Meimonews.com – Tim Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Manado yang diketuai Yos Banne (Ketua Jurusan Farmasi) dengan anggota Evelina Maria Nahor, Jovie Mien Dumanauw dan sejumlah mahasiswa menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) di Lingkungan 1 Kelurahan Malendeng, Manado, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan yang dilakukan di rumah salah satu anggota Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) setempat ini dihadiri Lurah Malendeng Sidik Moha, Ketua TP PKK Kelurahan Malendeng Meidy Moha Katili, pengurus dan anggota TP PKK serta warga setempat.
Kegiatan pengabmas tersebut adalah Edukasi Pemanfaatan Tanaman Obat dan Pelatihan Pengolahan dan Pembuatan Teh Herbal Untuk Membantu Pengobatan Penyakit Hipertensi.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian.
Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami tekanan darah tinggi.
Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter di Sulawesi Utara tercatat sebesar 12,1% dan menempati peringkat ke-3 tertinggi secara nasional.
Pemanfaatan kekayaan bahan alam sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan terus dikembangkan oleh Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (pengabmas) sebagai salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi, tim dosen memperkenalkan pemanfaatan sejumlah bahan alam yang diolah menjadi sediaan teh herbal sebagai salah satu bentuk edukasi dan upaya mendukung pengelolaan hipertensi.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi serta upaya pencegahan dan pengendaliannya.
Dalam sambutannya ketika membuka kegiatan, Lurah Malendeng menyampaikan terima kasih dan apresiasi karena kegiatan dilaksanakan di daerah yang dipimpinnya serta menilai kegiatan ini memberikan dampak positif pada masyarakat karena dapat meningkatkan pengetahuan warga dalam mengelola tekanan darah tinggi secara mandiri menggunakan bahan alami di lingkungan sekitar.
Lurah berharap agar kegiatan seperti ini dapat berlanjut di masa yang akan datang karena dampak nyata dirasakan secara langsung oleh masyarakat yaitu peningkatan keterampilan dalam memanfaatkan bahan alam menjadi produk herbal yang lebih praktis dan memiliki nilai tambah.
Yos Banne dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pengabmas merupakan salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dilaksanakan oleh dosen.
Materi yang dibawakan dalam kegiatan pengabmas merupakan hasil penelitian kesehatan yang dapat diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan mencakup penyuluhan seputar hipertensi, pengukuran tekanan darah peserta, dan pelatihan pengolahan dan pembuatan teh herbal dari bahan alam untuk membantu mengobati hipertensi.
Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada berbagai bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan teh herbal, yaitu daun pegagan, bunga telang, jahe merah, sereh, daun sirsak, bunga rosella, dan kayu manis.
Peserta juga diajarkan mengenai tahapan pengolahan bahan alam hingga menjadi sediaan teh herbal. Tahapan tersebut meliputi pemilihan bahan, pembersihan, pengeringan, peracikan, pengemasan, hingga penyajian.
Produk teh herbal yang dibuat dikemas dalam bentuk sachet sehingga praktis untuk disimpan dan disajikan.
Peserta juga diberi pemahaman bahwa pengelolaan hipertensi membutuhkan pendekatan yang komprehensif yang meliputi pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mengikuti anjuran dokter, pengobatan yang tepat dan teratur, diet dengan gizi seimbang, mengupayakan aktivitas fisik yang aman, serta hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.
Pemanfaatan teh herbal dalam kegiatan pengabmas ini diposisikan sebagai bagian dari edukasi dan pendamping pola hidup sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.
Masyarakat peserta kegiatan menyampaikan bahwa mereka sangat senang mengikuti kegiatan ini karena menambah pengetahuan tentang hipertensi dan keterampilan dalam hal membuat teh herbal dari bahan alam.
Peserta yang mencoba teh herbal menyukai rasanya karena tidak pahit dan sepat seperti teh yang beredar di pasaran. Peserta mengharapkan keberlanjutan kegiatan ini agar dapat meningkatkan pemahaman tentang tanaman obat tradisional.
Pada kegiatan ini, tim pengabdi menyerahkan alat pengukur tekanan darah serta alat- alat dan bahan yang dapat digunakan dalam pengolahan dan pembuatan teh herbal sehingga masyarakat dapat membuat secara mandiri dan berkelanjutan.
Selain itu, juga dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama antara Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Manado dengan pemerintah Kelurahan Malendeng terkait kegiatan pengabmas. (lex)





