Meimonews com – Sebanyak 460 guru dan sekitar 40 kepala sekolah perwakilan persekolahan PAUD, SD, SMP hingga SMA di bawah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Agung Merauke mengikuti kegiatan Penguatan Esensi Dasar di Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima (Merauke), 27 Juli – 1 Agustus 2026.
Dalam kegiiataan tersebut, para guru dan kepala sekolah yang ada di Kota Merauke dan daerah – daerah pelosok Papua Selatan ini mendapat pembekalan materi terkait Artificial Inttelligence /AI (kecerdasan buatan), Dampak Digitalisasi Medsos, dan Filsafat Pendidikan.
Kegiatan yang mengusung tema Pelatihan AI, Coding, serta Penguatan Esensi Dasar Pendidikan ini dipuncaki dengan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 SMA St. Yoanes XXIII sebagai SMA pertama di Papua Selatan, yang diawali msa syukur di Gereja Katedral Merauke dan dilanjutkan dengan ramah-tamah di kompleks sekolah.
Kegiatan dibuka Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Akademik Komunitas Dinas Pendidikan Peovinsi Papua Selatan Oliva Koneng (mewakili Kepala Dinas), dan dihadiri Ketua Yayasan YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Alowisius Kelbulan serta pemateri seminar AI RD Christy Mahendra, Anggota YPPK Richard Dumatubun dan Frits Hernan Pangemanan.

Kegiatan ini merupakan langkah strategis YPPK bersama Tim Mutu dan pengelola sekolah-sekolah Katolik se-Keuskupan Agung Merauke untuk mencerdaskan para Insan Pendidikan Katolik (IPK) dalam isu-isu terkini medsos, termasuk dampak AI, serta penguatan hakikat dasar pendidikan Katolik dari sisi filosofi pendidikan.
“Melihat antusias para guru dalam seminar ini, terutama topik AI (Kecerdasan Buatan)
bagi pembelajaran sekolah dan dampak medsos bagi dunia pendidikan, kami merencanakan untuk melanjutkan seminar serupa ke lebih banyak sekolah di wilayah-wilayah pelosok Papua selatan,” ujar Ketua YPPK Pastor Kelbulan.
Langkah strategis seminar ini, jelasnya, sejalan dengan Piagam Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia hasil Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik (KOSDIK II) 24-26 Juni 2026 di Jakarta, yang mendorong Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) untuk menyikapi secara serius dampak teknologi, medsos, terutama kecerdasan buatan.
Menurutnya, mengikuti mandat Piagam Sinodal, LPK harus menyiapkan murid agar mampu memahami, menggunakan, dan mengkritisi teknologi –termasuk kecerdasan buatan– tanpa kehilangan kebijaksanaan, relasi personal, hati nurani, dan tanggung jawab moral.
Karena alasan itu, YPPK Keuskupan Agung Merauke menegaskan tujuan seminarnya adalah untuk lebih memerkaya potensi guru dan kepala sekolah agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi pengembangan ekosistem pendidikan Katolik yang bermutu, berkarakter, bermartabat, dan berkelanjutan.
Karena visi dasar pemberdayaan Insan Pendidikan Katolik (IPK), seperti ditegaskan Piagam Sinodal, adalah menjadikan mereka kurikulum hidup dan saksi iman ewat kaderisasi kepemimpinan yang melayani dan profetik.
Dalam pemaparan materinya, Pastor Christy (Dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Yos Sudarso Purwokerto) menyajikan seluk-beluk AI, sejarah dan evolusi AI yang meliputi expert system, machine kearning, big data hingga AI modern.
Para guru dengan antusias mengikuti pengenalan bahasa oemrograman AI, yang
meliputi bahasa tingkat rendah yang cepat dan efisien; dipakai untuk optimasi algoritma dan sistem AI tertanam (embedded).
Para guru YPPK dari pelosok daerah Papua Selatan ini tidak ketinggalan diperkenalkan cara kerja AI (simulasi) yang meliputi slur data, pelatihan model, hingga hasil-hasil prediksi AI; Algoritma dalam AI yang mencakup machine learning klasik, deep learning, dan reinforcement learning; serta teknologi AI, glgenerative AI dan tren terbarunya yang mencakup hierarki AI, LLM, sgentic AI, dan arah perkembangan terkini.
Secara umum, para guru diperkenalkan dengan proses coding (koding) teknologi AI yang memungkinkan para guru mampu menulis perintah dalam bahasa pemrograman agar komputer dapat menjalankan tugas secara otomatis.
Para guru diajak berpikir komputasional yang melatih logika dan pemecahan masalah rumit dengan skema-skema kerja AI yang menuntun pada literasi teknologi dengan memahami cara kerja mesin cerdas, pengelolaan data, dan dasar pemograman.
Semua ini sangat berguna bagi para guru untuk mengaplikasikannya pada pembelajaran kelas yang menggunakan teknologi modern serta secara bersamaan para guru dilengkapi dengan standar etika digital yang membantu para guru maupun siswa di kelas memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi secara aman dan bijak untuk terhindar dari rambu-rambu hukum IT.
Sejalan dengan kebijakan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses PM, pemateri Frits mengangkat trilogi filsafat Yunani yang menawarkan lima hakikat dasar pendidikan yang tetap relevan hingga kini.
Kelima faktor itu, mencakup pertama, Identitas guru dengan hakikat tugas dan misi dalam pendidikan; kedua, metode pembelajaran sebagai seni-mengajar untuk melahirkan pengetahuan anak didik; ketiga, tools sebagai teknik-teknik khusus pembelajaran; keempat, hakikat pendidikan yang mendasari seluruh proses belajar-mengajar; dan kelima oaradigma yang membentuk model pembelajaran membatin dalam diri pendidik.
Mengikuti cara berpikir Yunani, sebutnya, identitas guru ibarat bidan ide, pengetahuan, dan pengenalan diri. Ia hadir di kelas sebagai bidan yang melahirkan pengetahuan lewat dialog-dialog.
Hakikat pendidikan, menurutnya, adalah pengenalan dan penemuan utuh diri manusia. Ucapan masyhur Sokrates diabadikan Plato dalam karyanya Apology yakni tanpa pengenalan diri, hidup manusia tidak bermakna, tak layak dihidupi. Paradigma pendidik dalam perspektif ini bak penemu harta karun di hati murid yang belum tercerahkan.
Diungkapkan, fungsi guru lalu menjadi pembawa pencerahan siswa tentang realitas sesungguhnya yang belum terpahami. Tools ke arah pengetahuan ini oleh Plato disebut dialektika yang memberi penyelarasan atas Tripartite Soul antara nalar (kepala), moralitas dan keyakinan (dada dan hati), serta nafsu dan kecenderungan jasmani (perut).
Kekayaan pedagogi Yunani diteruskan Aristoteles yang memerkaya peran guru sebagai obor budi dan moralitas. “Guru bagaikan pelita yang membawa terang melalui apa yang disebutnya Eudaimonia : kearifan menempa nalar dan moral siswa untuk tumbuh secara penuh,” ujarnya
Dengan peran penting ini, para guru mengakui bahwa kemajuan teknologi dan informasi dengan sumber belajar semakin luas telah membuat tugas guru kian berat untuk menguasai disiplin ilmu yang kian meluas.
Kemajuan dunia medsos sekaligus membawa tantangan para guru untuk mengimbangi pengetahuan siswa yang tak kalah maju dan bermutu akibat adanya fasilitas lebih besar yang kerap dimiliki orangtua siswa sendiri.

SMA St. Yoanes XXIII Merauke ini berdiri pada 1 Agustus 1963, dua tahun setelah wilayah Vikariat Apostolik Merauke berubah statusnya menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 November 1961 di bawah kepemimpinan Mgr. Herman Tillemans MSC (1902-1975).
Semboyan yang digunakan sekolah ini adalah Widyatama yang berarti lmu pengetahuan utama atau insan pendidikan berilmu dan berwatak keutamaan luhur. (LAF)





