angin di kepulauan, bioenergi dari limbah pertanian, hingga mikrohidro di pegunungan. Semua ini adalah modal besar untuk membangun masa depan rendah karbon yang sesuai konteks lokal.

“Universitas Sam Ratulangi siap berada di garis depan. Kami melakukan riset strategisstrategis, khususnya pada transisi energi di fasilitas kesehatan, yang tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga meningkatkan layanan kesehatan di daerah terpencil yang rentan terhadap dampak iklim,” ujar Pinaria membacakan sambutan Rektor. (FA)