Meimonews.com – Ada kabar baik terkait pasien terkonfirmasi Covid-19 yang sembuh baik di seluruh Indonesia maupun yang khusus ada di Sulawesi Utara. Jumlahnya cukup banyak.
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4/2020) sore menyebutkan, pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia menjadi 10.118 orang. Pasien yang sembuh mencapai 1.522 orang, bertambah 131 orang sedang yang meninggal 792 orang, bertambah 8 orang.
Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 21.827 orang sedang Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 230.411 orang.
Mereka yang terkonfirmasi Covid-19, menurut Yurianto, terbesar berusia produktif yakni berumur 30-59 tahun yang mencapai 54 persen, kemudian berumur 60-79 tahun 16 persen sedang sisanya anak-anak dan lansia berusia 80 tahun ke atas.
Dikemukakan, saat ini sudah ada 89 laboratorium di Indonesia yang penelitian untuk 94.599 spesimen dari 72.351 orang.
Khusus di Sulawesi Utara, menurut ada yang ada, pasien terkonfirmasi Covid-19 berjumlah 45 orang, yang sembuh 14 orang sedang yang meninggal 4 orang. ODP berjumlah 176 orang.
Dari jumlah tersebut, bila dibandingkan dengan data sebelumnya (per 29 April 2020), terlihat pasien yang terkonfirmasi dan yang meninggal hanya masing-masing satu orang, yakni pasien yang terkonfirmasi dari 44 menjadi 45 orang dan yang meninggal dari 3 menjadi 4 orang. Untuk pasien yang sembuh bertambah dua orang yakni dari 12 menjadi 14 orang.
Sejumlah harap disampaikan Yurianto berkaitan dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Di antaranya adalah untuk tetap di rumah saja. Bila ada keperluan penting, hindari kerumuman, jaga jarak dan pake masker.
Terpenting pula, menurut Yurianto adalah sering cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir serta hidup bersih dan hidup sehat. (lk)

Meimonews.com – Mengusung tema Petransiit Benefaciendo (berkeliling sambil berbuat baik), sejumlah alumni Seminari Pineleng mengadakan bakti sosial (baksos) dengan memberikan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, supermie dan telur.

Sasaran penerima bantuan yang pada kegiatan digelar Minggu (26/4/2020) tersebut adalah 19 KK umat Stasi St. Yosep Tiwoho pimpinan Anneke dan 32 KK umat Stasi Cosmas dan Damianus Pandu pimpinan Martinus Tombuku.

Latar belakang penerima bantuan umat yang masuk dalam wilayah Paroki Ratu Rosari Suci Tuminting pimpinan Pastor Benny Pangkey MSC itu adalah buruh, petani dan nelayan.

Paulus Hendra Adam (salah satu koordinator kegiatan) menjelaskan, baksos ini merupakan kegiatan spontan dan sukarela dari sebanyak 15 orang alumni Seminari Pineleng yang prihatin dan peduli terhadap kebituhan sesama yang membutuhkan terutama dalam situasi sulit di masa pandemi Covid-19 ini.

Sejumlah alumni Seminari Pineleng, sebut Adam, senang karena pada kesempatan dan situasi sulit seperti ini boleh membantu sesama yang terkena dampak situasi sulit ini

Adam yang adalah perwakilan guru-guru agama Katolik Kota Manado ini menjelaskan, dipilihnya tema Petranssit Benefaciendo (berkeliling sambil berbuat baik) karena ingin seperti Kristus yang telah memberikan teladan berbuat baik.

“Kami pun tergerak hati dalam situasi sulit ini untuk dapat memberikan sedikit dari apa yang kami punya untuk sesama di sekitar yang  membutuhkan. Semoga bermanfaat,” ujar Guru SMA Negeri 8 Manado ini.

Kegiatan ini, tambah Adam, sangat besar manfaatnya, di mana kita harus mulai belajar peduli terhadap sesama yang membutuhkan walaupun kita sendiri susah.  Tapi percayalah bahwa berkat Tuhan akan selalu kita terima dan alami.

“Yang penting kita dapat berbuat kebaikan kepada orang lain dengan tulus dan iklas meskipun kecil,” sebut Adam sambil berterima kasih kepada pastor teman seangkatan yakni Pastor Frans Mandagi Pr dan Pastor Bram Tulusan MSC yang telah ikut membantu pelaksanaan kegiatan sosial ini.

“Walau sedikit, paling kurang torang so (kami sudah – red) boleh  memberikan sebagian dari apa yang torang mliki. Semoga umat merasa senang dan bisa bermanfaat bagi kebutuhan mereka saat ini ,” ujar Albert Item (guru SMP Lokon Tomohon yang juga bersama Adam mengkoordiner kegiatan baksos ini.

Kegiatan ini mendapat dukung penuh dan Penyelenggara Bimas Katolik Kemenag Kota Manado Salvatore Fongky Ponomban. Menurut Fongky, kegiatan ini sangat positif dan harus terus digalakkan karena pada situasi sulit seperti ini kita membutuhkan  orang-orang  yang peduli akan kesulitan sesama, peka terhadap kesulitan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.

Pastor Paroki Ratu Rosari Suci Tuminting Benny Pangkey MSC sangat senang  dan mendukung kegiatan dari para alumni Seminari Pineleng ini. Pangkey mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian kepada umat terutama mereka yang terdampak karena situasi Covid-19 saat ini.

“Semoga kegiatan ini akan terus dibuat karean sebagai orang beriman kita harus memiliki rasa solider dan kepdulian terhadap sesama yang membutuhkan,” ujar Pangkey. (lk)

Pelbagai upaya dilakukan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam kerangka pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19). Insitusi Kepolisian (Polri) pun tak tinggal diam. Sejumlah upaya dilakukan pula untuk mendukung gerakan bersama pencegahan penyebaran virus tersebut.

Salah satu upaya dimaksud yang dilakukan Polri baik Mabes (Markas Besar), Polda, Polres/ta dan Polsek adalah dengan melakukan imbauan kepada masyarakat bahkan tak jarang terjun bersama Pemerintah dalam upaya pencegahannya.

Mabes sendiri telah mengeluarkan Maklumat Kapolri No. : Mak/2/III/2020 tanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Maklumat tersebut dikeluarkan setelah mempertimbangkan situasi nasional terkait dengan cepatnya penyebaran Covid-19 dan agar penyebarannya tidak meluas dan berkembang menjadi gangguan terhadap Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat).

Polri berkepentingan dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat, yang mengacu pada asas keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi (salus populi suprema lex esto).

Ada enam isi Maklumat tersebut. Pertama, tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak, baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri, yaitu pertemuan sosial, budaya, keagamaan dan aliran kepercayaan dalam bentuk seminar, lokakarya, sarasehan dan kepentingan lainnya yang sejenis; kegiatan konser musik, pekan raya, festival, bazaar, pasar malam, pameran, dan resepsi keluarga; kegiatan olah raga, kesenian, dan jasa hiburan; untuk rasa, pawai, dan karnaval; serta kegiatan lainnya yang menjadikan berkumpulnya massa.

Kedua, tetap tenang dan tidak panik serta lebih meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing dengan selalu mengikuti informasi dan imbauan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Ketiga, apabila dalam keadaan mendesak dan tidak dapat dihindari, kegiatan yang melibatkan banyak orang dilaksanakan dengan tetap menjaga jarak dan wajib mengikuti prosedur pemerintah terkait pencegahan penyebaran Covid-19.

Keempat, tidak melakukan pembelian dan/atau menimbun kebutuhan bahan pokok maupun kebutuhan masyarakat. Kelima, tidak terpengaruh dan menyebarkan berita-berita dengan sumber tidak jelas yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Keenam, apabila ada informasi yang tidak jelas sumbernya dapat menghubungi kepolisian terdekat.

Apabila ditemukan perbuatan yang bertentangan dengan Maklumat ini maka setiap anggota Polri wajib melakukan tindakan kepolisian yang diperlukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tindakan dimaksud mengacu pada UU No.  2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara yang menyebutkan tugas pokok Polri adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Sebelum sampai pada penegakkan hukum, aparat kepolisian telah terlihat melakukan sejumlah upaya termasuk patroli sekaligus memberikan imbauan, sebagaimana tersebut dalam Maklumat tersebut.

Tak jarang pula terlihat aparat kepolisian baik sendirimaupun turun bersama aparat pemerintah dalam kegatan pencegahan penyebaran virus ini seperti penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum atau tertentu lainya.

Sinergitas dan gerakan bersama semua pemangku kepentingan (pemerintah, masyarakat dan pihak terkait) sangat diharapkan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

Mematuhi Maklumat itu dengan kesadaran yang cukup bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk kepentingan banyak orang adalah langkah bijaksana.

Gerakan bersama, kesadaan bersama diyakini akan memutus mata rantai penyebaran virus ini. Tak lupa pula dengan senantiasa berdoa kepaada Tuhan, memohon kepadaNya agar ‘permasalahan’ ini bisa segera teratasi. (Penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan)

Meimonews.com – Menghadapi bulan puasa Ramadhan dan Lebaran 1441 H, Polri dan seluruh jajaran di Indonesia menggelar Operasi Ketupat 2020. Operasi ini dilaksanakan selama 37 hari (24 April – 31 Mei 2020).

“Pelaksanaan Operasi Ketupat 2020 kali ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya, di tengah Pandemi Corona disesuaikan dengan situasinya,” ujar Direktur Lalulintas Polda Sulut Kombes Pol. Iwan Sonjaya, kepada wartawan di Mako Ditlantas Polda Sulut, Jumat (24/4/2020).

Dijelaskan, pelaksanaan pperasi kali ini, jajaran Polri akan melaksanakan apa yang sudah diinstruksikan oleh Pemerintah tentang larangan mudik. “Kita menindaklanjuti larangan mudik dengan pembuatan pos pengamanan atau cek poin di tiap-tiap wilayah. Ini dikandung maksud apabila ditemukan masyarakat yang mudik, kita imbau untuk tidak mudik dan kembali ke tempat asalnya,” sebutnya.

Hal tersebut, sambungnya, sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor 25 tahun 2020. Jajarannya juga akan bertindak secara persuasif dan di setiap Posko Pengamanan dan Pelayanan juga disiapkan kelengkapan untuk personil dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 seperti masker, sarung tangan, tempat cuci tangan, hand sanitizer, diisinfektan dan alat pelindung diri (APD). (lk)

Meimonews.com – Menyusul Surat Uskup Manado No. 109/U/SE/III/2020 tertanggal 21 Maret 2020 tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19 dan Pedoman Pastoral Keuskupan Manado di Masa Pandemi Covid-19, Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC mengeluarkan Surat Gembala Uskup Keuskupan Manado di Masa Pandemi Covid-19.

Surat Gembala yang dikeluarkan 22 April 2020 dengan judul Beriman di Masa Pandemi ini ditujukan  kepada para pastor, Biarawan-biarawati dan umat Awam.

Di awal surat gembalanya, Mgr. Rolly, sapaan uskup kelahiran Lembean, Minahasa Utara itu mengungkapkan penghargaannya terhadap langkah-langkah bijak dan strategis Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam rangka penanganan wabah Covid-19, yang sudah hampir dua bulan (sejak Maret 2020) ini menghantui kita.

Dengan tulus pula, Mgr. Rolly menghargai segala upaya yang telah diambil oleh Dinas Kesehatan bersama dengan tenaga-tenaga kesehatan yang rela menjadi garda terdepan dalam melayani pasien baik yang sudah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 maupun yang masih dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pengawasan (ODP), seta lembaga-lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan dan lembaga-lembaga independen lainnya, bahkan individu-individu tertentu, yang sudah juga menyatukan hati, pikiran dan gerakan dengan kebijakan Pemerintah baik dalam hal penanganan pasien Covid-19 maupun dalam hal penghentian penyebarannya.

“Gereja Katolik Keuskupan Manado mengambil sikap : satu hati  dan satu gerakan dengan semua pihak lain yang peduli untuk menyelamatkan hidup manusia dari wabah Covid-19,” sebut mantan Provinsial MSC Indonesia ini.

Surat Gembala itu berisi enam hal. Pertama, baiklah kita mengikuti semua Protokol yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah, dan juga semua Pedoman Pastoral yang dikeluarkan oleh Uskup Keuskupan Manado, dan Pastores di wilayah kerja masing-masing sejauh tidak bertentangan dengan Protokol Pemerintah dan Pedoman Pastoral Keuskupan Manado. Kita melaksanakan semua Protokol dan Pedoman Pastoral ini dengan keutamaan sosial “saling meghormati” dan dengan kerendahan hati mengakui ketidaktahuan kita siapa yang menjadi carrier Covid-19 sambil membangun kehendak baik “tidak mau tertular dan tidak mau menularkan.”

Kedua, keutamaan sosial “saling menghormati,” secara khusus perlu dinyatakan terhadap saudara-saudari kita yang secara mendadak hadir dalam kehidupan kita baik sebagai pasien terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 ataupun masih dalam status PDP, dan bahkan dalam status PDP. Kita tunjukkan sikap hormat yang dibangun di dalam hati belas kasih Yesus “marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28), dan pada hati keibuan Maria yang mendampingi Puteranya di jalan salib sampai pada saat “Yesus menghembuskan nafas terakhir. Karena itu, kabar tentang kematian saudara-saudari kita dengan status tersebut di atas, harusnya kita terima dengan penuh hormat dan kita bawa dalam doa dan iman kita. Begitulah juga sikap hormat yang sama kita tunjukkan pada saudara-saudari yang pulang ke rumah sesudah dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19. Kita tidak punya hak sedikitpun juga untuk mengeluarkan mereka dari persekutuan kita.

Ketiga, kerendahan hati mengakui ketidaktahuan kita siapa yang menjadi carrier Covid-19, kita nyatakan dalam kebijakan untuk tidak membagikan Tubuh Kristus dari rumah ke rumah atau dengan cara apapun juga. Para imam tetap menjaga kerendahan hati ini sambil menjaga kesatuan dalam menjalankan kebijakan Keuskupan, dan umat sekalian perlu bersabar menantikan saat yang baik dan tepat untuk menerima Tubuh Kristus. Dalam situasi sulit seperti ini, mari kita berpegang pada pertahanan Yesus melawan godaan : “manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4).

Keempat, baiklah dimengerti dan dipraktekkan disertai dengan katekese yang lebih komprehensif, keikutsertaan dalam liturgi hari Minggu dan hari raya : a. Ajakan utama adalah imam merayakan ekaristi di gereja, sedangkan umat beribadat di rumah masing-masing, dan komunitas hidup bakti beribadat di komunitas masing-masing. b. Bagaimana caranya beribadah dalam komunitas atau di rumah masing-masing ? Ada 2 pilihan yakni mengadakan ibadat sabda di rumah sambil memaknai persekutuan ecclesia domestica (gereja rumah tangga) atau mengikuti perayaan yang disiarkan oleh media Keuskupan atau Paroki (live streaming). Jadi dalam situasi di mana keluarga tidak mungkin mengikuti live streaming, mengadakan ibadat sabda tetap dianjurkan. c. Untuk membantu ibadat sabda keluarga pada hari Minggu dan hari raya, Panduan yang dikeluarkan oleh Komisi Kateketik Keuskupan Manado sudah sangat membantu. Karena itu, dimintakan supaya Komisi Kateketik menyebarkan Panduan itu secepat mungkin, dan Pastor Paroki secepatnya mengedarkannya kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Kelima, tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Mei, bulan Rosario. Dalam situasi yang sangat khusus ini, pada saat mana kita sungguh merasakan panggilan untuk menyatu dan berdamai dengan lingkungan hidup kita, kita dibantu dengan buku “Doa Rosario Laudato Si” (Pokok-pokok Renungan Peristiwa Doa Rosario dari Ensiklik Laudato Si). a. Dimintakan supaya para Pastor cepat mengkomunikasikan  “Doa Rosario Laudato Si” itu kepada keluarga-keluarga di wilayah karya pastoral masing-masing, supaya keluarga-keluarga yang akan mengadakan Doa Rosario di rumah masing-masing sungguh terbantu. b. Kolekte Rosario tetap dapat dijalankan sementara keluarga melaksanakan Doa Rosario di rumah masing-masing, dan diharapkan para Pastor dapat mengatur sebijaksana mungkin tentang waktu dan cara pengumpulanya (dari keluarga ke paroki dan dari paroki ke Keuskupan, sesuai Pedoman Keuangan yang berlaku).

Keenam, mari menanggapi secara positif dan kreatif kebijakan tinggal di rumah. a. Saatnya menata rumah dan lingkungan menjadi layak tinggal dan layak huni; kita mengupayakan pola hidup sehat sambil menjaga kebersihan tubuh, makanan dan minuman, rumah, dan lingkungan kita. b. Saatnya membangun keluarga yang berdoa; tersedia cukup banyak waktu bagi keluarga untuk berdoa bersama; ada banyak bentuk doa yang dapat dipilih; ada banyak intensi yang dapat diungkapkan dalam doa bersama. c. Saatnya meningkatkan kualitas kebersamaan dalam keluarga (antara suami dan istri, antara orangtua dan anak) dengan perbanyak perjumpaan; ada cukup waktu untuk berbincang-bincang; ada banyak hal serius yang bisa didiskusikan; ada banyak canda tawa yang bisa dibagikan. d. Saatnya memantapkan ekonomi rumah tangga dengan mengolah lahan sekitar rumah dan kebun. Kita perlu mengupayakan ketahanan ekonomi keluarga dan paroki, sambil memberdayakan lahan sekecil apapun dengan tanaman untuk menjamin ketersediaan pangan. “Saatnya  menggerakkan semua keluarga untuk menanam apa saja yang berguna untuk memenuhi kebutuhan akan makanan beberapa waktu ke depan,” sebut uskup yang memiliki motto tahbisan “In Lumine Tuo Videmus Lumen.” (lk)